Saturday, January 6, 2018

Menabung di Deposito

3 Pertimbangan Penting Sebelum Anda Menabung di Deposito

Deposito masih menjadi tempat favorit bagi masyarakat dalam menyimpan uang di bank. Anda mau menambah tabungan deposito? Baca pertimbangan ini dulu sebelum kamu menempatkan dana di deposito.  Lihat data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Total simpanan di bank umum per Agustus 2017, meningkat 0,37 persen, dari Rp 5.123,27 triliun di bulan Juli 2017 menjadi Rp 5.142,25 triliun di Agustus 2017.

Melihat dari jenis simpanan, yang jumlah rekeningnya memiliki kenaikan tertinggi adalah tabungan. Kenaikannya mencapai 0,02 persen dari 215.540.448 rekening di Juli 2017, menjadi 220.096.828 rekening di Agustus 2017.

Sedangkan dari sisi kenaikan nominal simpanan,  tertinggi adalah deposito, yaitu sebesar 1,87 persen, dari Rp 2.274,19 triliun di bulan Juli 2017 menjadi Rp 2.316,63 triliun di Agustus 2017.

Data dari situs Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang keluar awal Oktober ini menunjukkan masyarakat masih menyimpan dananya di instrumen investasi yang sederhana.

Padahal masih tersedia beragam instrumen investasi lain yang bisa menjadi alternatif. Sebut saja, reksadana, obligasi ritel, dan saham. Sebelum kamu ikut membenamkan dana ke deposito, kenali dulu kelebihan dan kekurangan instrumen investasi ini, seperti mengutip Halomoney.co.id, Sabtu (21/10/2017)


Dijamin pemerintah

Deposito masuk dalam kategori simpanan masyarakat yang dijamin oleh pemerintah, di samping  tabungan, giro, di bank umum maupun di bank syariah.

Simpanan masyarakat yang dijamin sepanjang nilainya tidak lebih dari Rp 2 miliar, tercatat resmi di sistem pembukuan bank, dan imbal hasil atau bunga simpanan tidak melebihi suku bunga penjaminan.

Sejak 15 September 2016 sampai 15 Januari 2017, batasan maksimal suku bunga penjaminan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ialah 6,25 persen di bank umum, 0,75 persen untuk simpanan valas, dan 8,75 persen di Bank Perkreditan Rakyat.

Jika suku bunga yang diberikan lebih dari suku bunga penjamin, simpanan Anda tidak dijamin.


Relatif aman, tapi terlalu sederhana

Deposito cukup disukai karena relatif aman. Nilai simpanan deposito tidak terganggu oleh gonjang-ganjing yang terjadi di pasar keuangan. Berbeda dengan saham atau reksadana yang harganya berfluktuasi, dana deposito tidak akan berfluktuasi.

Saat terjadi guncangan di pasar keuangan, Anda perlu mencermati nilai simpanan yang dijamin pemerintah.  Apakah pemerintah masih menjamin simpanan Anda atau tidak? Pada 2008, pemerintah pernah menurunkan nilai simpanan yang dijamin menjadi Rp 100 juta per orang, lalu mulai 13 Oktober 2008 dinaikkan menjadi Rp 2 miliar.

Tetapi Deposito dinilai sebagai tempat  investasi yang sederhana karena suku bunga atau imbal hasilnya terbilang rendah, hanya sedikit di atas tabungan, dan di bawah investasi lain seperti obligasi ritel.

Suku bunga tabungan saat ini berkisar 0 persen hingga 2,5 persen. Sedangkan deposito berkisar 4,5 persen hingga 7 persen tergantung bank yang Anda pilih, nilai tabungan dan lamanya waktu penyimpanan.

Bandingkan dengan suku bunga reksadana yang bisa mencapai 15 persen- 20 persen per tahun secara konservatif. Suku bunga Deposito sangat bergantung pada naik turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia, namanya Seven Days Repo Rate.

Jika suku bunga acuan BI dalam tren turun seperti saat ini, imbal hasil deposito pun cenderung akan dipangkas.


Bebas biaya administrasi, tapi…

Simpanan dana di deposito bebas biaya administrasi karena kamu mengunci dana Anda dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan di tabungan, Anda dapat dengan mudah menggunakan simpanan sehingga bebas menggunakan dana sehingga terkena biaya administrasi, selain pajak atas bunga tabungan.

Meski bebas biaya administrasi, deposito terkena pajak penghasilan (PPh) atas bunga deposito. Besarannya, deposito di dalam negeri yang dananya bukan berasal dari hasil ekspor, dikenakan PPh sebesar 20 persen dari nilai bunga deposito.

Sedangkan deposito dalam mata uang rupiah yang berasal dari devisa ekspor, dikenakan PPh final sebesar 7,5 persen dari nilai bunga deposito jika ditempatkan dalam jangka waktu sebulan dan 0 persen jika enam bulan atau lebih lama.

Sedangkan deposito dalam valuta asing yang berasal dari dana ekspor, dikenakan PPh mulai dari 10 persen, 7,5 persen, 2,5 persen dan 0 persen tergantung lamanya simpanan.

Ketentuan  tentang pajak penghasilan atas bunga deposito berlaku mulai 22 Februari 2016, lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 26/PMK.010/2016 tentang Pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) atas Bunga Deposito, Tabungan, serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Selamat mengembangbiakkan dana Anda.


Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/3135525/3-pertimbangan-penting-sebelum-anda-menabung-di-deposito?HouseAds&campaign=TipsDeposito_Bisnis_STS1

Cara agar Keuangan Aman Terkendali

Begini Caranya agar Keuangan Anda Aman Terkendali

Keadaan finansial memang ditentukan banyak tidaknya gaji yang diterima setiap bulan. Namun, bukan itu yang jadi masalah utama. Kesuksesan keuangan seseorang sangatlah ditentukan oleh seefektif apa ia menggunakan uang tersebut sehingga gaji yang diterima per bulan bisa menjamin kehidupannya di bulan tersebut.

Gaya hidup sangat menentukan kondisi finansial seseorang. Sebesar apa pun gaji yang diterima setiap bulan pasti akan habis jika orang itu boros. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan orang yang hidup hemat. Gaji yang sedikit pun bukan jadi masalah. Ia tetap bisa menyisihkan uangnya untuk ditabung.

Boros dan hemat adalah dua sisi kehidupan yang sangat berbeda. Jika selama ini mengidam-idamkan uang yang banyak, Anda harus bisa mengalokasikan gaji dengan tepat.

Bagaimana caranya? Berikut adalah tips alokasi gaji bagi yang tinggal di kos-kosan agar punya banyak uang seperti dikutip dari Cermati.com:


1. Biaya Utama

Biaya yang pertama kali harus Anda perhitungkan adalah biaya utama. Setiap orang memiliki biaya utama yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan tingkat kebutuhan seseorang yang berbeda pula. Biaya utama dapat meliputi, biaya makan, biaya listrik, internet, air, pulsa, tempat tinggal, dan biaya transportasi.

Agar kondisi finansial baik, coba alokasikan gaji dengan tepat menurut jenis biayanya. Contohnya, total gaji yang diterima Rp 10 juta.

Maka, perhitungannya:
- Biaya makan (Rp 18.000 x 3 kali) x 30 hari = Rp 1.620.000
- Biaya listrik                                                 = Rp 100.000
- Biaya internet                                             = Rp 150.000
- Biaya air                                                      = Rp 80.000
- Biaya pulsa                                                 = Rp 100.000
- Biaya tempat tinggal                                   = Rp 550.000
- Biaya transportasi                                       = Rp 250.000
Total biaya                                                     = Rp 2.850.000


2. Biaya Nongkrong dan Memanjakan Diri

Nongkrong dan memanjakan diri adalah dua kegiatan yang wajib bagi kaum milenial apalagi mereka yang sudah bekerja. Saat gaji diterima, coba lakukan perhitungan agar biaya lainnya tidak terganggu.

Contohnya, Anda nongkrong seminggu sekali dan biasanya menghabiskan Rp 75.000 untuk sekali nongkrong. Untuk memanjakan diri, Anda  pergi ke salon sekali dalam sebulan. Biaya yang dihabiskan Rp 300.000 untuk paket lengkap seperti massage, pedicure, manicure, dan creambath.

Jadi perhitungannya:
Biaya nongkrong (Rp 75.000 x 4 kali)     = Rp 300.000
Biaya memanjakan diri                           = Rp 300.000 +
Total biaya                                                = Rp 600.000


3. Biaya Tabungan

Menabung merupakan hal wajib. Tabungan ini bisa digunakan untuk rencana-rencana indah di masa yang akan datang. Untuk tabungan, Anda bisa menyisihkan 15 persen dari gaji untuk di tabung setiap bulannya.

Misalnya, gaji yang diterima setiap bulannya Rp 10.000.000.
Maka, 15 persen x Rp 10.000.000 = Rp 1.500.000.


4. Biaya Investasi

Selain tabungan, Anda juga perlu berinvestasi. Katakanlah Anda mengikuti investasi reksa dana, di mana dana yang Anda  investasikan sebesar Rp 54 juta untuk 5 tahun. Namun, Anda memilih untuk menyicilnya setiap bulan. Jadi uang yang harus dikeluarkan setiap bulan menjadi:

5 tahun=60 bulan
Rp 54.000.000:60  = Rp 900.000 per bulan


5. Biaya Beramal

Sebagai manusia, kita harus bisa saling mengasihi sesama yang membutuhkan. Alangkah baiknya jika sebagian dari gaji yang Anda terima diamalkan setiap bulan. Beramal tidak dipaksakan. Itu semua tergantung pada keikhlasan hati.

Total yang diamalkan 5 persen dari gaji. Maka perhitungannya:
= 5 persen x Rp 10.000.000
= Rp 500.000


6. Biaya Kiriman untuk Orang Tua

Biaya yang satu ini sifatnya tidak memaksa. Lagi pula, orang tua tidak akan meminta untuk mengirimkan gaji setiap bulannya. Tapi, sebagai anak yang baik, Anda seharusnya selalu mengingat mereka. Tentunya jumlah yang dikirimkan tergantung Anda, misalnya Rp 1.500.000 per bulan.


7. Biaya Tak Terduga

Biaya tak terduga sifatnya sebagai biaya tambahan. Biaya ini digunakan untuk masalah-masalah yang terjadi secara tidak terduga. Misalnya, ban kempes di tengah jalan. Kalau sudah begini, Anda perlu membawanya ke bengkel bukan?

Sebagai langkah antisipasi, Anda juga perlu mengalokasikan gaji untuk biaya tak terduga. Jumlahnya 5 persen dari gaji bulanan.

Perhitungannya: 5 persen x Rp 10.000.000 = Rp 500.000
Dari semua biaya di atas, maka Anda dapat memperhitungkan berapa yang dikeluarkan setiap bulannya.

Pengaplikasiannya sebagai berikut:
Biaya utama                                                  = Rp 2.850.000
Biaya nongkrong dan memanjakan diri         = Rp 600.000
Biaya tabungan                                             = Rp 1.500.000
Biaya investasi                                              = Rp 900.000
Biaya beramal                                               = Rp 500.000
Biaya kiriman untuk orang tua                      = Rp 1.500.000
Biaya tak terduga                                         = Rp 500.000
Total biaya                                                    = Rp 8.350.000

Itulah contoh pengalokasian biaya dalam satu bulan. Contoh di atas bisa Anda aplikasikan jika ingin kondisi finansial Anda aman terkendali. Semoga bermanfaat.


Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/3063309/begini-caranya-agar-keuangan-anda-aman-terkendali?site=liputan6&utm_source=Digital+Marketing&utm_medium=Partnership&utm_campaign=Line

Sunday, November 5, 2017

Dana Darurat

Gunakan Cara Ini untuk Persiapkan Dana Darurat Sekaligus Investasi

Dalam mempersiapkan masa depan dengan kondisi finansial yang mapan dan kokoh, memiliki dana darurat dan investasi sering kali disebutkan sebagai alternatif untuk mempersiapkan masa depan yang lebih terjamin.

Namun, jarang sekali orang yang bisa maksimal untuk menjalankan kedua hal tersebut. Setidaknya, salah satu antara dana darurat dan investasi yang dipilih. Itu pun jika sesuai dengan keadaan keuangan. Sebab keadaan keuangan setiap orang berbeda-beda.

Apakah bisa mengumpulkan dana darurat berbarengan dengan investasi?

Jawaban tersebut tentu bisa. Asalkan melakukan perhitungan terlebih dulu secara rinci mengenai dana darurat dan investasi. Dana darurat dan investasi sangat penting untuk dimiliki. Dana darurat bisa sebagai dana untuk pengeluaran yang tidak terduga atau urgen yang bisa terjadi kapan saja.

Sementara, investasi penting untuk pemenuhan kebutuhan di masa yang akan datang, seperti investasi pendidikan anak. Karena itu, ada baiknya kalau kita memiliki keduanya. Berikut ini tiga cara yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan dana darurat dan investasi secara bersamaan.

1. Hitunglah Dana yang Dialokasikan sebagai Dana Darurat dan Investasi
Untuk bisa memiliki dana darurat dan investasi secara berbarengan, harus diketahui terlebih dulu berapa total pendapatan yang dimiliki.

Dan berapa besar pengeluaran setiap bulannya. Misalnya, pendapatan yang dimiliki mencapai Rp10 juta rupiah per bulan. Sementara pengeluaran per bulannya hanya Rp 9 juta. Itu berarti uang yang tersisa hanya Rp1 juta.

Dana sebsesar itu bisa dialokasikan sebagai dana darurat dan investasi. Dengan kata lain, sisa dana sebesar Rp1 juta dialokasikan sebesar Rp500 ribu untuk dana darurat dan Rp500 ribu untuk investasi.

2. Mengatur Dana Darurat dan Investasi
Setelah bisa membagi rata alokasi antara dana darurat dan investasi, mulailah untuk mengatur keduanya agar bisa dialokasikan secara berkelanjutan. Khusus untuk dana Darurat, aturan yang ada sebenarnya berbeda.

Untuk yang belum menikah, alokasikan dana untuk dana darurat sebanyak enam kali pengeluaran bulanan. Untuk yang berstatus menikah, alokasikan dana untuk dana darurat sebanyak sembilan kali pengeluaran bulanan.

Sementara untuk yang menikah dan punya anak, alokasian dana untuk dana darurat sebesar duabelas kali pengeluaran bulanan.

Sebaiknya, jangan gabungkan antara dana darurat dan tabungan bulanan atau tabungan untuk membayar tagihan dan kewajiban bulanan.

Pisahkan ke rekening khusus dana darurat. Kemudian untuk investasi, tidak ada aturan khusus seperti dana darurat yang mesti punya rekening khusus. Yang harus diperhatikan dari investasi adalah tujuannya.

Jika untuk pendidikan, perkirakan jumlah investasi yang harus dikumpulkan. Salah satu instrumen investasi yang bisa digunakan adalah reksa dana.

3. Lakukan dengan Disiplin untuk Dapatkan Hasil yang Maksimal
Akan percuma perencanaan alokasi dana darurat dan investasi secara berbarengan jika tidak disiplin dalam menjalankannya.

Ingin hasil yang maksimal, Anda harus teratur dan berkelanjutan dalam mengumpulkan dana darurat dan menempatkan dana untuk investasi.

Seiring peningkatan penghasilan, jangan lupa untuk meningkatkan nilai dana darurat dan investasi. Sebab kalau nilai dana darurat dan investasi bisa tergerus nantinya karena tak menyesuaikan dengan besaran investasi.

Pastinya Anda tidak mau nilai dana darurat dan investasi terasa kecil karena besaran dana yang dialokasikan segitu-segitu saja.


Mulai Siapkan Sejak Dini

Langkah yang paling tepat untuk segera menjalankan dua hal tersebut adalah mulai menyiapkanya sejak dini. Dana darurat dan investasi tentu akan maksimal hasilnya jika dikumpulkan sejak dini.

Keuntungan yang Anda dapatkan juga akan sangat maksimal. Seandainya ada keperluan mendadak yang tidak terduga, Anda juga akan merasa tenang karena sudah mempersiapkan dana darurat dan investasi.


Sumber :
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/15/140000826/gunakan-cara-ini-untuk-persiapkan-dana-darurat-sekaligus-investasi.

Terbelit Hutang

Keluar dari Jebakan Utang

Apakah ada di antara Anda yang saat ini sedang terjebak atau terbelit dengan utang? Sudah berapa lama kira-kira Anda tidak dapat lepas dari utang ini? Setahun? Lebih dari dua tahun? Sepertinya selama-lamanya Anda tidak pernah lepas dari yang namanya utang. Bahkan utang seakan menjadi suatu keharusan agar dapat mencapai tujuan-tujuan keuangan.

Mau beli mobil, utang. Mau beli rumah, utang. Mau beli ponsel, utang. Bahkan untuk makan siang pun utang pakai kartu kredit. Well.. itu pilihan. Yang penting perhatikan rasio cicilan utang Anda. Jangan sampai lebih dari 30% dari penghasilan Anda, karena apabila lebih dikuatirkan keuangan Anda akan terganggu.

Jadi jika Anda saat ini terbelit utang yang tak ada habisnya dan Anda ingin bebas dari yang namanya utang, berikut beberapa langkah agar Anda bisa keluar dari jebakan utang:

1. Daftar seluruh utang Anda
Buka laptop Anda, buat tabel di spreadsheet. Daftarlah utang-utang Anda yang masih ada. Kepada siapa Anda berutang. Berapa jumlah saldo utang yang masih tersisa. Berapa besar bunganya per tahun. Berapa besar Anda membayar cicilannya. Dan sampai kapan Anda membayarnya.

2. Bayar utang dengan bunga paling tinggi terlebih dulu
Setelah Anda membuat list utang dengan rapi dan baik. Silakan diurutkan dari yang paling besar bunganya terlebih dulu. Tampilkan utang tersebut di urutan paling atas. Maka utang itulah yang harus Anda fokuskan untuk dilunasi paling awal. Lakukan seterusnya hingga seluruh utang lunas.

3. Jangan Tambah Utang Anda
Selama Anda melakukan program membebaskan diri dari jebakan utang ini. Tolong.. jangan tambah utang Anda. Jika Anda masih mengalami kesulitan, maka kurangi pengeluaran Anda dengan berbagai cara. Bisa juga Anda mencari tambahan pendapatan lain. Yang penting jangan tambah utang Anda. Boleh saja Anda melakukan gali lubang tutup lubang, namun utang baru yang Anda ambil jumlahnya tidak boleh melebihi utang yang ada, serta bunganya harus lebih rendah.

Jika seluruh belitan utang Anda sudah lepas dan rasio keuangan Anda sudah membaik, maka silakan berutang kembali (kalau mau) dengan pertimbangan masak dan tentunya sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pembayaran Anda.

Utang tidak semudah dan sesimpel yang selama ini sering dibahas di mana-mana. Itulah sebabnya banyak orang terjerat utang.


Sumber :
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3702077/keluar-dari-jebakan-utang

Thursday, March 30, 2017

Karyawan (juga) Bisa Kaya

Hasan Azzahid - detikFinance

Dari pengalaman saya bertemu HRD di beberapa perusahaan, masalah utama keuangan pribadi karyawan biasanya adalah ketidakmampuan mereka dalam mengatur keuangannya sehingga berujung kebangkrutan. Kebangkrutan tersebut bukannya dikarenakan dari tidak lancarnya pembayaran gaji, namun dari karyawannya sendiri yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya dengan gaji yang sudah diberikan. Padahal gaji yang diberikan bukanlah gaji untuk entry level.

Lalu apakah yang sebenarnya dibutuhkan agar karyawan menjadi kaya? Berikut beberapa langkah anda memulai perencanaan keuangan secara mandiri agar dapat kaya.

NiatTidak ada tips keuangan yang benar-benar efektif apabila tidak ada niat dari diri anda. Ketika anda bekerja, apakah niat anda? Apakah gaji yang anda terima hanya diniatkan sebagai pemenuh kebutuhan hidup anda saat ini saja? Renungkan kembali niat anda ketika menerima gaji, untuk apa gaji anda dihabiskan.

Jika anda memang ingin kaya, berarti anda harus banyak berkorban. Tidak ada pencapaian tinggi yang dapat diraih tanpa pengorbanan. Dalam hal mengatur keuangan, berarti anda harus mengorbankan keinginan anda untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan saat ini demi kekayaan di masa depan. Jika anda bukan orang yang bisa menahan diri, hindarilah kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan anda konsumtif.

Niatkan lah bahwa gaji anda adalah kendaraan anda menuju kekayaan. Buanglah segala alasan yang menahan anda menjadi kaya. Niatkanlah bahwa setiap gaji yang anda dapatkan haruslah membawa anda menjadi kaya. Apabila dihadapkan oleh pilihan di mana anda harus memilih antara keinginan konsumtif dan kekayaan, anda harus memilih kekayaan di masa depan sebagai pilihan anda.

Biasakan berinvestasi
Sudah tertanam pada diri kita sejak kecil untuk diajarkan menabung, bukan berinvestasi. Secara umum, masyarakat Indonesia memang tergolong konservatif terhadap risiko, namun menginginkan hasil yang lebih. Hal ini merupakan salah satu faktor mengapa banyak masyarakat yang tertipu oleh investasi bodong.

Berinvestasilah pada produk keuangan yang diawasi oleh otoritas keuangan secara resmi. Tanamkan bahwa tingkat imbal hasil selalu berbanding lurus dengan risiko. Ekspektasi imbal hasil yang tinggi selalu diikuti dengan risiko yang tinggi pula. Karena pada dasarnya kita menjalani hidup memang tidak mungkin ada yang bebas risiko. Bahkan sebagai karyawan pun, risiko terbesar anda adalah ketika muncul pengeluaran tidak terduga yang melebihi penghasilan anda.

Anda bisa memulai membiasakan diri dengan fasilitas auto debet (jika ada). Prioritaskan pengeluaran investasi terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pengeluaran konsumtif.

Jangan lupa berinvestasi kepada diri sendiri
Yang sering diabaikan selanjutnya oleh masyarakat Indonesia adalah berinvestasi pada diri sendiri. Maksud berinvestasi pada diri sendiri adalah mengeluarkan uang untuk meningkatkan kompetensi anda. Peningkatan kompetensi pasti akan meningkatkan kekayaan anda. Baik itu dengan cara mengetahui bagaimana meningkatkan aset, maupun meningkatkan penghasilan anda sebagai karyawan. Tentu saja jika anda punya pengalaman plus kompetensi yang di atas rata-rata, anda akan dihargai lebih mahal bukan?

Saat ini banyak sekali workshop yang dapat meningkatkan kemampuan anda. Baik itu berupa kemampuan yang sejalan dengan pekerjaan anda saat ini maupun kemampuan pendukung lainnya. Berinvestasilah pada ilmu dan rasakan lah bahwa ilmu yang dalam dan luas menuntun anda pada kekayaan. Jangan hanya mengandalkan training gratis dari perusahaan.

Miliki dana darurat terlebih dahulu
Kesalahan yang banyak orang lakukan adalah berinvestasi terlebih dahulu tanpa memiliki dana darurat. Sebagai karyawan, anda memang memiliki pendapatan yang stabil, namun harus anda sadar pengeluaran anda belum tentu bisa sama stabilnya dengan pendapatan anda. Tidak memiliki dana darurat justru dapat membuat rencana investasi anda berantakan.

Dana darurat adalah jaring pengaman anda menuju kekayaan. Apabila memang anggaran anda tidak cukup untuk berinvestasi, prioritaskan dahulu dana darurat dibanding investasi. Apabila dana darurat sudah terbentuk, anda bisa berinvestasi secara nyaman tanpa mengganggu cashflow anda.

Menentukan tujuan aset yang bisa diraih dengan gaji saat ini
Anda menginginkan membeli rumah? Hitunglah anggaran yang bisa anda sisihkan untuk membeli rumah. Apabila rumah di lokasi impian anda terlalu mahal, carilah alternatif lain yang masih bisa anda jangkau. Merencanakan keuangan bukanlah sulap yang membuat anda kaya raya dalam sekejap mata. Anda membutuhkan konsistensi terhadap rencana anda. Karena sekali lagi, tips ini seperti simpel, namun sebenarnya sangat susah dilaksanakan. Maka dari itu, niat anda untuk melakukan semua hal ini harus lurus dan kuat. Dibantu juga dengan belajar mengelola keuangan yang baik dan benar, serta belajar investasi.


Sumber :
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3452080/karyawan-juga-bisa-kaya

Tips Perencanaan Keuangan dari Warren Buffett

Belajar Keuangan Dari Ahlinya, Warren Buffett
Tung Desem Waringin - detikFinance

Seorang investor sukses dan pengusaha asal Amerika Serikat bernama Warren Buffett. Namanya masuk ke dalam jajaran orang terkaya di dunia. Namun, miliuner yang membeli saham pertamanya saat berusia 11 tahun ini justru dikenal dengan kesederhanaannya. Berikut adalah 10 tips keuangan ala Warren Buffett:

1. Hemat
Menurutnya, belanja secara berlebihan, membeli barang yang tidak ada gunanya, hanya akan membuat Anda bangkrut. Mulai sekarang, cobalah untuk belanja cerdas dengan mencari promo, penawaran kupon, dan lain sebagainya.

2. Butuh Proses
Saat Anda memasuki usia 40 tahun, bukan berarti Anda harus memiliki kekayaan seperti rumah yang besar, tiga mobil mewah, dan saldo tabungan miliaran rupiah. Yang perlu Anda lakukan adalah membuat kestabilan ekonomi dengan tujuan jangka panjang dan pemahaman bahwa kekayaan membutuhkan waktu.

3. Menabung
Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Menabung merupakan proses penuh perjuangan dan tidak pernah ada kata terlambat untuk memulainya. Lakukanlah secara rutin dan jadikan sebagai prioritas.

4. Belajar dari Kesalahan
Pengalaman adalah guru terbaik. Pada usia 40 tahun, Anda memiliki pengalaman hidup yang cukup untuk memahami kesalahan keuangan yang telah diambil. Apakah Anda terlalu boros, banyak utang atau terlalu mengandalkan kartu kredit? Sadarilah sedini mungkin supaya kebiasaan buruk tersebut tidak berujung hingga hari tua.

5. Batasi Utang
Kendalikan uang Anda secara cerdas dan disiplin. Bijaksanalah ketika ingin berutang dan membayar cicilan, supaya Anda berpeluang mendapat pinjaman dengan bunga rendah.

6. Berinvestasi
Orang yang tidak mengenal investasi mungkin akan berpikir bahwa pasar saham terlalu berisiko. Itu adalah mitos. Jika Anda ingin memperluas portofolio di luar tabungan dan rekening pensiun, mulailah untuk belajar berinvestasi.

7. Segera Bayar Utang
Warren Buffett pernah melayangkan surat kepada pemegang saham perusahaan miliknya, yakni Berkshire Hathaway. Surat tersebut berisikan, "Hal paling penting ketika Anda menemukan diri dalam lubang adalah berhenti menggali." Jika Anda berutang di usia 20-an dan 30-an, mulailah berkomitmen untuk menghapusnya ketika memasuki usia 40 tahun.

8. Uang tidak memberikan kebahagiaan
Warren Buffett memiliki kekayaan yang membuat hidupnya menyenangkan, tapi banyak pula kekayaan yang membuat dirinya tidak senang. Menurutnya, aset yang paling berharga adalah kesehatan dan teman. Anda tidak perlu menghabiskan seluruh hidup untuk khawatir tentang uang.

9. Jangan Membandingkan dengan Orang Lain
Ketika orang lain terlihat memiliki kehidupan yang lebih baik dari Anda, janganlah rendah diri. Sikap itu hanya akan menyebabkan kerusakan pada pola pikir Anda. Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain. Dengan begitu, tujuan hidup Anda akan lebih mudah tercapai.

10. Yang Tahu Kondisi Keuangan adalah Diri Sendiri
Sebenarnya, para ahli keuangan tidak tahu kondisi keuangan Anda, kecuali diri Anda sendiri. Namun, Anda bisa menjadikan saran mereka sebagai motivasi untuk kehidupan yang lebih baik. Berhenti membandingkan prestasi keuangan Anda dengan orang lain, dan lakukan langkah terbaik untuk hidup Anda.


Sumber :
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3458900/belajar-keuangan-dari-ahlinya-warren-buffett

Monday, February 20, 2017

Cara Mengelola Uang untuk Ibu yang Bekerja dari Rumah

Tiga Cara Mengelola Uang untuk Ibu yang Bekerja dari Rumah

Bagi seorang perempuan, memiliki profesi dan pekerjaan tidak harus dilakukan di kantor. Perempuan juga bisa menjalankan pekerjaannya dari rumah.

Anda tidak perlu khawatir jika menjadi perempuan yang menjalankan pekerjaan dari rumah. Selain tetap memiliki penghasilan dan karier, bekerja dari rumah tentu membuat Anda bisa tetap mengurus anak dan suami.

Namun, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan agar Anda tetap bisa menjaga pengeluaran saat bekerja di rumah.

Dengan demikian, kebutuhan Anda saat bekerja dan kebutuhan rumah tangga pun bisa tetap terjaga.

Berikut sejumlah tip untuk para ibu yang bekerja dari rumah.

1. Penghematan dan periksa pengeluaran
Saat bekerja dari rumah, seringkali kita berpikir banyak pengeluaran yang dapat dihemat.

Namun, tentu saja perlu ada pengelolaan yang baik, hingga Anda masih bisa menyisakan uang untuk ditabung.

"Tidak peduli berapa banyak Anda menabung sekarang, yang terpenting pastikan Anda mengelola uang dari waktu ke waktu," kata Kimberly Palmer, penulis Smart Mom, Rich Mom: How to Build Wealth While Raising a Family,

Anda bisa menyimpan uang Anda ke dalam rekening atau investasi untuk jangka panjang.

2. Patuhi jadwal
Kelly Whalen, pengelola blog The Centsible Life, menjelaskan bagaimana bekerja dari rumah dapat memiliki banyak manfaat.

Ketika bekerja dari rumah, tentu Anda bisa terhindar dari padatnya lalu lintas dan juga mengurangi biaya.

Akan tetapi, agar pekerjaan Anda terus berjalan sebagaimana layaknya di kantor, Anda harus patuhi jadwal. Jika Anda tidak bisa mematuhi jadwal, maka Anda akan kewalahan dengan kegiatan yang ada di rumah.

Jika Anda tidak fokus terhadap pekerjaan, maka ini juga akan berpengaruh pada penghasilan Anda nantinya.


3. Strategi untuk menyediakan makanan yang cukup
Membuat makanan di rumah tentu akan mengurangi pengeluaran Anda.

Erin Chase, ahli pengelola makanan bekudan pendiri FreezEasy.com, menjelaskan bagaimana seorang ibu yang bekerja perlu mempersiapkan makanan lezat dan sehat, namun mudah dihidangkan.

Freezer tentu dapat menjadi teman terbaik saat rasa lapar datang, apalagi ketika Anda sedang bekerja di rumah.

Menurut Erin Chase, makanan yang dengan mudah tersedia akan mengurangi stress. Tentu saja, sebab membeli makanan di luar yang membutuhkan biaya tentu akan lebih merepotkan.


Sumber :
http://female.kompas.com/read/2016/08/19/162208220/tiga.cara.mengelola.uang.untuk.ibu.yang.bekerja.dari.rumah