Sunday, November 5, 2017

Dana Darurat

Gunakan Cara Ini untuk Persiapkan Dana Darurat Sekaligus Investasi

Dalam mempersiapkan masa depan dengan kondisi finansial yang mapan dan kokoh, memiliki dana darurat dan investasi sering kali disebutkan sebagai alternatif untuk mempersiapkan masa depan yang lebih terjamin.

Namun, jarang sekali orang yang bisa maksimal untuk menjalankan kedua hal tersebut. Setidaknya, salah satu antara dana darurat dan investasi yang dipilih. Itu pun jika sesuai dengan keadaan keuangan. Sebab keadaan keuangan setiap orang berbeda-beda.

Apakah bisa mengumpulkan dana darurat berbarengan dengan investasi?

Jawaban tersebut tentu bisa. Asalkan melakukan perhitungan terlebih dulu secara rinci mengenai dana darurat dan investasi. Dana darurat dan investasi sangat penting untuk dimiliki. Dana darurat bisa sebagai dana untuk pengeluaran yang tidak terduga atau urgen yang bisa terjadi kapan saja.

Sementara, investasi penting untuk pemenuhan kebutuhan di masa yang akan datang, seperti investasi pendidikan anak. Karena itu, ada baiknya kalau kita memiliki keduanya. Berikut ini tiga cara yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan dana darurat dan investasi secara bersamaan.

1. Hitunglah Dana yang Dialokasikan sebagai Dana Darurat dan Investasi
Untuk bisa memiliki dana darurat dan investasi secara berbarengan, harus diketahui terlebih dulu berapa total pendapatan yang dimiliki.

Dan berapa besar pengeluaran setiap bulannya. Misalnya, pendapatan yang dimiliki mencapai Rp10 juta rupiah per bulan. Sementara pengeluaran per bulannya hanya Rp 9 juta. Itu berarti uang yang tersisa hanya Rp1 juta.

Dana sebsesar itu bisa dialokasikan sebagai dana darurat dan investasi. Dengan kata lain, sisa dana sebesar Rp1 juta dialokasikan sebesar Rp500 ribu untuk dana darurat dan Rp500 ribu untuk investasi.

2. Mengatur Dana Darurat dan Investasi
Setelah bisa membagi rata alokasi antara dana darurat dan investasi, mulailah untuk mengatur keduanya agar bisa dialokasikan secara berkelanjutan. Khusus untuk dana Darurat, aturan yang ada sebenarnya berbeda.

Untuk yang belum menikah, alokasikan dana untuk dana darurat sebanyak enam kali pengeluaran bulanan. Untuk yang berstatus menikah, alokasikan dana untuk dana darurat sebanyak sembilan kali pengeluaran bulanan.

Sementara untuk yang menikah dan punya anak, alokasian dana untuk dana darurat sebesar duabelas kali pengeluaran bulanan.

Sebaiknya, jangan gabungkan antara dana darurat dan tabungan bulanan atau tabungan untuk membayar tagihan dan kewajiban bulanan.

Pisahkan ke rekening khusus dana darurat. Kemudian untuk investasi, tidak ada aturan khusus seperti dana darurat yang mesti punya rekening khusus. Yang harus diperhatikan dari investasi adalah tujuannya.

Jika untuk pendidikan, perkirakan jumlah investasi yang harus dikumpulkan. Salah satu instrumen investasi yang bisa digunakan adalah reksa dana.

3. Lakukan dengan Disiplin untuk Dapatkan Hasil yang Maksimal
Akan percuma perencanaan alokasi dana darurat dan investasi secara berbarengan jika tidak disiplin dalam menjalankannya.

Ingin hasil yang maksimal, Anda harus teratur dan berkelanjutan dalam mengumpulkan dana darurat dan menempatkan dana untuk investasi.

Seiring peningkatan penghasilan, jangan lupa untuk meningkatkan nilai dana darurat dan investasi. Sebab kalau nilai dana darurat dan investasi bisa tergerus nantinya karena tak menyesuaikan dengan besaran investasi.

Pastinya Anda tidak mau nilai dana darurat dan investasi terasa kecil karena besaran dana yang dialokasikan segitu-segitu saja.


Mulai Siapkan Sejak Dini

Langkah yang paling tepat untuk segera menjalankan dua hal tersebut adalah mulai menyiapkanya sejak dini. Dana darurat dan investasi tentu akan maksimal hasilnya jika dikumpulkan sejak dini.

Keuntungan yang Anda dapatkan juga akan sangat maksimal. Seandainya ada keperluan mendadak yang tidak terduga, Anda juga akan merasa tenang karena sudah mempersiapkan dana darurat dan investasi.


Sumber :
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/15/140000826/gunakan-cara-ini-untuk-persiapkan-dana-darurat-sekaligus-investasi.

Terbelit Hutang

Keluar dari Jebakan Utang

Apakah ada di antara Anda yang saat ini sedang terjebak atau terbelit dengan utang? Sudah berapa lama kira-kira Anda tidak dapat lepas dari utang ini? Setahun? Lebih dari dua tahun? Sepertinya selama-lamanya Anda tidak pernah lepas dari yang namanya utang. Bahkan utang seakan menjadi suatu keharusan agar dapat mencapai tujuan-tujuan keuangan.

Mau beli mobil, utang. Mau beli rumah, utang. Mau beli ponsel, utang. Bahkan untuk makan siang pun utang pakai kartu kredit. Well.. itu pilihan. Yang penting perhatikan rasio cicilan utang Anda. Jangan sampai lebih dari 30% dari penghasilan Anda, karena apabila lebih dikuatirkan keuangan Anda akan terganggu.

Jadi jika Anda saat ini terbelit utang yang tak ada habisnya dan Anda ingin bebas dari yang namanya utang, berikut beberapa langkah agar Anda bisa keluar dari jebakan utang:

1. Daftar seluruh utang Anda
Buka laptop Anda, buat tabel di spreadsheet. Daftarlah utang-utang Anda yang masih ada. Kepada siapa Anda berutang. Berapa jumlah saldo utang yang masih tersisa. Berapa besar bunganya per tahun. Berapa besar Anda membayar cicilannya. Dan sampai kapan Anda membayarnya.

2. Bayar utang dengan bunga paling tinggi terlebih dulu
Setelah Anda membuat list utang dengan rapi dan baik. Silakan diurutkan dari yang paling besar bunganya terlebih dulu. Tampilkan utang tersebut di urutan paling atas. Maka utang itulah yang harus Anda fokuskan untuk dilunasi paling awal. Lakukan seterusnya hingga seluruh utang lunas.

3. Jangan Tambah Utang Anda
Selama Anda melakukan program membebaskan diri dari jebakan utang ini. Tolong.. jangan tambah utang Anda. Jika Anda masih mengalami kesulitan, maka kurangi pengeluaran Anda dengan berbagai cara. Bisa juga Anda mencari tambahan pendapatan lain. Yang penting jangan tambah utang Anda. Boleh saja Anda melakukan gali lubang tutup lubang, namun utang baru yang Anda ambil jumlahnya tidak boleh melebihi utang yang ada, serta bunganya harus lebih rendah.

Jika seluruh belitan utang Anda sudah lepas dan rasio keuangan Anda sudah membaik, maka silakan berutang kembali (kalau mau) dengan pertimbangan masak dan tentunya sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pembayaran Anda.

Utang tidak semudah dan sesimpel yang selama ini sering dibahas di mana-mana. Itulah sebabnya banyak orang terjerat utang.


Sumber :
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3702077/keluar-dari-jebakan-utang

Thursday, March 30, 2017

Karyawan (juga) Bisa Kaya

Hasan Azzahid - detikFinance

Dari pengalaman saya bertemu HRD di beberapa perusahaan, masalah utama keuangan pribadi karyawan biasanya adalah ketidakmampuan mereka dalam mengatur keuangannya sehingga berujung kebangkrutan. Kebangkrutan tersebut bukannya dikarenakan dari tidak lancarnya pembayaran gaji, namun dari karyawannya sendiri yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya dengan gaji yang sudah diberikan. Padahal gaji yang diberikan bukanlah gaji untuk entry level.

Lalu apakah yang sebenarnya dibutuhkan agar karyawan menjadi kaya? Berikut beberapa langkah anda memulai perencanaan keuangan secara mandiri agar dapat kaya.

NiatTidak ada tips keuangan yang benar-benar efektif apabila tidak ada niat dari diri anda. Ketika anda bekerja, apakah niat anda? Apakah gaji yang anda terima hanya diniatkan sebagai pemenuh kebutuhan hidup anda saat ini saja? Renungkan kembali niat anda ketika menerima gaji, untuk apa gaji anda dihabiskan.

Jika anda memang ingin kaya, berarti anda harus banyak berkorban. Tidak ada pencapaian tinggi yang dapat diraih tanpa pengorbanan. Dalam hal mengatur keuangan, berarti anda harus mengorbankan keinginan anda untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan saat ini demi kekayaan di masa depan. Jika anda bukan orang yang bisa menahan diri, hindarilah kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan anda konsumtif.

Niatkan lah bahwa gaji anda adalah kendaraan anda menuju kekayaan. Buanglah segala alasan yang menahan anda menjadi kaya. Niatkanlah bahwa setiap gaji yang anda dapatkan haruslah membawa anda menjadi kaya. Apabila dihadapkan oleh pilihan di mana anda harus memilih antara keinginan konsumtif dan kekayaan, anda harus memilih kekayaan di masa depan sebagai pilihan anda.

Biasakan berinvestasi
Sudah tertanam pada diri kita sejak kecil untuk diajarkan menabung, bukan berinvestasi. Secara umum, masyarakat Indonesia memang tergolong konservatif terhadap risiko, namun menginginkan hasil yang lebih. Hal ini merupakan salah satu faktor mengapa banyak masyarakat yang tertipu oleh investasi bodong.

Berinvestasilah pada produk keuangan yang diawasi oleh otoritas keuangan secara resmi. Tanamkan bahwa tingkat imbal hasil selalu berbanding lurus dengan risiko. Ekspektasi imbal hasil yang tinggi selalu diikuti dengan risiko yang tinggi pula. Karena pada dasarnya kita menjalani hidup memang tidak mungkin ada yang bebas risiko. Bahkan sebagai karyawan pun, risiko terbesar anda adalah ketika muncul pengeluaran tidak terduga yang melebihi penghasilan anda.

Anda bisa memulai membiasakan diri dengan fasilitas auto debet (jika ada). Prioritaskan pengeluaran investasi terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pengeluaran konsumtif.

Jangan lupa berinvestasi kepada diri sendiri
Yang sering diabaikan selanjutnya oleh masyarakat Indonesia adalah berinvestasi pada diri sendiri. Maksud berinvestasi pada diri sendiri adalah mengeluarkan uang untuk meningkatkan kompetensi anda. Peningkatan kompetensi pasti akan meningkatkan kekayaan anda. Baik itu dengan cara mengetahui bagaimana meningkatkan aset, maupun meningkatkan penghasilan anda sebagai karyawan. Tentu saja jika anda punya pengalaman plus kompetensi yang di atas rata-rata, anda akan dihargai lebih mahal bukan?

Saat ini banyak sekali workshop yang dapat meningkatkan kemampuan anda. Baik itu berupa kemampuan yang sejalan dengan pekerjaan anda saat ini maupun kemampuan pendukung lainnya. Berinvestasilah pada ilmu dan rasakan lah bahwa ilmu yang dalam dan luas menuntun anda pada kekayaan. Jangan hanya mengandalkan training gratis dari perusahaan.

Miliki dana darurat terlebih dahulu
Kesalahan yang banyak orang lakukan adalah berinvestasi terlebih dahulu tanpa memiliki dana darurat. Sebagai karyawan, anda memang memiliki pendapatan yang stabil, namun harus anda sadar pengeluaran anda belum tentu bisa sama stabilnya dengan pendapatan anda. Tidak memiliki dana darurat justru dapat membuat rencana investasi anda berantakan.

Dana darurat adalah jaring pengaman anda menuju kekayaan. Apabila memang anggaran anda tidak cukup untuk berinvestasi, prioritaskan dahulu dana darurat dibanding investasi. Apabila dana darurat sudah terbentuk, anda bisa berinvestasi secara nyaman tanpa mengganggu cashflow anda.

Menentukan tujuan aset yang bisa diraih dengan gaji saat ini
Anda menginginkan membeli rumah? Hitunglah anggaran yang bisa anda sisihkan untuk membeli rumah. Apabila rumah di lokasi impian anda terlalu mahal, carilah alternatif lain yang masih bisa anda jangkau. Merencanakan keuangan bukanlah sulap yang membuat anda kaya raya dalam sekejap mata. Anda membutuhkan konsistensi terhadap rencana anda. Karena sekali lagi, tips ini seperti simpel, namun sebenarnya sangat susah dilaksanakan. Maka dari itu, niat anda untuk melakukan semua hal ini harus lurus dan kuat. Dibantu juga dengan belajar mengelola keuangan yang baik dan benar, serta belajar investasi.


Sumber :
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3452080/karyawan-juga-bisa-kaya

Tips Perencanaan Keuangan dari Warren Buffett

Belajar Keuangan Dari Ahlinya, Warren Buffett
Tung Desem Waringin - detikFinance

Seorang investor sukses dan pengusaha asal Amerika Serikat bernama Warren Buffett. Namanya masuk ke dalam jajaran orang terkaya di dunia. Namun, miliuner yang membeli saham pertamanya saat berusia 11 tahun ini justru dikenal dengan kesederhanaannya. Berikut adalah 10 tips keuangan ala Warren Buffett:

1. Hemat
Menurutnya, belanja secara berlebihan, membeli barang yang tidak ada gunanya, hanya akan membuat Anda bangkrut. Mulai sekarang, cobalah untuk belanja cerdas dengan mencari promo, penawaran kupon, dan lain sebagainya.

2. Butuh Proses
Saat Anda memasuki usia 40 tahun, bukan berarti Anda harus memiliki kekayaan seperti rumah yang besar, tiga mobil mewah, dan saldo tabungan miliaran rupiah. Yang perlu Anda lakukan adalah membuat kestabilan ekonomi dengan tujuan jangka panjang dan pemahaman bahwa kekayaan membutuhkan waktu.

3. Menabung
Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Menabung merupakan proses penuh perjuangan dan tidak pernah ada kata terlambat untuk memulainya. Lakukanlah secara rutin dan jadikan sebagai prioritas.

4. Belajar dari Kesalahan
Pengalaman adalah guru terbaik. Pada usia 40 tahun, Anda memiliki pengalaman hidup yang cukup untuk memahami kesalahan keuangan yang telah diambil. Apakah Anda terlalu boros, banyak utang atau terlalu mengandalkan kartu kredit? Sadarilah sedini mungkin supaya kebiasaan buruk tersebut tidak berujung hingga hari tua.

5. Batasi Utang
Kendalikan uang Anda secara cerdas dan disiplin. Bijaksanalah ketika ingin berutang dan membayar cicilan, supaya Anda berpeluang mendapat pinjaman dengan bunga rendah.

6. Berinvestasi
Orang yang tidak mengenal investasi mungkin akan berpikir bahwa pasar saham terlalu berisiko. Itu adalah mitos. Jika Anda ingin memperluas portofolio di luar tabungan dan rekening pensiun, mulailah untuk belajar berinvestasi.

7. Segera Bayar Utang
Warren Buffett pernah melayangkan surat kepada pemegang saham perusahaan miliknya, yakni Berkshire Hathaway. Surat tersebut berisikan, "Hal paling penting ketika Anda menemukan diri dalam lubang adalah berhenti menggali." Jika Anda berutang di usia 20-an dan 30-an, mulailah berkomitmen untuk menghapusnya ketika memasuki usia 40 tahun.

8. Uang tidak memberikan kebahagiaan
Warren Buffett memiliki kekayaan yang membuat hidupnya menyenangkan, tapi banyak pula kekayaan yang membuat dirinya tidak senang. Menurutnya, aset yang paling berharga adalah kesehatan dan teman. Anda tidak perlu menghabiskan seluruh hidup untuk khawatir tentang uang.

9. Jangan Membandingkan dengan Orang Lain
Ketika orang lain terlihat memiliki kehidupan yang lebih baik dari Anda, janganlah rendah diri. Sikap itu hanya akan menyebabkan kerusakan pada pola pikir Anda. Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain. Dengan begitu, tujuan hidup Anda akan lebih mudah tercapai.

10. Yang Tahu Kondisi Keuangan adalah Diri Sendiri
Sebenarnya, para ahli keuangan tidak tahu kondisi keuangan Anda, kecuali diri Anda sendiri. Namun, Anda bisa menjadikan saran mereka sebagai motivasi untuk kehidupan yang lebih baik. Berhenti membandingkan prestasi keuangan Anda dengan orang lain, dan lakukan langkah terbaik untuk hidup Anda.


Sumber :
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3458900/belajar-keuangan-dari-ahlinya-warren-buffett

Monday, February 20, 2017

Cara Mengelola Uang untuk Ibu yang Bekerja dari Rumah

Tiga Cara Mengelola Uang untuk Ibu yang Bekerja dari Rumah

Bagi seorang perempuan, memiliki profesi dan pekerjaan tidak harus dilakukan di kantor. Perempuan juga bisa menjalankan pekerjaannya dari rumah.

Anda tidak perlu khawatir jika menjadi perempuan yang menjalankan pekerjaan dari rumah. Selain tetap memiliki penghasilan dan karier, bekerja dari rumah tentu membuat Anda bisa tetap mengurus anak dan suami.

Namun, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan agar Anda tetap bisa menjaga pengeluaran saat bekerja di rumah.

Dengan demikian, kebutuhan Anda saat bekerja dan kebutuhan rumah tangga pun bisa tetap terjaga.

Berikut sejumlah tip untuk para ibu yang bekerja dari rumah.

1. Penghematan dan periksa pengeluaran
Saat bekerja dari rumah, seringkali kita berpikir banyak pengeluaran yang dapat dihemat.

Namun, tentu saja perlu ada pengelolaan yang baik, hingga Anda masih bisa menyisakan uang untuk ditabung.

"Tidak peduli berapa banyak Anda menabung sekarang, yang terpenting pastikan Anda mengelola uang dari waktu ke waktu," kata Kimberly Palmer, penulis Smart Mom, Rich Mom: How to Build Wealth While Raising a Family,

Anda bisa menyimpan uang Anda ke dalam rekening atau investasi untuk jangka panjang.

2. Patuhi jadwal
Kelly Whalen, pengelola blog The Centsible Life, menjelaskan bagaimana bekerja dari rumah dapat memiliki banyak manfaat.

Ketika bekerja dari rumah, tentu Anda bisa terhindar dari padatnya lalu lintas dan juga mengurangi biaya.

Akan tetapi, agar pekerjaan Anda terus berjalan sebagaimana layaknya di kantor, Anda harus patuhi jadwal. Jika Anda tidak bisa mematuhi jadwal, maka Anda akan kewalahan dengan kegiatan yang ada di rumah.

Jika Anda tidak fokus terhadap pekerjaan, maka ini juga akan berpengaruh pada penghasilan Anda nantinya.


3. Strategi untuk menyediakan makanan yang cukup
Membuat makanan di rumah tentu akan mengurangi pengeluaran Anda.

Erin Chase, ahli pengelola makanan bekudan pendiri FreezEasy.com, menjelaskan bagaimana seorang ibu yang bekerja perlu mempersiapkan makanan lezat dan sehat, namun mudah dihidangkan.

Freezer tentu dapat menjadi teman terbaik saat rasa lapar datang, apalagi ketika Anda sedang bekerja di rumah.

Menurut Erin Chase, makanan yang dengan mudah tersedia akan mengurangi stress. Tentu saja, sebab membeli makanan di luar yang membutuhkan biaya tentu akan lebih merepotkan.


Sumber :
http://female.kompas.com/read/2016/08/19/162208220/tiga.cara.mengelola.uang.untuk.ibu.yang.bekerja.dari.rumah

Sunday, January 4, 2015

20 Tips Keuangan Ala Safir Senduk

Siapa yang tidak mengenal Safir Senduk? Tokoh perencana keuangan ini jebolan STIE I/BMI Jakarta. Dia adalah penulis di sejumlah media cetak a.l. Tabloid Bisnis Uang dan sejumlah radio a.l. Indika 91,6 FM dan Pas 92,4 FM. Keduanya di Jakarta.

Dia penulis sejumlah buku tentang perencanaan keuangan dan buku terkenalnya Seri Perencanaan keuangan Keluarga. Selain sebagai pembicara di sejumlah seminar, televise dan radio, juga pemilik www.perencanakeuangan.com,  situs terlengkap di Indonesia tentang perencanaan keuangan. Ada juga akun @SafirSenduk.


Berikut adalah  salah satu tips keuangannya dengan judul 20 Tips Keuangan ala Safir Senduk  yang sangat populer itu:

1. Secara Sopan Santun, Bank gak boleh ngeluarin Kartu Kredit tanpa Seijin Kita.

2. Bisnis apa yang Modal Kecil tapi bisa dijual mahal? Bisnis Konsultasi.

3. Investasi Barang Koleksi. Semua Barang bisa dikoleksi, tapi tidak semua Barang Koleksi bagus untuk Investasi.

4. Anda Karyawan sekaligus Bisnis Sampingan? Silakan berhenti jadi Karyawan kalau Penghasilan Bisnis sudah 3x Gaji.

5. Pengen Mobil tapi Dana Terbatas? Pertimbangkan Mobil Second. Ini karena Nilai Mobil menyusut Sangat Besar di Tahun-tahun Pertama.

6. Pengen Kredit Mobil baru? Kalau punya cashnya, mending bayar cash aja.

7. Dua Macam Aset: (1) Aset yg bikin kita selalu Keluar Uang Tiap Bulan, dan (2) Aset yg bikin kita Dapat Uang Tiap Bulan.

8. 5 Komponen Biaya Liburan: (1) Transport, (2) Akomodasi, (3) Makan Minum, (4) Obyek Wisata, dan (5) Belanja & Oleh-oleh.

9. Anda Single Parent? Pertimbangkan untuk punya Bisnis Sendiri. Jangan Melulu mengandalkan Pekerjaan Sebagai Karyawan.

10. Kredit Barang Bank Syariah: Bank beli barang itu, lalu JUAL ke kita dgn Harga Lebih Tinggi yang kita cicil. Sampai Lunas. Fixed.

11. Beda Beli Barang via Kredit di Bank Umum & Bank Syariah? Bank Umum: Kita bayar Pokok+Bunga yg Naik Turun. Akadnya Kredit

12. Beda Nabung di Bank Umum & Bank Syariah? Di Bank Umum dapatnya Bunga. Di Bank Syariah dapatnya Bagi Hasil (dari Keuntungan Bank).

13. Makin Panjang Jangka Waktu Invest, makin GPP pilih Produk Investasi yg Potensi Hasilnya Besar biarpun Risikonya Besar.

14. Tab Berjangka vs Asuransi Jiwa? Kalau pilihannya hanya 2 itu, maka u/ Hasil Lebih Besar, pilih Tab. Berjangka.

15. Tips Liburan Budget Mepet: Tekan di Biaya Penginapan & Transport. Penginapan: Hotel Melati. Transport: Low Fare Airline.

16. Tiga Macam Budget Liburan: (1) Budget Mepet, (2) Budget Normal, (3) Budget Lebih.

17. Yg namanya Kredit, sebaiknya digunakan u/ Hal Produktif. Kalau Kredit cuma jadi Sofa, Baju atau Liburan, itu mah percuma.

18. Makan Sebelum Lapar, Berhenti Sebelum Kenyang. Dlm Keuangan, Siapkan Investasi dr Jauh Hari, dan Jgn Tamak dgn Returnnya.

19. Reksa Dana Syariah: Reksa Dana yang berinvestasi ke Instrumen Pasar Modal dan Pasar Uang yang sesuai Syariah Islam.

20. “Untuk yg baru kerja, Dana Terbatas, mulailah dengan Tabungan Berjangka, kemudian meningkat ke ReksaDana.


http://manajemen.bisnis.com/read/20130729/55/153634/20-tips-keuangan-ala-safir-senduk

Saturday, December 27, 2014

Kerja Maksimal Uang Minimal

Kerja Maksimal Uang Minimal, Apa yang terjadi?

Menjadi orang yang mapan secara finansial adalah impian banyak orang. Masalahnya, hanya sedikit orang yang benar-benar disiplin mengatur arus uang, selebihnya memilih untuk menerapkan gaya hidup ekstravaganza yang membuat mereka tersiksa di hari menjelang gajian.

Berikut ini beberapa penyebab mengapa nominal pada tabungan Anda tak kunjung meningkat dari bulan ke bulan?

Pengeluaran yang berlebih
Lebih besar pasak daripada tiang, Itulah pribahasa yang tepat bagi keadaan Anda yang lebih besar pengeluaran daripada pemasukan. Anda harus dapat mengendalikan semua pengeluaran yang Anda lakukan.

Menurut Ramit Sethi, Financial Expert, Penulis I will Teach You To Be Rich, dan Rod Ebrahimi, CEO, Ready for Zero, menyarankan untuk Anda memaksakan pemasukan untuk setara dengan gaya hidup berlebihan. Turunkan ekspektasi Anda, sadari bahwa uang yang Anda sia-siakan di waktu sekarang bisa menjadi aset berharga di masa depan.

Kebiasaan buruk
Kebiasaan buruk adalah saat memegang uang lebih Anda menjadi punya hasrat untuk membeli segala sesuatu. Cobalah batasi keinginan Anda untuk membeli barang-barang tak penting yang bukan jadi kebutuhan Anda.

Utang
Kartu kredit bisa jadi pedang bermata dua, di sisi lain banyak promo dan kelebihan yang diberikan oleh kartu kredit, di sisi lain tumpukan utang Anda kian “subur”. Untuk Anda yang belum bisa mengendalikan keuangan, pikir seribu kali untuk membuka kartu kredit.

Terlalu banyak tagihan
Cobalah cek kembali tagihan bulanan Anda. Jika ada biaya yang dapat Anda kurangi tiap bulannya, tak ada salahnya untuk berhenti berlangganan atau mungkin tidak memakai jasa tersebut sama sekali.


Sumber :
BOLDSKY
http://female.kompas.com