Thursday, February 13, 2014

Berbelanja Sembunyi-Sembunyi


Belanja memang menjadi salah satu kesukaan para perempuan. Tetapi sayangnya setelah menikah aktivitas ini menjadi salah satu hal yang sering disembunyikan dari pasangan.

Menyembunyikan tagihan belanja atau tidak jujur mengenai harga barang yang dibeli adalah salah satu hal yang kerap dilakukan karena takut atau malu jika suami mengetahui Anda menghamburkan uang untuk berbelanja.

Sebenarnya bukan cuma wanita yang kerap menyembunyikan hasil belanjanya. Para pria juga, tapi jenis barangnya yang berbeda.

Wanita umumnya menyembunyikan pakaian atau aksesoris yang mereka beli. Sementara para pria umumnya tidak terbuka mengenai uang yang mereka habiskan untuk makan di restoran atau ke bar.

Namun sikap tidak jujur tersebut sebaiknya dihentikan. "Berbelanja sembunyi-sembunyi atau tidak jujur tentang uang yang sudah dikeluarkan adalah indikator besar adanya masalah kepercayaan dalam perkawinan," kata Ian Kerner, pakar hubungan dan penulis buku Passionista.

Kalau mau jujur, sebenarnya apa ketakutan terbesar kita jika bersikap transparan mengenai kegiatan belanja tersebut? Apakah suami adalah orang yang memegang kontrol dalam perkawinan dan keuangan? Apakah Anda punya masalah dengan sifat kompulsif dalam belanja?

"Kita bisa belajar untuk berkomunikasi efektif dengan pasangan, tidak hanya dalam soal uang tapi juga hal lain yang berkaitan dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan," katanya.

Kerner juga menyarankan agar Anda dan pasangan bersama-sama merancang pengaturan keuangan dan membuat pos belanja khusus untuk kebutuhan pribadi atau hobi.

"Jangan lupa untuk membuat kesepakatan jika suatu kali ingin membeli barang yang harganya di atas anggaran maka akan didiskusikan dulu sebelum menggesek kartu kredit," katanya.

Sumber :
http://female.kompas.com

Thursday, January 16, 2014

Perencanaan Kondisi Keuangan Masa Depan


oleh Harris Turino




Sudah menjadi satu fenomena yang umum bahwa banyak di antara rekan-rekan kita, ataupun orang-orang di sekitar kita yang sering mengeluh bahwa kondisi keuangannya morat-marit.

Jumlah utangnya menggunung dan melebihi pendapatannya, bahkan melebihi jumlah asset yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini yang biasanya menjadi kambing hitam adalah kecilnya jumlah pendapatan yang dimilikinya.

Padahal akar permasalahan yang sebenarnya bukan berada pada sisi pendapatan saja, tetapi kegagalan mengelola keuangan. Banyak di antara kita yang tidak memiliki perencanaan keuangan, bahkan tidak pernah berpikir untuk merencanakan kondisi keuangan, apalagi di masa mendatang.

Perencanaan keuangan sebenarnya merupakan aktivitas mutlak yang harus dilakukan oleh setiap orang dan inilah yang akan membedakan antara kelompok orang-orang yang selalu terjebak oleh kesulitan likuiditas dan kelompok orang-orang yang bisa menikmati hidupnya. Tulisan ini akan mencoba untuk membahas secara sederhana, bagaimana seseorang harus mulai merencanakan keuangannya.



Mendiagnosa kondisi keuangan

Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam penyusunan rencana keuangan adalah mendiagnosa kondisi keuangan pribadi kita saat ini. Yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosa kondisi keuangan adalah besarnya total pendapatan, total pengeluaran, besarnya aset dan kewajiban hutang yang kita miliki.

Secara umum jelas bahwa jumlah total pendapatan tidak boleh melebihi total pengeluaran. Bagi orang yang memiliki pendapatan tetap tiap bulan maka dengan mudah bisa diperkirakan besarnya total pendapatan dalam satu tahun, termasuk pendapatan non rutin seperti tunjangan hari raya dan bonus. Maka pengeluarannya harus diatur tidak melebihi total pendapatan rutin yang dimilikinya.

Pendapatan non rutin tidak boleh dialokasikan untuk menanggung total pengeluaran, tetapi harus dialokasikan untuk tujuan investasi atau memperkuat dana darurat. Sedangkan bagi orang yang memiliki jenis pendapatan variabel (tidak tetap) maka total pengeluarannya tidak boleh melebihi 80% rata-rata pendapatannya.
Pos berikutnya yang perlu dicermati adalah asset. Kita sering sekali keliru mendefinisikan tentang aset dalam kaitannya dengan perencanaan keuangan.

Aset sebenarnya adalah segala sesuatu yang memberikan hasil atau mendukung aktivitas produktif kita. Contoh yang sederhana adalah rumah yang kita tinggali dan kendaraan yang kita pakai bisa digolongkan ke dalam aset karena mendukung aktivitas produktif kita, sedangkan villa, stereo set, gitar akustik, tongkat golf dan kendaraan kedua yang jarang kita pakai, jelas bukan merupakan kategori aset. Tabungan dan investasi adalah salah satu ujud nyata aset yang memberikan imbal hasil.

Utang adalah hal yang jamak dilakukan dan sebenarnya bukan hal yang perlu ditakuti. Utang pada hakikatnya adalah menambah daya beli kita dengan menarik pendapatan kita di masa mendatang ke masa kini.

Yang perlu dicermati dalam hal utang adalah jenis utang dan besarnya kewajiban cicilan yang harus kita tanggung. Kredit rumah dan kendaraan produktif jelas merupakan jenis utang yang wajar dan bisa ditoleransi, tetapi utang kartu kredit adalah jenis hutang yang mutlak harus dihindari. Tingkat bunga utang kartu kredit rata-rata mencapai 35 – 48 persen per tahun dan ini jelas membebani likuditas keuangan kita.

Mengingat besarnya tingkat bunga kartu kredit, maka penggunaan kartu kredit harus diwaspadai sebatas demi kepraktisan dan kenyamanan saja dan bukan untuk meningkatkan daya beli kita dengan cara berutang.

Dalam hal mengelola utang, besarnya total kewajiban pembayaran cicilan utang kita tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Bila kita sudah terjebak pada kondisi kewajiban membayar hutang yang melebihi ambang batas tersebut, maka retrukturisasi utang mutlak harus dilakukan dengan memprioritaskan pada utang-utang yang memiliki bunga tinggi, seperti utang kartu kredit, kredit tanpa agunan dan sejenisnya.


Memiliki Dana Darurat

Langkah kedua dalam penyusunan rencana keuangan adalah memeriksa ketersediaan dana darurat yang kita miliki. Dana darurat adalah dana yang sewaktu-waktu harus tersedia bila muncul pengeluaran yang tidak terduga.

Banyak orang tidak memikirkan ketersediaan dana darurat dalam perencanaan keuangan mereka, sehingga ketika muncul pengeluaran tidak terduga maka yang sering dilakukan adalah menambah kemampuan daya beli dengan menciptakan hutang, dan biasanya jenis utangnya adalah utang dengan tingkat bunga tinggi seperti hutang kartu kredit dan kredit/pinjaman tanpa agunan.

Padahal jelas bahwa utang sebenarnya sama sekali tidak boleh dijadikan andalan untuk menutup pengeluaran tidak terduga ini. Di sinilah pentingnya ketersediaan dana darurat, sehingga kita tidak terjebak lilitan utang berbunga tinggi.

Besarnya dana darurat yang harus dimiliki dalam perencanaan keuangan bervariasi, mulai dari 5 sampai 20 kali total pengeluaran bulanan kita, tergantung dari beban yang kita tanggung. Bila kita masih single maka cukup memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran, sedangkan semakin banyak anggota keluarga kita, maka semakin besar dana darurat yang harus kita siapkan.

Patokan yang sederhana adalah tiap anggota keluarga yang menjadi tanggunan kita harus memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran. Sehingga bila kita sudah menikah dan memiliki 2 anak, maka total besarnya dana darurat yang kita miliki adalah 20 kali total pengeluaran bulanan kita. Dana darurat ini bukan termasuk kategori investasi, tetapi tetap dana darurat ini harus diinvestasikan agar berkembang.

Pilihan jenis investasi untuk dana darurat adalah investasi yang sifatnya likuid dan memiliki tingkat risiko investasi yang relatif kecil. Investasi pada dana darurat bukan untuk tujuan pertumbuhan tetapi lebih pada ketersediaan sewaktu-waktu dan tidak lekang oleh inflasi. Harus disadari bahwa besarnya dana darurat ini harus meningkat sejalan dengan meningkatnya taraf hidup kita. 


Membuat Daftar Pengeluaran

Langkah ketiga dalam penyusunan rencana keuangan adalah membuat daftar pengeluaran. Pada tahap ini yang mutlak dilakukan adalah memeriksa jenis pengeluaran yang selama ini kita jalani.

Secara garis besar jenis pengeluaran itu bisa dibagi menjadi empat bagian, yaitu membayar kewajiban hutang, pengeluaran rutin seperti biaya rumah tangga, listrik, telepon, dan lain-lain, investasi dan pengeluaran pribadi.

Seperti sudah dijelaskan pada langkah pertama di atas, besarnya kewajiban membayar utang (cicilan) tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Dan ini harus ditempatkan pada prioritas pertama dari sisi pengeluaran.

Menunda kewajiban pembayaran utang hanya akan menimbulkan peluang terciptanya utang baru di masa depan yang memiliki tingkat bunga lebih tinggi. Prioritas kedua dalam pengeluaran adalah mengelola pengeluaran rutin.

Harus dibedakan secara jelas antara pengeluaran rutin dan pengeluaran pribadi. Pengeluaran rutin adalah jenis pengeluaran yang mutlak harus dilakukan untuk mendukung aktivitas produktif kita, tidak bisa dihemat tanpa menurunkan kualitas hidup dan tidak bisa dihindari, sedangkan pengeluaran pribadi adalah jenis pengeluaran yang harus dikorbankan bila terjadi penurunan pendapatan.

Besarnya pengeluaran rutin harus dijaga pada kisaran 50 persen dari total pendapatan kita. Bila pengeluaran rutin sudah melebihi ambang batas 60 persen dari total pendapatan kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk berinvestasi.

Akibatnya kita akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup di masa yang akan datang. Jadi bila pengeluaran rutin sudah mendekati ambang batas, kita harus bekerja lebih giat lagi agar total pendapatan kita meningkat.

Investasi juga harus menjadi prioritas dalam alokasi “pengeluaran” kita. Investasi ini berguna untuk meningkatkan kualitas hidup kita di masa yang akan datang. Investasi akan menambah aset yang kita miliki dan menjadi sumber pendapatan pasif.

Budaya investasi harus mulai dilakukan sejak dini, seberapa kecilpun pendapatan kita. Besarnya alokasi “pengeluaran” untuk investasi minimal adalah 10 persen dari total pendapatan kita. Agar kondisi ini tercapai, maka alokasi investasi bukan dari sisa pendapatan kita setelah dikurangi dengan pengeluaran, tetapi memang sudah dialokasikan begitu kita menerima pendapatan.

Perlu dipahami bahwa investasi tidak sama dengan menabung, karena menabung hanya memberikan tingkat pertumbuhan asset yang relatif sangat kecil. Semakin muda usia kita semakin besar bobot (persentasi) investasi kita di instrumen-instrumen investasi yang mampu memberikan tingkat pengembalian yang tinggi untuk mendukung masa depan keuangan kita.

Harus disadari bahwa investasi yang memberikan tingkat imbal hasil tinggi selalu memiliki tingkat risiko yang tinggi dan tingkat resiko tersebut harus tetap sesuai dengan karakteristik toleransi risiko yang kita miliki. Semakin mapan kondisi ekonomi kita, maka alokasi aset dalam bentuk investasi harus semakin besar, sampai pada gilirannya kita bisa mencapai kebebasan finansial bila hasil yang kita terima dari kerja asset investasi kita sudah melebihi atau paling tidak mendekati hasil kerja produktif kita.

Pengeluaran pribadi adalah satu-satunya jenis pengeluaran yang boleh dan harus dikorbankan ketika terjadi kenaikan persentasi pengeluaran di ketiga pos pengeluaran yang lainnya. Penundaan dan pengurangan pada pos pengeluaran pribadi tidak akan mengurangi kualitas hidup kita dan tidak membahayakan kondisi keuangan kita di masa yang akan datang.

Hal ini jelas berbeda apabila kita mengurangi alokasi pengeluaran kita pada ketiga pos prioritas pengeluaran yang pertama. Salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran pribadi adalah dengan membuka akun khusus di bank yang digunakan untuk mendukung pengeluaran pribadi ini dan akun ini hanya berisi sisa dari pendapatan kita bulan sebelumnya setelah dikurangi dengan total pengeluaran kita di ketiga pos pengeluaran prioritas yang tidak boleh diganggu gugat.

Akun khusus inilah yang digunakan mendanai pengeluaran pribadi agar tidak menggerogoti ketiga pos pengeluaran prioritas. Dengan adanya akun khusus ini maka kita juga tidak perlu repot-repot untuk menghitung besarnya alokasi pengeluaran pribadi yang boleh dilakukan.

Setelah kita membenahi kondisi keuangan kita maka kita harus memasuki langkah keempat, yaitu merencanakan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang kita. Dalam menentukan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang harus jelas tergambar tujuan keuangan yang ingin dicapai dan kurun waktu untuk mencapainya.

Target tujuan tentu saja harus realistis dan disesuaikan dengan kondisi kita. Target jangka panjang kemudian dipecah-pecah menjadi target-target jangka pendek dan strategi mencapai tujuan tersebut.

Salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan pencapaian tujuan keuangan adalah komitmen dan ketertiban kita mematuhi strategi yang sudah ditentukan. Perencana keuangan profesional dari dunia perbankan bisa dilibatkan untuk menata tujuan keuangan kita.

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi bagi kita untuk menata ulang dan memperbaiki kondisi keuangan pribadi kita. Selamat berinvestasi.


Harris Turino
Faculty Member Prasetiya Mulya Business School, Pelaku Bisnis dan Pengamat Pasar Modal serta Kandidat Doktor Manajemen Strategik Universitas Indonesia

Sumber :
http://female.kompas.com

Saturday, December 21, 2013

Pentingnya Membuat Laporan Keuangan


Laporan keuangan merupakan panduan bagi kita untuk mengevaluasi kinerja usaha kita. Terkadang bagi UKM, laporan keuangan bukan merupakan hal yang diprioritaskan dalam berusaha. “Yang penting jalan dulu aja deh”, menurut para pelaku UKM apabila ditanyakan mengenai laporan keuangan.

Sebenarnya dengan laporan keuangan, informasi apa saja yang pelaku UKM bisa dapatkan?

1.      Usahaku Untung atau Rugi? 

Inilah pertanyaan pertama semua pelaku usaha yang membutuhkan laporan keuangan. Usahaku ini untung atau rugi. Apabila teman-teman UKM mempunyai minimum pencatatan uang masuk dan keluar dari kegiatan usahanya, laporan laba rugi ini bisa dengan mudah dibuat. Cukup dengan menjumlahkan semua penghasilan yang didapat dari penjualan produk atau jasa kita dikurangi dengan semua biaya yang kita keluarkan. Laporan laba rugi ini masih sederhana sekali, cocoknya untuk jasa dan perdagangan sederhana.

2.      Usahaku Berkembang Tidak Ya? 

Indikator usaha kita berkembang atau tidak, dapat dilihat dari laporan bulan per bulan yang dihasilkan dari laporan laba rugi. Contohnya, apabila penjualan kita meningkat (biasa disebut omzet), maka usaha kita berarti berkembang dari sisi penjualan. Nah sekarang tinggal teman-teman cek juga untuk biayanya. Normalnya adalah total biaya kurang dari total penjualan yang berarti laba/untung. Apabila usaha kita berkembang tetapi masih rugi, dapat dibuat evaluasi kira-kira biaya apa yang mempengaruhi hal tersebut.

3.      Perkembangannya Sudah Sesuai Harapan 

Terkadang harapan pelaku UKM untuk usahanya sederhana saja. Bisa tidak ya usaha saya ini menggantikan pekerjaan utama saya? Itulah harapan pada umumnya. Pelaku UKM bisa mengevaluasi posisi laba usahanya dan melakukan simulasi  apabila ingin berhenti dari pekerjaan utama nya. Normalnya adalah usaha tersebut dapat menutup biaya gaji pemilik dan karyawan dan masih menghasilkan laba. Tetapi jangan langsung diukur dengan gaji yang besar, karena bisa jadi usaha yang kita dirikan masih membutuhkan dana untuk berkembang.

4.      Produk atau Jasa Mana yang Paling Menguntungkan 

Dengan membagi penjualan berdasarkan kategori, evaluasi yang dihasilkan bisa sampai dengan apakah produk atau jasa mana yang paling menguntungkan. Contoh : apabila kita berjualan pulsa, pulsa dari operator manakah yang lebih untung dan yang manakah yang lebih cepat lakunya. Hal ini dapat dijadikan penentuan strategi, kita akan berfokus pada produk atau jasa yang mana. 

5.      Apakah Harus Lanjut atau Tutup   

Pertanyaan ini biasanya ditanyakan para pelaku UKM yang secara terus menerus menyetor uang untuk tambahan modal usahanya. Dengan laporan keuangan, contohnya setelah Anda memiliki laporan keuangan selama 2 tahun, usaha yang Anda jalankan ternyata omset penjualan belum mencapai target dan biaya yang dikeluarkan tidak bisa dikurangi. Artinya apakah pilihan usaha tersebut akan dilanjutkan atau dihentikan saja. Dengan begitu, penilaian kita lebih obyektif dan bukan berdasarkan perasaan kita pribadi.

Sekian artikel mengenai kegunaan dari laporan keuangan. Semoga dapat membantu pelaku UKM dalam mengembangkan bisnisnya.

Sumber:
http://portalpengusaha.com/

Tuesday, December 17, 2013

Perencanaan Keuangan saat Punya Anak Lagi


Senang rasanya, ketika berencana untuk menambah anak lagi dengan pasangan.  Buat saya sendiri, hamil dan ketika anak masih bayi adalah masa yang paling membuat was-was sekaligus juga menyenangkan. Was-was karena si bayi belum bisa menolong diri sendiri, sehingga orangtua harus menjaga kondisi si bayi supaya aman dan nyaman. Senang karena melihat pertumbuhan mereka yang sangat pesat di usia tersebut.

Ternyata, hamil dan mengurus si sulung saat masih bayi dengan mengurus adiknya, sangatlah berbeda. Secara mental, tentunya ketika anak pertama cenderung serba takut.  Semua dilakukan serba hati-hati, karena pengalaman mengurus bayi yang masih minim. Namun ketika si adik lahir, rasa percaya diri dalam mengurusnya lebih tinggi, karena pengalaman mengurus si kakak. Walaupun tidak sama persis, tapi setidaknya sudah punya skills dasarnya.

Begitu juga dalam merencanakan keuangan. Bagi yang sudah pernah memiliki anak, sedikit banyak sudah bisa menghitung dana apa saja yang dibutuhkan. Mulai dari pengeluaran bulanan, seperti biaya kebutuhan sehari-hari untuk anak, atau biaya menggunakan jasa pengasuh. Begitu juga dana yang dikeluarkan untuk kesehatan, seperti vaksinasi berikut biaya kunjungan ke dokter .  Dari pengalaman sebelumnya dengan anak pertama, Anda dapat mengetahui perkiraan kenaikan pengeluaran bulanan jika anak berikutnya lahir.

Memiliki anak kedua, selain sudah siap dengan pengalaman, biasanya pengeluaran-pengeluaran untuk anak kedua ini bisa jauh lebih kecil dibandingkan ketika kakaknya lahir seperti membeli tempat tidur bayi, pakaian, peralatan mandi, atau stroller. Jika jarak anak tidak terlalu jauh, dan barang-barang tersebut masih layak pakai maka anggaran belanja bisa dikurangi.

Yang perlu dipersiapkan tidak hanya masalah anggaran belanja maupun pengaturan cash flow, tapi juga tambahan tujuan investasi. Dana pendidikan pun perlu dipersiapkan, oleh karena itu kita pelu meningkatkan kemampuan dalam menyisihkan dana untuk investasi tersebut.  Lebih baik lagi, persiapan dana pendidikan ini dilakukan pada saat berencana untuk memiliki anak kedua, sehingga persiapannya akan lebih matang dan beban investasi bisa lebih ringan.

Jadi, punya anak lagi? Yuk persiapkan keuangan anda dengan matang untuk menyambut kelahirannya!

Sumber :
http://qmfinancial.com

Friday, December 13, 2013

Satu Rekening atau Banyak Rekening Di Beberapa Bank


Berapa banyakkah jumlah rekening yang Anda miliki? Satu bank atau banyak bank? Percaya atau tidak, bagaimana Anda mengatur rekening Anda tidak hanya membantu Anda merapikan keuangan atau finansial Anda, tetapi juga dapat saja memberikan Anda berbagai keuntungan lainnya. Jadi yang manakah yang lebih baik? Satu bank atau banyak rekening di berbagai bank?

Keuntungan hanya menggunakan satu bank

Satu Rekening Bank

Walaupun pada kenyataannya hal ini sudah sangat jarang terjadi tapi hanya menggunakan satu bank juga memiliki keuntungan tersendiri dibandingkan mereka yang memiliki banyak rekening. Beberapa di antaranya adalah kesederhanaan pastinya. Dengan semuanya berada di satu temapt, Anda hanya perlu mengunjungi satu bank, transaksi hanya melalui satu rekening dan hanya perlu mengingat satu set informasi terkait rekening Anda.

Tanyakan diri Anda sebelum membuka rekening di bank lain

Tetapi seiring berjalannya waktu maka strategi finansial Anda juga akan berubah. Dari yang tadinya Anda hanya menggunakan satu bank, karena berbagai kondisi Anda diharuskan untuk membuka rekening lain di bank lain, atau mungkin Anda memang ingin membuka rekening di bank lain. Apapun alasan Anda, sebelum Anda membuka rekening di bank lain coba tanyakan 4 pertanyaan berikut ini ke diri Anda.

1. Apakah ada kemungkinan Anda akan "Meminjam dari Diri Anda Sendiri"?

'Meminjam Dari Diri Anda Sendiri'

Salah satu alasan mengapa orang-orang membuka beberapa rekening adalah karena mereka ingin mengorganisir keuangan mereka menjadi 'uang cadangan' dan 'uang sehari-hari'. Uang cadangan ini dapat saja adalah uang perusahaan, uang darurat, atau uang yang memang bukan untuk kebutuhan sehari-hari Anda.

Dengan begitu maka Anda hanya akan mengambil uang dari rekening untuk kebutuhan sehari-hari Anda, dan Anda tidak akan menyentuh uang terpisah yang memang Anda siapkan untuk kebutuhan ke depan. Ini adalah salah satu alasan yang baik mengapa Anda mulai membuka rekening baru di bank lain.

Jika Anda hanya memiliki satu rekening dan tidak memiliki catatan keuangan yang matang, maka ada kemungkinan Anda akan 'meminjam uang dari diri Anda sendiri'. Hal ini akan membuat Anda bingung dan berusaha mengembalikan uang tersebut ke satu-satunya rekening Anda lagi. Setelah beberapa lama maka ada kemungkinan Anda akan mulai melupakan semua itu kemudian mengulangnya dari awal lagi.

2. Apakah Anda dapat mendapatkan bunga yang lebih tinggi?

Suku bunga

Jika Anda memisahkan uang untuk kebutuhan-kebutuhan seperti ini, tentunya Anda ingin mendapatkan bank yang memiliki suku bunga tinggi. Setelah Anda menemukan bank yang memiliki suku bunga yang lebih tinggi dari bank Anda sebelumnya, maka Anda memiliki dua opsi di sini. Menutup rekening Anda sebelumnya dan memindahkan uang Anda ke rekening yang baru atau tetap menyimpan rekening Anda sebelumnya sebagai salah satu alternatif transaksi finansial Anda.

Tapi ketahuilah bahwa jika Anda tetap menyimpan rekening Anda yang sebelumnya, beberapa bank akan mengenakan biaya bulanan ke rekening Anda tersebut walaupun Anda tidak menggunakannya. Jika Anda memang tidak akan menggunakannya lebih baik menutupnya.

3. Apakah Akan merugikan Anda?

Merugikan Diri Anda

Tentunya sebelum melakukan segala sesuatu terkait keuangan Anda, Anda harus melakukan tugas Anda terlebih dahulu untuk melihat apakah tindakan tersebut akan merugikan Anda. Sebagai contoh, Anda mungkin telah menerterakan informasi rekening Anda di tagihan-tagihan Anda, seperti tagihan digital, tagihan pembayaran pemakaian listrik atau air, dan sejenisnya. Dan jika Anda memutuskan untuk menutup rekening ini maka tentunya Anda harus siap dengan segala kerepotan yang akan Anda hadapi saat menghadapi semua tagihan ini. Tugas lainnya adalah benar-benar mencari informasi lebih terkait bank tersebut, seperti biaya penutupan, jam dan proses transaksi, fasilitas, bunga, letak cabang, ATM, biaya bulanan dan sejenisnya.

Anda juga harus mengetahui bahwa untuk menutup suatu rekening terkadang tidaklah mudah. Ada beberapa bank yang mengharuskan Anda untuk mempertahankan jumlah minimum rekening terkait untuk beberapa waktu hingga rekening Anda benar-benar ditutup, beberapa lainnya mungkin akan mengharuskan Anda mengurus berbagai dokumen dan membayar biaya penututupan. Jadi sebelum membuka suatu rekening pastikan Anda benar-benar siap untuk membukanya.

4. Apakah Anda memang membutuhkan lebih dari satu rekening?

Banyak Rekening

Jika Anda adalah orang beruntung yang memiliki banyak uang, maka Anda harus memperkirakan berapa jumlah maksimum yang ingin Anda letakkan di satu rekening. Ketahui terlebih dahulu berapa biaya yang dapat dikembalikan asuransi bank terkait jika pada kasus terburuk, bank tersebut bangkrut. Usahakan agar jumlah uang pada rekening Anda tidak melebihi jumlah yang dapat dikembalikan asuransi bank tersebut.

Hal lainnya yang harus Anda tanyakan adalah apakah Anda memang membutuhkan banyak rekening? Untuk kebutuhan apa? Apakah tidak bisa menutup rekening sebelumnya setelah Anda membuka rekening yang baru? Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, beberapa bank akan mengenakan biaya bulanan terkait rekening Anda baik Anda menggunakannya atau tidak. Jadi semakin banyak rekening yang Anda miliki maka biaya bulanan Anda akan semakin besar.

Bagaimana Mengetahui apakah bank itu memang cocok untuk Anda?

Bank yang Cocok untuk Anda?

Untuk mengetahui apakah suatu bank benar-benar cocok untuk Anda, merupakan hal yang sangat relatif. Itu tergantung atas kebutuhan Anda, terlepas dari letak cabang, ATM, bunga dan seterusnya. Semua itu tergantung apakah Anda benar-benar akan bertransaksi melalui bank tersebut dan merasa nyaman akan hal tersebut.

Jika Anda jarang sekali bertransaksi namun nyaman-nyaman saja akan bank tersebut maka Anda boleh membuatnya menjadi rekening untuk uang cadangan Anda. Tapi jika Anda memang jarang bertransaksi dan sudah tidak merasa nyaman akan bank tersebut baik karena layanan yang kurang, selalu rame, dan sejenisnya maka jangan pilih bank tersebut. Sederhana bukan?

Sumber :
http://www.tahupedia.com

Arisan Termasuk Investasi?

Konsep arisan yang mewajibkan setiap pesertanya menyetor sejumlah uang tertentu dalam nilai yang sama, kemudian diundi untuk menentukan siapa yang berhak menerima uang atau barang tersebut, dinilai cukup menguntungkan dari segi keuangan. Bahkan, sebagian menganggap arisan sebagai bentuk investasi.

Memang arisan masa kini tidak hanya membuat kita menerima uang saja, tapi bisa berupa emas, berlian, atau tas-tas bermerek. Para peserta arisan merasa dengan mengikuti arisan mereka bisa untung karena mendapatkan barang-barang bernilai tersebut.

Tetapi pendapat tersebut ditepis perencana keuangan Taufik Gumulya. Menurutnya, arisan bukanlah bentuk investasi.

"Ikut arisan kan sama seperti kita membeli sesuatu. Bahkan jika hadiahnya adalah emas atau berlian. Itu sama dengan kita membeli emas atau berlian misalnya, dengan harga Rp 20 juta, tapi bayarnya mencicil," katanya.

Taufik menjelaskan, arisan dan investasi memiliki konsep yang berbeda. "Investasi adalah menunda sekarang untuk menikmati di kemudian hari. Sementara jika ikut arisan dia membayar untuk barang yang akan dia dapat," ujarnya.

Jika dalam investasi ada kemungkinan untung atau rugi, maka mengikuti arisan pasti kita akan dapat. Selain itu dalam investasi kita juga bisa melakukan pengelolaan sehingga nilai aset akan bertambah di masa datang.

Kelebihan dari mengikuti arisan, menurut Taufik, adalah jika kita mendapat atau menarik kocokan pertama. "Tapi keuntungannya lebih berupa times value of money. Kalau dapat terakhir sama saja kaya kita membeli sesuatu, atau mengumpulkan uang sendiri," paparnya.

Sumber :
http://www.vemale.com

Friday, December 6, 2013

Evaluasi Keuangan Anda


“Until you can show that you can handle what you’ve got, you won’t get any more. The habit of managing your money is more important than the amount.”

Salam readers,

Saya sangat menyukai quote yang saya peroleh ketika belajar mengenai “money personality” beberapa tahun silam. Saya percaya, yang kita dapatkan di dunia ini akan disesuaikan dengan kapasitas diri kita. Saat ingin dapat lebih besar, sudahkah menjadi wadah yang juga lebih besar dibandingkan sebelumnya?

Sebagai ilustrasi, anak kita yang berusia lima tahun merengek minta es krim cone (bukan gelas) yang terdiri atas tiga scoops dengan rasa berbeda. Karena sayang, kita mengabulkan. Belum tuntas disantap, es krim terjatuh. Anak menangis minta gantinya.

Sadar akan kurangnya kemampuan dan kapasitas anak dalam memegang dan memakan es krim cone 3 tumpuk, apakah Anda akan membelikan yang sama atau menggantinya dengan ukuran lebih kecil sesuai kapasitasnya?

Sama halnya dengan uang. Saya percaya Tuhan mencukupkan atau melebihkan rezeki seseorang berdasarkan kapasitas yang dimilikinya. Sang Pemberi rezeki tidak akan menambah rezeki hingga yakin kita mampu menangani, mengelola, dan bertanggung jawab terhadap yang sudah ada.

Karena itulah, saat ingin mengubah kondisi finansial, Anda harus bisa mengevaluasi perilaku terhadap uang. Ingat, dalam mengelola uang, 80 persennya terkait dengan tingkah laku kita terhadap uang selama ini. Coba tengok, apa yang mesti diperbaiki dari kebiasaan terhadap uang.

Untuk mengevaluasi kondisi keuangan, mulailah dengan arus kas. Cek, pengeluaran selama ini, lebih banyak untuk kebutuhan atau keinginan. Kondisi rasio pengeluaran bulanan terhadap pendapatan juga perlu dievaluasi. Jika di bawah 70 persen, itu pertanda kondisi keuangan yang sehat.

Kemudian, perlu juga mengecek porsi tabungan dan investasi serta kondisi harta dibandingkan utang yang Anda miliki. Rasio berinvestasi terhadap total pendapatan sebaiknya di atas 15 persen. Di saat bersamaan, Anda pun harus bisa menjaga rasio utang terhadap total pendapatan yang harus di bawah 35 persen setiap bulan.

Pemeriksaan aset. Perlu diperiksa, apakah jumlah tabungan dana cadangan sudah mencapai 3-6 bulan pengeluaran?

Anda juga perlu mengevaluasi kinerja portofolio investasi guna mengetahui nilai aset bersih (real asset) saat ini dibanding awal tahun. Sebaiknya konsisten dengan jangka waktu tujuan finansial Anda. Simpan baik-baik hasrat ingin mencairkan.

Tak kalah pentingnya, periksa ulang tujuan finansial Anda. Dalam berbagai aspek, tujuan dalam kehidupan mengalami perubahan seiring perjalanan waktu.

Miliki jejak buku pencapaian tujuan Anda, seberapa banyak waktu tersisa. Hal ini terkait dengan perlu atau tidak melakukan penyesuaian porsi instrumen investasi berdasarkan risikonya.

Evaluasi merupakan langkah awal saat kita hendak membuat resolusi baru. Apakah kebiasaan terhadap sekarang patut dipertahankan atau perlu kebiasaan baru guna memperbaiki kondisi Anda.

Ingat, melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda hanya ilusi! Lakukan hal yang sama terus-menerus maka hasil yang Anda dapatkan akan selalu sama.

Have fun(d)!

To serenity


Dwita Ariani, MM, RFA, RIFA
Twitter: @BundaWita
Financial educator dari Zelts Consulting

Sumber : id.berita.yahoo.com

Related Posts