Friday, December 13, 2013

Satu Rekening atau Banyak Rekening Di Beberapa Bank


Berapa banyakkah jumlah rekening yang Anda miliki? Satu bank atau banyak bank? Percaya atau tidak, bagaimana Anda mengatur rekening Anda tidak hanya membantu Anda merapikan keuangan atau finansial Anda, tetapi juga dapat saja memberikan Anda berbagai keuntungan lainnya. Jadi yang manakah yang lebih baik? Satu bank atau banyak rekening di berbagai bank?

Keuntungan hanya menggunakan satu bank

Satu Rekening Bank

Walaupun pada kenyataannya hal ini sudah sangat jarang terjadi tapi hanya menggunakan satu bank juga memiliki keuntungan tersendiri dibandingkan mereka yang memiliki banyak rekening. Beberapa di antaranya adalah kesederhanaan pastinya. Dengan semuanya berada di satu temapt, Anda hanya perlu mengunjungi satu bank, transaksi hanya melalui satu rekening dan hanya perlu mengingat satu set informasi terkait rekening Anda.

Tanyakan diri Anda sebelum membuka rekening di bank lain

Tetapi seiring berjalannya waktu maka strategi finansial Anda juga akan berubah. Dari yang tadinya Anda hanya menggunakan satu bank, karena berbagai kondisi Anda diharuskan untuk membuka rekening lain di bank lain, atau mungkin Anda memang ingin membuka rekening di bank lain. Apapun alasan Anda, sebelum Anda membuka rekening di bank lain coba tanyakan 4 pertanyaan berikut ini ke diri Anda.

1. Apakah ada kemungkinan Anda akan "Meminjam dari Diri Anda Sendiri"?

'Meminjam Dari Diri Anda Sendiri'

Salah satu alasan mengapa orang-orang membuka beberapa rekening adalah karena mereka ingin mengorganisir keuangan mereka menjadi 'uang cadangan' dan 'uang sehari-hari'. Uang cadangan ini dapat saja adalah uang perusahaan, uang darurat, atau uang yang memang bukan untuk kebutuhan sehari-hari Anda.

Dengan begitu maka Anda hanya akan mengambil uang dari rekening untuk kebutuhan sehari-hari Anda, dan Anda tidak akan menyentuh uang terpisah yang memang Anda siapkan untuk kebutuhan ke depan. Ini adalah salah satu alasan yang baik mengapa Anda mulai membuka rekening baru di bank lain.

Jika Anda hanya memiliki satu rekening dan tidak memiliki catatan keuangan yang matang, maka ada kemungkinan Anda akan 'meminjam uang dari diri Anda sendiri'. Hal ini akan membuat Anda bingung dan berusaha mengembalikan uang tersebut ke satu-satunya rekening Anda lagi. Setelah beberapa lama maka ada kemungkinan Anda akan mulai melupakan semua itu kemudian mengulangnya dari awal lagi.

2. Apakah Anda dapat mendapatkan bunga yang lebih tinggi?

Suku bunga

Jika Anda memisahkan uang untuk kebutuhan-kebutuhan seperti ini, tentunya Anda ingin mendapatkan bank yang memiliki suku bunga tinggi. Setelah Anda menemukan bank yang memiliki suku bunga yang lebih tinggi dari bank Anda sebelumnya, maka Anda memiliki dua opsi di sini. Menutup rekening Anda sebelumnya dan memindahkan uang Anda ke rekening yang baru atau tetap menyimpan rekening Anda sebelumnya sebagai salah satu alternatif transaksi finansial Anda.

Tapi ketahuilah bahwa jika Anda tetap menyimpan rekening Anda yang sebelumnya, beberapa bank akan mengenakan biaya bulanan ke rekening Anda tersebut walaupun Anda tidak menggunakannya. Jika Anda memang tidak akan menggunakannya lebih baik menutupnya.

3. Apakah Akan merugikan Anda?

Merugikan Diri Anda

Tentunya sebelum melakukan segala sesuatu terkait keuangan Anda, Anda harus melakukan tugas Anda terlebih dahulu untuk melihat apakah tindakan tersebut akan merugikan Anda. Sebagai contoh, Anda mungkin telah menerterakan informasi rekening Anda di tagihan-tagihan Anda, seperti tagihan digital, tagihan pembayaran pemakaian listrik atau air, dan sejenisnya. Dan jika Anda memutuskan untuk menutup rekening ini maka tentunya Anda harus siap dengan segala kerepotan yang akan Anda hadapi saat menghadapi semua tagihan ini. Tugas lainnya adalah benar-benar mencari informasi lebih terkait bank tersebut, seperti biaya penutupan, jam dan proses transaksi, fasilitas, bunga, letak cabang, ATM, biaya bulanan dan sejenisnya.

Anda juga harus mengetahui bahwa untuk menutup suatu rekening terkadang tidaklah mudah. Ada beberapa bank yang mengharuskan Anda untuk mempertahankan jumlah minimum rekening terkait untuk beberapa waktu hingga rekening Anda benar-benar ditutup, beberapa lainnya mungkin akan mengharuskan Anda mengurus berbagai dokumen dan membayar biaya penututupan. Jadi sebelum membuka suatu rekening pastikan Anda benar-benar siap untuk membukanya.

4. Apakah Anda memang membutuhkan lebih dari satu rekening?

Banyak Rekening

Jika Anda adalah orang beruntung yang memiliki banyak uang, maka Anda harus memperkirakan berapa jumlah maksimum yang ingin Anda letakkan di satu rekening. Ketahui terlebih dahulu berapa biaya yang dapat dikembalikan asuransi bank terkait jika pada kasus terburuk, bank tersebut bangkrut. Usahakan agar jumlah uang pada rekening Anda tidak melebihi jumlah yang dapat dikembalikan asuransi bank tersebut.

Hal lainnya yang harus Anda tanyakan adalah apakah Anda memang membutuhkan banyak rekening? Untuk kebutuhan apa? Apakah tidak bisa menutup rekening sebelumnya setelah Anda membuka rekening yang baru? Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, beberapa bank akan mengenakan biaya bulanan terkait rekening Anda baik Anda menggunakannya atau tidak. Jadi semakin banyak rekening yang Anda miliki maka biaya bulanan Anda akan semakin besar.

Bagaimana Mengetahui apakah bank itu memang cocok untuk Anda?

Bank yang Cocok untuk Anda?

Untuk mengetahui apakah suatu bank benar-benar cocok untuk Anda, merupakan hal yang sangat relatif. Itu tergantung atas kebutuhan Anda, terlepas dari letak cabang, ATM, bunga dan seterusnya. Semua itu tergantung apakah Anda benar-benar akan bertransaksi melalui bank tersebut dan merasa nyaman akan hal tersebut.

Jika Anda jarang sekali bertransaksi namun nyaman-nyaman saja akan bank tersebut maka Anda boleh membuatnya menjadi rekening untuk uang cadangan Anda. Tapi jika Anda memang jarang bertransaksi dan sudah tidak merasa nyaman akan bank tersebut baik karena layanan yang kurang, selalu rame, dan sejenisnya maka jangan pilih bank tersebut. Sederhana bukan?

Sumber :
http://www.tahupedia.com

Arisan Termasuk Investasi?

Konsep arisan yang mewajibkan setiap pesertanya menyetor sejumlah uang tertentu dalam nilai yang sama, kemudian diundi untuk menentukan siapa yang berhak menerima uang atau barang tersebut, dinilai cukup menguntungkan dari segi keuangan. Bahkan, sebagian menganggap arisan sebagai bentuk investasi.

Memang arisan masa kini tidak hanya membuat kita menerima uang saja, tapi bisa berupa emas, berlian, atau tas-tas bermerek. Para peserta arisan merasa dengan mengikuti arisan mereka bisa untung karena mendapatkan barang-barang bernilai tersebut.

Tetapi pendapat tersebut ditepis perencana keuangan Taufik Gumulya. Menurutnya, arisan bukanlah bentuk investasi.

"Ikut arisan kan sama seperti kita membeli sesuatu. Bahkan jika hadiahnya adalah emas atau berlian. Itu sama dengan kita membeli emas atau berlian misalnya, dengan harga Rp 20 juta, tapi bayarnya mencicil," katanya.

Taufik menjelaskan, arisan dan investasi memiliki konsep yang berbeda. "Investasi adalah menunda sekarang untuk menikmati di kemudian hari. Sementara jika ikut arisan dia membayar untuk barang yang akan dia dapat," ujarnya.

Jika dalam investasi ada kemungkinan untung atau rugi, maka mengikuti arisan pasti kita akan dapat. Selain itu dalam investasi kita juga bisa melakukan pengelolaan sehingga nilai aset akan bertambah di masa datang.

Kelebihan dari mengikuti arisan, menurut Taufik, adalah jika kita mendapat atau menarik kocokan pertama. "Tapi keuntungannya lebih berupa times value of money. Kalau dapat terakhir sama saja kaya kita membeli sesuatu, atau mengumpulkan uang sendiri," paparnya.

Sumber :
http://www.vemale.com

Friday, December 6, 2013

Evaluasi Keuangan Anda


“Until you can show that you can handle what you’ve got, you won’t get any more. The habit of managing your money is more important than the amount.”

Salam readers,

Saya sangat menyukai quote yang saya peroleh ketika belajar mengenai “money personality” beberapa tahun silam. Saya percaya, yang kita dapatkan di dunia ini akan disesuaikan dengan kapasitas diri kita. Saat ingin dapat lebih besar, sudahkah menjadi wadah yang juga lebih besar dibandingkan sebelumnya?

Sebagai ilustrasi, anak kita yang berusia lima tahun merengek minta es krim cone (bukan gelas) yang terdiri atas tiga scoops dengan rasa berbeda. Karena sayang, kita mengabulkan. Belum tuntas disantap, es krim terjatuh. Anak menangis minta gantinya.

Sadar akan kurangnya kemampuan dan kapasitas anak dalam memegang dan memakan es krim cone 3 tumpuk, apakah Anda akan membelikan yang sama atau menggantinya dengan ukuran lebih kecil sesuai kapasitasnya?

Sama halnya dengan uang. Saya percaya Tuhan mencukupkan atau melebihkan rezeki seseorang berdasarkan kapasitas yang dimilikinya. Sang Pemberi rezeki tidak akan menambah rezeki hingga yakin kita mampu menangani, mengelola, dan bertanggung jawab terhadap yang sudah ada.

Karena itulah, saat ingin mengubah kondisi finansial, Anda harus bisa mengevaluasi perilaku terhadap uang. Ingat, dalam mengelola uang, 80 persennya terkait dengan tingkah laku kita terhadap uang selama ini. Coba tengok, apa yang mesti diperbaiki dari kebiasaan terhadap uang.

Untuk mengevaluasi kondisi keuangan, mulailah dengan arus kas. Cek, pengeluaran selama ini, lebih banyak untuk kebutuhan atau keinginan. Kondisi rasio pengeluaran bulanan terhadap pendapatan juga perlu dievaluasi. Jika di bawah 70 persen, itu pertanda kondisi keuangan yang sehat.

Kemudian, perlu juga mengecek porsi tabungan dan investasi serta kondisi harta dibandingkan utang yang Anda miliki. Rasio berinvestasi terhadap total pendapatan sebaiknya di atas 15 persen. Di saat bersamaan, Anda pun harus bisa menjaga rasio utang terhadap total pendapatan yang harus di bawah 35 persen setiap bulan.

Pemeriksaan aset. Perlu diperiksa, apakah jumlah tabungan dana cadangan sudah mencapai 3-6 bulan pengeluaran?

Anda juga perlu mengevaluasi kinerja portofolio investasi guna mengetahui nilai aset bersih (real asset) saat ini dibanding awal tahun. Sebaiknya konsisten dengan jangka waktu tujuan finansial Anda. Simpan baik-baik hasrat ingin mencairkan.

Tak kalah pentingnya, periksa ulang tujuan finansial Anda. Dalam berbagai aspek, tujuan dalam kehidupan mengalami perubahan seiring perjalanan waktu.

Miliki jejak buku pencapaian tujuan Anda, seberapa banyak waktu tersisa. Hal ini terkait dengan perlu atau tidak melakukan penyesuaian porsi instrumen investasi berdasarkan risikonya.

Evaluasi merupakan langkah awal saat kita hendak membuat resolusi baru. Apakah kebiasaan terhadap sekarang patut dipertahankan atau perlu kebiasaan baru guna memperbaiki kondisi Anda.

Ingat, melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda hanya ilusi! Lakukan hal yang sama terus-menerus maka hasil yang Anda dapatkan akan selalu sama.

Have fun(d)!

To serenity


Dwita Ariani, MM, RFA, RIFA
Twitter: @BundaWita
Financial educator dari Zelts Consulting

Sumber : id.berita.yahoo.com

Wednesday, December 4, 2013

6 Pilihan Mengatur Gaji Pasangan



Tantangan ketika menikah adalah bagaimana mengelola keuangan bersama. Maklum saja, selama ini hidup sendiri-sendiri, bebas menggunakan gaji untuk kesenangan masing-masing, mendadak harus saling berbagi dan menabung untuk tujuan bersama. Haruskah setiap pasangan menyatukan penghasilan dalam satu rekening, atau bisakah tetap hidup dengan rekening masing-masing?

Tidak ada satu cara pasti untuk mengelola keuangan atau mengatur penghasilan pasangan, karena semuanya tergantung dari situasi yang dialami masing-masing pasangan. Untuk Anda, perencana keuangan Sophia Bera dari Cahill Financial Advisors, Inc. memberi pilihan enam cara pengelolaan uang yang mungkin akan cocok untuk cara hidup Anda dan pasangan.

1. Membuka satu rekening bersama
Selain memiliki tabungan untuk menampung penghasilan masing-masing, Anda juga bisa membuka satu rekening bersama. Jumlah yang disetor masing-masing bisa sama atau berbeda. Cocok untuk: Pasangan yang memiliki penghasilan yang kurang lebih sama, untuk membayar sewa rumah, tagihan-tagihan, belanja kebutuhan sehari-hari, dan pengeluaran bersama lainnya.

"Memiliki rekening bersama memberikan masing-masing pasangan akses pada dana tersebut," ungkap perencana keuangan Sophia Bera. "Masing-masing harus percaya bahwa yang lain akan menggunakan uang dengan cara yang telah disepakati."

2. Menyisihkan persentase tertentu dari gaji
Caranya sama, membuka rekening bersama, namun jumlah setorannya ditentukan berdasarkan persentase penghasilan. Cocok untuk: Pasangan dengan penghasilan yang berbeda, baik dari jumlah maupun sumbernya. Jadi, meskipun Anda dan suami memiliki penghasilan yang jauh berbeda, masing-masing menyisihkan persentase yang sama dari gaji.

Idealnya, jumlah yang disetorkan di bawah 50 persen dari take-home pay masing-masing pasangan. Sebutlah misalnya 30 persen. Jadi jika gaji Anda Rp 5 juta, jatah setoran Anda Rp 1,5 juta. Sedangkan jika gaji suami Rp 10 juta, maka jatahnya Rp 3 juta. Tabungan semacam ini baik dilakukan untuk kebutuhan jangka panjang, misalnya biaya pendidikan anak di perguruan tinggi, naik haji, atau liburan. Di luar itu, Anda masih bisa membuka rekening pribadi dan menggunakannya untuk biaya hidup sehari-hari.

3. Salah satu membayar semua pengeluaran
Meskipun Anda dan suami sama-sama bekerja, hanya satu orang yang diputuskan untuk membayar semua pengeluaran. Cocok untuk: Pasangan yang salah satunya memiliki penghasilan jauh lebih besar, atau salah satu memutuskan untuk berhenti bekerja karena ingin mengasuh anak atau melanjutkan sekolah.

Cara ini dapat menguji apakah penghasilan salah seorang bisa mencukupi kebutuhan seluruh keluarga. Bila gaji suami lah yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia bisa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pengeluaran rumah tangga. Sebelum memutuskannya, Anda bisa berdiskusi lebih dulu. Jika suatu saat Anda kembali bekerja, apakah Anda harus ikut andil dalam membayar pengeluaran, atau menabung saja penghasilan Anda? Jenis pengeluaran seperti apa yang menjadi tanggung jawab Anda?

4. Masing-masing memilih jatah tagihan yang mampu dibayar
Cocok untuk: Pasangan dengan penghasilan yang sedang, sehingga masing-masing dituntut bertanggung jawab untuk membayar pengeluaran rumah tangga.

Setiap rumah tangga pasti memiliki pengeluaran dan tagihan yang harus dibayar, dari PAM, PLN, komunikasi (telepon dan internet), kartu kredit (yang digunakan untuk membeli peralatan rumah tangga), hingga cicilan mobil dan kontrakan rumah. Anda bisa memilih sendiri mana tagihan yang mampu Anda bayar, sesuai dengan penghasilan Anda. Misalnya, karena Anda punya penghasilan tetap dan lebih besar, Anda yang membayar kontrakan rumah, dan cicilan mobil. Sedangkan suami yang membayar kartu kredit, asuransi, PAM, PLN, dan komunikasi, karena ia bekerja di rumah dan selalu terhubung dengan internet.

“Yang paling penting, bicarakan hal ini lebih dulu, dan buat perencanaan yang efektif untuk Anda berdua," ujar Bera.

5. Menyatukan seluruh penghasilan dalam satu rekening
Cocok untuk: Anda yang ingin menyatukan milik berdua seutuhnya, atau untuk menghindari salah satu melakukan pemborosan terhadap rekening pribadi.

Ada dua cara yang bisa Anda pilih. Rekening ini digunakan untuk seluruh keperluan, dari membayar pengeluaran rumah tangga sampai tabungan bersama. Tantangannya: Anda harus disiplin menyisihkan uang di dalam rekening ini untuk ditinggalkan sebagai tabungan. Cara lain adalah membuat rekening bersama ini untuk pengeluaran tetap (seperti cicilan rumah dan kendaraan) dan tabungan, dan satu rekening lagi untuk biaya operasional sehari-hari termasuk untuk bersenang-senang atau liburan. Dengan pengelolaan seperti ini, Anda harus rajin membuat pembukuan bulanan untuk menghitung pengeluaran dan kemajuan nilai tabungan Anda.

6. Mengandalkan satu gaji saja
Cara ini mirip dengan cara nomor tiga di atas, namun dengan tujuan berbeda. Cocok untuk: Pasangan yang sama-sama bekerja, namun memutuskan untuk berhemat dan menabung lebih banyak. Misalnya, gaji suami digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari, sementara gaji Anda ditabung untuk dana pensiun atau dana cadangan. Pengaturan ini bisa dilakukan untuk pasangan yang salah satunya memiliki penghasilan tidak tetap, belum mempunyai anak, dan jika sudah ada anak berencana menjadi ibu rumah tangga.

Gunakan gaji suami (atau gaji Anda, terserah gaji siapa yang akan digunakan) untuk membiayai seluruh pengeluaran, dari kebutuhan hidup sehari-hari, membayar tagihan-tagihan, gaya hidup, dan bila mungkin tabungan dan investasi. "Ini salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan pasangan untuk keuangan mereka, karena memaksa mereka untuk menjaga pengeluaran tetap rendah dan berhemat, serta menabung untuk kondisi darurat dan saat pensiun nanti," ujar Bera.

Pada awalnya, cara ini mungkin akan sulit dilakukan. Tetapi jika Anda disiplin, Anda akan sukses menjalankannya. Bahkan, rumah, liburan, atau pendidikan anak di luar negeri yang Anda impikan bisa tercapai lebih cepat.

Penulis : Felicitas Harmandini
Editor : Dini

Sumber :
http://female.kompas.com

Saturday, November 30, 2013

Mengamankan Risiko Cicilan KPR


DUA minggu lalu, untuk ke sekian kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate secara bertahap. Kini, menjadi 7,5 persen.

Imbasnya mulai terasa. Beberapa hari setelah pengumuman suku bunga oleh BI, ada pemberitahuan dari sebuah bank BUMN. Mereka menaikkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dari 10,5 persen menjadi 11,5 persen. Padahal dua bulan sebelumnya, suku bunga KPR di bank ini masih 9,5 persen. Artinya, sudah naik 2 persen dalam waktu tiga bulan terakhir.

Asumsikan saja Anda punya cicilan KPR dengan saldo utang terakhir Rp 100 juta. Jangka waktu pembayarannya masih delapan tahun lagi. Maka cicilan yang tadinya Rp 1,4 juta per bulan menjadi Rp 1,5 juta, ketika suku bunganya naik 1 persen. Selanjutnya naik lagi menjadi Rp 1,6 juta per bulan ketika dinaikkan kembali sebesar 1 persen.

Tentu kenaikan cicilannya akan lebih besar sejalan dengan sisa saldo KPR. Bahkan lebih besar lagi ketika usia kreditnya masih muda.

Tentu bukan sekadar akibat kenaikan suku bunga. Kenaikan cicilan KPR jadi tambah berat lantaran selama ini menikmati masa suku bunga fixed (tetap) selama satu tahun pertama. Umumnya, karena promo jadi hanya 6-8 persen. Jadi, besaran suku bunganya akan melonjak, misalnya dari 6 persen menjadi 11 persen. Akibatnya, cicilan melonjak drastis.

Apakah semua bank menaikkan suku bunga seperti bank plat merah itu? Boleh dibilang hampir pasti, kecuali bank syariah dengan akad KPR Murabahah (jual-beli).

Namanya juga jual beli, tentu harga jual yang sudah disepakati di awal tidak boleh berubah. Artinya, cicilan KPR yang tidak lain adalah cicilan pembelian rumah dari bank tidak akan mengalami kenaikan.

Dengan cicilan tetap hingga lunas, proyeksi arus kas (cash flow) menjadi lebih mudah. Ketenangan batin juga diperoleh karena tak perlu repot memantau pergerakan suku bunga.

Tapi ingat, di bank syariah bukan hanya akad murabahah yang digunakan. Sekarang bank syariah juga mulai gunakan akad lain yang cicilannya mengambang (floating). Jadi, pastikan kita memahami akadnya sebelum menyetujui.

Namun harus diakui, ada yang beranggapan bahwa akad KPR Murabahah di bank syariah mahal atau cicilannya tinggi. Menurut saya, itu karena konsumen tidak membandingkan fitur kredit yang sama antara bank syariah dengan bank konvensional.

KPR konvensional kerap menggunakan suku bunga mengambang, sehingga wajar berani mematok suku bunga rendah di awal. Jika suku bunga naik, tinggal naikkan saja cicilannya.

Apalagi bank konvensional sering juga memberikan masa promo selama 1 atau 2 tahun pertama dengan suku bunga khusus. Namanya juga promo, tentu sengaja dipatok lebih rendah agar terlihat murah. Namun ingat, itu cuma di awal. Setelah masa iklannya berakhir, kembali ke tingkat suku bunga pasar.

Karena itu, lebih bijak jika membandingkan cicilan KPR Murabahah dengan cicilan KPR yang fixed atau tetap selama suatu periode. Bukan yang promo.

Nah, bagi Anda yang sedang mencicil KPR, dengan kenaikan suku bunga seperti sekarang, bersiaplah membayar cicilan lebih besar. Jika merasa berat, jangan khawatir. Masih ada pilihan. Pindahkan KPR Anda ke bank lain.

Bagi yang sedang mempertimbangkan pembelian rumah, pilihan di tangan Anda. KPR biasa cicilan ringan di awal, tapi ikut naik sesuai suku bunga pasar. Atau, KPR Syariah dengan akad murabahah. Cicilannya tetap, sehingga bisa mengunci risiko.

Apa pun pilihannya, tetap jadikan rumahmu sebagai surgamu.

Saturday, November 16, 2013

Perencanaan Keuangan untuk Orang Awam


Apa yang saya perlu lakukan untuk membangun portfolio untuk waktu senja saya? Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh orang yang punya rencana dalam hidup, terutama secara keuangan. After all, seseorang tidak bisa bekerja selamanya. Akan ada waktu dimana secara produktivitas dan kemampuan, seseorang akan mengalami penurunan.

Jawaban dari pertanyaan ini dipengaruhi dua hal, yakni pengeluaran anda, dan juga pemasukan anda. dari segi pengeluaran, anda harus mengerti gaya hidup anda dan berapa yang anda perlukan untuk mempertahankan gaya hidup tersebut. Seseorang yang puas dengan Toyota Avanza, tentunya akan memerlukan lebih sedikit uang dari pada seseorang yang terbiasa diantar oleh supirnya dengan S Class.

Bukan hanya dari segi harga mobil, namun dari segi maintenance saja sudah jauh berbeda.
Artikel ini akan membahas lebih banyak dari segi pemasukan. Apa yang seseorang bisa lakukan untuk membangun sebuah portfolio yang bisa menunjang di hari tua? Berapa besar jumlah uang yang diperlukan?

Apa tipe investasi yang cocok?

Portfolio anda harus dibentuk dengan perencanaan yang matang, disiplin dan kesabaran. Dan hal ini tentu saja tidak mudah. Satu hal yang penting, tugas ini tidak dapat anda delegasikan kepada orang lain. Tidak ada orang di dunia yang lebih mengerti situasi keuangan dan ekspetasi anda dari pada anda sendiri. Anda bisa mencari konsultan, namun pada ujungnya, segala tanggung jawab perencanaan dan eksekusi berakhir pada anda sendiri.

Beberapa produk investasi yang anda bisa pergunakan di bawah ini. Saya juga sertakan ukuran kasar dari keuangan anda yang cocok dengan masing-masing produk. Saya juga urutkan menurut prioritas produk investasi.

1. Uang Kontan / Deposit
10 – 500 jt
Banyak orang tidak menyadari akan kekuatan uang kontan. Meskipun uang tidak memberikan return yang begitu banyak, namun uang kontan diperlukan sebagai buffer yang bisa menahan impact dari downturn ekonomi terhadap investasi anda. Ketika pasar saham rontok, bubble property pecah, anda perlu uang untuk menahan investasi anda. Bila anda dipaksa untuk menjual investasi anda dikarenakan krisis, maka anda telah melakukan kesalahan dalam money management anda.
Sebagai panduan kasar, jumlah cash yang anda perlukan adalah 10% dari total portfolio anda ditambah pengeluaran anda selama 12 bulan ke depan. Untuk return, saya sarankan anda memasukkannya ke dalam deposito dengan waktu cair yang berbeda, jadi setiap bulan, anda bisa memiliki opsi untuk mencairkan 1/12 dari total cash anda. Ada orang yang memilih untuk memasukan deposito setiap 2 bulan, dan hal itu sah-sah saja. Untuk mendapatkan bunga lebih tinggi, anda bisa mencari bank yang lebih kecil (BCA memberikan bunga paling rendah), namun memiliki reputasi, seperti Permata, BNI, Bukopin.

2. Properti
Pendapatan bebas sekitar 5-10 jt / bulan
Ketika anda memiliki uang cash yang cukup untuk kebutuhan anda (setelah kebutuhan anak, kesehatan terpenuhi), maka properti adalah produk terbaik untuk investasi anda. Mengapa properti? Karena secara umum, properti bisa melindungi anda dari inflasi, dan pada saat yang sama merupakan alat yang bisa bekerja buat anda, atau dengan kata lain investasi pasif. Ketika anda bekerja, hanya 1 orang yang dapat menghasilkan uang dengan 24 jam dan 2 tangan anda. Namun lain halnya dengan properti, secara alami, properti dapat menghasilkan pemasukan yang stabil, walaupun dalam beberapa kasus, lebih rendah dari deposito anda. Namun untuk jangka di atas 5 tahun, deposito tidak bisa melindungi anda dari gerogotan inflasi.
Tentu saja, pemilihan properti memerlukan tidak sedikit waktu. Sebagai pedoman, bila anda tidak memiliki banyak waktu untuk riset properti, hindari properti yang dikondisikan untuk digoreng. Anda tidak akan tahu di ujung mana anda masuk ke tahapan gorengan, biasanya bila anda tidak tahu, anda sedang berada di akhir gorengan. Saya sarankan untuk mencari properti yang memiliki yield bagus, dengan kata lain berpotensial untuk disewakan (ruko/apartemen). Di Indonesia, bila anda menemukan yield 4-5%, sudah cukup bagus.
Alasan lain berinvestasi di properti adalah anda bisa menggunakan bantuan bank. Meskipun bunga yang tidak rendah, namun bila anda mendapatkan properti yang menghasilkan cash setiap bulannya, maka biaya bunga seharusnya bisa tertutupi. Bila anda disiplin, maka investasi ini bisa merupakan investasi terbaik dalam hidup anda.

3. Asuransi Jiwa
Sekitar 3 – 5 jt / bulan
Sebelum anda bergegas menelepon agen asuransi anda, tolong baca pelan-pelan lagi. Asuransi jiwa. Bukan asuransi kesehatan. Kedua hal tersebut sangat berbeda dalam esensi. Asuransi jiwa merupakan investasi, sedangkan asuransi kesehatan adalah.. well.. asuransi. Meskipun anda mungkin akan berargumen tentang validnya asuransi kesehatan sebagai investasi, namun untuk post kali ini, saya hanya bisa mengatakan bahwa ada alasannya para penjual asuransi kesehatan menawarkan asuransi kesehatan plus investasi. Bila asuransi kesehatan adalah investasi, kenapa harus ditambahkan fitur investasi ke dalamnya?
Asuransi jiwa merupakah salah satu alat investasi yang paling kuat, disebabkan karena semua manusia pasti meninggal. Asuransi kesehatan belum tentu dipakai, karena tidak semua manusia jatuh sakit, namun berbeda halnya dengan asuransi jiwa. Permasalahannya hanya asuransi jiwa menghasilkan return yang bukan dinikmati anda sendiri, namun oleh orang lain, apakah istri anda, anak anda, atau keluarga anda. Intinya, asuransi jiwa adalah asuransi yang memberikan return yang bagus, namun bukan untuk anda sendiri.

4. Saham
Untuk solusi terakhir yang perlu anda pertimbangkan, adalah tentu saja saham. Bagi anda yang tidak punya waktu untuk memonitor saham anda (percaya atau tidak, sebagian besar orang jatuh dalam kategori anda), disarankan anda membeli reksa dana yang memiliki biaya rendah. Biaya tahunan yang lebih kecil dari 1%, dan biaya pembelian di bawah 2%. Berhati-hatilah karena biaya akan mempengaruhi performa dari investasi anda dengan signifikan.
Bagaimana anda tahu bila anda lebih baik duduk diam membeli reksa dana, atau anda lebih baik memilih saham anda sendiri? Bila anda tidak membaca berita setiap hari, tidak mengerti tentang pengaruh suku bunga, tidak bisa membedakan antara utang jangka panjang dengan pendek, tidak punya waktu untuk membaca setidaknya 4 buku keuangan dalam setahun, mata berkunang-kunang ketika melihat laporan keuangan, makan anda sebaiknya duduk manis dan membeli reksa dana. Jangan mengira bahwa dengan membaca analisa dan tips trading terhangat dari broker anda, anda bisa mendapat return yang memuaskan. Lupakan itu, and save your time and money!

Sumber : http://flog.co.id

Membangun Perencanaan Finansial dengan Lebih Bijak.


Perencanaan finansial kedepannya. saya rasa setelah cukup banyak menghabiskan materi untuk persiapan lebaran, maka inilah saatnya untuk mereset ulang perencanaan finasial yang kita lakukan agar menjadi lebih baik lagi.

Seperti anjuran para ahli yang menyimpulkan, bahwa kondisi finansial yang baik adalah kondisi dimana nilai pengeluaran bersifat lebih kecil dari pendapatan, sehingga minimal anda bisa menyimpan sekitar 20 % dari sisanya untuk tujuan lainnya.

Jujur saja menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk suatu tujuan finansial dan perencanaan masa depan sungguh terdengar sangat menarik dan sangat masuk diakal bagi siapapun. Namun kenapa faktanya begitu sulit untuk dilakukan? Jangankan menyimpan bahkan terkadang nilai total pengeluaran bisa saja jauh melebihi pendapatan.

Bagi anda yang sedang berhemat dan sedang berencana melakukan perencanaan finasial dengan lebih bijak, berikut 7 langkah awal untuk melakukannya:

1. Mempunyai rekening tabungan terpisah

Yang pertama, setiap kali mendapatkan income pisahkan budget yang merupakan kebutuhan pokok anda perbulannya. Setelahnya segeralah transfer sisa dari perhitungan kebutuhan pokok tersebut kedalam rekening terpisah sebagai simpanan yang tidak boleh diganggu gugat. Hal ini bertujuan untuk melatih anda agar mempunyai pandangan tentang stabilitas keuangan yang anda miliki.

2. Membuat rincian pengeluaran

Adalah suatu kewajiban bagi anda untuk mengetahui kemana perginya setiap sen dari uang anda. Anda mungkin akan terperangah melihat berapa banyak dari total uang yang sering anda habiskan dengan kegiatan anda diluar yang sebenarnya tidak terlalu berguna. Dengan membuat rincian catatan pengeluaran anda bisa memantau manakah sekiranya dari pengeluaran tersebut yang terlalu banyak dan layak untuk dibatasi.

3. Simpan kembalian dari sisa uang yang anda keluarkan

Boleh jadi anda akan menerima kembalian setelah anda membayar pajak ataupun berbelanja di mini market. Jangan lupa, anda bisa memanfaatkan uang receh ini sebagai sebuah celengan yang akan menambah nilai simpanan anda. Anda bisa membawa dan menukarkannya di bank ketika celengan anda sudah penuh terisi dan langsung memasukannya kedalam tabungan anda.

4. Pikirkan juga mengenai tambahan extra

Bagi anda yang mempunyai penghasilan tambahan, itu bukan berarti anda bebas menghabiskannya tanpa adanya tujuan yang jelas. Segeralah masukan / transfer pendapatan extra anda kedalam tabungan sebelum anda berubah pikiran mengenainya.

5. Pangkas biaya yang tidak perlu

Percaya atau tidak anda berpotensi menghemat puluhan hingga ratusan juta Rupiah pertahunnya. Jika anda merasa selama ini kegiatan anda diluar banyak menggangu stabilitas finansial anda, maka jangan ragu untuk meninggalkannya. Mungkin sesekali tidak ada masalah sekedar nongkrong atau makan di restoran dan cafe – cafe lainnya untuk memenuhi hasrat anda. Namun jika anda menjadikannya kebiasaan, bayangkan berapa banyak yang anda akan habiskan pertahunnya?

6. Mulailah dengan mengatur target realistis

Untuk mengatur perencanaan finansial anda dengan bijak, anda bisa mulai menyisihkannya dengan nilai dan angggran yang kecil terlebih dahulu. Pastikan anda melakukannya dengan konsisten pada setiap bulannya, jangan sampai anda berpikir untuk tidak lagi menabung karena tidak mempunyai uang, Ex: Akan sulit bagi anda untuk menghemat sebesar 500ribu perbulannya jika anda berpenghasilan sekitar 1 juta, namun dengan nilai yang lebih kecil katakanlah 100ribu perbulannya akan membuat anda terbiasa melakukannya sedikit demi sedikit hingga menuju tahap yang lebih tinggi lagi.

7. Jangan lupa tingkatkan perencanaan finansial anda dengan berinvestasi.

Tingginya tingkat inflasi serta pengaruh harga berbagai kebutuhan bahan pokok yang semakin meningkat tiap tahunnya, lambat laun akan mengurangi dan membuat nilai dari tabungan anda semakin menyusut. Setelah anda terbiasa dengan menabung maka ini saatnya anda berpikir kelevel yang lebih tinggi lagi. Berbicara mengenai pengembangan aset keuangan, maka pilihan terbaiknya adalah dengan berinvestasi, dimana dalam hal ini anda akan mendapatkan nilai plus ataupun keuntungan dari setiap modal yang anda tanamkan. Yang perlu anda lakukan hanyalah perlu mencocokan nilai simpanan anda dengan jenis instrument investasi yang sesuai dengan tujuan anda.

Semakin dini kita memulai perencanaan finansial dengan lebih matang maka semakin cepat pula kita akan merasakan manfaatnya.

Sumber : http://www.askapsocial.com

Related Posts