Friday, January 29, 2021

Saham Top Gainers di 2020

Saham-saham ini jadi top gainers di 2020, bagaimana rekomendasi sahamnya?

Minggu, 03 Januari 2021 / 21:34 WIB
 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah atau melemah 0,95% ke level 5.979,07 pada perdagangan terakhir tahun 2020, Rabu (30/12). Secara year to date, IHSG terkoreksi sebesar 5,09%.

Berdasarkan RTI, pada perdagangan Rabu (30/12), tercatat 143 saham naik, 365 saham terkoreksi, dan 119 saham diam di tempat. Adapun volume perdagangan tercatat 24,71 miliar dengan nilai transaksi Rp 14,51 triliun.

Sejumlah saham mencetak kenaikan harga tertinggi pada tahun lalu adalah PT BRI Syariah Tbk (BRIS) yang melesat 581,82% ke harga Rp 2.250 per saham, disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) yang meroket 422,73% menuju harga Rp 1.035 per saham, PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) meroket 240% ke harga Rp 4.250 per saham, PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) naik 171,96% ke harga Rp 575 per saham.


Kemudian, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) menguat 142,05% menuju harga Rp 1.065 per saham dalam setahun, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) merangkak 130,36% ke harga Rp 1.935 per saham.

Lalu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 127,10% ke harga Rp 2.430 per saham, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) melesat 116,05% ke harga Rp 350 per saham, PT Timah Tbk (TINS) naik 80% ke harga Rp 1.485 per saham, dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menguat 40,79% ke harga Rp 428 per saham.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, saham-saham tersebut menguat seiring dengan adanya aksi korporasi yang dilakukan oleh emiten. Pertama, saham BRIS yang mulai meroket setelah ada rencana merger dengan bank-bank syariah.

“Harga ANTM dan TINS menguat salah satunya karena kabar holding Indonesia Battery,” ujarnya ketika dihubungi Kontan, Minggu (3/1).

Selain itu, kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi saat Covid-19 turut mendorong harga saham ANTM dan MDKA. Sementara itu, masuknya KB Kookmin Bank sebagai pemegang saham pengendali BBKP dinilai menjadi sentimen positif untuk pergerakan harga saham BBKP.

Menurut Nafan, masuknya Kookmin ke Bukopin memberikan optimisme yang tinggi bagi pelaku usaha Korea Selatan di Indonesia. Dalam catatan Kontan, saat ini terdapat sekitar 2.000 perusahaan besar, kecil, dan menengah asal Korea Selatan seperti Samsung, Hyundai Motor, LG dan lain-lain. Dari jumlah tersebut, sekitar 190 perusahaan merupakan nasabah Kookmin di Korea Selatan.

Nafan melanjutkan, saham-saham top gainers ini juga memiliki fundamental yang cukup bagus. Misalnya saja, PT Kimia Farma Tbk yang mencetak pertumbuhan penjualan di tengah pandemi Covid-19.

Emiten farmasi plat merah ini mencatat kenaikan penjualan sejak Januari hingga September 2020 hingga 2,47% year on year (yoy) menjadi sebesar Rp 7,05 triliun. Jumlah tersebut naik dari periode yang sama tahun 2019 yang tercatat Rp 6,88 triliun.

Ia juga menilai, ANTM dan INCO memiliki fundamental yang cukup kuat, kenaikan harga nikel berdampak signifikan bagi produsen nikel ke depannya.

Sebagai informasi, per kuartal ketiga 2020, ANTM membukukan laba bersih senilai Rp 835,78 miliar atau naik 30,28% secara tahunan. Secara kuartalan, laba bersih ANTM naik hingga 105% dibanding kuartal sebelumnya.

Dari sisi penjualan, emiten pertambangan pelat merah ini membukukan pendapatan senilai Rp 18,03 triliun atau menurun 26% secara tahunan. Hanya saja, secara kuartalan, penjualan Aneka Tambang melesat hingga 119% dari Rp 4,02 triliun di kuartal kedua 2020 menjadi Rp 8,81 triliun.

Sedangkan INCO mencatat pertumbuhan laba bersih hingga 47.800% secara tahunan menjadi US$ 76,64 juta di kuartal III 2020, dari hanya US$ 160.000 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di saat yang bersamaan, pendapatan Vale Indonesia naik 12,7% secara tahunan, dari US$ 506,46 juta menjadi US$ 571,02 juta pada sembilan bulan 2020. Secara keseluruhan, Nafan memandang saham-saham tersebut masih memiliki prospek yang cukup baik tahun ini.

Ia memberikan rekomendasi maintain buy ANTM dengan target harga Rp 2.240 atau Rp 2.250. Serta rekomendasi maintain buy saham KRAS dengan target harga Rp 474, target selanjutnya Rp 498, Rp 515, dan Rp 515.

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menyarankan pelaku pasar untuk tetap berhati-hati pada saham-saham yang mengalami kenaikan tertinggi di 2020. Reza mengungkapkan sejumlah kabar berita mengenai emiten terkait turut mengungkit harga sahamnya.

“Jadi, pelaku pasar memanfaatkan momen tersebut untuk masuk ke saham-saham tersebut. Apalagi, kalau saham-sahamnya masih dinilai rendah oleh pelaku pasar dan adanya anggapan akan meningkatnya kinerjanya karena pemberitaan itu,” tambahnya.

Dilihat dari laporan keuangan hingga kuartal III tahun lalu, Reza melihat BRIS, BBKP, dan KRAS mempunyai fundamental yang cukup baik karena masih mencatatkan laba. Hanya saja Reza belum dapat memberikan rekomendasi untuk saham-saham ini.


Sumber :
https://investasi.kontan.co.id/news/saham-saham-ini-jadi-top-gainers-di-2020-bagaimana-rekomendasi-sahamnya?page=2

Tuesday, January 26, 2021

Idx GJTL


1. Lo Kheng Hong Koleksi GJTL, Apa Benar Masih Murah & Menarik?

Jagat pasar modal domestik kembali dibuat gempar pada perdagangan Jumat (8/1/21). Pasalnya nama investor kawakan Lo Kheng Hong muncul sebagai pemegang saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang dikendalikan oleh keluarga pengusaha Sjamsul Nursalim.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Lo Kheng Hong menggenggam 176,48 juta saham atau setara dengan 5,06% kepemilikan. Data ini muncul pada laporan KSEI pada Kamis (7/1/2020).

Investor yang dikenal dengan julukan Warren Buffet-nya Indonesia ini juga sudah mengkonfirmasi kepemilikanya di saham GJTL kepada CNBC Indonesia.

"PT Gajah Tunggal adalah pabrik ban terbesar di Asia Tenggara, dengan penjualan Rp 9,6 triliun selama 9 bulan 2020. Nilai buku per saham Rp 1.782. Ketika pandemi harga sahamnya turun ke Rp 300-an, jadi Saya membelinya. Murah," ujar Lo kepada CNBC Indonesia, Jumat (8/1/2021).

Bahkan sebelumnya, Kheng Hong memang berkali-kali menyebut harga saham GJTL salah harga, yang mencerminkan harganya yang tergolong murah.

"Kalau tidak salah harga, saya tidak disini. Kalau Rp 3.000 saya tidak datang, tapi karena GJTL saat ini Rp 600," kata LKH usai menghadiri paparan publik GJTL di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (12/12/2017), seperti dikutip dari lembaga riset reksa dana, Pasardana

Lo Kheng Hong sendiri memang terkenal sebagai value investor atau investor berbasis nilai dimana pria yang akrab disapa LKH ini senang mencari saham-saham yang salah harga, kondisi dimana nilai pasar saham jauh lebih murah dari nilai intrinsik saham tersebut.

Sontak saja setelah kabar ini tersebar, pasar langsung merespons. Tercatat pada penutupan perdagangan Jumat (8/1/21) harga saham GJTL ditutup terbang tinggi 25% ke level harga Rp 825/unit menyentuh level tertingginya alias terkena auto reject atas (ARA).

Volume transaksi saham GJTL juga melesat kencang yang menunjukkan antusias para investor untuk bertransaksi di saham produsen ban ini.

Data BEI mencatat, volume transaksi GJTL naik dari posisi hari sebelumnya di angka 77.441 lot saham menjadi 1,32 juta lot saham senilai Rp 103,82 miliar.

Antrean pembelian GJTL di harga ARA (batas atas auto reject) mencapai 1,26 juta lot atau senilai Rp 104,30 miliar yang menunjukkan antusiasme para pelaku pasar untuk membeli saham GJTL, sehingga saham ini berpotensi besar melanjutkan apresiasinya pada perdagangan hari ini.

Gajah Tunggal merupakan perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur ban, baik untuk kendaraan pribadi seperti mobil, kendaraan komersial seperti bus atau truk, maupun ban motor.

Situs resminya mencatat, produk ban keluaran perseroan salah satunya adalah merek GT Radial untuk ban mobil dan IRC untuk ban motor.

Pabrik GJTL berlokasi di dalam negeri yakni di kawasan industri Gajah Tunggal di Tangerang serta pabrik lain yang berlokasi di Serang

Masuknya investor kawakan Kheng Hong tentu saja membuat para pelaku pasar bertanya-tanya apakah benar saham GJTL memang masih tergolong murah dan salah harga?

Bagaimana kondisi fundamental perusahaan dan prospek usaha GJTL?

Apakah kondisi industri manufaktur ban yang menjadi mesin utama pendapatan GJTL akan cerah di tahun 2021?


2. Produsen Ban Terbesar di Asia Tenggara

Akibat merebaknya pandemi Covid-19 di Tanah Air dan penerapan PSBB di berbagai wilayah, kinerja keuangan produsen ban mobil merek GT Radial ini ikut terdampak. Hal tersebut tercermin dari penurunan penjualan bersih yang mencapai 19,4% (yoy).

Pada periode 9 bulan tahun 2020 total penjualan GJTL tercatat mencapai Rp 9,62 triliun turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 11,94 triliun.

Meskipun turun, perseroan berhasil menjadi perusahaan manufaktur ban publik dengan penjualan terbesar di Asia Tenggara, jauh melampaui posisi PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) di posisi kedua dan Southern Rubber Industry JSC asal Vietnam di posisi ketiga.

Kedua perusahaan tersebut hanya mampu membukukan penjualan masing-masing Rp 2,77 triliun dan Rp 2,12 triliun dimana angka tersebut tentunya terlihat kerdil dibandingkan dengan penjualan GJTL di angka Rp 9,62 triliun.

Perseroan memang sudah terkenal sebagai 'Raja Ban' Asia Tenggara. Hal ini terlihat dari total penjualan GJTL yang mendominasi di kawasan ASEAN dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan publik lain yang bergerak di bidang yang sama.

Tercatat di tahun 2019 penjualan GJTL mencapai Rp 15,93 triliun. Angka ini berhasil menempatkan GJTL pada posisi pertama di antara produsen-produsen ban publik di Asia Tenggara lain. Bahkan angka tersebut berhasil mendominasi dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan ban lain.

Meskipun penjualan terpaksa turun pada tahun 2020, pandemi nCov-19 ternyata mendatangkan keuntungan tersendiri bagi GJTL paling tidak dari sisi produksi karena beban biaya yang ditanggung oleh perusahaan juga mengalami penurunan yang cukup besar.

Beban pokok penjualan (HPP/COGS) perusahaan turun 21,4% (yoy) pada periode Januari-September 2020 dibanding tahun 2019. Di saat yang sama beban penjualan juga mengalami penurunan sebesar 28,6% (yoy).

Penurunan beban biaya emiten ban motor IRC dan Zeneos tersebut turun diakibatkan oleh rendahnya harga material untuk produksi dan penurunan tingkat utilisasi pabrik.

Kendati penurunan beban biaya jauh melebihi penurunan penjualan, GJTL harus membukukan rugi bersih senilai Rp 104 miliar hingga kuartal ketiga tahun lalu. Padahal GJTL mampu mencetak laba bersih hampir Rp 140 miliar tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, anjloknya laba GJTL lebih dipicu oleh kondisi eksternal yakni depresiasi rupiah yang tajam tahun lalu dan bukan kondisi internal perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang tidak diaudit September 2020, kerugian selisih kurs tercatat mencapai Rp 304 miliar.


3. Likuiditas Perusahaan Masih Terjaga di Tengah Pandemi

GJTL memang memiliki eksposur terhadap risiko depresiasi nilai tukar tinggi mengingat porsi kewajiban perusahaan seperti utang obligasi, fasilitas kredit perbankan hingga utang usaha kepada para pemasok dalam mata uang asing yang juga tinggi.

GJTL tercatat memiliki total aset dalam mata uang asing mencapai Rp 3,12 triliun. Sementara itu total kewajiban dalam mata uang asingnya tercatat Rp 6,55 triliun. Artinya GJTL mencatat kewajiban bersih (net liabilities) dalam mata uang asing mencapai Rp 3,43 triliun.

Saat pandemi Covid-19 menghantam kinerja keuangan dunia usaha Tanah Air, banyak perusahaan yang mengalami masalah likuiditas. Namun tidak dengan GJTL. Perusahaan masih memiliki kas dengan setara kas senilai Rp 699 miliar dan jika ditambah dengan aset keuangan lancar lainnya senilai Rp 289,6 miliar maka dana segarnya hampir Rp 1 triliun.

Nilai working capital (aset lancar-kewajiban lancar) yang masih positif Rp 2,74 triliun mengindikasikan bahwa perusahaan mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya. Hal ini juga diperkuat dengan rasio likuiditas lain seperti current ratio dan quick ratio yang masih lebih tinggi dari rule of thumb di angka 1.


4. Ditopang oleh Valuasi yang Sangat Murah4 dari 4 Halaman

Untuk melihat apakah valuasi GJTL masih tergolong 'salah harga' alias murah maka perlu diperhatikan beberapa metrik valuasi yang umum digunakan. Salah satunya adalah dengan menggunakan indikator nilai buku (book value).

Nilai buku GJTL menggunakan laporan keuangan periode September 2020 adalah sebesar Rp 1.783/unit. Kendati saham GJTL melesat dan menyentuh level auto reject atas (ARA) pada perdagangan akhir pekan lalu ke Rp 825/unit, sejatinya harga pasarnya masih jauh di bawah nilai buku riilnya.

Saham GJTL saat ini ditransaksikan di 0,46 kali nilai bukunya (price to book value/PBV) yang tentu saja masih sangat murah apabila dibandingkan dengan rata-rata PBV industri produsen ban global yang berada di angka 2,25 kali.

Bahkan apabila menggunakan nilai intrinsik saham GJTL yang biasanya tentunya lebih besar daripada nilai bukunya, para pelaku pasar akan mendapatkan angka yang lebih menakjubkan.

Tercatat nilai intrinsik saham GJTL menggunakan metode permodelan Refinitiv StarMine Projection Model berada di angka Rp 2.301,24/unit. Bagi seorang value investor yang tertarik untuk mengkoleksi saham GJTL masih memiliki margin of safety (MOS) yang besar yaitu 64,15%.

Hal ini menunjukkan saham GJTL berpotensi mencatatkan keuntungan bagi para investor mencapai 278,93% apabila harga pasar GJTL kembali ke level nilai intrinsiknya di angka Rp 2.301.24/unit.

Namun menggunakan valuasi berdasarkan nilai buku saja tentunya tidak cukup mengingat perusahaan bergerak di sektor manufaktur yang cenderung capital intensive maka butuh metrik valuasi lain seperti dengan membandingkan harga pasar dengan laba perusahaan (price to earning/PER), harga pasar terhadap penjualan (price to sales/PS), harga pasar dengan arus kas (price to cash flow/PCF) hingga nilai perusahaan terhadap pendapatan masih kotornya (EV/EBITDA).

Metrik tersebut (valuation multiples) juga harus dibandingkan dengan perusahaan kompetitor di industri yang sejenis.

Kompetitor GJTL yang juga merupakan perusahaan publik adalah PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) yang juga menjual ban mobil dengan merek Achilles dan ban motor Corsa yang menjadi pesaing utama GJTL dan menduduki posisi produsen ban terbesar kedua di Asia Tenggara.

Menggunakan metode valuasi yang lebih sensitif dan membandingkannya dengan kompetitor, maka diperoleh kesimpulan bahwa valuasi GJTL memang tergolong murah relatif terhadap MASA karena angka metriknya yang jauh lebih rendah untuk semua indikator.


Outlook Industri

Kendati pandemi Covid-19 belum bisa dikontrol sampai saat ini, bahkan pemerintah memutuskan untuk menerapkan PSBB ketat di Jawa Bali, dimulainya program vaksinasi Covid-19 di dalam negeri menjadi harapan bangkitnya perekonomian Indonesia.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia tahun ini berada di angka 4,4%. Lembaga keuangan global lain yaitu Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan lebih bullish karena meramal ekonomi RI tumbuh 4,8%.

Pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) yang diikuti dengan penurunan suku bunga kredit diharapkan mampu mendongkrak permintaan kredit.

Penurunan suku bunga kredit tentu positif untuk sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga seperti properti hingga otomotif (motor dan mobil) mengingat pembelian rumah dan barang tahan lama tersebut banyak mengandalkan kredit.

Peningkatan permintaan mobil dan motor juga positif untuk sektor manufaktur yang menopangnya seperti industri spare-part dan industri ban yang menjadi industri utama GJTL.

Selain itu industri otomotif yang merupakan industri siklikal dengan pent-up demand yang tergolong tinggi, dimana industri ini lebih diuntungkan dengan pemulihan ekonomi pasca terserang pandemi Covid-19. Hal ini tentu saja menguntungkan GJTL yang beroperasi di industri turunan otomotif.

Outlook nilai tukar rupiah juga positif. Adanya kemungkinan inflow dana asing yang masif akan mengangkat kinerja rupiah dan menurunkan volatilitasnya. Penurunan volatilitas rupiah merupakan hal yang baik bagi GJTL melihat eksposur terhadap valuta asing tergolong tinggi.

Bahkan terpilihnya Joe Biden, kandidat dari Partai Demokrat di Pemilihan Presiden Amerika Serikat juga membawa berkah tersendiri bagi GJTL. Hal ini mengingat secara historis pemimpin dari Partai Demokrat doyan menggelontorkan stimulus fiskal dengan nilai yang fantastis.

Dengan cairnya stimulus fiskal maka nilai mata uang Dolar AS berpotensi melemah karena jumlah dolar beredar yang meningkat sehingga tentunya hal ini akan menguntungkan GJTL yang tercatat membukukan penjualan ekspor bersih mencapai Rp 3,84 triliun atau setara dengan 39,95% total penjualan bersih GJTL.

Apalagi mengingat dari total ekspor bersih tersebut mayoritas diekspor ke Benua Amerika yakni senilai Rp 2,68 triliun sehingga tentunya dengan melemahnya nilai Greenback akan menguntungkan perusahaan secara langsung apalagi mengingat komponen produksi GJTL mayoritas merupakan produk lokal.

Selain itu sebagian besar hutang perusahaan juga tercatat dalam mata uang dolar yakni senilai Rp 556,62 miliar atau sebesar 39,46% dari total hutang perusahaan. Dengan melemahnya nilai Greenback maka perseroan akan lebih mudah untuk melunasi atau membayar bunga kewajibanya yang tercatat dalam mata uang Paman Sam.

Di sisi lain perusahaan juga berupaya untuk melakukan lindung nilai (hedging) dari fluktuasi nilai tukar dengan membeli produk keuangan derivatif berupa call spread option dengan tujuan untuk mengelola resiko nilai tukar mata uang terhadap Senior Secure Facilities perusahaan yang bernilai Rp 1,83 triliun.

Overall, outlook perekonomian dan industri yang positif di tahun 2021 diharapkan mampu mendongkrak kinerja keuangan GJTL sebagai market leader industri ban, baik di Tanah Air maupun di Asia Tenggara.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/market/20210111073830-17-214893/lo-kheng-hong-koleksi-gjtl-apa-benar-masih-murah-menarik/4

Idx Cleo

Menerawang Prospek Saham Sariguna Primatirta (CLEO)

Rabu, 26 Juni 2019 | 22:55 WIB

Prospek PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) kian segar. Analis memperkirakan, performa keuangan emiten yang memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) ini berpeluang semakin moncer ke depan.

Sepanjang tiga bulan pertama 2019, CLEO berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan sekitar 37% dari Rp 162,59 miliar pada kuartal I-2018 menjadi Rp 223,54 miliar. Capaian tersebut, berada di atas pertumbuhan rata-rata industri AMDK yang hanya 4%.

Belum berhenti di situ, Pada periode sama, laba bersih perusahaan ini juga melompat 101% menjadi Rp 25,29 miliar.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, dari sisi pendapatan, performa CLEO tak lepas dari karakter bisnis perusahaan, di sektor barang konsumen. Pada saat yang bersamaan, data consumer price index (CPI) juga mengalami kenaikan. Begitu juga dengan data inflasi.

"Hal itu mencerminkan daya beli masyarakat cenderung meningkat," ujar Sukarno, Selasa (25/6).

Setali tiga uang, analis MNC Sekuritas Victoria Venny NS. menjelaskan, tak menutup kemungkinan ada sentimen negatif di semester II. Akan tetapi, berbagai program bantuan dari pemerintah untuk masyarakat menjadi faktor kuat yang mendorong pertumbuhan sektor konsumsi masih positif di tahun ini.

Data makro ekonomi yang memberi sinyal adanya peningkatan daya beli masyarakat memang mempengaruhi fundamental CLEO. Di sisi lain, CLEO juga mampu mengoptimalkan peluang itu dari sisi internal.

Analis Senior Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih mengatakan, terdapat penurunan utang yang cukup besar di keuangan CLEO sepanjang tahun lalu. Alhasil, terjadi penurunan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan air minum tersebut di tahun ini.

Hal itu yang membuat sisi laba CLEO kuartal pertama tahun ini moncer. "EBITDA juga terus meningkat," terang Alfatih.

Alfatih menambahkan, melihat sejumlah data makro, sektor konsumer yang juga merupakan sektor bisnis CLEO tahun ini bakal prospektif. Kalau pun tidak meningkat, minimal pergerakan bisnis di sektor ini stabil.

William Hartanto, analis Panin Sekuritas memiliki pandangan senada. Menurutnya, tren industri AMDK memang saat ini cenderung stagnan. Namun, pada saat yang bersamaan, pemain di industi ini tidak akan pernah kehabisan pangsa pasar.

"Sehingga, yang menjadikan industri tersebut kompetitif dilihat dari kualitas dan harga jual produk itu sendiri," jelas William.

Berbicara soal saham, Rabu (26/6) kemarin, CLEO ditutup menguat 2 poin ke level Rp 388 per saham. Sejak awal tahun, saham ini telah mengakumulasi kenaikan hampir 37%.

Menurut Alfatih, secara teknikal saham CLEO berada dalam tren naik dan masih berada di atas moving average (MA) 20 serta indikator stochastic yang berada di atas 50. Untuk itu, dia merekomendasikan buy untuk saham CLEO dengan target harga Rp 420 per saham dan berhenti saat menyentuh level Rp 376 per saham.

Tak jauh berbeda, Analis Panin Sekuritas William Hartanto juga merekomendasikan beli untuk saham CLEO, dengan target harga akhir tahun Rp 565 per saham. Menurutnya, harga saham emiten ini masih berpotensi untuk melanjutkan penguatan.

Sementara, Sukarno menyarankan untuk berhati-hati. Pasalnya, saham CLEO sudah memasuki area jenuh beli (overbought).

"Harga sudah mulai berada di area overbought. Investor yang mau masuk kembali harus waspada. Dari sisi teknikal, harga berpotensi melemah," jelasnya.

Dia mengungkapkan, jika harga terus turun dan menembus level support yakni Rp 378 per saham, maka ke depannya memungkinkan untuk lanjut turun ke level Rp 350 per saham. Hingga akhir tahun, saham CLEO berpotensi bergerak ke level Rp 410 per saham.


Sumber :

https://insight.kontan.co.id/news/menerawang-prospek-saham-sariguna-primatirta-cleo

Tuesday, September 29, 2020

RI Resesi Jadi Peluang Investasi

RI Resesi Jadi Peluang Investasi, Ayo Kaya Sebelum Tua!


Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) adalah tragedi kesehatan dan kemanusiaan. Namun kemudian menyebar menjadi persoalan sosial-ekonomi.

Menangani virus corona, berbagai negara mengedepankan kebijakan pembatasan sosial (social distancing). Sebisa mungkin manusia dibuat berjarak antara satu dengan yang lain, agar risiko penularan virus bisa diminimalkan. Di Indonesia, kebijakan ini diterjemahkan dalam bentuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Aktivitas masyarakat dibatasi untuk sementara agar mengurangi risiko penyebaran virus corona. Pembatasan kegiatan masyarakat ini yang kemudian membuat pandemi Covid-19 menjadi problema sosial ekonomi.

Saat masyarakat diminta sebisa mungkin untuk #dirumahaja, maka aktivitas produksi akan terhambat. Permintaan konsumen pun berkurang, karena apa yang mau dibeli kalau ngendon di rumah?

Virus corona telah memukul ekonomi di dua sisi sekaligus, penawaran (supply) dan permintaan (demand). Hasilnya, ekonomi Indonesia menciut. Ukuran ekonomi yang dicerminkan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2020 turun 5,32%.

Kuartal III-2020 memang belum berakhir, tinggal hitungan hari. Namun kemungkinan besar kontraksi (pertumbuhan negatif) ekonomi akan kembali terjadi.

Jadi, Indonesia sedang di ambang kontraksi PDB selama dua kuartal beruntun. Ini adalah definisi dari resesi, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak 1999.

Kita harus menerima kenyataan pahit, resesi sudah di depan mata. Siap atau tidak, kita harus menghadapi dan melaluinya.

Namun yakinlah bahwa 'badai' ini akan ada ujungnya. Tumpuan harapan dunia ada di vaksin anti-virus corona yang akan membentuk 'perisai' perlindungan tubuh dari serangan virus yang awalnya menyebar di Kota Wuham, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China tersebut.

Kemungkinan vaksin sudah tersedia tahun depan, awal atau pertengahan tahun. Begitu vaksin sudah ada dan didistribusikan, maka hidup akan berangsur normal kembali. Masyarakat bisa mulai beraktivitas dengan tenang.


Oleh karena itu, ada harapan ekonomi bisa bangkit dari nestapa pada tahun depan. Memang harus menunggu sekitar setahun, tetapi bagi yang mampu bertahan akan mendapat ganjaran yang luar biasa.

Berbagai lembaga internasional memperkirakan ekonomi Indonesia akan kembali tumbuh positif pada 2021. Bukan sekedar tumbuh, tetapi melesat.

Pandemi Covid-19 yang menyeret ekonomi dunia tentu mempengaruhi pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah melemah.

Sejak awal tahun ini, IHSG sudah anjlok 21,49%. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah nyaris 7%.


Namun kembali lagi, harapan akan pemulihan ekonomi akan membuat aset-aset di pasar keuangan Tanah Air akan bangkit. Justru sekarang harga aset keuangan di Indonesia sudah sangat murah, dan dengan prospek kebangkitan ekonomi nilainya bakal naik pada masa mendatang.

Ambil contoh saham-saham perbankan nasional. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara year-to-date sudah terkoreksi 16,08%. Saat ini harga saham BCA berada di Rp 28.050.

Harga ini masih sangat jauh dari target yang diperkirakan pelaku pasar. Mengutip data Refinitiv, konsensus pasar untuk harga saham BBCA bisa mencapai Rp 33.412,16. Artinya ada potensi kenaikan 19,12%.

Kemudian saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang sekarang harganya Rp 5.350. Target harga perkiraan pelaku pasar ada di Rp 6.797,05 yang menggambarkan potensi lonjakan 27,05%.


Pilihan investasi lainnya yang mudah dan menjanjikan keuntungan adalah reksa dana. Jangan dilihat dalam jangka pendek, reksa dana adalah investasi berhorizon jangka menengah panjang. Jika nanti pasar keuangan Tanah Air bangkit, maka Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga bakal terangkat.

Belajar dari krisis keuangan global 2008-2009, saat itu NAB reksa dana pun ambles. Namun pada 2010, NAB sudah pulih dan melampaui level sebelum krisis.

Pandemi virus corona juga membuat NAB reksa sana terkoreksi. Akan tetapi dengan harapan pemulihan ekonomi tahun depan dan 2022, nilainya akan kembali terangkat. Jadi kalau beli reksa sana sekarang, maka kemungkinan cuan pada 2021 dan 2022 lumayan tinggi. 


Resesi memang berat, bahkan sangat berat. Namun periode ini bisa menjadi peluang untuk memupuk keuntungan pada masa mendatang.

Bagi Anda yang masih beruntung bisa memperoleh penghasilan, apalagi ada dana berlebih, maka ada baiknya mulai disisihkan untuk berinvestasi. Bisa dengan 'menyerok' saham, memborong reksa dana, dan sebagainya. Mumpung harga sedang diskon.

Jika Anda sabar, plus harapan pemulihan ekonomi benar-benar terwujud, maka niscaya nilai aset yang dibeli sekarang akan berlipat-lipat nilainya. Ini adalah kesempatan untuk menjadi kaya sebelum tua, jangan mau jadi tua sebelum kaya...


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/investment/20200927082954-21-189761/ri-resesi-jadi-peluang-investasi-ayo-kaya-sebelum-tua/3

Sunday, September 6, 2020

Intrinsically Dangerous

Warren Buffett: ‘Don’t ask the barber whether you need a haircut’

FEB 12 2019


Warren Buffett doesn’t trust forecasts or projections, especially from someone who has a financial interest in making those projections.

“I do not understand why any buyer of a business looks at a bunch of projections put together by a seller...or his agent,” he said.

Legendary investor Warren Buffett is no stranger to billion-dollar business deals. Regardless of size or scope of a transaction, the “Oracle of Omaha” uses the same research philosophy: Don’t trust forecasts or projections, especially from someone who has a financial interest in making those projections.

Whether you’re buying a stock or a house or a business, the chairman and CEO of Berkshire Hathaway advises to do your own research. Don’t trust the “experts.”

“Don’t ask the barber whether you need a haircut,” Buffett told the audience at Berkshire’s 1994 annual meeting.

Buffett’s longtime partner Charlie Munger recalled him and Warren being offered a thick book of $2 million worth of projections during the process of buying a business.

“We almost paid $2 million not to look at it,” Buffett joked to the audience.

“I do not understand why any buyer of a business looks at a bunch of projections put together by a seller...or his agent,” he continued.

Obtaining information or trusting analysis from someone who has an interest in a particular deal is detrimental due to its innate bias. Munger called projections “intrinsically dangerous.” Buffett reviews annual reports and other filings to draw his own conclusions. He believes you should stick with businesses that you can evaluate yourself.

The 88-year-old’s methodology proved to be not only insightful but successful. Berkshire has returned 20 percent annually over the last 40 years, double the return of the S&P 500 over that same time span, according to FactSet.


Sumber :
https://www.cnbc.com/2019/02/12/warren-buffett-dont-ask-the-barber-whether-you-need-a-haircut.html

Thursday, August 27, 2020

Saham Blue Chip di Indonesia

10 Saham Blue Chip Terbaik di Indonesia Tahun 2020


Ada banyak sekali instrumen investasi yang dikenal oleh masyarakat. Semuanya memiliki tujuan jelas yakni mendulang keuntungan. Karena memang bagaimanapun juga, manusia tentu ingin memiliki kehidupan yang lebih sejahtera di masa depan, terutama jika menyangkut perihal finansial.

Bahkan demi mencapat tujuan kemakmuran itu, banyak yang sudah mulai menabung dan mengelola keuangannya secara lebih bijak sedari masih muda.

Investasi memang menjadi salah satu pilihan terbaik untuk memiliki kehidupan keuangan yang lebih baik di masa depan. Ada banyak sekali jenis investasi yang mungkin sudah pernah Anda dengar seperti investasi reksadana, investasi emas, investasi properti (tanah, rumah), investasi deposito dan tentunya investasi saham.

Dari semuanya memang menawarkan keuntungan tetapi kalau boleh memilih, investasi saham memiliki peluang untung paling besar.


Benar, ada banyak sekali investor saham yang sukses meraup untung berkali-kali lipat dan kaya mendadak berkat saham yang dimiliki. Namun satu hal yang harus diketahui, saham memang punya peluang untung sangat besar tapi begitu pula dengan risikonya.

Yap, jika Anda memilih untuk investasi saham tentu harus siap jika memang untung dan ruginya memiliki peluang yang sama-sama besar.

Tapi meskipun demikian, jangan jadikan hal ini sebagai alasan untuk tidak memulai investasi saham. Jika memang tujuan jangka panjang yang Anda inginkan, Anda bisa mencoba menanamkan modal pada perusahaan-perusahaan pemilik saham blue chip.


Dalam dunia pasar modal, saham blue chip memang selalu jadi primadona baik investor senior maupun yang masih pemula karena cenderung lebih rendah risikonya. Nah, supaya lebih memahami saham blue chip, ada baiknya jika Anda mempelajari ulasan dari kami berikut ini.


Pengertian Saham Blue Chip

Bagi para investor saham pemula, tentu nama saham blue chip tidaklah asing. Banyak analis saham yang merekomendasikan pembelian saham blue chip kepada calon investor baik untuk investasi jangka panjang atau jangka menengah, karena peluang untung yang jauh lebih besar.


Memang, apa sih saham blue chip ini? Banyak yang mengartikan bahwa saham blue chip adalah saham-saham papan atas atau saham unggulan dalam pasar modal.

Tidak keliru memang, karena saham blue chip dimiliki perusahaan dengan kualitas terbaik yang ada di bursa efek. Dianggap paling aman dan menjanjikan keuntungan yang stabil, tak heran kalau saham blue chip diburu oleh banyak investor, terutama mereka yang baru ingin bermain saham.

Bahkan jika disesuaikan dengan kondisi di Bursa Efek Indonesia (BEI), banyak yang menyebutkan kalau saham blue chip ini sama dengan LQ45. Sekadar informasi, LQ45 ialah indeks pasar saham di BEI yang mencakup 45 perusahaan berfundamental cemerlang dan tentunya kapitalisasi pasar sangat besar.

Apakah saham blue chip ini adalah LQ45? Tidak sepenuhnya tepat karena faktanya memang saham-saham emiten bergengsi ini masuk indeks LQ45. Namun tak semua saham dalam LQ45 adalah blue chip, karena bisa saja sektor perdagangannya tengah ramai dan perusahaannya bagus sehingga masuk indeks LQ45.

Sehingga jika bisa diartikan secara umum, saham-saham blue chip adalah saham milik perusahaan yang sudah diakui secara nasional dan sudah cukup mapan, serta sehat dalam hal keuangannya.

Di mana pada umumnya perusahaan-perusahaan blue chip ini menjual produk dengan layanan yang sangat berkualitas dan diterima oleh masyarakat luas.

Karena fakta inilah, perusahaan blue chip memiliki pendapatan yang stabil dan liabilitas wajar sekalipun sektor yang diperdagangkan sedang bermasalah. Jika bicara kaitannya dengan kapitalisasi pasar, saham blue chip tentu punya nominal yang sangat besar yakni di atas Rp40 triliun.


Ciri-Ciri Saham Blue Chip

Jika melihat nilai pasar saham blue chip, tentu begitu terperangah lantaran sangat besar. Tak heran kalau julukan blue chip tak bisa diberikan secara sembrono karena perusahaannya bukanlah abal-abal.

Hanya perusahaan besar dengan etos kerja yang sangat baik dan dikelola secara profesional berhak disebut demikian. Nah, supaya bisa memilih dengan tepat, berikut ini adalah beberapa ciri saham blue chip:


1. Perusahaan Lawas yang Leader di Sektornya dan Diakui

Salah satu ciri paling mudah untuk melihat saham tersebut blue chip atau tidak adalah dengan melihat profil perusahaan. Jika perusahaannya sudah lama beroperasi dan memperoleh pengakuan baik secara nasional hingga global, bisa dipastikan kalau saham mereka adalah blue chip.

Salah satu perusahaan yang memenuhi syarat ini adalah Astra International (ASII). Emiten dari Astra Group ini selalu berhasil membuat produk mereka top brand di kelasnya yang bisa dilihat dari merk-merk kendaraan bermotor di Indonesia hingga lingkup Asia.

Sama seperti ASII, saham TLKM milik PT Telkom dengan produk Telkomsel serta saham UNVR dari Unilever juga berhak disebut blue chip karena sudah pasti leader di sektornya, sekaligus diakui hingga luar negeri.

Karena memang siapa sih orang di Indonesia (bahkan Asia Tenggara) yang tidak mengenal Pepsodent atau Clear? Bukan hanya produk yang populer, perusahaan pemilik saham blue chip pada umumnya juga sudah beroperasi dalam jangka waktu lama.

Salah satu contohnya ialah saham PGAS milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang sudah berjalan lebih dari setengah abad. Tetapi selama apapun perusahaan ini berjalan, tetap harus mampu menghasilkan laba dengan konsisten.


2. Kapitalisasi Pasar Besar dan Sangat Likuid

Dengan profil perusahaan yang sangat cemerlang, bisa dipastikan pula kalau saham-saham blue chip ini sangatlah likuid.

Ciri saham yang sangat likuid adalah selalu masuk dalam daftar saham teraktif di pasar modal, karena memang ramai diperdagangkan di bursa baik oleh investor perorangan maupun lembaga.

Dengan saham yang begitu likuid, blue chip jelas memiliki kapitalisasi pasar yang begitu besar. Hal ini bisa diketahui dari nilai jumlah saham yang beredar dengan harga saham yang terbaru sangatlah tinggi.


3. Rasio Hutang dan Aset Stabil

Ciri berikutnya dari saham blue chip adalah memiliki rasio antara hutang aset yang cukup stabil.

Contohnya bisa dilihat dari saham-saham blue chip di sektor perbankan yang memiliki DER (Debt-to-Equity Ratio) tidak lebih dari 15%.

Tentu jika saham perusahaan memiliki DER yang sangat tinggi, bisa dipastikan risiko usahanya semakin besar terutama jika menghadapi masalah likuiditas yang berat. Bukan hanya DER, saham blue chip juga memiliki perbandingan ROE (Return On Equity) dan ROA (Return On Assets) yang tinggi.

Hal ini terlihat dari kemampuan perusahaan menghasilkan laba maksimal atau minimal, cukup melalui aset yang dimiliki.


4. Konsisten Bayar Dividen

Dividen alias pembagian laba adalah hal yang jelas sangat dinantikan oleh investor saham.

Seorang investor Amerika legendaris sekaligus ekonom dunia, Benjamin Graham menyebutkan bahwa seorang calon investor sebisa mungkin mencari perusahaan yang terbukti secara konsisten membayar dividen dalam kurun waktu 20 tahun.

Jika sebuah perusahaan mampu melakukannya, terbukti jika mereka rutin menghasilkan laba maksimal setiap tahunnya. Sehingga tak berlebihan kalau disebut jika perusahaan tersebut memiliki saham blue chip.


5. Kinerja Usaha Solid

Saham blue chip dimiliki oleh perusahaan yang mampu mencetak laba maksimal secara rutin setiap tahunnya. Hal ini menjadi bukti jika kinerja perusahaannya sangatlah solid.

Meskipun begitu ada perusahaan yang sudah bisa dibilang cukup mapan tapi sempat mengalami kinerja menurun karena daya beli masyarakat yang berkurang.

Contohnya seperti saham UNTR milik perusahaan penjualan alat berat dan pertambangan batu bara, PT. United Tractors Tbk yang memiliki pertumbuhan laba konsisten yakni rata-rata 14,3% per tahun selama satu dekade terakhir.


Dalam Bursa Efek Indonesia, terdapat lebih dari 600 saham yang terdaftar. Dalam kurun waktu beberapa bulan, biasanya ada update daftar saham blue chip yang bisa dipilih investor dan memang selalu direkomendaiskan.

Dan jika boleh memilih, berikut ini adalah 10 rekomendasi saham blue chip terbaik di Indonesia untuk tahun 2019, sesuai dengan sektor masing-masing:


1. BBCA – Bank BCA (Sektor Bank)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa BCA (Bank Central Asia) adalah bank swasta terbesar di Indonesia.

Berstatus sebagai salah satu bank terbaik di Tanah Air, jaringan ATM BCA bisa dibilang paling luas sehingga tak heran kalau jumlah nasabahnya menyentuh jutaan orang.

Berdiri pada 21 Februari 1957 oleh Sudono Salim, kini bank yang berusia 62 tahun itu dimiliki oleh Djarum.

Di lantai BEI, saham BBCA memiliki volume 11.378.100 lembar saham dengan harga saham terakhir pada penutupan hari Jumat (4/10) sore kemarin adalah Rp30.225.

Pada 30 April 2019 kemarin, BCA membagikan total dividen tunai untuk tahun 2018 yang bernilai total Rp8,3 triliun. Dengan status fundamentalnya yang begitu solid, BBCA jelas menjadi salah satu saham blue chip idaman banyak investor.


2. BBRI – Bank BRI (Sektor Bank)

Jika BCA adalah bank swasta terbaik, maka untuk bank ‘plat merah’ status itu diraih oleh BRI (Bank Rakyat Indonesia).

Menjadi bank dengan laba terbesar di Tanah Air, BRI memiliki kemampuan yang luar biasa dalam produk kredit mikro dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) yang membuat bank lain kalah telak. Bahkan bisa dibilang produk kredit mikro dan UMKM dari BRI hampir tidak bisa disaingi.

Didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja pada 16 Desember 1895, bank yang pada 2019 ini berusia 124 tahun itu memiliki 93.849.800 lembar saham di BRI.

Pada harga penutupan terakhir hari Jumat (4/10) siang kemarin, saham BBRI tercatat sebesar Rp3.950. Ketika pembagian dividen tunai tahun 2018 pada tanggal 13 Juni 2019, BRI menggelontorkan dana lebih dari Rp16,1 triliun kepada para pemegang saham.


3. ASII – PT Astra International Tbk (Sektor Manufaktur)

Salah satu saham blue chip terbaik di Indonesia yang berasal dari sektor manufaktur adalah ASII.

Berdiri pada tahun 1957 oleh William Soerjadjaja dan dua rekannya, kini Astra sudah menjelma menjadi perusahaan multinasional diversifikasi dengan sekitar 58 anak perusahaan. Di lantai saham, Astra mengenalkan ASII yang termasuk kategori blue chip.

Dalam pasar modal, ada volume 10.680.600 lembar saham ASII dengan harga pada penutupan hari Jumat (4/10) menyentuh Rp6.425.

Jika sesuai dengan jadwal, Astra akan membagikan dividen tunai saham ASII tahun ini kepada para investor mereka pada 30 Oktober 2019. Sebelumnya pada 24 Mei 2019, Astra sudah membagikan dividen tunai sebesar Rp6,23 triliun dari laba bersih tahun 2018.


4. JSMR – Jasa Marga (Persero) Tbk (Sektor Insfrastruktur)

Dari banyaknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jasa Marga adalah perusahaan pemilik saham blue chip yang banyak dipilih investor.

Lewat saham JSMR, perusahaan yang resmi berdiri pada 1 Maret 1978 ini fokus membangun dan mengoperasikan jalan tol di Indonesia. Hingga saat ini, Jasa Marga adalah pemimpin pengelolaan lebih dari 531 km atau 76% dari total jalan tol di seluruh Tanah Air.

Sebagai market leader, saham JSMR jelas sangatlah likuid dan begitu menarik perhatian investor. Di lantai BEI, JSMR memiliki volume 1.533.300 lembar saham dengan harga penutupan pada Jumat (4/10) sore kemarin adalah Rp5.550 per lembar saham.

Jasa Marga tercatat terakhir kali melakukan pembagian dividen tunai pada 11 Mei 2018 sebesar Rp440 miliaran berdasarkan laba bersih 2017.


5. PGAS – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (Sektor Energi)

Perusahaan milik pemerintah lainnya yang tercatat memiliki blue chip adalah PT Perusahaan Gas Negara alias PGN.

Bergerak di sektor energi, PGN yang awalnya adalah sebuah perusahaan gas swasta milik Belanda ini resmi berdiri pada 13 Mei 1965.

Merupakan anak perusahaan Pertamina, saham PGN yakni PGAS cukup menarik investor karena begitu likuid dan prospek masa depan gas bumi sebagai energi terbarukan begitu potensial.

Di pasar modal, PGN memiliki volume total 30.098.100 lembar saham dengan harga terakhir pada penutupan hari Jumat (4/10) sore adalah Rp2.100.

Sekadar informasi, PGN yang kini sudah memiliki jalur pipa transmisi gas bumi sepanjang lebih dari 2.160 km di seluruh Indonesia ini telah membagikan dividen tunai pada 28 Mei 2019. Berdasarkan laba bersih tahun 2019, dividen tunai milik PGAS menyentuh angka Rp1,3 triliun.


6. UNVR – PT Unilever Indonesia Tbk (Sektor Manufaktur)

Rasa-rasanya hampir seluruh penduduk Indonesia mengenal yang namanya Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight sampai Bango, Royco dan es krim Wall’s.

Ya, hampir seluruh produk kebutuhan sehari-hari itu merupakan keluaran Unilever. Perusahaan multinasional yang berpusat di Belanda ini memiliki anak perusahaan di Tanah Air yakni Unilever Indonesia dengan saham blue chip-nya, UNVR.

Didirikan pada 5 Desember 1933, Unilever Indonesia resmi melepas 15% sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1981.

Hingga saat ini, perusahaan yang memiliki ribuan distributor di seluruh Indonesia itu memiliki total 795.700 lembar saham di BEI. Dengan harga terakhir pada penutupan Jumat (4/10) menyentuh Rp45.425 per lembar saham.

Diketahui dividen tunai UNVR dibagikan terakhir kali pada 18 Juni 2019 sebesar Rp5,9 triliun sesuai laba tahun 2018.


7. TLKM – PT Telekomunikasi Indonesia Persero Tbk (Sektor Infrastuktur)

Selain JSMR, sektor infrastruktur juga memiliki saham blue chip lainnya yakni TLKM milik Telkom. Perusahaan informasi dan komunikasi sekaligus penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi ini mengklaim bahwa mereka adalah yang terbesar di Tanah Air.

Hingga sejauh ini ada lebih dari 15 juta pelanggan telepon tetap dan 104 juta pelanggan telepon seluler yang menjadi pasar utama Telkom.

Sebagai perusahaan milik negara berstatus BUMN, sekitar 52,09% saham Telkom dimiliki oleh pemerintah Indonesia dan sisanya adalah 47,91% milik publik.

Di pasar modal, volume TLKM adalah 34.082.000 lembar saham dengan harga per lembar terakhir pada penutupan Jumat (4/10) sore menyentuh Rp 4.190.

Sebagai perusahaan yang begitu solid, Telkom juga tercatat sebagai pemegang saham mayoritas terhadap 13 anak perusahaan termasuk Telkomsel.

Dengan neraca perdagangan yang begitu menggiurkan, saham TLKM memang begitu naik daun di pasar modal dan sangat menarik perhatian investor.

Apalagi dalam pembagian dividen tunai pada 27 Juni 2019 kemarin, TLKM membagikan lebih dari Rp16,2 triliun untuk seluruh pemilik saham. Total dividen tunai ini bahkan lebih besar daripada dividen tunai saham BBRI milik bank BRI.

Fakta bahwa sektor teknologi komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat, membuat saham TLKM sangatlah aktif dan likuid dibandingkan blue chip lainnya.


8. PTBA – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (Sektor Pertambangan)

Sebagai negara dengan kekayaan bumi yang begitu melimpah ruah, sektor pertambangan juga memiliki pengaruh besar pada perekonomian Indonesia.

Tak heran kalau perusahaan-perusahaan tambang selalu mampu mencatat laba menggiurkan sehingga saham-saham mereka laris manis di pasar modal. Salah satu yang berstatus blue chip adalah PTBA milik Bukit Asam.

BUMN yang berpusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan ini resmi berdiri pada 1950 dan memiliki 46 anak perusahaan.

Dengan fundamental yang sangat kuat, ada sekitar 11.964.400 lembar saham PTBA di BEI dengan harga penutupannya hari Jumat (4/10) kemarin menyentuh Rp2.200.

Meskipun batu bara yang menjadi industri utama Bukit Asam termasuk energi yang tak bisa diperbaharui, Bukit Asam sukses mencatat laba bersih sekitar lima triliun rupiah pada 2018 silam.

Tak heran kalau akhirnya dividen tunai saham PTBA yang dibagikan pada 29 Mei 2019 mencapai Rp3,7 triliun.


9. AALI – PT Astra Agro Lestari Tbk (Sektor Perkebunan)

Hingga saat ini, Indonesia adalah negara penghasil minyak kelapa sawit (CPO) terbesar di dunia dengan jumlah produksinya pada tahun 2015 saja menyentuh angka 31,1 ton.

Bisa disebut sebagai market leader, tak heran kalau perusahaan yang bergerak di produksi CPO ini mampu mencatatkan sahamnya menjadi blue chip seperti Astra Agro Lestari dengan saham AALI.

Memiliki sekitar 317.700 lembar saham di pasar modal, saham AALI mencatatkan harga Rp10.750 per lembar pada penutupan hari Jumat (4/10) kemarin.

Sebagai perusahaan yang neraca perdagangannya sangat solid, Astra Agro Lestari sudah memiliki puluhan anak perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit, karet dan komoditas lainnya. Untuk perkebunan kelapa sawit, anak perusahannya tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Pada 16 Mei 2019 kemarin, saham AALI resmi membagikan dividen tunai sesuai perhitungan laba tahun 2018 dengan nilai total lebih dari Rp646 miliar.

Meskipun saat ini produsen CPO tengah memperoleh kritikan tajam karena kasus kabut asap di berbagai provinsi, tetap saja saham AALI masih dianggap begitu likuid dan mampu menghasilan keuntungan besar untuk seluruh pemegang sahamnya.


10. INDF – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Sektor Manufaktur)

Kalau ada produk makanan yang begitu menggambarkan ciri khas masyarakat Indonesia, maka Indomie adalah jawabannya.

Ya, mie instan yang sangat dicintai warga Indonesia ini memang begitu ikonis dan seolah tak tergantikan. Sekalipun ada produk mie-mie instan baru, Indomie tetap mampu kokoh menjadi pilihan dan sampai meraih pengakuan global.

Melalui Indomie pula, PT Indofood Sukses Makmur mencatatkan diri sebagai salah satu perusahaan pemilik saham blue chip dalam waktu relatif singkat.

Resmi dibentuk pada 14 Agustus 1990 oleh Sudono Salim sang pendiri BCA, Indofood kini telah menjelma menjadi perusahaan total food solutions yang produknya bisa ditemukan di seluruh pelosok Indonesia.

Bahkan produk Indofood pun sudah diekspor hingga Australia, Asia dan Eropa yang pastinya akan membuat omzet perusahaan makin meningkat sehingga membuat investor jatuh hati.

Melalui saham INDF, Indofood pun melantai di pasar modal dengan total volume 3.454.800 lembar saham. Pada penutupan hari Jumat (4/10) kemarin, harga saham INDF tercatat sebesar Rp7.850 per lembar.

Dalam sesi pembagian dividen tunai terakhir pada 8 Juli 2019, saham INDF menggelontorkan Rp1,5 triliun dari laba bersih tahun 2018 kepada seluruh investornya.

Anda bisa memantau setiap saham blue chip tersebut di situs resmi IDX Indonesia.

Bagaimana? Sungguh luar biasa sekali bukan kemampuan finansial dan laporan keuangan singkat yang dimiliki saham-saham blue chip?

Tak heran kalau akhirnya perusahaan mereka mampu mendapat pengakuan publik dan menjadi pilihan utama para investor. Beruntung saat ini perkembangan investasi saham semakin inovatif, sehingga para calon investor yang masih pemula bisa lebih mudah dalam mengelola keuangannya di pasar modal.


Sumber :
https://www.folderbisnis.com/saham-blue-chip-terbaik

Monday, June 15, 2020

8 Orang Kaya Paling Pelit Sepanjang Sejarah

Saat hidup bergelimang harta, Anda tentu tak perlu khawatir saat mengeluarkan uang. Anda bisa membeli apapun yang Anda mau. Apalagi kalau harta itu sangat banyak dan tidak akan habis tujuh turunan.

Sejumlah orang terkaya dunia seperti Bill Gates atau Warren Buffet bahkan rutin menyumbangkan uang yang dimiliknya untuk kegiatan-kegiatan sosial.

Namun, ada juga orang kaya yang pelit. Mereka tak pernah membawa uang atau jika pergi ke restoran untuk makan, mereka ogah membayar.

Seperti dikutip dari laman Time, Kamis (19/11/2015), ini orang kaya paling pelit sepanjang sejarah.


1. Charlie Chaplin (1889 – 1977)

Komedian pantomin Charlie Chaplin termasuk orang paling kaya di masanya. Pada 1916, Chaplin meraup US$ 10.000 dolar per minggu atau US$ 219.000 per minggu jika dikonversi pada waktu sekarang.

Meski dia punya banyak uang di bank, penulis biografi Kenneth S Lynn menyebut, Chaplin selalu terlihat tak punya uang. Bahkan saat makan dengan teman, dia juga selalu meminta temannya yang bayar.

Aktor Marlon Brando menyebutnya tirani yang egois. Sementara Orson Welles mengatakan dia adalah orang terpelit yang pernah hidup.


2. J Paul Getty (1892 – 1976)

Miliarder pengusaha minyak ini selalu senang bepergian dengan pesawat kelas mewah, tapi enggan membayar tiket. Saat tinggal di hotel, Getty biasanya memilih kamar terkecil dan termurah.

Saat dia membeli rumah mewah di luar London, banyak pihak mengira Getty sudah agak berubah, tapi tak lama media setempat mengabarkan dia memasang telepon berbayar untuk para tamunya, dan mengunci semua saluran telepon lainnya.


3. Cary Grant (1904 – 1986)

Cary Grant adalah aktor yang cukkup terkenal di AS pada era 1930-an. Tak hanya jadi aktor yang dibayar mahal, tapi Grant juga menikah dengan wanita terkaya dunia kala itu, Barbara Hutton.

Meski kaya, dia terkenal kikir. Ia diduga menandai botol susu miliknya agar tidak diminum para pembantunya. Selain itu, Grant juga menagih uang cuci jika ada tamu yang menginap dan mencuci.

Bahkan Grant mematok tarif US$ 25 sen untuk setiao tandatangan yang ia beri pada penggemarnya. Dia mengklaim uang itu akan disumbangkan untuk amal.


4. Hetty Green (1834 – 1916)

Hetty Green dinilai jenius karena bisa meraup kekayaan lebih dari US$ 2 miliar pada kurs sekarang ini, dan dianggap sebagai wanita terkaya di Amerika Serikat kala itu. Dia juga dikenal sebagai Witch of Wall Street atau penyihir Wall Street, bursa saham AS.

Ketika dia perlu ke dokter, dia akan mengenakan pakaian kumuh ke sebuah klinik gratis, masuk dengan nama palsu untuk menghindari membayar.

Sebuah cerita beredar luas menyatakan bahwa anaknya kehilangan kaki karena Green tidak mau membayar biaya perawatan.

Dibanding tinggal di rumah mewahnya di New York, Boston, Chicago, dan St Louis, wanita ini lebih memilih tinggal di apartemen murah dan rumah kos. Ia juga dikenal suka tawar menawar harga dengan pelayan restoran sebelum memesan.


5. Leona Hemsley (1920 – 2007)

Ada ungkapan menyebutkan 'Kita tidak bayar pajak. Hanya rakyat kecil yang membayar pajak'. Itu sepertinya ungkapan yang cocok bagi mantan istri pemilik The New York hotel ini. Suatu waktu dia juga pernah dituntut oleh delapan kontraktor.

Helmsley dilaporkan meminta pembayaran kembali pada pemasok, melakukan penipuan terkait penjualan dan pajak penerimaan, dan membebankan semua biaya pribadinya ke hotel.

Dia sudah melewati batas dan berbuat jahat pada banyak orang, dan pada akhirnya dia kena batunya kemudian menghabiskan 18 bulan di penjara.


6. H.L. Hunt (1889–1974)

Miliarder pengusaha minyak HL Hunt sering dilaporkan intik menjadi model JR Ewing, patriarki licik di serial televisi di Dallas. Namun, Hunt dikenal karena sangat irit.

Dia membeli pakaian dari rak, mengambil cokelat untuk makan siang, memotong rambutnya sendiri, dan mengemudikan mobilnya sendiri.

Hunt juga dilaporkan memarkirkan kendaraannya beberapa nblok dari kantornya untuk menghidari biaya parkir US$ 50 sen dan menikmati reputasi sebagai orang yang membeli tip sedikit.


7. John F. Kennedy (1917 – 1963)

Presiden ke-35 AS ini yang terkenal tampan dan kaya raya ini juga dikenal sangat kikir. Kennedy, panggilannya tidak kekurangan uang tunai.

Ayahnya juga telah memberikan dana perwalian sebesar US$ 170 juta dengan kurs dolar sekarang, tapi dia jarang sekali membawa uang sepeser pun. Bahkan dia membiarkan temannya, Fagen rahasianya atau siapapun untuk membayar tagihan ke manapun ia pergi.

Sifat irit ini berlanjut hingga ia jadi Presiden AS. Saat ia dan istrinya Jacqueline Kennedy dilaporkan membenarkan pengeluarannya berbelanja pakaian masuk ke tagihan bahan pokok gedung putih.

Meski demikian, pria ini banyak kontradiksi. Kennedy juga menjadi salah satu di antara Presiden paling dermawan, karena menyumbangkan seluruh gajinya untuk sumbangan.


8. Aristotle Onassis (1906 - 1975)

Onassis tak hanya dikenal pelit memberikan uang tips, dia juga bahkan mencari cara untuk tidak memberikannya sama sekali. Contohnya, dia menolak untuk memakai jas pergi ke klab malam, bahkan di saat musim dingin.

"Karena Saya dikenal sebagai orang kaya, Saya harus mengeluarkan US$ 5 unntuk tip setiap kali melepaskan jas," katanya. "Lebih dari itu, Saya harus memakai jas yang sangat mahal, dan itu harus diasuransikan," imbuhnya.


Sumber :
https://www.liputan6.com/bisnis/read/2369761/8-orang-kaya-paling-pelit-sepanjang-sejarah

Related Posts