Sunday, May 31, 2020

Lebih Hemat Saat WFH Corona

5 Alasan Kamu Bisa Lebih Hemat Selama Masa WFH Pandemi Corona

Pandemi virus Corona membuat pekerja kantoran harus melakukan tugasnya dari rumah. Hal itu memang belum tentu mempermudah tapi bisa buat kamu paling tidak lebih menghemat biaya. Masa-masa karantina pun patut dijadikan momen untuk mengatur keuangan.

Berikut alasan yang buat gajian kamu bisa sisa lebih banyak selama WFH sebagai bahan acuan untuk mengatur keuangan dan motivasi agar semakin berhemat.

1. Hemat Uang Makan
Kamu mungkin berpikir jika WFH malah bikin boros karena tingginya biaya listrik atau banyaknya produk kesehatan yang perlu dibeli sebagai langkah pencegahan Corona. Namun satu hal yang bisa jadi mengurangi beban pengeluaran tersebut adalah hematnya uang makan. Selama tidak bekerja di kantor, kamu pasti lebih banyak makan masakan rumah. Apalagi jika kamu yang tak pernah absen beli makanan dan jajanan ketika di kantor.

2. Jarang Pesan Kopi
Belakangan kopi hampir sama pentingnya dengan komputer atau laptop ketika bekerja. Beberapa pekerja merasa sulit melakukan tugasnya tanpa segelas kopi di pagi hari yang biasanya dibeli di kafe. Saat Corona, tentu kamu tetap bisa beli kopi tapi mungkin tidak di coffee shop yang harganya mahal. Karenanya, keuangan bisa sedikit hemat.

3. Tidak Keluar Uang Transportasi
Harus berada di rumah seharian selama berminggu-minggu memang bisa membosankan. Tapi sisi positifnya kamu bisa menghemat uang tranportasi. Terlebih jika kamu biasa pulang-pergi dengan mobil pribadi dan harus melalui kawasan macet. Tentu uang tersebut bisa disimpan atau dialokasikan untuk sesuatu yang lebih berarti di tengah pandemi Corona ini.

4. Tidak Nge-gym
Tempat fitness juga ditutup selama pandemi Corona masih menghantui. Kamu pun bisa mengeksplor latihan-latihan fisik sendiri di rumah yang tak butuh banyak biaya.

5. Akhir Pekan di Rumah
Tak sedikit orang yang selalu menghabiskan akhir pekan di luar rumah untuk nonton bioskop atau makan di restoran. Hal tersebut pastinya jadi berkurang selama masa-masa karantina. Momen ini pun cocok dijadikan acuan untuk melihat seberapa banyak biaya hiburan yang biasa dihabiskan. JIka kamu sadar dua bulan ini bisa hemat banyak, tak ada salah untuk lebih mengurangi jalan-jalan di bulan-bulan ke depan.


Sumber :
https://wolipop.detik.com/money-hacks/d-4967302/5-alasan-kamu-bisa-lebih-hemat-selama-masa-wfh-pandemi-corona

Sunday, May 24, 2020

Latte Factor, Kebiasaan Belanja 'Receh'

Siasati Latte Factor, Kebiasaan Belanja 'Receh' yang Bikin Boros

Pernah dengar istilah latte factor? David Bach, penulis buku Finish Rich sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat mencetuskan istilah latte factor, yaitu kebiasaan kecil tetapi rutin menghabiskan penghasilan. Istilah latte itu sebenarnya bermaksud untuk mengkritik kebiasaan masyarakat kota besar utamanya milenial yang kerap menghabiskan waktu dan uang untuk menyeruput kopi di kafe atau restoran.

Istilah latte factor sendiri sebenarnya tidak hanya soal nongkrong di kafe atau minum kopi saja. Istilah ini relevan juga untuk pengeluaran kecil lainnya, seperti beli air mineral kemasan, persediaan camilan, belanja online, dan nonton bioskop.

Jadi, apakah Anda penasaran seberapa banyak uang yang Anda keluarkan untuk latte factor? Untuk itu, simak cara-caranya berikut ini.

1. Ketahui jenis pengeluaran 
Seperti dipaparkan sebelumnya, latte factor identik dengan pengeluaran kecil yang kerap Anda lakukan sehari-hari. Sebelum mengetahui seberapa besar pengeluaran Anda, Anda harus tahu terlebih dahulu jenis pengeluaran yang Anda beli.

"Setiap orang memiliki latte factor dan jenisnya bisa berbeda. Apa saja latte factor-mu? Anda harus mengetahuinya," kata Chief Agency Officer Sequis Franky Nayoan dalam siaran pers, Jumat (18/10/2019).

2. Hitung jumlahnya 
Setelah mengetahui apa saja pengeluaran Anda, kata Franky, selanjutnya Anda mesti menghitung berapa banyak yang Anda keluarkan. Memang biasanya Anda akan lupa dan tidak terpikirkan, mengingat pengeluaran ini hanya hitungan receh. Apalagi, kalau penghasilan cukup besar dan belum punya tanggungan. Tetapi, jika kebiasaan ini dibiarkan, tanpa disadari total pengeluaran bisa sangat besar.

"Mari kita menghitungnya dengan cara sederhana. Anggap saja kopi kekinian yang termurah harganya Rp 18.000. Karena ukuranya kecil rasanya perlu beli lagi untuk minum sore. Berarti, sudah Rp 36.000 keluar dari kocekmu," ucap Franky.

"Belum lagi barista kadang menawarkan extra shot hanya Rp 5.000 saja. Jumlah uang yang dikeluarkan sudah Rp 41.000," imbuhnya.

Rp 41.000 masih Anda anggap kecil, coba Anda tambahkan dengan beli makanan camilan lain di hari itu juga, misalnya camilan sore sebagai teman minum kopi. Kalau kemarin sudah beli donat Rp 10.000, sekarang menu pisang goreng kekinian harganya lebih murah Rp 8.000. Anda biasanya akan membeli lebih dari satu karena ukurannya yang kecil.

"Begitu saja uang yang sudah kita keluarkan Rp 57.000. Untuk membelinya, manfaatkan jasa ojek online, toh hanya Rp 7.000. Jadi total hari ini Rp 64.000," papar Franky. Angka ini mungkin masih kecil bagi milenial yang telah sukses berkarier. Bila ditambah dengan naik taksi atau transportasi lain dan makan sehari-hari, pengeluaran Anda bisa membengkak hingga ratusan ribu dalam sehari. Belum lagi jika Anda mengalikannya dalam sebulan.

"Apalagi angka ini tidak selalu sama setiap harinya. Ditambah lagi bagi yang memiliki cicilan KPR atau KPA, bisa jadi sepuluh juta habis begitu saja," kata Franky.

3. Manfaatkan 
Alih-alih membelanjakan uang untuk latte factor, Anda bisa menyisihkannya untuk berinvestasi, seperti saham, emas, dan sebagainya yang bisa Anda jangkau.  Melengkapi diri dengan asuransi juga termasuk investasi di masa depan. Jika pengeluaran latte factor dikurangi, tentu bisa bantu milenial mendapat hari esok yang lebih baik.

"Apalagi usia terbaik membeli asuransi adalah usia milenial. Karena biaya premi masih terjangkau dan memiliki kemampuan membayar di jangka panjang. Daripada uangmu habis sia-sia hanya untuk latte factor, lebih baik buat asuransi," sebut Franky.


Sumber :
https://money.kompas.com/read/2019/10/18/083800426/siasati-latte-factor-kebiasaan-belanja-receh-yang-bikin-boros?page=all#page2.

Thursday, March 19, 2020

Menabung Metode Kakebo ala Orang Jepang

Unik dan Efektif! Yuk, Menabung Pakai Metode Kakebo ala Orang Jepang

Menabung adalah salah satu cara terbaik dalam pengelolaan keuangan yang turut menjadi penentu kebahagiaan di masa depan. Namun, masih banyak orang merasa sulit membiasakan diri untuk menabung.

Masih banyak juga yang beranggapan menabung memiliki beban tersendiri dalam melaksanakannya.

Banyak orang tak bisa membiasakan diri menabung karena selalu saja ada pengeluaran yang harus dibayarkan setiap bulan, termasuk biaya-biaya yang tak terduga, beberapa kebutuhan juga harus dibeli di luar rencana.

Itu menyebabkan rencana menabung selalu gagal di tengah jalan. Padahal sesungguhnya jangan jadikan menabung sebuah beban, tapi jadikan kebiasaan baik yang manfaatnya akan dirasakan ke depannya.

Jika cermat mengontrol pengeluaran, menyisihkan uang di tabungan bukan hal yang sulit dilakukan. Pasalnya, kini terdapat beragam instrumen tabungan yang bisa dipilih.

Tak hanya disimpan di bank, menabung juga bisa dilakukan dengan menyicil uang pada beragam investasi seperti emas atau membeli surat utang negara.

Jika kurang cocok dengan instrumen di atas, kamu bisa menjadikan ajang menyisihkan uang terasa lebih ringan dan mudah dengan cara menabung mudah yang unik dan efektif seperti orang Jepang.

Yaitu, menggunakan metode Kakebo, sudah dipopulerkan sejak tahun 1904 dan masih bertahan hingga saat ini.


Metode kakebo cara menabung ala orang Jepang

Masyarakat Jepang menjalani kakebo dengan tujuan untuk mengontrol pengeluaran seminimal mungkin, dan mencatat setiap pengeluaran dengan cermat untuk kemudian dievaluasi setiap minggu. Lantas, bagaimana cara kerjanya?

Setiap awal bulan, mencatat pemasukan atau uang yang dialokasikan untuk satu bulan. Selain itu, harus juga mencatat semua pengeluaran yang sifatnya sudah pasti seperti kebutuhan harian.

Umumnya, seseorang akan mengeluarkan uang untuk keperluan dasar seperti makanan, kebutuhan transportasi, kesehatan, kebutuhan rumah tangga, rekreasi dan keperluan darurat.

Dengan mencatat secara detail setiap kategori di atas, kamu akan mendapati keuangan yang seimbang di akhir minggu karena sudah tahu berapa uang yang dihabiskan dan bisa disimpan.

Menulis pemasukan dan pengeluaran dengan rinci juga bisa membantu mengatur keuangan, sehingga penting untuk menghindari masalah darurat.

Gak cuma itu saja, langkah tersebut juga akan membuat kamu jtermotivasi untuk mencapai sesuatu yang sudah lama ingin dicapai.


Empat kategori cara menabung ala orang Jepang

Dalam praktik menabung kakebo biasanya orang Jepang membagi jenis pengeluaran dalam empat kategori.

Kategori pertama adalah survival yang terdiri dari biaya sekolah, makan, transportasi, kesehatan, dan kebutuhan pokok lain.

Kategori kedua, menuliskan kebutuhan opsional seperti belanja dan makan di luar. Untuk kategori ketiga ialah hiburan seperti internet, buku, langganan majalah, tamasya dan sebagainya.

Sementara kategori keempat adalah pengeluaran ekstra yang merupakan pengeluaran tak terduga.


Evaluasi akhir minggu cara menabung ala orang Jepang

Setelah menetapkan kategori pengeluaran, baru kamu mulai mencatat berapa uang yang tersedia, dan berapa yang akan disisihkan untuk tabungan.

Semua itu harus ditulis di awal bulan agar mudah dalam pencatatan dan mengoreksinya.

Setelah memiliki catatan di awal bulan tentang rencana pengeluaran, baru kamu bisa menulis detail semua pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan di setiap hari.

Di akhir setiap minggu, kamu bisa melakukan evaluasi sejauh mana uang yang sudah dikeluarkan benar-benar dipakai sesuai peruntukan yang direncanakan.

Catatan yang rapi dari waktu ke waktu memungkinkanmu bisa memiliki gambaran pengeluaran harian, mingguan, dan bulanan.

Gambaran ini yang bisa dipakai untuk memutuskan seberapa besar uang yang bisa ditabung dan dipakai untuk pemenuhan kebutuhan lain yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Nah, untuk mendukung pengelolaan keuangan dengan metode kakebo ini kamu juga harus selalu menyimpan struk belanjaan karena akan membantu jika suatu hari lupa.

Meski terdengar kuno, cara ini bisa kamu jalani untuk menyisihkan uang di tabungan. Awalnya memang akan terasa sulit, tapi jika dilakukan dengan sabar dan konsisten dijamin tabungan yang bisa disimpan setiap bulan akan membuat senyummu mengembang.


Sumber :
https://lifepal.co.id/media/menabung-pakai-metode-kakebo-ala-orang-jepang

Monday, March 16, 2020

Tabungan Hari Tua

Apa Itu Tabungan Hari Tua? Ini Pengertiannya dan Cara Cerdas Mempersiapkannya

Tabungan hari tua pengertian dan cara siapkannya

Setelah sekian lama bekerja demi hasil yang terbaik, promosi yang dinanti akhirnya datang juga. Gaji pun otomatis naik menyesuaikan dengan jabatan. Nah, kalau begitu, saatnya optimalkan tabungan hari tua.

Tabungan hari tua? Bukannya ada Jaminan Hari Tua (JHT) dari BPJS Ketenagakerjaan ya? Memangnya JHT saja belum cukup buat memenuhi kebutuhan selama hari tua nanti.

Justru dengan adanya tabungan buat hari tua nanti, JHT makin optimal. Terus kekhawatiran pada masa tua nanti jadi sirna karena kebutuhanmu selama pensiun telah tercukupi.

Ingat, inflasi itu terus ada dan selalu ada. Nilai uang yang kamu simpan saat ini mungkin gak berarti lagi akibat inflasi di masa pensiun nanti.

Itulah alasannya kamu harus mempersiapkan sebaik-baiknya dana buat hari tua. Dengan begitu, nilai uang yang kamu simpan terus menjamin kehidupan selama masa pensiun.

Apalagi dengan usia 25 – 30 tahun yang terbilang sangat produktif, mempersiapkan dana hari tua pada usia-usia tersebut sangat dianjurkan para financial advisor.

Agar lebih memahami pentingnya tabungan di hari tua nanti, simak terus ulasan berikut ini buat mengetahui informasi lengkapnya.


Ini pengertian tabungan hari tua yang perlu kamu pahami

Sebenarnya, apa itu tabungan hari tua? Kalau didefinisikan berdasarkan tujuannya, tabungan hari tua adalah tabungan khusus yang dipersiapkan sebagai sumber pendapatan selama masa pensiun.

Karena penggunaannya dianjurkan pada hari tua kelak, tabungan ini dikembangkan selagi masih bekerja. Di Indonesia usia pensiun itu sesuai peraturan adalah 57 tahun.

Misalnya aja kamu sekarang berusia 30 tahun. Itu berarti waktumu buat mempersiapkan dana hari tua nanti tersisa 27 tahun lagi.

Boleh saja beranggapan 27 tahun itu waktu yang lama. Karena dianggap lama, cukup banyak orang yang kemudian menunda sisihkan uang buat tabungan di hari tua nanti.

Padahal, semakin cepat disiapkan, semakin tenang masa-masa pensiun mereka nantinya. Sayangnya, hasil survei membeberkan fakta mengejutkan mengenai kesiapan orang-orang Indonesia menghadapi hari tua.


Survei HSBC: 9 dari 10 responden Indonesia belum siap pensiun

Bank HSBC Indonesia pada 12 Februari 2019 yang lalu merilis hasil survei HSBC Future of Retirement. Hasilnya cukup mengejutkan sebab 9 dari 10 orang di Indonesia mengaku belum siap pensiun.

Alih-alih tetap bisa mandiri walaupun pensiun, rupanya ¾ responden yang masih produktif berharap anaknya membantu mereka saat masa pensiun nanti.

Lewat riset Future of Retirement, sekitar 68 persen dari total responden berharap masa pensiun mereka nyaman dan tenang. Sayangnya, cuma 30 persen responden yang menabung buat masa pensiun mereka.

Nah, Future of Retirement merupakan studi yang dilaksanakan HSBC global terhadap 17.405 orang di 16 negara.

Di Indonesia jumlah responden yang dilibatkan sebanyak 1.050 responden, yang terdiri dari mereka yang masih produktif dan pensiun.

Survei OJK: 6,3 persen responden pilih mempersiapkan hari tua sebagai tujuan keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga pernah melakukan survei pada tahun 2016. Hasilnya juga cukup mengejutkan, yaitu cuma 6,3 persen responden yang pilih mempersiapkan hari tua.

Di luar itu tujuan keuangan yang dipilih kebanyakan orang di Indonesia, yaitu:

memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan hidup: 69,0 persen.
membayar biaya pendidikan: 12,6 persen.
OJK pada tahun 2016 melakukan survei terhadap 100 orang di Indonesia. Dari survei tersebut, sebanyak 97 orang memiliki tujuan keuangan dalam hidupnya.


Apa saja kelebihan tabungan hari tua? Adakah kekurangannya?

Namanya tabungan pasti memiliki banyak kelebihan. Khusus tabungan buat hari tua nanti, inilah kelebihan yang perlu kamu ketahui.

Kelebihan tabungan hari tua:
Menjamin pemenuhan kebutuhan selama hari tua.
Menghindarkan diri dari ketidakjelasan di masa depan setelah pensiun.
Memberi keamanan finansial dan kenyamanan dalam menjalani hari tua.
Sulit menemukan kekurangan dari tabungan buat hari tua. Pasalnya, tabungan ini sangat diperlukan dan sebaiknya dimulai sewaktu usia produktif.

Kalau pun ada kekurangan, berikut ini kekurangannya dengan mengambil contoh JHT dari BPJS Ketenagakerjaan.

Kekurangan tabungan hari tua:
Ada potongan 2 persen dari gaji yang diterima tiap bulannya.
Penggunaannya dianjurkan ketika pensiun nanti.
Pencairan JHT cuma bisa dilakukan saat gak bekerja lagi (karena resign atau PHK).
Gimana cara mempersiapkan tabungan hari tua?
Seorang pria tua mempersiapkan tabungan buat hari tua

Kamu bisa mempersiapkan tabungan buat hari tua lewat beberapa cara. Berikut ini cara-cara yang bisa kamu pilih.


1. Menabung di Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)

Instrumen keuangan yang satu ini bisa menjadi pilihan dalam mempersiapkan dana di hari tua. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) sendiri telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992.

Apa itu DPLK? Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) adalah dana yang dibentuk bank atau perusahaan asuransi jiwa sebagai program pensiun buat karyawan atau pekerja mandiri.

Di Indonesia cukup banyak bank dan perusahaan asuransi yang menyediakan DPLK, yaitu:

DPLK BRI sebagai pilihan tabungan hari tua BRI,
DPLK BCA,
DPLK BNI sebagai pilihan tabungan hari tua BNI,
DPLK Muamalat,
DPLK Bank Jateng,
DPLK Allianz,
DPLK AIA,
DPLK Manulife,
DPLK Indolife, hingga
DPLK Axa Mandiri.


Berapa minimal setoran agar punya tabungan dalam bentuk DPLK?

Setoran awal umumnya: Rp 250.000
Setoran rutin tiap bulan: Rp 100.000
Satu hal yang harus kamu ketahui dari DPLK ini adalah adanya pajak yang dikenakan, dan wajib dibayar.


2. Menabung dalam bentuk reksa dana

Pilihan tabungan buat hari tua selanjutnya adalah reksa dana. Instrumen investasi yang satu ini dapat memberi keuntungan melebihi keuntungan bunga deposito (rata-rata 5 persen per tahun) lho.

Reksa dana yang selama ini ditawarkan di Indonesia terdiri dari beberapa jenis:

Reksa dana pasar uang: komposisinya 100 persen berupa deposito, obligasi negara (kurang dari 1 tahun), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan sukuk.
Reksa dana pendapatan tetap: komposisinya > 80 persen berupa obligasi negara dan sisanya berupa pasar uang (deposito atau SBI).
Reksa dana saham: komposisinya > 80 persen berupa saham dan sisanya berupa pasar uang.
Dengan pilihan reksa dana di atas, manakah yang cocok sebagai pilihan tabungan buat hari tua?

Pemilihannya bergantung dari profil risiko, tapi sangat disarankan buat memilih ketiganya dengan komposisi penempatan dana yang berbeda-beda sebagai bentuk diversifikasi.

Profil risiko adalah level seorang investor dalam mentoleransi risiko yang bisa aja timbul selama berinvestasi. Sebagai gambaran, inilah profil risiko investor:

Konservatif: lebih memilih risiko rendah meskipun tingkat pengembalian (return) setara dengan deposito.
Moderat: lebih memilih risiko sedang dan return di atas bunga deposito.
Agresif: lebih memilih return tertinggi meskipun berisiko tinggi.
Dari profil risiko di atas, kamu bisa menentukan komposisi reksa dana yang bakal dipilih. Berikut ini ilustrasinya.

Konservatif: tempatkan dana di reksa dana pasar uang sekitar 70 persen (lebih), sedangkan sisanya pendapatan tetap (komposisinya di atas saham) dan saham.
Moderat: tempatkan dana di reksa dana pendapatan tetap sekitar 70 persen (lebih), sedangkan sisanya saham (komposisinya di atas pasar uang) dan pasar uang.
Agresif: tempatkan dana di reksa dana saham sekitar 50 persen (lebih), sedangkan sisanya pendapatan tetap (komposisinya di atas pasar uang) dan pasar uang.
Khusus tabungan hari tua, berapa besar yang harus dialokasikan?
kalkulator menyiapkan tabungan buat hari tua

Pertama-tama, kamu harus alokasikan pengeluaran buat pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu. Kalau kamu masih single, tinggal sendiri, dan tiap bulannya terima gaji Rp 15 juta, alokasikan Rp 6 juta sebagai biaya memenuhi kebutuhan.

Setelah dikurangi biaya kebutuhan, gajimu masih tersisa Rp 9 juta. Nah, nominal yang cukup besar nih. Mumpung sisanya banyak, alokasikan dalam jumlah besar sebagai dana darurat (kalau belum ada), asuransi, investasi, dan tabungan buat hari tua.

Sebelum dialokasikan, kurangi Rp 1 juta buat memenuhi keinginanmu (pengeluaran gaya hidup). Itu berarti penghasilanmu tersisa Rp 8 juta.

Dari sisa penghasilan Rp 8 juta, alokasikan jaringan pengaman finansial tiap bulannya:

Asuransi jiwa (dengan UP Rp 1 miliar): Rp 300.000 (bagus kalau kurang).
Tabungan hari tua: Rp 1.000.000 (boleh naik sesuaikan inflasi asal gaji naik tiap tahun).
Investasi: Rp 2.000.000 (boleh naik sesuaikan inflasi asal gaji naik tiap tahun)
Dana darurat: Rp 4.700.000 (pastikan instrumen penempatannya likuid).
Jangan lupa buat mengambil asuransi jiwa. Sekalipun kamu belum berkeluarga, uang pertanggungan asuransi nantinya bermanfaat dan membantu kedua orang tuamu ataupun saudara-saudarimu.


Sumber :
https://lifepal.co.id/media/tabungan-hari-tua-pengertian-dan-cara-siapkannya/

Wednesday, February 26, 2020

Gaya Hidup Milenial Bikin Susah Menabung

Jebakan Gaya Hidup Ini Bikin Milenial Kehilangan Tabungan Usia Produktif

Saat ini, banyak anak muda masih minim pengalaman, tetapi dibayar mahal oleh perusahaan karena keahliannya. Namun, banyak juga yang kehilangan tabungan di usia produktif.

Padahal, gaji besar akan memberikan keleluasaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, kebutuhan gaya hidup, hingga menyiapkan kebutuhan masa depan lebih mapan dengan tabungan yang banyak.

Akan tetapi, dengan mendapatkan penghasilan dan keleluasaan finansial juga memberikan ancaman yakni lupa diri untuk mengontrol keuangan secara bijak.

Bahkan, jika tidak hati-hati dan bijak mengelola keuangan meski berpenghasilan besar, maka akan menimbulkan masalah. Seperti merasa kekurangan penghasilan, dan memiliki utang, dan masalah finansial lainnya.

Memiliki gaji besar, tetapi rekening tabungan kecil, investasi gak punya, asuransi juga gak punya, inilah menjadi titik paling penuh tantangan bagi milenial.

Padahal, dengan gaji double digit seharusnya memiliki kemampuan cukup untuk menyiapkan masa depan, dan menyimpan aset dengan baik.

Generasi millenial lahir di zaman dengan akses yang mudah ke lembaga keuangan. Milenial adalah generasi pertama yang tumbuh dengan komputer dan internet, akan lebih mudah bagi milenial memelajari sektor keuangan dengan cepat dan menerapkannya dalam kehidupan.

Untuk  berinvestasi, milenial cukup mengakses segala hal yang dibutuhkannya melalui internet di gadget mereka.

Buat yang memiliki gaji besar tapi gak punya tabungan, investasi, dan asuransi sebaiknya menghindari jebakan gaya hidup yang menyebabkan menjadi lebih boros dan membahayakan finansial.


1. Hobi Nongkrong

Memiliki hobi nongkrong untuk menghabiskan waktu sepulang kerja atau saat akhir pekan semakin populer, terlebih dengan adanya era sosial media banyak orang terus mencari perhatian untuk di-posting dalam media sosialnya.

Biasa disebut dengan hangout atau nongkrong di tempat-tempat hits dan kekinian seperti coffee shop, kafe, hingga mal membuat seseorang gak sadar bahwa pengeluaran untuk kebutuhan tersebut tidaklah kecil apalagi dengan intensitas yang tinggi.

Kebutuhan hangout untuk bertemu teman-teman, berkumpul bersama kerabat, mengisi waktu saat akhir pekan memang sudah menjadi salah satu kebutuhan penting sebagai makhluk sosial.

Namun, demikian sebaiknya perlu melakukan kontrol dan membuat batasan anggaran agar tidak berlebihan.

Jika dengan ilustrasi sekali hangout bisa menghabiskan dana Rp 250 ribu, dan dilakukan rutin setiap akhir pekan, maka dalam satu bulan akan memakan biaya Rp 1 juta, dan selama satu tahun akan mencapai Rp 12 juta per tahun.

Bukan jumlah yang sedikit jika dana tersebut disiapkan untuk masa depan, mulai dari investasi, menabung, dan memproteksi diri dengan asuransi.

Bahkan, jika melebihi bujet Rp 250 ribu sekali hangout, maka akan ada dana yang lebih besar lagi terbuang percuma hanya untuk sekadar ngopi-ngopi, dan nongkrong di kafe saja.

Untuk menghindari hal ini sebaiknya buat batasan atau bujet anggaran untuk hangout per pekan hanya Rp 100 ribu saja.


2. Gadget

Generasi milenial saat ini sangat dekat dengan gadget. Pasalnya, generasi yang berusia 20 sampai 35 tahun ini memiliki akses informasi luas dan hobi berselancar di internet.

Dengan habit atau kebiasaan tersebut, memiliki gadget yang paling canggih dan keluaran terbaru, serta brand ternama jadi hal yang diinginkan banyak generasi muda. Bahkan, ada juga yang rela berutang atau pinjaman demi membeli gadget terbaru.

Jika tak ingin terjebak dalam hal ini, yang harus diutamakan sebelum memiliki gadget adalah sesuaikan kebutuhan dan fungsi atau manfaat gadget itu dengan pekerjaan. Bukan hanya mengutamakan gengsi ataupun demi gaya-gayan semata.


3. Belanja Online

Fenomena belanja online saat ini semakin populer, harga yang murah, banyak promosinya, hingga gratis ongkos kirim jadi daya tarik bagi banyak orang untuk berbelanja online.

Bahkan, banyak orang yang gak sadar kalau belanja online bisa membuatnya tidak memiliki tabungan atau dana lebih yang bisa diinvestasikan.

Namun, bila memang kebiasaan belanja online bisa mengganggu keuangan setiap bulan, maka  diperlukan tindakan atau menghapus aplikasi marketplace.

Ini bisa dilakukan agar aktivitas  melihat-lihat toko online hingga promo-promo yang digencarkan marketplace dapat berkurang intensitasnya.

Selain itu, banyaknya metode pembayaran yang disediakan situs belanja online, seperti digital payment, internet banking, e-money, dan e-wallet membuat banyak orang gak

sadar memakai uangnya untuk beli pakaian atau barang yang hanya mengutamakan  keinginan dan bersifat konsumtif.

Jika diasumsikan setiap bulan menghabiskan dana untuk belanja online Rp 1 juta, maka dalam setahun sudah mencapai Rp 12 juta, dengan dana Rp 1 juta per bulan padahal bisa digunakan untuk beli logam mulia setiap bulan satu gram, atau membeli saham, dan produk asuransi.

Dampaknya malah lebih baik, memiliki investasi buat masa depan, dan memproteksi diri dengan asuransi.


4. Liburan

Kebutuhan liburan ini memang penting buat me-refresh pikiran ataupun rehat sejenak dari segala aktivitas. Akan tetapi, dengan tingginya fenomena media sosial saat ini banyak generasi milenial yang saling adu gengsi untuk kebutuhan traveling.

Semakin jauh destinasi yang dituju, dan semakin keren foto destinasi yang didatangi, maka milenial akan semakin bangga akan prestasi liburannya.

Padahal, dengan mengutamakan adu gengsi di media sosial dalam hal liburan bisa membuat jebol kantong setiap bulan atau setiap tahunnya.

Meski liburan merupakan kebutuhan, cara bijak dalam mengontrolnya ialah membuat perencanaan yang baik untuk menyiapkan biaya traveling. Ini bisa juga dilakukan dengan membuat rekening tabungan terpisah untuk biaya liburan.

Jika dalam satu kali liburan membutuhkan biaya kurang lebih Rp 2 juta setiap tiga bulan sekali, dalam satu tahun bisa menghabiskan dana Rp 8 juta.

Kondisi sosial ekonomi juga turut menyebabkan gaya hidup anak muda di Jakarta konsumtif. Namun tak  berarti sama dengan mereka yang sosial ekonominya berlebihan. Sekarang dengan kemudahan yang diberikan dengan cicilan, yang gak punya uang pun bisa gaya.

Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah informasi yang didapat dengan cepat melalui media online, akibat adanya teknologi yang semakin maju.

Orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi, dan dengan  mudah melalukan transaksi dengan cepat dan supermudah.

Dorongan menjadi konsumtif terjadi karena dua hal, internal dan eksternal. Dari internal, kehidupan dan cara hidup yang mereka lihat di dalam keluarga.

Sementara itu, faktor  eksternalnya pergaulan dan kemajuan teknologi yang dengan mudah dapat diakses dan adu gengsi di media sosial.


Sumber :
https://lifepal.co.id/media/jebakan-gaya-hidup-ini-bikin-milenial-kehilangan-tabungan-usia-produktif/

Wednesday, February 12, 2020

Tips Keuangan buat Generasi Milenial

11 Des 2019, 06:00 WIB

Jakarta Generasi milenial memiliki posisi yang baik untuk menghasilkan kekayaan pada tahun-tahun mendatang. Meski para generasi muda harus benar-benar mulai mempersiapkan diri sejak dari sekarang.

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan, generasi milenium akan melihat kekayaannya tumbuh lima kali lipat pada tahun-tahun mendatang. Kemudian mewarisi USD 68 triliun kekayaan pada dekade berikutnya.

Namun untuk menggapai itu generasi milenial harus tetap memiliki usaha. Berikut pandangan yang lebih dalam tentang hal yang bisa dilakukan para milenial untuk mengatur panggung bagi masa depan keuangan menjadi lebih baik dibandingkan para orang tua dan kakek-nenek mereka.


Simak 6 tips keuangan untuk generasi milenial seperti mengutip thestreet.com:

1. Periksa Status atau Skor Kredit
Generasi milenial akan membutuhkan skor kredit yang baik untuk melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menumbuhkan kekayaan. Seperti membeli rumah, mendapatkan kartu kredit dan pinjaman yang bagus, serta mendapatkan pekerjaan yang baik.

2. Ketahui Rasio Utang Terhadap Penghasilan
Mengetahui berapa banyak uang yang masuk dan berapa banyak yang keluar adalah hal terpenting untuk kesehatan keuangan pribadi Anda. Sederhananya, siapkan uang untuk membayar pengeluaran.

Setelah Anda tahu mengalkulasikan utang versus pendapatan, kemudian dapat mengambil langkah selanjutnya. Gunakan aplikasi seluler yang bagus untuk melacak utang agar lebih mudah dan efisien mengelola rasio utang terhadap pendapatan secara teratur.

3. Bangun Anggaran Rumah Tangga
Setiap bisnis yang sukses pasti memiliki anggaran dan setiap rumah tangga juga pasti membutuhkan anggaran. Anggaran adalah buku besar pemeriksaan dan saldo keuangan.

Seperti seberapa banyak uang yang diperuntukkan bagi kebutuhan rumah seperti tagihan, belanjaan, kuliah, perjalanan dan hiburan hingga biaya kesehatan.

Untuk membangun pengelolaan anggaran yang sehat, perkirakan pendapatan dan pengeluaran rutin Anda. Idealnya setiap bulan, karena saat itulah sebagian besar tagihan dibayarkan.

Beri perhatian khusus terhadap pengeluaran rumah tangga Anda. Cari cara terbaik untuk mengendalikan pengeluaran-pengeluaran itu.

4. Bangun Dana Darurat
Ya, saat ini Anda masih muda dan sehat. Namun tetap perlu mempersipakan diri bila suatu saat kehilangan pekerjaan, sakit atau cedera, perbaikan kendaraan atau rumah atau menghadapi bisnis kecil yang gagal. Hal-hal tersebut dapat menempatkan Anda dalam bahaya keuangan di masa yang datang (bila itu terjadi).

Di situlah dana darurat dapat membantu. Memiliki gaji dan penghasilan setara dengan tiga bulan (enam bulan akan lebih baik dari nilai ideal setahun) akan membantu Anda bertahan dalam kesulitan keuangan jangka pendek.

Mulailah membangun dana darurat dengan memotong (setidaknya) 10 persen dari pendapatan bulanan Anda dan mengalihkannya ke rekening tabungan.

5. Berinvestasi untuk Jangka Panjang
Penelitian demi penelitian menunjukkan bahwa semakin cepat Anda mulai menabung semakin banyak uang yang akan terkumpul di masa pensiun.

Tidak ada alasan Anda tidak dapat meningkatkan investasi bulanan Anda seiring bertambahnya usia dan semakin sukses secara finansial dalam karier. Lakukan itu dan saksikan dana tabungan Anda tumbuh lebih besar.

6. Menyewa Penasihat Keuangan
Seorang penasihat keuangan yang baik dapat membantu Anda dengan semua yang tercantum di atas, dan juga memandu Anda melalui titik-titik keuangan potensial.

Titik dimaksud seperti menikah dan memiliki keluarga, menabung untuk kuliah, membeli asuransi kesehatan dan jiwa yang tepat, membeli rumah , dan mengurangi beban pajak Anda setiap 15 April, di antara masalah keuangan seumur hidup lainnya.

Dengan menggunakan kiat-kiat yang tercantum di atas, Anda akan menyiapkan panggung untuk kehidupan finansial yang terkelola dengan baik bagi diri sendiri dan orang yang Anda cintai sekarang hingga 50 tahun dari sekarang.


Sumber :
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4130881/tips-keuangan-buat-generasi-milenial

Tuesday, February 11, 2020

Cara Mengatur Gaji Bulanan Supaya Tabungan Selalu Penuh

Gimana ya cara mengatur gaji bulanan supaya selalu tersisa uang buat ditabung? Cukup banyak orang yang hingga saat ini masih sulit memiliki tabungan.

Selalu ada aja alasan kenapa sulit menyisihkan sebagian kecil dari penghasilan buat ditabung. Padahal, menabung itu faktanya menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kondisi keuangan stabil dan menghindarkan diri dari masalah keuangan.

Usut punya usut, kesulitan banyak orang buat menabung diakibatkan penghasilan bulanan yang telah habis sebelum waktu gajian tiba. Jangankan sebelum waktu gajian tiba, ada lho yang gak sampai dua minggu saldo rekeningnya telah menipis. Apa gak miris tuh?

Itulah kenapa perencanaan keuangan itu penting dan berperan dalam menghindarkan kita dari masalah keuangan, termasuk menghindarkan dari jeratan utang.  Nah, gimana cara mengatur gaji bulanan yang efektif tanpa perlu menggunakan hitung-hitungan yang rumit? Berikut ini cara-caranya.

1. Mulailah dengan menyusun bujet dengan rumus 50/30/20
Cara mengatur gaji bulanan yang tepat dimulai dengan menyusun bujet terlebih dahulu. Sekalipun udah mengetahui betapa pentingnya memiliki bujet, ada aja lho orang-orang yang gak memiliki bujet dengan alasan gak mau ribet dengan hitung-hitungan.

Sebenarnya, ada rumus menyusun bujet yang simpel dan mudah diaplikasikan, yaitu rumus 50/30/20. Apa itu rumus 50/30/20?

Rumus 50/30/20 adalah rumus pembagian penghasilan ke tiga bagian, yaitu 50 persen buat kebutuhan sehari-hari, 30 persen buat diri sendiri (termasuk kredit ataupun hiburan), dan 20 persen buat tabungan dan investasi.

2. Ada utang jangka pendek? Prioritaskan buat segera dilunasi
Dari rumus 50/30/20 di atas, kamu memiliki pos alokasi pengeluaran sebesar 30 persen dari penghasilan buat membayar kredit atau cicilan. Gunakan pos tersebut buat melunasi utang ataupun cicilan yang masih ada.

Tetapkan pembayaran cicilan atau utang sebagai prioritas dalam pengaturan keuangan. Memiliki utang itu pada dasarnya gak salah selama bisa dikelola dengan baik.

Menetapkan pembayaran utang sebagai prioritas menjadi langkah yang tepat dalam cara mengatur keuangan yang baik.

3. Batasi pengeluaran dan tahan diri buat gak menggunakan sisa penghasilan
Penerapan rumus 50/30/20 secara disiplin membuat kamu memiliki sisa penghasilan sebesar 20 persen tiap bulannya. Sisa penghasilan 20 persen ini seperti dikemukakan di atas berfungsi sebagai dana tabungan ataupun investasi.

Nah, tiap bulannya kamu punya dana tabungan, bukan? Gak cukup sampai di situ lho. Godaan belanja kadang bisa bikin kamu khilaf lalu memakai dana tabungan yang ada.

Di sinilah kamu harus bisa menahan diri dengan mengatakan, “‘Kalau gak menabung, nantinya bisa jatuh miskin.” Pokoknya, tanamkan dalam pikiranmu kata-kata menakutkan sehingga kamu enggan membelanjakan dana tabungan.

4. Lacaklah pengeluaran dengan memasukkannya ke daftar pengeluaran
Uang yang kamu habiskan sebagai pengeluaran sebaiknya dicatat dalam daftar pengeluaran agar nantinya bisa dilacak. Kamu bakal bingung dalam menentukan sampai di mana batas pengeluaranmu kalau gak punya daftar pengeluaran.

Perbarui selalu daftar pengeluaran tersebut tiap kali kamu belanja. Lebih baik lagi kalau kamu menyertakan pula bukti belanja.

5. Kalau pun harus kredit, hindari membayar cicilan lebih dari 30 persen tiap bulannya
Membayar dengan cara kredit gak melulu harus dihindari. Ada kalanya kamu mau gak mau membayar apa yang kamu belanjakan secara kredit. Namun, pastikan pembayaran kredit tiap bulannya gak melebihi batas.

Berdasarkan rumus 50/30/20, alokasi buat pembayaran kredit sebesar 30 persen dari gaji. Itu berarti batas kamu dalam membayar cicilan sebesar 30 persen dari gaji. Lebih dari itu bisa membahayakan kondisi keuangan.

Cara mengatur gaji bulanan yang telah dijelaskan di atas bisa aja gak berguna kalau gak dijalankan dengan disiplin. Kunci keberhasilan perencanaan keuangan adalah kedisiplinan. Dengan disiplin, tujuan-tujuan keuangan yang kamu buat bisa terwujud.


Sumber :
https://lifepal.co.id/media/deretan-cara-mengatur-gaji-bulanan-supaya-tabungan-selalu-penuh/

Related Posts