Thursday, September 19, 2019

Latte Effect

GAYA hidup merupakan sebuah kebutuhan sekunder manusia. Dapat berubah kapan saja sesuai tren. Kotler, ahli manajemen pemasaran mengungkapkan bahwa gaya hidup atau lifestyle menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam beraksi dan berinteraksi.

Hal inilah yang kemudian benar-benar dimanfaatkan pasar. Mereka seakan tahu mengenai kebiasaan yang tengah menjadi tren saat ini. Ya, melepas penat dengan diselingi obrolan ringan seusai jam bekerja selesai di sebuah coffee cafe menjadi pilihan yang sedang diminati saat ini. Kebiasaan untuk duduk dan menikmati waktu luang di cafe kopi dengan ditemani secangkir kopi terus berkembang dengan diiringi pula bertambahnya jumlah kafe kopi di manapun, termasuk di Yogyakarta.

Di Amerika, kebiasaan ini disebut dengan latte effect. Sebuah istilah tentang keborosan kelompok kelas menengah Amerika yang menghabiskan uangnya rata-rata sebesar US$ 3 setiap hari hanya untuk membeli secangkir kopi daripada menyisakan uang tersebut untuk ditabung (Indonesian Finance Today, 2016). Latte effect berbeda dengan kebutuhan konsumsi anda sehari-hari (makan pagi, siang, atau malam). Bagaimana dengan di Indonesia?

https://krjogja.com/web/news/read/23521/Latte_Effect


Dunia keuangan dan gaya hidup memunculkan istilah baru akhir-akhir ini, istilah yang muncul karena gaya hidup yang berimbas kepada keuangan si pelaku.

Latte effect adalah sebuah kondisi dimana seseorang melakukan pengeluaran (biasanya untuk ngopi) atau pengeluaran untuk cemilan yang dilakukan hampir setiap hari.

Latte effect populer belakangan, karena ada yang terjerat beban hutang atau tidak mampu menabung bukan karena tidak bisa, namun kartu kredit penuh dengan billing tagihan ngopi dan terakumulasi dalam jumlah yang cukup fantastic akhirnya.

https://datapolis.id/the-latte-effect/


Di Amerika Serikat, kebiasaan meminum kopi di kedai-kedai seperti Starbucks melahirkan sebuah istilah ekonomi “The Latte Effect” atau kadang-kadang disebut “Starbucks Effect”. Sebuah istilah tentang keborosan kelompok kelas menengah Amerika yang menghabiskan uangnya rata-rata sebesar US$ 3 setiap hari hanya untuk membeli secangkir kopi ketimbang menabung. Itu belum termasuk uang yang dikeluarkan untuk membeli makanan kecil teman meminum kopi.

Kebiasaan tersebut membuat khawatir sejumlah perencana keuangan di Amerika bahwa jika uang US$ 3 tersebut dapat diinvestasikan maka bisa memberikan jaminan masa pensiun. Dalam kalkulasi sederhana, tanpa membeli kopi selama sebulan bisa hemat US$ 90 dan setahun US$ 1.080. Bayangkan berapa angka yang bisa diungkit (leverage) dari dana sebesar itu, dengan imbal hasil 8% selama 10 tahun?

https://kauadalahkata.wordpress.com/2011/05/19/the-latte-effect-2/


Latte factor tak hanya berwujud kopi, ia bisa macam-macam, mulai dari biaya membeli air mineral kemasan, belanja cemilan, hingga biaya transfer antar bank. Setiap orang memiliki latte factor-nya masing-masing.

Survei internal yang dilakukan Bank Permata menunjukkan 9 dari 10 orang menggelontorkan lebih dari Rp900 ribu untuk latte factor setiap bulannya. Pengeluaran latte factor terbesar adalah pada kebutuhan sandang yang sekunder, seperti lipstik, sepatu dan baju—hanya untuk menambah koleksi, tas, syal, aksesori, dan lainnya. Angkanya mencapai 58 persen.

Pengeluaran terbesar kedua tercatat pada taksi atau transportasi online yang mencapai 15 persen. Ini adalah jenis pengeluaran yang bisa dihemat jika menggunakan kendaraan umum massa seperti kereta atau bus.

Lalu ada biaya membeli makanan dan minuman ringan yang mencapai 11 persen. Sementara untuk kopi setiap pagi menghabiskan 9 persen dari total pengeluaran latte factor masing-masing responden. Ada pula biaya untuk membeli air mineral, rokok, hingga biaya administrasi bank.

https://tirto.id/latte-factor-pengeluaran-kecil-yang-membuat-bokek-cilW


The Latte Factor: Why You Don't Have to Be Rich to Live Rich
You are richer than you think!
Learn my three secrets to financial freedom.
The Latte Factor, a fast, easy read reveals how anyone—from millennials to baby boomers—can still make their dreams come true.

https://www.thelattefactor.com/

Thursday, August 22, 2019

Perencanaan Keuangan Keluarga

Sejak awal menikah, suami dan istri yang usianya sudah mendekati 40 tahun harus segera melakukan perencanaan keuangan keluarga. Ada satu pos pengeluaran yang mesti dipersiapkan dengan matang segera setelah kelahiran buah hati, yakni dana pendidikan anak. "Pasutri sudah harus memikirkan sisa masa produktifnya dengan menghitung selisih waktu bekerja dengan masa pensiunnya," kata Mike Rini Sutikno, financial planner dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Business and Advisory.

Kalau saat menikah sang istri berusia 35 tahun dan suaminya 38 tahun, lalu setahun kemudian mereka memiliki keturunan, sisa waktu bekerja 15 sampai 20 tahun akan menjadi terasa sempit untuk mempersiapkan dana pendidikan anak. Untuk mengakali keadaan tersebut, pasutri sebaiknya memilih investasi yang dapat menghasilkan nilai tambah. Dana pendidikan jangka pendek bisa ditempatkan di reksa dana syariah.

Jatuh tempo reksa dana minimal lima tahun sejak mulai berinvestasi. Reksa dana cocok untuk tabungan investasi karena memiliki risiko negatif yang lebih minim. Proses pencairannya juga lebih mudah dan aman. "Ketika orang tua membutuhkan biaya pendidikan anak, tabungan investasi sudah bisa cair sesuai tempo perjanjian," tutur Mike.

Pos berikutnya yang harus disiapkan dengan cermat ialah dana pensiun. Saat sudah berkeluarga, alokasi bujet untuk pos ini menjadi lebih besar karena akan mencakup uang penjamin masa pensiun suami dan istri. Sesuaikan produk investasi agar dapat mendukung kondisi keuangan keluarga. Contohnya, dengan memilih investasi saham jangka panjang yang temponya antara 10 hingga 15 tahun. "Investasi dalam bentuk properti, seperti tanah atau bangunan, bisa menjadi pilihan bentuk investasi untuk dana pensiun," jelas Mike.

Dana pensiun teramat penting keberadaannya mengingat orang tua yang terlambat menikah memasuki akhir masa produktifnya saat usia anaknya masih remaja. Dengan memiliki dana pensiun, orang tua tak akan kebingungan membiayai keperluan pribadi dan dana pendidikan anaknya. "Pisahkan investasi dana pensiun dengan dana pendidikan anak," ucap Mike memberi saran.

Untuk menunjang kemapanan keuangan di masa depan, pasutri yang telat menikah mesti cepat mengubah pola hidup. Segeralah beradaptasi dengan kehidupan berkeluarga. Jika semasa lajang Anda sering jajan ke kafe atau belanja, ada baiknya porsinya dikurangi dan dananya dialokasikan untuk keperluan rumah tangga.

Disiplin keuangan pun perlu ditingkatkan. Orang tua harus segera mulai menyiapkan uang kas keluarga. Selain itu, dana darurat juga perlu dihitung besarannya.

Di lain sisi, menikah di usia tak lagi muda juga memiliki kelebihan kalau semasa melajang pasutri mampu merencanakan keuangan dengan disiplin tinggi. Andaikan, sebelum menikah mereka sudah memiliki tabungan dan investasi yang cukup, dananya bisa langsung dialokasikan untuk keuangan keluarga.

Masa lajang idealnya memang menjadi waktu untuk menabung lebih besar. Hal itu sangat mungkin mengingat orang belum memiliki keluarga yang mesti ditanggung kehidupannya. Dengan kondisi finansial yang mapan, begitu menikah ia tidak akan terlalu pusing mengenai keuangan rumah tangganya.


Sumber :
https://republika.co.id/berita/njjqx810/perencanaan-keuangan-keluarga

Tuesday, August 6, 2019

5 Perencanaan Keuangan untuk Karyawan

5 Cara Mengatur Keuangan Efektif untuk Karyawan, Gak Bakal Bokek Pas Tanggal Tua!

Ada beragam cara mengatur keuangan pribadi yang dinilai cukup efektif. Namun, gak semuanya mampu mengaplikasikan cara ini karena satu dan lain hal.

Setiap orang tentu punya pengeluaran berbeda-beda. Ada yang harus menafkahi keluarga, bayar cicilan utang, dan ada juga yang 100 persen terbebas dari utang sekaligus gak punya tanggungan.

Kata “mengatur keuangan” sering kita tafsirkan sebagai aktivitas yang menekan gaya hidup. Bisa jadi jawabannya memang benar, tapi bukan berarti sama sekali kamu gak boleh piknik atau membeli sesuatu yang kamu inginkan lho.

Pada kesempatan kali ini, MoneySmart bakal membocorkan deretan cara mengatur keuangan bulanan yang pas untuk karyawan kantoran atau yang baru menerima gaji pertama.


1. Sistem amplop

Strategi mengatur keuangan menggunakan amplop sebagai media pengaturannya kalau dibilang jadul, ada benarnya juga sih. Tapi, biar kata jadul, ini merupakan cara paling gampang di antara yang lain.
Yang pertama kali perlu kamu lakukan adalah, membuat budgeting rutin tiap bulan. Bikin kategori, seperti halnya pengeluaran makan, transportasi, dan belanja mingguan.

Kemudian, pisahkan uang pada masing-masing amplop dengan label pengeluaran yang udah dibuat. Metode ini bikin kamu “dipaksa” irit-irit uang yang sudah dialokasikan.


2. Sistem 50/20/30

Cara mengatur keuangan ini berasal dari salah satu Senator di DPR Amerika Serikat. Di adalah Elizabeth Warren.

Metode ini juga terbilang cukup ringkas dan sederhana. Kamu hanya perlu menyediakan tiga pos keuangan saja. So, gak perlu pusing-pusing.

50 diartikan sebagai 50 persen dari penghasilan bulananmu dialokasikan untuk kebutuhan pokok. Sebut saja seperti biaya makan, sewa kos-kosan, belanja bulanan, dan lainnya.

Sementara itu, 20 persen untuk tabungan dan investasi. Jangan pernah ganggu gugat 20 persen yang ini, kalau memang ingin banyak duit di masa depan.

Dan 30 persen sisanya digunakan untuk hiburan. Gimana menurutmu? Apakah cara ini cukup pas untuk kamu terapkan?

Tapi, ingat lho, porsi menabung dan investasimu tergolong kecil di metode ini. Aman sih, tapi kalau bisa lebih besar tentu lebih baik.


3. Sistem 60/20/20

Metode ini juga bisa menyelamatkan kantongmu dari wabah hilangnya uang di dompet dan rekening secara misterius. Tapi kenapa kok di depannya 60 ya?

Serupa tapi gak sama, metode atur uang dengan bujet 60/20/20 membagi pengeluaran menjadi 60 persen biaya sehari-hari, 20 persen tabungan atau investasi, dan 20 persen untuk hiburan. 

60 persen di metode ini memang ditujukan untuk kebutuhan yang sifatnya adalah pengeluaran wajib. Tentunya gak jauh beda dengan yang disebutkan di atas.

Sejatinya, metode 60/20/20 ini memang sangat pas untuk diterapkan bagi mereka yang sedang punya cicilan atau utang. Jelas saja, porsi jatah bujet lifestyle dan hiburan harus dipotong dan sisanya dialokasikan untuk pengeluaran yang sifatnya wajib.

Selain itu, metode mengatur keuangan ini juga pas banget diterapkan bagi mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak.

Berhubung banyak pengeluaran tak terduga, maka gak salah kok untuk mengurangi bujet lifestyle demi keuangan yang sehat.


4. Sistem 50/30/20

Metode satu ini memang jarang sekali disebut. Beberapa media menyebut metode ini sama dengan yang nomor dua, hanya saja angka 30-nya di balik ke belakang.

Namun, di artikel ini 30 yang di tengah artinya menggunakan 30 persen dari gajimu untuk investasi dan menabung. Soal urusan lifestyle mah belakangan aja deh.

Kalau dipikir-pikir, metode ini memang pas buat mereka yang masih lajang dan memiliki gaji kecil alias gak beda jauh sama UMR.

Ketimbang duitnya habis buat operasional sehari-hari atau nongkrong, maka prioritaskan 30 persen dari total penghasilan untuk menabung dan investasi. 20 persen investasi dan 10 persen dana darurat.

Tentu saja, cara mengatur keuangan yang satu ini hasilnya bisa terasa satu atau dua tahun ke depan. Biar gak penasaran, silakan dicoba saja.

Coba ingat apa kata orangtuamu dulu. Kebutuhan pokok itu ya sandang, pangan, dan papan. Sederhana kan? Ketika sandang dan pangan sudah terpenuhi, tapi papannya masih nyewa, maka kewajibanmu selanjutnya adalah nabung biar bisa beli papan.

Yang sering salah kaprah di sini adalah, gak sedikit orang yang merasa sandangnya masih belum cukup. Padahal pakaian sudah penuh satu lemari.

Yang selanjutnya adalah, banyak orang yang memang sudah keranjingan dengan hobinya. Meski gaji pas-pasan, nurutin hobi sampai bokek pun jadi.


5. Sistem zero bujeting

Cara mengatur keuangan dengan sistem zero bujeting memang terdengar cukup aneh. Intinya, ketika kamu menerima gaji bulananmu, kamu harus “menghabiskannya.” Lho, dihabiskan buat apa ya?

Pertama, jumlahkan pengeluaran rutinmu setiap bulan. Biaya makan, sewa kos, cicilan motor, bayar asuransi, transfer orangtua, dan lainnya, termasuk di antaranya adalah bujet nonton, traveling, dan biaya lifestyle lainnya.

Setelah semuanya ditotal, coba hitung selisih total pendapatan dan pengeluaranmu. Jika ada sisanya, segera “habiskan” saat itu juga.

Gimana cara menghabiskannya? Jawabannya adalah tabung di rekening terpisah untuk dana darurat, belikan saham, atau top-up reksadana.

Intinya adalah, uang yang kamu terima dalam sebulan harus habis untuk sektor yang produktif. Metode ini tentunya pas banget untuk diterapkan bagi mereka yang jumlah pendapatan perbulannya gak menentu, freelancer contohnya.


Sumber :
https://www.moneysmart.id/cara-mengatur-keuangan-untuk-karyawan/

7 Cara Mengatur Keuangan


7 Cara Mengatur Keuangan Agar Hidup Bebas Was-Was

Anda pasti tidak mau dikatakan besar pasak daripada tiang. Namun kenyataannya, mengapa akhir bulan terasa berat karena kantong makin tipis? Bisa jadi masalahnya bukan pada gaji Anda, tetapi apakah cara Anda mengatur keuangan sudah tepat?

Agar bulan depan Anda tidak keteteran dan bebas was-was, mari simak 7 tips mengatur keuangan yang meliputi: budgeting, menabung, membayar tagihan tepat waktu, bijak menggunakan kartu kredit, merencanakan belanja bulanan, membuat dua rekening tabungan dan memanfaatkan promo.

Demi keuangan yang lebih terkontrol, Anda bisa mengatur keuangan Anda dengan 4 langkah berikut:


Budgeting

Langkah pertama untuk mengatur keuangan adalah dengan budgeting atau membuat perencanaan anggaran yang matang untuk mengetahui apakah lalu lintas keuangan Anda selama ini sehat atau tidak. Anda bisa mencatatnya secara manual di buku, atau dengan bantuan aplikasi pengatur keuangan, atau menggunakan budget calculator seperti yang tertera pada mappingyourfuture.org berikut.

Pertama, pahami dulu berapa jumlah pendapatan Anda setiap bulannya. Setelah itu, catat pengeluaran rutin Anda seperti cicilan mobil, cicilan rumah, bayaran sekolah, listrik, air, transportasi, asuransi dan sebagainya. Jika sudah, tetapkan pula budget konsumsi dan hiburan per bulan.

Lihatlah berapa jumlah uang sisa per bulan. Kalikan selama 1 tahun. Apakah jumlahnya cukup memuaskan? Bila belum, atur kembali anggaran Anda. Apakah ada anggaran yang bisa dipotong dan diminimalkan jumlahnya? Pertimbangkan pula untuk mencari celah menambah pendapatan dengan usaha lain.


Jangan Lupa Menabung!

Berapa pun gaji Anda, sisihkan minimal 10% untuk ditabung. Bila sulit mencapai presentase tersebut, pertimbangkan untuk mengurangi budget hiburan seperti menghemat jatah jajan di mal, mengganti paket televisi berlangganan dengan harga yang lebih murah, mengurangi belanja baju atau alih-alih memesan makanan di luar, Anda bisa berhemat dengan memasak makanan sendiri di rumah. Lebih sehat dan ekonomis juga, ya.

Sebab, tabungan ini tak hanya berguna sebagai dana talangan untuk kebutuhan mendesak, lebih dari itu dapat digunakan sebagai tabungan jangka panjang seperti dana pensiun. Banyak jenis tabungan atau investasi yang ditawarkan seperti menabung dalam bentuk logam mulia, reksa dana, saham dan lainnya. Pilihlah yang paling sesuai dan nyaman untuk Anda.


Bayar Tagihan Tepat Waktu

Jangan berlama-lama menunda pembayaran tagihan Anda. Bayarlah sesaat setelah tagihan datang atau jangan sampai waktu jatuh tempo. Membayar tepat waktu tentu memberi keuntungan, diantaranya Anda terbebas dari biaya denda telat bayar.

Selain itu, hidup pun jadi lebih tenang karena bebas dari drama penagih hutang. Yang paling penting, Anda tidak masuk blacklist Bank Indonesia karena kredit macet. Dan bila di kemudian hari Anda mengajukan kredit lagi, prosesnya pun akan selalu mudah.


Bijak Menggunakan Kartu Kredit

Bila diperlukan, sah-sah saja menggunakan kartu kredit tapi Anda harus bijak menggunakannya. Anda bisa memanfaatkannya saat ada promo yang menguntungkan, namun jangan berlebihan. Ukurlah dengan kemampuan Anda membayar di bulan berikutnya. Bila terasa memberatkan, ada baiknya jangan berbelanja karena tergoda promo.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah saat tagihan kartu kredit Anda datang setiap bulan, ada baiknya Anda membayar lunas dan bukan jumlah minimal. Dengan begitu, Anda tidak perlu membayar bunganya. Hindari pula mengambil uang tunai menggunakan kartu kredit Anda, karena setiap kartu kredit menetapkan suku bunga yang tinggi sekitar 2.25% per bulan.

Belum lagi, Anda dibebankan biaya penarikan tunai sebesar minimal Rp40.000 sampai Rp50.000 atau 4% dari jumlah penarikan. Dan bila Anda tak segera melunasinya di bulan pertama, jumlah hutang Anda akan semakin bertambah dengan bunga yang dibebankan.


Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Mengatur keuangan rumah tangga memang cukup menantang. Seringkali Anda sudah menetapkan budget untuk kebutuhan rumah tangga di awal bulan. Namun sebulan belum berakhir, uang sudah menipis. Salahnya dimana ya? Rasanya hanya membeli sayur-sayuran dan bahan makanan lain, kok habis ya?

Rencanakan Belanja Bulanan Dan Catat Setiap Pengeluaran

Di awal bulan, Anda bisa mencatat keperluan apa saja yang harus Anda beli. Buat estimasi anggaran yang akan dikeluarkan. Setelah semua kebutuhan dibeli, hitung ulang total pengeluaran dan catat dalam buku atau aplikasi pengatur keuangan yang Anda gunakan.

Bila di tengah bulan Anda perlu membeli keperluan tambahan, jangan lupa untuk selalu mencatatnya. Cara sederhana ini bisa mengontrol pengeluaran dan mengerem keinginan untuk berbelanja berlebihan, terutama bila jumlah saldo semakin menipis. Selain itu, dengan mencatat setiap pengeluaran pun Anda tidak penasaran lagi kemana saja uang menguap selama ini.


Membuat 2 Rekening Tabungan

Penting pula untuk membedakan antara rekening belanja dan rekening tabungan. Karena bila dijadikan satu, seringkali tidak sengaja kita membelanjakan uang tabungan. Begitu akhir bulan tiba, Anda sudah tidak memiliki uang untuk ditabung.

Untuk itu, di awal bulan selalu transfer uang tabungan ke rekening tabungan dan jangan diganggu gugat lagi. Untuk keperluan sehari-hari, gunakan rekening belanja Anda. Kalau pun uang dalam rekening ini habis, Anda tidak was-was karena Anda sudah berhasil menabung di awal bulan.

Saat memilih bank, pertimbangkan bank yang memiliki aplikasi mobile dengan fitur yang lengkap dan sesuai dengan habit Anda. Saat ini sejumlah bank bahkan sudah memiliki aplikasi yang memungkinkan Anda mengalokasikan dana untuk kebutuhan bulanan.


Manfaatkan Promo

Siapa yang tak suka promo? Bila memang menguntungkan, Anda bisa memanfaatkan promo dan voucher potongan harga agar belanja bulanan Anda lebih hemat. Cek supermarket tempat Anda biasa berbelanja, kartu apa saja yang memberi potongan dan pelajari promo menarik apa saja yang ditawarkan.

Bila perlu, Anda bisa menggunakan uang elektronik yang memberikan penawaran cashback. Dengan bijak memanfaatkan promo, Anda bisa berhemat saat berbelanja. Namun, ini bukan berarti Anda bisa berbelanja lebih banyak, ya. Disiplinlah dengan membeli apa yang Anda butuhkan dan sudah direncanakan saja. Sisa uang belanjanya, bisa langsung Anda masukan ke rekening tabungan.


Sumber :
https://www.rumah.com/panduan-dan-referensi/tips-rumah-dan-apartemen/7-cara-mengatur-keuangan-agar-hidup-bebas-was-was-17080?utm_source=facebook&utm_medium=social&utm_content=panduan-tipsrumah&utm_campaign=ID-FB-PostEngagement&fbclid=IwAR2Rlq-UPI8eJTOPuJm9x1G-Xq7PcdmpFCIXrGnIvz8jTbI2r2soCMPZEBY

Monday, July 29, 2019

Solusi Membereskan Utang Menumpuk

Utang Membengkak Gara-gara Tagihan yang Menumpuk? Ini Solusi Membereskannya

Utang yang menumpuk bisa bikin siapa aja bangkrut dalam waktu singkat. Itulah kenapa perlunya solusi terlilit utang yang tepat buat mengatasinya. Utang sebenarnya bukanlah hal yang buruk. Asalkan tujuan dan penggunaannya sendiri jelas, utang menjadi hal yang membantu banget. Malahan tujuan-tujuan finansial bisa tercapai karenanya.

Salahnya adalah pertimbangan yang gak matang dan perhitungan keliru mengubah utang menjadi hal yang membawa petaka terhadap keuangan. Ujung-ujungnya tagihan gak terbayar kemudian menumpuk dan menjerat kamu.

Dalam kondisi yang gak mengenakkan tersebut, solusi saat terlilit utang diperlukan banget buat melepaskan diri dari tagihan yang menumpuk. Dikutip dari Lifehack, berikut ini adalah solusi-solusi yang bisa kamu jalankan.


1. Berhenti ciptakan utang baru jadi solusi terlilit utang yang wajib dilakukan pertama-tama
Masih ada aja orang yang melunasi utang dengan uang pinjaman alias ambil utang baru. Emang sih utang yang lama jadi lunas, tapi utang yang baru gimana? Apakah mesti pinjam uang lagi di lain tempat buat melunasinya?

Kata orang-orang ini sih sama aja gali lubang tutup lubang. Bisa dibilang hal tersebut sia-sia dilakukan. Sebab masalah gak selesai-selesai selama utang masih ada.

Makanya berhenti deh ciptakan utang baru. Fokus sama penyelesaian tagihan yang ada. Begitu pun dengan tagihan kartu kredit. Selama tagihan yang lama belum beres, jangan transaksi dulu dengan kartu kredit.


2. Punya banyak utang? Lunasi yang berbunga tinggi lebih dahulu
Pusing kepala jadinya kalau punya banyak utang. Sebab bingung mana dulu yang mesti dilunasi. Kalau kebetulan uang yang dimiliki lagi banyak, lunasinya sih gak bakal bikin bingung.

Terus gimana solusi terlilit utang yang tepat buat tagihan yang banyak dan menumpuk? Simpel kok solusinya. Kamu cuma perlu bikin daftar utang yang diurutkan dari bunga yang tertinggi ke bunga yang rendah.

Dengan kata lain, utang yang bunganya tinggi harus dilunasi lebih dulu. Baru kemudian membereskan utang yang bunganya kecil. Sebab membiarkan utang berbunga besar gak dibayar dalam waktu yang lama bisa bikin jumlah tagihan membengkak nantinya.


3. Ajukan restrukturisasi utang ataupun penjadwalan ulang
Cara ini bisa dipakai sebagai solusi terlilit utang. Apalagi cara ini dianjurkan Lembaga Bantuan Hukum atau LBH yang bermasalah dengan pinjaman online alias pinjol.

Restrukturisasi utang ataupun penjadwalan ulang merupakan salah satu hak yang boleh diambil debitur buat menyelesaikan permasalahan utang. Restrukturisasi utang sendiri merupakan pembaruan perjanjian utang piutang antara debitur dan kreditur karena kesulitan keuangan.

Cara restrukturisasi utang ini mudah kok. Kamu cukup buat surat permohonan restrukturisasi dan penjadwalan ulang ke tempat kamu mengajukan pinjaman. Jangan lupa menjadikan surat tersebut tembusan surat ke anggota Dewan Komisioner OJK.


4. Ubah susunan bujet pengeluaran
Solusi terlilit utang yang satu ini ada kaitannya dengan solusi yang pertama. Asal tahu aja nih, sukses atau gagalnya pelunasan utang tergantung dari bujet pengeluaran yang disusun.

Selama berutang, kamu harus rela menyetop sementara waktu beberapa alokasi pengeluaran. Kamu bisa mencari tahu mana pengeluaran yang perlu di setop dan mana yang gak dengan mengurutkan terlebih dahulu pengeluarannya dari yang prioritas.

Dari situ, kamu bisa ketahui pengeluaran mana yang sebaiknya di setop dahulu. Dengan begitu, pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya penting gak terganggu jadinya.


Sumber :
https://www.moneysmart.id/solusi-terlilit-utang-menumpuk/

Wednesday, July 24, 2019

Dana Darurat

Berapa Ideal Besaran Dana Darurat? Begini Cara Hitung dan Mempersiapkannya


Selain investasi, dana darurat juga merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki setiap orang agar hidup nyaman dan tenang. Banyak cara buat mempersiapkan dana darurat dan begini cara menghitungnya.

Pasalnya gak bisa dipungkiri kalau kerap kamu dihadapkan dengan keadaan yang mengharuskan mengeluarkan uang mendesak dan nominalnya juga cukup besar.

Kalau gak punya simpanan uang alias dana darurat yang ada bakal pusing sendiri mencari pinjaman ke mana-mana. Kalau mengajukan pinjaman ke bank tentu butuh waktu, mau gak mau pinjam ke orang terdekat, baik keluarga atau teman.

Namun kamu juga gak bisa mengandalkan orang-orang terdekat juga. Ya, mungkin mereka juga sedang banyak kebutuhan yang akhirnya tak bisa membantu. Ujung-ujungnya, cuma bisa pusing, stres dan gigit jari aja ya kan?

Emangnya kamu mengalami hal itu? Duh, jangan sampai deh. Karena itu, pentingnya memiliki dana darurat biar gak kelimpungan sendiri saat terjadi hal di luar dugaan.

Selain itu, namanya juga dana darurat, berarti dana tersebut harus bisa kamu gunakan kapan pun saat tengah butuh. Untuk itu simpanlah dana di tempat yang aman dan tentu aja dapat menariknya kapan aja.

Salah satunya adalah tabungan atau dalam bentuk investasi, misalnya saja emas batangan yang bisa dijual cepat dan harganya juga gak turun-turun banget.

Nah, kebutuhan dana darurat setiap orang itu berbeda. Terutama buat mereka yang masih sendiri dan sudah berkeluarga.


Berapa idealnya nominal dana darurat yang harus dimiliki?

Seberapa besar sih dana yang mesti kamu persiapkan buat hal ini? Seperti yang sudah dijelaskan di atas kalau dana darurat buat yang belum menikah dan sudah menikah itu berbeda.

Kalau masih sendiri alias belum berumah tangga, disarankan memiliki dana darurat sekitar 4 hingga 12 bulan dari jumlah pengeluaran. Sedangkan kalau udah menikah, memerlukan dana darurat sebesar 6 hingga 12 bulan dari pengeluaran.

Akan tetapi, sebaiknya juga bisa memotong pengeluaran yang gak penting. Jadi, uang yang dikeluarkan benar-benar dibutuhkan. Balik lagi, yang dibutuhkan bukan diinginkan.

Misalnya aja kurang kebiasaan jelek sering mentraktir orang, nongkrong di kafe kekinian setiap akhir pekan atau impulsif membeli barang cuma karena lucu.

Jadi intinya kamu harus sangat realistis dalam menentukan pengeluaran bulanan agar dana darurat yang dimiliki tepat.


Contoh kasus : Belum menikah

Andi merupakan seorang karyawan swasta yang belum menikah dengan gaji per bulan Rp 10 juta dan pengeluaran setiap bulannya sebesar Rp 6 juta.

Maka, dana darurat yang perlu Andi persiapkan adalah berkisar antara Rp 24 juta hingga Rp 72 juta. Minimal, Andi harus memiliki uang di tabungannya sebesar Rp 24 juta.


Contoh kasus : Sudah berkeluarga

Ridho sudah menikah dan memiliki satu orang anak yang masih kecil. Setiap bulannya, ia mendapatkan penghasilan sebesar Rp 15 juta dengan pengeluaran bulanan Rp 12 juta.

Dengan begitu, maka Ridho harus mempersiapkan dana minimal sebesar Rp 72 juta hingga Rp 144 juta, baik disimpan dalam tabungan atau investasi seperti logam mulia.


Wah, besar banget ya dana yang harus dipersiapkan. Ya, jangan melihat nominalnya tapi manfaatnya.

Daripada kamu pusing sendiri saat terjadi hal-hal yang gak diinginkan, alangkah baiknya kalau kamu sudah punya persiapan dong. Dengan begitu, kamu juga bisa menjalani hidup dengan tenang dan nyaman.

Sayangnya, gak bisa dipungkiri masih banyak orang gak pedulikan pentingnya dana darurat. Gak perlu khawatir, kamu bisa memulainya dengan pelan-pelan kok.

Misalnya, menyisihkan uang setiap hari sebesar Rp 20 ribu. Asal konsisten, dalam sebulan kamu bisa mendapatkan uang hingga Rp 600 ribu.

Niat kan tabungan kamu itu membuat dana darurat. Gak masalah kecil daripada gak punya sama sekali. Benar gak? Yuk, mulai siapkan dana darurat dari sekarang.


Sumber :
https://www.moneysmart.id/dana-darurat-begini-cara-mempersiapkannya/

Sunday, July 21, 2019

Kesalahan Investasi Emas

5 Kesalahan Investasi Emas yang Bisa Merugikan Diri Sendiri

Emas adalah salah satu jenis logam mulia yang telah lama dikenal sebagai simbol kekayaan dan salah satu jenis investasi untuk melindungi nilai kekayaan. Nilai emas cenderung meningkat dalam jangka panjang dan bisa memberikan tingkat pengembalian yang menguntungkan.

Meskipun investasi emas relatif lebih aman, Anda tetap harus memperhatikan beberapa kondisi agar jangan sampai melakukan kesalahan saat berinvestasi.


Tidak Memeriksa Kemurnian Emas

Saat membeli emas dalam bentuk perhiasan, Anda pasti akan mendapatkan emas dengan campuran logam yang lainnya. Hal ini sangat berbeda dengan investasi emas dalam bentuk batangan, dimana Anda bisa mendapatkan emas murni tanpa adanya campuran yang lain.

Kami menyarankan Anda untuk membeli emas murni dalam bentuk batangan jika memiliki tujuan berinvestasi.


Tidak Memiliki Tempat Penyimpanan yang Memadai

Emas adalah logam mulia yang mudah dibawa dan dipindahkan. Hal inilah yang membuat emas lebih beresiko hilang dan dicuri oleh orang lain.

Saat memutuskan untuk berinvestasi emas, maka penting untuk memiliki tempat penyimpanan khusus atau bisa menyewa tempat penyimpanan di bank atau pegadaian.


Tidak Membandingkan Harga Emas

Jangan terburu-buru saat akan membeli logam mulia. Sebelum melakukan pembelian emas batangan, tidak ada salahnya untuk membandingkan harga di beberapa tempat terpercaya agar bisa mendapatkan harga terbaik.

Jangan sampai Anda merugi karena ada penjual yang menaikkan harga emas terlalu tinggi. Hal ini sangat penting dilakukan khususnya Anda yang tidak memantau pergerakan harga emas.


Tujuan Investasi yang Salah

Jangan membeli emas untuk dijadikan perhiasan agar terlihat menarik saat datang ke pesta. Jika Anda memiliki tujuan untuk mendapatkan imbal hasil di masa depan, maka sebaiknya membeli emas dalam bentuk batangan.

Membeli emas batangan jauh lebih menguntungkan karena Anda tidak akan dibebankan dengan biaya pembuatan saat menjualnya kembali. Jangan lupa untuk menyimpan emas di atas 2 tahun agar bisa mendapatkan imbal hasil yang lebih baik.

Jika Anda membeli emas untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek, maka emas bukanlah pilihan yang tepat.


Tidak Memantau Harga Emas

Pergerakan harga emas memainkan peranan yang penting saat Anda akan menjual atau membeli emas. Oleh karena itu, Anda sebagai investor harus memastikan membeli emas saat harga rendah dan menjualnya saat harga telah meningkat.

Jangan sampai menjual emas saat harganya di bawah harga beli karena itu bisa membuat Anda merugi.


Sumber :
https://koinworks.com/blog/kesalahan-investasi-emas/

Related Posts