Thursday, September 20, 2018

Strategi Hemat Pengeluaran bagi Karyawan

5 Strategi Hemat Pengeluaran bagi Karyawan Cerdas

Ada banyak strategi hemat pengeluaran untuk Anda para karyawan cerdas. Dengan mengetahui strategi hemat pengeluaran, Anda dapat memastikan setiap rupiah dalam dompet Anda dapat dialokasikan untuk berbagai keperluan lainnya bahkan untuk persiapan hari tua.

Pernahkah Anda mendapati bahwa sisa uang di ATM atau di kantong Anda mulai menipis padahal tanggal gajian masih sekitar 2 minggu ke depan?

Pengalaman ini seringkali terjadi, terutama para karyawan yang menggantungkan pendapatan mereka setiap tanggal 25 atau di akhir bulan. Pengeluaran harian yang serba tak terkontrol, uang makan siang yang harus disiapkan ketika istirahat siang dengan rekan kerja, belum lagi kalau di daerah kantor makanan serba junk food.

Tentu ini tidak hanya memengaruhi kesehatan dompet, tetapi juga kesehatan jasmani kita bukan?

Sebetulnya, untuk mengehemat biaya pengeluaran harian tidak serumit yang dibanyangkan. Ingatkah Anda akan pepatah yang mengatakan, “Ketika ada niat, disitu ada jalan keluar.” Semua berawal dari niat yang dijalankan dengan penuh komitmen dan motivasi.

Apa motivasi Anda untuk menghemat pengeluaran?

Apakah uang hasil menghemat pengeluaran itu akan digunakan untuk:
Biaya membeli rumah baru?
Biaya pernikahan dengan pasangan?
Biaya liburan akhir tahun?
Biaya membeli kendaraan baru?
atau biaya untuk dana hari tua?

Itu semua bisa tercapai asalkan Anda benar-benar berkomitmen untuk menggapainya.

Pisahkan laporan keuangan pribadi dan keuangan bisnis Anda dengan Aplikasi Jurnal Keuangan Pribadi & Bisnis dari Finansialku yang dapat memudahkan Anda dalam pencatatannya.

Setelah Anda menetapkan tujuan Anda, ini dia serangkaian aksi dan strategi hemat pengeluaran yang bisa Anda praktikkan sebagai seorang karyawan. Anda pun bisa menggapai impian Anda untuk memiliki kebebasan keuangan dengan latar belakang pekerjaan sebagai karyawan.

Berikut ini strateginya!

#1 Bawa Bekal Dari Rumah

Sudah terbukti bahwa biaya untuk memasak di rumah dibandingkan dengan biaya jajan di luar rumah terpaut cukup besar. Bayangkan, Anda bisa menggunakan uang Rp50 ribu saja hanya untuk makan pagi hingga makan malam.

Ini bisa terjadi jika Anda mempersiapkan makanan sendiri di rumah. Mari perkirakan bahan apa saja yang bisa dibeli untuk makan satu hari dengan biaya Rp50 ribu:

Sarapan Pagi: Roti tawar & susu kental manis.
Makan Siang: Nasi, tahu, tempe, ikan goreng, sayuran hijau, air putih.
Makan Malam: Nasi, soup berisi sayuran hijau, air putih.

Untuk makan malam, Anda bisa menggantinya dengan makan buah seperti pisang atau apel bagi yang tidak makan karbohidrat terlalu tinggi. Makan tersebut di atas hanya sebagai contoh dan bisa Anda kombinasikan dan menari bahan makanan lainnya yang bergizi namun tetap memiliki harga yang terjangkau.

Bayangkan jika Anda bisa menghemat uang makan dalam satu hari sebesar Rp50 ribu. Pengeluaran Anda dalam satu bulan untuk makan hanya menembus angka Rp1.500.000 (Rp50.000 x 30 hari).

Bandingkan jika Anda harus jajan diluar. Katakan saja makan siang di kantin kantor Anda sebesar Rp25 ribu, ditambah dengan makan malam di restoran setidaknya Rp30 ribu. Ini sudah melebihi budget makan satu hari sebesar Rp50 ribu. Itu pun belum termasuk sarapan.

Selain lebih hemat, makanan yang Anda santap tentu akan jauh lebih higienis karena Anda sendiri yang menyiapkannya dari rumah. Namun, itu semua memang butuh pengorbanan untuk pergi berbelanja, bangun lebih pagi untuk masak dan juga menahan nafsu untuk jajan sembarangan.

Anda bisa melakukannya jika Anda tetap pada motivasi Anda untuk berhemat.


#2 Potluck Atau Botram Dengan Teman Satu Kantor

Strategi yang satu ini juga biasa dilakukan ketika ada syukuran di kantor. Anda bisa membagikan pemikiran Anda dengan teman-teman di kantor untuk bersama-sama menghemat pengeluaran seperti biaya makan siang di kantor dengan melakukan potluck atau botram.

Daftarkan siapa saja yang akan makan bersama pada jam makan siang esok hari, kemudian minta kesediaan mereka untuk membawa makanan yang telah disepakati bersama.

Misalnya, ada yang akan membawa nasi, perkedel, sambal goreng teri, kerupuk udang, tahu, tempe dan lain sebagainya sesuai dengan jumlah dan juga dibagi secara merata. Selain bisa menghemat biaya makan siang di kantor, Anda dan teman-teman bisa menjalin hubungan komunikasi lebih baik dan saling mengenal satu dengan yang lain.


#3 Stop Kebiasaan Buruk

Jika Anda memiliki kebiasaan buruk seperti merokok, minum alcohol atau jajan sembarangan, segera sadari bahwa itu tidak baik untuk kesehatan jangka panjang Anda. Jika Anda sebagai seorang perokok aktif, selain merusak tubuh, Anda pun sedang membuat orang lain di sekitar Anda menjadi perokok pasif.

Mungkin Anda tidak merasakan dampak buruknya sekarang, namun pada saatnya nanti Anda pasti akan menuai apa yang Anda tabur. Jajan sembarangan pun jangan disangka sebagai bagian dari kebiasaan yang dianggap sepele.

Dari jajan sembarangan, seorang anak bisa dilarikan ke rumah sakit karena keracunan akibat makanan yang tidak higienis yang ia konsumsi saat jajan di luar sekolah. Awalnya bertujuan untuk jajan dan mengisi perut, tapi malah berujung di rumah sakit dan menelan biaya berobat yang tidak sedikit.

Bukannya hidup hemat tapi kepala jadi penat. Ingat kembali komitmen Anda di atas, apa yang ingin Anda lakukan dengan menghemat biaya pengeluaran! Segera hentikan kebiasaan buruk yang merusak tubuh Anda!

Bayangkan jika satu bungkus rokok seharga Rp25 ribu untuk satu hari, jika Anda kumpulkan dan tabung selama 1 tahun, Anda akan bisa mengumpulkan sebesar Rp9.125.000 (Rp25.000 x 365 hari).

Sekitar Rp9 juta dapat Anda kumpulkan dalam satu tahun. Ini bukan uang yang kecil bukan? Anda bisa gunakan untuk dana investasi hari tua Anda. Tahukah Anda uang Rp100 ribu dalam kantong Anda dapat memulai sebuah investasi Reksa Dana?

Selain dapat mempersiapkan dana hari tua, Anda pun terbebas dari berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk seperti merokok, minum alcohol dan jajan sembarangan.


#4 Nongkrong Bareng Teman

Terkadang untuk terlihat kece, banyak orang nongkrong di café bersama teman-teman dan tak menyadari mereka harus mengeluarkan kocek setidaknya Rp50 ribu untuk makan snack, ngopi atau membeli sesuatu.

Tidak salah untuk sesekali hang out bersama teman di café. Tapi jika Anda selalu melakukannya dan Anda akan menyadari di akhir bulan bahwa dompet Anda mulai menipis.

Jika teman Anda memaksa untuk nongkrong di café, Anda bisa menghemat biaya jajan dengan membawa minum dari rumah sendiri dan membawa makanan ringan dari rumah. Tak perlu malu pada teman-teman Anda karena Anda sedang melakukan suatu yang benar untuk masa depan finansial Anda.


#5 Lihat Promo di Supermarket Atau Mall

Ada banyak promo atau iklan menarik seperti potongan harga 50 persen, buy 1 get 1 free atau pengumpulan poin tambahan untuk menghemat biaya belanja berikutnya. Manfaatkan strategi promo ini untuk barang-barang kebutuhan Anda.

Namun, jangan tergoda untuk barang-barang yang sebetulnya tidak Anda perlukan. Manfaatkan fasilitas kartu kredit dengan bijak dan hati-hati dengan cara hidup konsumtif dalam menggunakan kartu sakti tersebut.

Anda tetap bisa menikmati hidup dengan gaya hidup sederhana. Permasalahannya ada dalam pikiran kita sendiri, apakah kita ingin mengikuti keinginan (hawa nafsu) atau kebutuhan yang memang harus dipenuhi.

Tak selamanya hidup berhemat terlihat seperti orang melarat. Memiliki baju tak harus memilih brand yang mahal bukan, yang terpenting rapi, nyaman dipakai dan ramah di kantong.


Sumber :
https://www.finansialku.com/strategi-hemat-pengeluaran-bagi-karyawan-cerdas/amp/

Wednesday, August 29, 2018

Aturan Keuangan di Usia 30

4 Aturan Keuangan yang Harus Jadi Prioritas di Usia 30

Pengaturan keuangan mungkin masih berantakan saat usia 20 tahunan. Namun ketika sudah menginjak 30 tahun maka perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai pengaturan finansial pribadi.
Ingat, Anda sudah mendekati ujung masa produktif maka pastikan pengaturan keuangan telah berjalan dengan baik. Berikut empat aturan penting yang perlu diketahui ketika Anda sudah memasuki usia 30 tahun.


1. Buka Lebih dari 1 Tabungan Dana Pensiun

Dilansir dari CNBC Make It, para ahli menyarankan untuk membuka akun tabungan lebih dari satu khusus buat dana pensiun. Pertimbangkan membuat tabungan alternatif pensiun seperti untuk kesehatan atau lainnya.

Ingatlah kalau Anda harus siap secara finansial ketika pensiun di usia 67 tahun. Para perencana keuangan menyarankan untuk memiliki setidaknya tiga kali gaji Anda ketika berusia 40 tahun. Jangan lupa selalu mengevaluasi rekening pensiun apakah sekiranya sudah cukup memenuhi kebutuhan masa depan.


2. Investasi

Investasi menjadi salah satu cara paling efektif membangun kekayaan. Jika Anda belum pernah berinvestasi di usia 20 maka ketika menginjak umur 30 perlu mencobanya. Anda tidak perlu memasukkan banyak uang saat baru mulai.

Kini banyak aplikasi atau platform yang menyediakan sarana berinvestasi jangka panjang dengan jumlah nominal terjangkau. Beberapa jenis investasi juga mudah dimengerti serta diakses.


3. Rencanakan Pembelian

Anda akan menjadi boros jika tidak pernah merencanakan sesuatu yang akan dibeli. Rencanakan sejak sekarang apa saja yang dibutuhkan besok, sebulan, setahun, bahkan lima tahun lagi. Kemudian berhematlah.

Jika Anda di masa depan ingin membeli rumah atau melakukan traveling ke luar negeri, rencanakan bagaimana bisa menabung untuk hal tersebut. Hitung berapa uang yang perlu Anda hemat sehari-hari serta mulai menyisihkan penghasilan dalam jumlah tertentu setiap bulan.


4. Siapkan Dana Darurat

Hidup tak selalu berjalan seperti yang diinginkan. Anda bisa saja kehilangan pekerjaan, mendadak sakit, atau butuh uang untuk hal darurat. Oleh karena itu, penting memikirkan tabungan dana darurat ketika usia 30 tahun.

Sisihkan tabungan dana darurat secara rutin setidaknya tiga sampai enam bulan. Pertimbangan jenis tabungannya bisa dalam bentuk rekening atau deposito yang mudah dicairkan. Beberapa ahli juga menyarankan untuk mengambil saham atau obligasi.

Sementara perencana keuangan syariah, Dr. Murniati Mukhlisin, M. Acc, menyarankan untuk menyiapkan dana darurat dalam bentuk tabungan rekening. Untuk nominalnya, disarankan enam kali gaji pokok atau rata-rata penghasilan setiap bulan. Jumlah penyisihan setiap bulan tak perlu ditentukan bisa dilakukan berdasarkan kesanggupan.


Sumber :
https://www.cnbcindonesia.com/investment/20180511180405-21-14605/4-aturan-keuangan-yang-harus-jadi-prioritas-di-usia-30

Saturday, January 6, 2018

Menabung di Deposito

3 Pertimbangan Penting Sebelum Anda Menabung di Deposito

Deposito masih menjadi tempat favorit bagi masyarakat dalam menyimpan uang di bank. Anda mau menambah tabungan deposito? Baca pertimbangan ini dulu sebelum kamu menempatkan dana di deposito.  Lihat data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Total simpanan di bank umum per Agustus 2017, meningkat 0,37 persen, dari Rp 5.123,27 triliun di bulan Juli 2017 menjadi Rp 5.142,25 triliun di Agustus 2017.

Melihat dari jenis simpanan, yang jumlah rekeningnya memiliki kenaikan tertinggi adalah tabungan. Kenaikannya mencapai 0,02 persen dari 215.540.448 rekening di Juli 2017, menjadi 220.096.828 rekening di Agustus 2017.

Sedangkan dari sisi kenaikan nominal simpanan,  tertinggi adalah deposito, yaitu sebesar 1,87 persen, dari Rp 2.274,19 triliun di bulan Juli 2017 menjadi Rp 2.316,63 triliun di Agustus 2017.

Data dari situs Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang keluar awal Oktober ini menunjukkan masyarakat masih menyimpan dananya di instrumen investasi yang sederhana.

Padahal masih tersedia beragam instrumen investasi lain yang bisa menjadi alternatif. Sebut saja, reksadana, obligasi ritel, dan saham. Sebelum kamu ikut membenamkan dana ke deposito, kenali dulu kelebihan dan kekurangan instrumen investasi ini, seperti mengutip Halomoney.co.id, Sabtu (21/10/2017)


Dijamin pemerintah

Deposito masuk dalam kategori simpanan masyarakat yang dijamin oleh pemerintah, di samping  tabungan, giro, di bank umum maupun di bank syariah.

Simpanan masyarakat yang dijamin sepanjang nilainya tidak lebih dari Rp 2 miliar, tercatat resmi di sistem pembukuan bank, dan imbal hasil atau bunga simpanan tidak melebihi suku bunga penjaminan.

Sejak 15 September 2016 sampai 15 Januari 2017, batasan maksimal suku bunga penjaminan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ialah 6,25 persen di bank umum, 0,75 persen untuk simpanan valas, dan 8,75 persen di Bank Perkreditan Rakyat.

Jika suku bunga yang diberikan lebih dari suku bunga penjamin, simpanan Anda tidak dijamin.


Relatif aman, tapi terlalu sederhana

Deposito cukup disukai karena relatif aman. Nilai simpanan deposito tidak terganggu oleh gonjang-ganjing yang terjadi di pasar keuangan. Berbeda dengan saham atau reksadana yang harganya berfluktuasi, dana deposito tidak akan berfluktuasi.

Saat terjadi guncangan di pasar keuangan, Anda perlu mencermati nilai simpanan yang dijamin pemerintah.  Apakah pemerintah masih menjamin simpanan Anda atau tidak? Pada 2008, pemerintah pernah menurunkan nilai simpanan yang dijamin menjadi Rp 100 juta per orang, lalu mulai 13 Oktober 2008 dinaikkan menjadi Rp 2 miliar.

Tetapi Deposito dinilai sebagai tempat  investasi yang sederhana karena suku bunga atau imbal hasilnya terbilang rendah, hanya sedikit di atas tabungan, dan di bawah investasi lain seperti obligasi ritel.

Suku bunga tabungan saat ini berkisar 0 persen hingga 2,5 persen. Sedangkan deposito berkisar 4,5 persen hingga 7 persen tergantung bank yang Anda pilih, nilai tabungan dan lamanya waktu penyimpanan.

Bandingkan dengan suku bunga reksadana yang bisa mencapai 15 persen- 20 persen per tahun secara konservatif. Suku bunga Deposito sangat bergantung pada naik turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia, namanya Seven Days Repo Rate.

Jika suku bunga acuan BI dalam tren turun seperti saat ini, imbal hasil deposito pun cenderung akan dipangkas.


Bebas biaya administrasi, tapi…

Simpanan dana di deposito bebas biaya administrasi karena kamu mengunci dana Anda dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan di tabungan, Anda dapat dengan mudah menggunakan simpanan sehingga bebas menggunakan dana sehingga terkena biaya administrasi, selain pajak atas bunga tabungan.

Meski bebas biaya administrasi, deposito terkena pajak penghasilan (PPh) atas bunga deposito. Besarannya, deposito di dalam negeri yang dananya bukan berasal dari hasil ekspor, dikenakan PPh sebesar 20 persen dari nilai bunga deposito.

Sedangkan deposito dalam mata uang rupiah yang berasal dari devisa ekspor, dikenakan PPh final sebesar 7,5 persen dari nilai bunga deposito jika ditempatkan dalam jangka waktu sebulan dan 0 persen jika enam bulan atau lebih lama.

Sedangkan deposito dalam valuta asing yang berasal dari dana ekspor, dikenakan PPh mulai dari 10 persen, 7,5 persen, 2,5 persen dan 0 persen tergantung lamanya simpanan.

Ketentuan  tentang pajak penghasilan atas bunga deposito berlaku mulai 22 Februari 2016, lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 26/PMK.010/2016 tentang Pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) atas Bunga Deposito, Tabungan, serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Selamat mengembangbiakkan dana Anda.


Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/3135525/3-pertimbangan-penting-sebelum-anda-menabung-di-deposito?HouseAds&campaign=TipsDeposito_Bisnis_STS1

Cara agar Keuangan Aman Terkendali

Begini Caranya agar Keuangan Anda Aman Terkendali

Keadaan finansial memang ditentukan banyak tidaknya gaji yang diterima setiap bulan. Namun, bukan itu yang jadi masalah utama. Kesuksesan keuangan seseorang sangatlah ditentukan oleh seefektif apa ia menggunakan uang tersebut sehingga gaji yang diterima per bulan bisa menjamin kehidupannya di bulan tersebut.

Gaya hidup sangat menentukan kondisi finansial seseorang. Sebesar apa pun gaji yang diterima setiap bulan pasti akan habis jika orang itu boros. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan orang yang hidup hemat. Gaji yang sedikit pun bukan jadi masalah. Ia tetap bisa menyisihkan uangnya untuk ditabung.

Boros dan hemat adalah dua sisi kehidupan yang sangat berbeda. Jika selama ini mengidam-idamkan uang yang banyak, Anda harus bisa mengalokasikan gaji dengan tepat.

Bagaimana caranya? Berikut adalah tips alokasi gaji bagi yang tinggal di kos-kosan agar punya banyak uang seperti dikutip dari Cermati.com:


1. Biaya Utama

Biaya yang pertama kali harus Anda perhitungkan adalah biaya utama. Setiap orang memiliki biaya utama yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan tingkat kebutuhan seseorang yang berbeda pula. Biaya utama dapat meliputi, biaya makan, biaya listrik, internet, air, pulsa, tempat tinggal, dan biaya transportasi.

Agar kondisi finansial baik, coba alokasikan gaji dengan tepat menurut jenis biayanya. Contohnya, total gaji yang diterima Rp 10 juta.

Maka, perhitungannya:
- Biaya makan (Rp 18.000 x 3 kali) x 30 hari = Rp 1.620.000
- Biaya listrik                                                 = Rp 100.000
- Biaya internet                                             = Rp 150.000
- Biaya air                                                      = Rp 80.000
- Biaya pulsa                                                 = Rp 100.000
- Biaya tempat tinggal                                   = Rp 550.000
- Biaya transportasi                                       = Rp 250.000
Total biaya                                                     = Rp 2.850.000


2. Biaya Nongkrong dan Memanjakan Diri

Nongkrong dan memanjakan diri adalah dua kegiatan yang wajib bagi kaum milenial apalagi mereka yang sudah bekerja. Saat gaji diterima, coba lakukan perhitungan agar biaya lainnya tidak terganggu.

Contohnya, Anda nongkrong seminggu sekali dan biasanya menghabiskan Rp 75.000 untuk sekali nongkrong. Untuk memanjakan diri, Anda  pergi ke salon sekali dalam sebulan. Biaya yang dihabiskan Rp 300.000 untuk paket lengkap seperti massage, pedicure, manicure, dan creambath.

Jadi perhitungannya:
Biaya nongkrong (Rp 75.000 x 4 kali)     = Rp 300.000
Biaya memanjakan diri                           = Rp 300.000 +
Total biaya                                                = Rp 600.000


3. Biaya Tabungan

Menabung merupakan hal wajib. Tabungan ini bisa digunakan untuk rencana-rencana indah di masa yang akan datang. Untuk tabungan, Anda bisa menyisihkan 15 persen dari gaji untuk di tabung setiap bulannya.

Misalnya, gaji yang diterima setiap bulannya Rp 10.000.000.
Maka, 15 persen x Rp 10.000.000 = Rp 1.500.000.


4. Biaya Investasi

Selain tabungan, Anda juga perlu berinvestasi. Katakanlah Anda mengikuti investasi reksa dana, di mana dana yang Anda  investasikan sebesar Rp 54 juta untuk 5 tahun. Namun, Anda memilih untuk menyicilnya setiap bulan. Jadi uang yang harus dikeluarkan setiap bulan menjadi:

5 tahun=60 bulan
Rp 54.000.000:60  = Rp 900.000 per bulan


5. Biaya Beramal

Sebagai manusia, kita harus bisa saling mengasihi sesama yang membutuhkan. Alangkah baiknya jika sebagian dari gaji yang Anda terima diamalkan setiap bulan. Beramal tidak dipaksakan. Itu semua tergantung pada keikhlasan hati.

Total yang diamalkan 5 persen dari gaji. Maka perhitungannya:
= 5 persen x Rp 10.000.000
= Rp 500.000


6. Biaya Kiriman untuk Orang Tua

Biaya yang satu ini sifatnya tidak memaksa. Lagi pula, orang tua tidak akan meminta untuk mengirimkan gaji setiap bulannya. Tapi, sebagai anak yang baik, Anda seharusnya selalu mengingat mereka. Tentunya jumlah yang dikirimkan tergantung Anda, misalnya Rp 1.500.000 per bulan.


7. Biaya Tak Terduga

Biaya tak terduga sifatnya sebagai biaya tambahan. Biaya ini digunakan untuk masalah-masalah yang terjadi secara tidak terduga. Misalnya, ban kempes di tengah jalan. Kalau sudah begini, Anda perlu membawanya ke bengkel bukan?

Sebagai langkah antisipasi, Anda juga perlu mengalokasikan gaji untuk biaya tak terduga. Jumlahnya 5 persen dari gaji bulanan.

Perhitungannya: 5 persen x Rp 10.000.000 = Rp 500.000
Dari semua biaya di atas, maka Anda dapat memperhitungkan berapa yang dikeluarkan setiap bulannya.

Pengaplikasiannya sebagai berikut:
Biaya utama                                                  = Rp 2.850.000
Biaya nongkrong dan memanjakan diri         = Rp 600.000
Biaya tabungan                                             = Rp 1.500.000
Biaya investasi                                              = Rp 900.000
Biaya beramal                                               = Rp 500.000
Biaya kiriman untuk orang tua                      = Rp 1.500.000
Biaya tak terduga                                         = Rp 500.000
Total biaya                                                    = Rp 8.350.000

Itulah contoh pengalokasian biaya dalam satu bulan. Contoh di atas bisa Anda aplikasikan jika ingin kondisi finansial Anda aman terkendali. Semoga bermanfaat.


Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/3063309/begini-caranya-agar-keuangan-anda-aman-terkendali?site=liputan6&utm_source=Digital+Marketing&utm_medium=Partnership&utm_campaign=Line

Sunday, November 5, 2017

Dana Darurat

Gunakan Cara Ini untuk Persiapkan Dana Darurat Sekaligus Investasi

Dalam mempersiapkan masa depan dengan kondisi finansial yang mapan dan kokoh, memiliki dana darurat dan investasi sering kali disebutkan sebagai alternatif untuk mempersiapkan masa depan yang lebih terjamin.

Namun, jarang sekali orang yang bisa maksimal untuk menjalankan kedua hal tersebut. Setidaknya, salah satu antara dana darurat dan investasi yang dipilih. Itu pun jika sesuai dengan keadaan keuangan. Sebab keadaan keuangan setiap orang berbeda-beda.

Apakah bisa mengumpulkan dana darurat berbarengan dengan investasi?

Jawaban tersebut tentu bisa. Asalkan melakukan perhitungan terlebih dulu secara rinci mengenai dana darurat dan investasi. Dana darurat dan investasi sangat penting untuk dimiliki. Dana darurat bisa sebagai dana untuk pengeluaran yang tidak terduga atau urgen yang bisa terjadi kapan saja.

Sementara, investasi penting untuk pemenuhan kebutuhan di masa yang akan datang, seperti investasi pendidikan anak. Karena itu, ada baiknya kalau kita memiliki keduanya. Berikut ini tiga cara yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan dana darurat dan investasi secara bersamaan.

1. Hitunglah Dana yang Dialokasikan sebagai Dana Darurat dan Investasi
Untuk bisa memiliki dana darurat dan investasi secara berbarengan, harus diketahui terlebih dulu berapa total pendapatan yang dimiliki.

Dan berapa besar pengeluaran setiap bulannya. Misalnya, pendapatan yang dimiliki mencapai Rp10 juta rupiah per bulan. Sementara pengeluaran per bulannya hanya Rp 9 juta. Itu berarti uang yang tersisa hanya Rp1 juta.

Dana sebsesar itu bisa dialokasikan sebagai dana darurat dan investasi. Dengan kata lain, sisa dana sebesar Rp1 juta dialokasikan sebesar Rp500 ribu untuk dana darurat dan Rp500 ribu untuk investasi.

2. Mengatur Dana Darurat dan Investasi
Setelah bisa membagi rata alokasi antara dana darurat dan investasi, mulailah untuk mengatur keduanya agar bisa dialokasikan secara berkelanjutan. Khusus untuk dana Darurat, aturan yang ada sebenarnya berbeda.

Untuk yang belum menikah, alokasikan dana untuk dana darurat sebanyak enam kali pengeluaran bulanan. Untuk yang berstatus menikah, alokasikan dana untuk dana darurat sebanyak sembilan kali pengeluaran bulanan.

Sementara untuk yang menikah dan punya anak, alokasian dana untuk dana darurat sebesar duabelas kali pengeluaran bulanan.

Sebaiknya, jangan gabungkan antara dana darurat dan tabungan bulanan atau tabungan untuk membayar tagihan dan kewajiban bulanan.

Pisahkan ke rekening khusus dana darurat. Kemudian untuk investasi, tidak ada aturan khusus seperti dana darurat yang mesti punya rekening khusus. Yang harus diperhatikan dari investasi adalah tujuannya.

Jika untuk pendidikan, perkirakan jumlah investasi yang harus dikumpulkan. Salah satu instrumen investasi yang bisa digunakan adalah reksa dana.

3. Lakukan dengan Disiplin untuk Dapatkan Hasil yang Maksimal
Akan percuma perencanaan alokasi dana darurat dan investasi secara berbarengan jika tidak disiplin dalam menjalankannya.

Ingin hasil yang maksimal, Anda harus teratur dan berkelanjutan dalam mengumpulkan dana darurat dan menempatkan dana untuk investasi.

Seiring peningkatan penghasilan, jangan lupa untuk meningkatkan nilai dana darurat dan investasi. Sebab kalau nilai dana darurat dan investasi bisa tergerus nantinya karena tak menyesuaikan dengan besaran investasi.

Pastinya Anda tidak mau nilai dana darurat dan investasi terasa kecil karena besaran dana yang dialokasikan segitu-segitu saja.


Mulai Siapkan Sejak Dini

Langkah yang paling tepat untuk segera menjalankan dua hal tersebut adalah mulai menyiapkanya sejak dini. Dana darurat dan investasi tentu akan maksimal hasilnya jika dikumpulkan sejak dini.

Keuntungan yang Anda dapatkan juga akan sangat maksimal. Seandainya ada keperluan mendadak yang tidak terduga, Anda juga akan merasa tenang karena sudah mempersiapkan dana darurat dan investasi.


Sumber :
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/15/140000826/gunakan-cara-ini-untuk-persiapkan-dana-darurat-sekaligus-investasi.

Terbelit Hutang

Keluar dari Jebakan Utang

Apakah ada di antara Anda yang saat ini sedang terjebak atau terbelit dengan utang? Sudah berapa lama kira-kira Anda tidak dapat lepas dari utang ini? Setahun? Lebih dari dua tahun? Sepertinya selama-lamanya Anda tidak pernah lepas dari yang namanya utang. Bahkan utang seakan menjadi suatu keharusan agar dapat mencapai tujuan-tujuan keuangan.

Mau beli mobil, utang. Mau beli rumah, utang. Mau beli ponsel, utang. Bahkan untuk makan siang pun utang pakai kartu kredit. Well.. itu pilihan. Yang penting perhatikan rasio cicilan utang Anda. Jangan sampai lebih dari 30% dari penghasilan Anda, karena apabila lebih dikuatirkan keuangan Anda akan terganggu.

Jadi jika Anda saat ini terbelit utang yang tak ada habisnya dan Anda ingin bebas dari yang namanya utang, berikut beberapa langkah agar Anda bisa keluar dari jebakan utang:

1. Daftar seluruh utang Anda
Buka laptop Anda, buat tabel di spreadsheet. Daftarlah utang-utang Anda yang masih ada. Kepada siapa Anda berutang. Berapa jumlah saldo utang yang masih tersisa. Berapa besar bunganya per tahun. Berapa besar Anda membayar cicilannya. Dan sampai kapan Anda membayarnya.

2. Bayar utang dengan bunga paling tinggi terlebih dulu
Setelah Anda membuat list utang dengan rapi dan baik. Silakan diurutkan dari yang paling besar bunganya terlebih dulu. Tampilkan utang tersebut di urutan paling atas. Maka utang itulah yang harus Anda fokuskan untuk dilunasi paling awal. Lakukan seterusnya hingga seluruh utang lunas.

3. Jangan Tambah Utang Anda
Selama Anda melakukan program membebaskan diri dari jebakan utang ini. Tolong.. jangan tambah utang Anda. Jika Anda masih mengalami kesulitan, maka kurangi pengeluaran Anda dengan berbagai cara. Bisa juga Anda mencari tambahan pendapatan lain. Yang penting jangan tambah utang Anda. Boleh saja Anda melakukan gali lubang tutup lubang, namun utang baru yang Anda ambil jumlahnya tidak boleh melebihi utang yang ada, serta bunganya harus lebih rendah.

Jika seluruh belitan utang Anda sudah lepas dan rasio keuangan Anda sudah membaik, maka silakan berutang kembali (kalau mau) dengan pertimbangan masak dan tentunya sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pembayaran Anda.

Utang tidak semudah dan sesimpel yang selama ini sering dibahas di mana-mana. Itulah sebabnya banyak orang terjerat utang.


Sumber :
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3702077/keluar-dari-jebakan-utang

Thursday, March 30, 2017

Karyawan (juga) Bisa Kaya

Hasan Azzahid - detikFinance

Dari pengalaman saya bertemu HRD di beberapa perusahaan, masalah utama keuangan pribadi karyawan biasanya adalah ketidakmampuan mereka dalam mengatur keuangannya sehingga berujung kebangkrutan. Kebangkrutan tersebut bukannya dikarenakan dari tidak lancarnya pembayaran gaji, namun dari karyawannya sendiri yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya dengan gaji yang sudah diberikan. Padahal gaji yang diberikan bukanlah gaji untuk entry level.

Lalu apakah yang sebenarnya dibutuhkan agar karyawan menjadi kaya? Berikut beberapa langkah anda memulai perencanaan keuangan secara mandiri agar dapat kaya.

Niat
Tidak ada tips keuangan yang benar-benar efektif apabila tidak ada niat dari diri anda. Ketika anda bekerja, apakah niat anda? Apakah gaji yang anda terima hanya diniatkan sebagai pemenuh kebutuhan hidup anda saat ini saja? Renungkan kembali niat anda ketika menerima gaji, untuk apa gaji anda dihabiskan.

Jika anda memang ingin kaya, berarti anda harus banyak berkorban. Tidak ada pencapaian tinggi yang dapat diraih tanpa pengorbanan. Dalam hal mengatur keuangan, berarti anda harus mengorbankan keinginan anda untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan saat ini demi kekayaan di masa depan. Jika anda bukan orang yang bisa menahan diri, hindarilah kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan anda konsumtif.

Niatkan lah bahwa gaji anda adalah kendaraan anda menuju kekayaan. Buanglah segala alasan yang menahan anda menjadi kaya. Niatkanlah bahwa setiap gaji yang anda dapatkan haruslah membawa anda menjadi kaya. Apabila dihadapkan oleh pilihan di mana anda harus memilih antara keinginan konsumtif dan kekayaan, anda harus memilih kekayaan di masa depan sebagai pilihan anda.

Biasakan berinvestasi
Sudah tertanam pada diri kita sejak kecil untuk diajarkan menabung, bukan berinvestasi. Secara umum, masyarakat Indonesia memang tergolong konservatif terhadap risiko, namun menginginkan hasil yang lebih. Hal ini merupakan salah satu faktor mengapa banyak masyarakat yang tertipu oleh investasi bodong.

Berinvestasilah pada produk keuangan yang diawasi oleh otoritas keuangan secara resmi. Tanamkan bahwa tingkat imbal hasil selalu berbanding lurus dengan risiko. Ekspektasi imbal hasil yang tinggi selalu diikuti dengan risiko yang tinggi pula. Karena pada dasarnya kita menjalani hidup memang tidak mungkin ada yang bebas risiko. Bahkan sebagai karyawan pun, risiko terbesar anda adalah ketika muncul pengeluaran tidak terduga yang melebihi penghasilan anda.

Anda bisa memulai membiasakan diri dengan fasilitas auto debet (jika ada). Prioritaskan pengeluaran investasi terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pengeluaran konsumtif.

Jangan lupa berinvestasi kepada diri sendiri
Yang sering diabaikan selanjutnya oleh masyarakat Indonesia adalah berinvestasi pada diri sendiri. Maksud berinvestasi pada diri sendiri adalah mengeluarkan uang untuk meningkatkan kompetensi anda. Peningkatan kompetensi pasti akan meningkatkan kekayaan anda. Baik itu dengan cara mengetahui bagaimana meningkatkan aset, maupun meningkatkan penghasilan anda sebagai karyawan. Tentu saja jika anda punya pengalaman plus kompetensi yang di atas rata-rata, anda akan dihargai lebih mahal bukan?

Saat ini banyak sekali workshop yang dapat meningkatkan kemampuan anda. Baik itu berupa kemampuan yang sejalan dengan pekerjaan anda saat ini maupun kemampuan pendukung lainnya. Berinvestasilah pada ilmu dan rasakan lah bahwa ilmu yang dalam dan luas menuntun anda pada kekayaan. Jangan hanya mengandalkan training gratis dari perusahaan.

Miliki dana darurat terlebih dahulu
Kesalahan yang banyak orang lakukan adalah berinvestasi terlebih dahulu tanpa memiliki dana darurat. Sebagai karyawan, anda memang memiliki pendapatan yang stabil, namun harus anda sadar pengeluaran anda belum tentu bisa sama stabilnya dengan pendapatan anda. Tidak memiliki dana darurat justru dapat membuat rencana investasi anda berantakan.

Dana darurat adalah jaring pengaman anda menuju kekayaan. Apabila memang anggaran anda tidak cukup untuk berinvestasi, prioritaskan dahulu dana darurat dibanding investasi. Apabila dana darurat sudah terbentuk, anda bisa berinvestasi secara nyaman tanpa mengganggu cashflow anda.

Menentukan tujuan aset yang bisa diraih dengan gaji saat ini
Anda menginginkan membeli rumah? Hitunglah anggaran yang bisa anda sisihkan untuk membeli rumah. Apabila rumah di lokasi impian anda terlalu mahal, carilah alternatif lain yang masih bisa anda jangkau. Merencanakan keuangan bukanlah sulap yang membuat anda kaya raya dalam sekejap mata. Anda membutuhkan konsistensi terhadap rencana anda. Karena sekali lagi, tips ini seperti simpel, namun sebenarnya sangat susah dilaksanakan. Maka dari itu, niat anda untuk melakukan semua hal ini harus lurus dan kuat. Dibantu juga dengan belajar mengelola keuangan yang baik dan benar, serta belajar investasi.


Sumber :
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3452080/karyawan-juga-bisa-kaya

Related Posts