Saturday, May 24, 2014

Cara Mengelola Uang


Mengelola uang tidak hanya soal menabung. tetapi juga bagaimana attitude dan habit kita memperlakukan uang. Simak tip langkah dewasa mengelola uang dari perencana keuangan, Ligwina Hananto.

Attitude
Banyak orang yang merasa tidak punya uang. Ternyata, masalahnya bukan soal tidak bisa menghasilkan uang, tetapi tidak bisa mengapresiasi nilai uang dalam hidupnya. Sejauh mana kita mau bersyukur atas apa yang sudah kita miliki?

Habit
Segala sesuatu  jadi biasa jika menjadi sebuah habit atau kebiasaan. Good money habit bisa kita bentuk dengan memperhatikan cara kita hidup. Misalnya, dengan memiliki kebiasaan menabung secara rutin. Juga dengan memberlakukan aturan hemat energi di rumah dan kantor. Hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari akan sangat membantu kita membentuk kebiasaan finansial yang baik.

Purpose
Perhatikan cara kita memperlakukan uang. Apakah uang yang menjadi ‘tuan’? Atau kita sudah berhasil menaklukkannya dengan menjadikan uang sesuai fungsi sebagai alat pembayaran? Dengan cara ini kita pun lebih fokus pada pentingnya memperbaiki kualitas hidup dibandingkan mengejar-ngejar kekayaan. Karena, ada saja orang yang tidak bisa mensyukuri apa yang ia miliki karena menggunakan uang sebagai tujuan.

Learning
Nikmati proses belajar. Ilmu soal keuangan begitu luas dan membutuhkan keingintahuan yang besar agar kita tidak berhenti pada satu titik saja. Anda sudah memulai proses belajar dengan selalu mengikuti kolom ini. Tapi, tentu saja ada banyak lagi cara untuk belajar, mulai dari talkshow di radio dan televisi, membaca buku, hingga mengikuti training dan seminar. Tentu saja itu semua baru di level menambah ilmu. Berikutnya, yuk, kita mempraktikkan semua ilmu tadi!

Sumber :
http://www.femina.co.id

Sukses Mengatur Keuangan Keluarga


Manajemen keuangan adalah hal yang tidak kalah penting dalam sebuah keluarga. Bila tidak pandai-pandai mengaturnya maka berapapun pemasukan yang didapatkan akan tidak pernah cukup untuk kehidupan keluarga selama sebulan penuh. Berikut ini adalah tips mengatur keuangan keluarga agar mencukupi kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga.

Mulailah dengan membuat rencana pemasukan dan pengeluaran. Catatlah berapa pemasukan yang diterima selama satu bulan penuh.

Sebelum mulai mencatat rencana pengeluaran, mulailah dengan pembayaran zakat atau pajak penghasilan. Setelah itu dahulukan untuk membayar hutang yang ada. Jangan pernah menunda untuk membayar hutang ke bank atau badan keuangan lainnya.

Sisihkan 10% dari total penghasilan untuk tabungan. Hal ini harus dilakukan sebelum membelanjakan penghasilan untuk hal-hal lain. Bila menunggu sampai akhir bulan utuk menabung sisa uang yang ada maka dapat dipastikan bahwa tidak akan ada uang yang tersisa.

Setelah itu baru buatlah daftar perkiraan pengeluaran selama sebulan penuh. Mulailah dengan pengeluaran bulanan yang sudah pasti seperti pembayaran listrik, air, gas, dan SPP anak perbulan.

Catat juga rencana pengeluaran sehari-hari misalnya untuk belanja bulanan, keperluan makan dan lain-lain. Jangan lupa sisihkan sebagian untuk hal-hal tidak terduga.

Setelah selesai membuat rencana pengeluaran, jangan lupa untuk mencatat setiap pengeluaran yang ada. Bandingkan antara rencana pengeluaran dan kenyataan sebagai bahan evaluasi kedepannya, sehingga tidak ada ketimpangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Sumber :
http://keluargasakina.com

Rekening Keuangan Keluarga


Perencanaan keuangan sangat penting untuk zaman sekarang, karena tuntutan kebutuhan yang tinggi mengharuskan wanita Indonesia pintar-pintar untuk mengatur keuangan keluarga. Alangkah baiknya perencanaan ini didiskusikan bersama pasangan Anda, agar tidak ada kesalahpahaman terjadi di dalam keluarga.

Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan bersama pasangan Anda untuk perencanaan keuangan keluarga Anda.

1. Tentukan Yang Membayar Tagihan Bulanan
Hal ini sangat membantu Anda dalam mengatur uang yang keluar, dengan menentukan siapa yang membayar maka akan mudah untuk memantau. Buat daftar pengeluaran untuk mempermudah di dalam pencatatan keuangan, sehingga pada akhir bulan Anda bisa lebih jelas dan bisa menjadi bahan untuk evaluasi Anda bersama pasangan.

2. Buat Rekening Bersama
Buatlah rekening yang bersama, yang dimaksud adalah benar-benar rekening sendiri dan bukan rekening suami atau istri. Sisihkan sebagian dari dari gaji ke dalam rekening bersama ini, untuk jumlahnya terserah Anda akan tetapi usahakan setiap bulan rekening ini terisi. Adanya rekening bersama ini dimaksudkan untuk investasi keluarga Anda serta untuk mengantisipasi dana dadakan yang harus Anda keluarkan.

3. Bicarakan Saat Menggunakan Uang Dalam Jumlah Banyak
Buatlah perjanjian dengan pasangan Anda, jika salah satu dari Anda ingin menggunakan uang dengan jumlah yang banyak agar bisa didiskusikan terlebih dahulu secara bersama. Hal ini akan membuat Anda dan pasangan Anda terhindar dari keuangan yang tiba-tiba susut dikarenakan penggunaan uang yang tidak tepat dalam jumlah yang banyak.

Selalu berkomunikasi dengan pasangan Anda merupakan hal terpenting di dalam perencanaan keuangan keluarga. Pastikan pasangan Anda mengetahui setiap pengeluaran yang Anda lakukan dan sebaliknya. Daftar pengeluaran sangat membantu dalam hal ini, jadi pastikan Anda membuatnya dan catat semua pengeluaran jangan sampai Anda lewatkan. Semoga artikel tentang perencanaan keuangan yang sudah disusun redaksi Dibalik Wanita bisa membantu Anda dalam perencanaan keuangan keluarga Anda.

Sumber :
http://www.dibalikwanita.com

Wednesday, May 14, 2014

Cara Berhemat ala Selebritas


Tak bisa dipungkiri kalau sejumlah seleb dan figur publik memiliki kekayaan cukup banyak. Dari punya private jet, mobil mewah, rumah megah, dan hidup yang nyaman. Namun, mereka masih mengatur keuangan dengan baik.

Menurut life coach dan presenter Georgina Burnett, mereka semua percaya akan pentingnya mengatur keuangan yang akan membuat hidup menjadi lebih baik. Selain mengontrol pengeluaran agar tidak melebihi pemasukan, mengatur keuangan juga bisa menjadi salah satu cara mengurangi stres dan menikmati hidup.

Berikut lima cara berhemat ala selebritas yang bisa diterapkan:

1. Punya rencana keuangan
Aktris Gwyneth Paltrow dan suaminya, Chris Martin, bisa jadi punya kekayaan hingga 100 juta dollar, tapi mereka masih tetap mengatur keuangan dengan baik. Gwyneth mengaku dirinya mengatur keuangan dengan cara membuat anggaran jangka pendek dan jangka panjang. Mulai dari anggaran untuk membeli rumah, memiliki anak, hingga anggaran untuk traveling. Penetapan rencana anggaran ini menentukan berapa total biaya yang harus dihabiskan.

Anda bisa meniru model Gwyneth ini dengan membuat road map atau pemetaan anggaran. Bisa mingguan, bulanan, atau tahunan. Sebagai contoh, deposit untuk investasi properti untuk masa lima tahun atau menyisihkan uang setiap bulan untuk mewujudkan keinginan di kemudian hari seperti berlibur dan lain sebagainya.

Penetapan rencana anggaran memberikan Anda waktu untuk memikir ulang mana yang benar-benar dibutuhkan dan tahu berapa yang harus ditabung dan dihabiskan.

2. Gunakan voucher belanja
Percaya atau tidak, sejumlah selebritas juga masih menggunakan voucher saat berbelanja, terutama untuk harga barang yang tinggi seperti yang dilakoni Nicole Schrzinger dan Kourtney Kardashian. Kourtney, ibu dari dua anak ini pernah menggunting kupon berbelanja dari sebuah majalah.

Menurut Georgina tidak ada salahnya mendapatkan penawaran terbaik dari barang yang diinginkan. jadi kenapa tidak menggunakan voucher atau potongan belanja yang entah di toko ataupun via online shop. Rasanya hampir semua toko baik online maupun offline yang hari ini memberikan potongan harga atau diskon, tinggal mau dimanfaatkan atau tidak.

3. Belanja sesuai kebutuhan
Anggota band McFly, Harry Judd, menghindari berbelanja dengan kartu kredit. Katanya ia ingin hidup sesuai dengan kebutuhan dan tidak mau menggunakan uang yang tidak ada di rekening bank miliknya sendiri.

Pada moneywise.co.uk, ia mengatakan lebih memilih menggunakan kartu debit daripada kartu kredit karena berbahaya begitu menggunakannya sekali, walau tergantung pada situasi mendesak sekalipun. Dengan kartu kredit dia takut lupa telah berbelanja apa saja dan mendapat masalah karenanya.

Georgina sepakat dengan itu. Kata dia, beberapa orang yang menggunakan kartu kredit kerap lupa telah memebelanjakan uangnya untuk apa tanpa pertimbangan yang matang. Kadang tidak sesuai kebutuhan, tapi masih berbelanja.

4. Daripada menghamburkan uang, lebih baik daur ulang
Ini berurusan dengan busana yang Anda kenakan. Mari lihat Michelle Obama dan Kate Middleton. Keduanya masih tetap modis, tapi tidak dengan busana dari top desainer, tapi bagaimana memadupadankan busana yang mereka miliki. Bahkan dari busana yang tidak harus mahal sekaipun.

Kate, misalnya, sudah dikenal dengan gaya berbusana yang modis dan tahu sekali cara padu padan yang baik. Daripada menghabiskan uang utuk beli busana terbaru, lebih baik siasati dengan cara lain. Misalnya cukup beli tas tangan, jaket, atau ikat pinggang baru lalu padu padan dengan busana yang sudah ada. Ini lebih menghemat anggaran.

Georgina menyampaikan, sering kali berbelanja busana hanya kenikmatan semata yang momennya cuma sebentar. Yang menarik ialah ketika Anda bisa menjadi kreatif dengan apa yang dimiliki, selain menghemat juga menyenangkan bila bisa dinikmati.

5. Baju turunan dari sulung ke bungsu
Punya anak bukan berarti menghabiskan banyak uang dan memanjakannya dengan hal-hal yang baru. Angelina Jolie justru memberikan baju yang masih layak pakai dari anak tertuanya ke anak bungsu. Begitu juga Jessica Alba memberikan apa yang pernah dibelikan untuk anaknya yang berumur empat tahun kepada Haven yang masih 18 bulan.

Selain berhemat, ini juga menjadi salah satu cara mendidik anak untuk menghargai apa yang mereka miliki, tidak memanjakan mereka dengan barang-barang mewah.

Sumber :
http://female.kompas.com

Wednesday, April 30, 2014

Generasi Muda Masa Kini Rajin Menabung


Salah besar kalau Anda berpikir generasi muda zaman sekarang memiliki gaya hidup boros dan hedonis. Kenyataannya, generasi milenium (rentang usia 18-33 tahun di 2014) justru lebih disiplin dalam mengatur arus keuangan mereka.

GE Capital Direct, penyedia tabungan online melakukan sebuah penelitian baru, yang membuktikan bahwa generasi milenium ternyata lebih disiplin menabung dibandingkan generasi X dan generasi baby boomer.

Penelitian yang melibatkan 2000 penabung di Inggris, menemukan bahwa generasi muda di rentang usia 18-24 tahun menyimpan hampir sepertiga dari pendapatan per bulan mereka. Kemudian, generasi muda di rentang usia 25-34 tahun, setidaknya menyimpan seperlima gaji bulanan mereka. Sedangkan generasi X, generasi senior di rentang usia 45-54 tahun, t

Kondisi tersebut bisa terjadi karena anak-anak generasi milenium lebih memegang teguh prinsip You Only Live Once. Artinya, mereka merasa sangat lapar dengan pengetahuan, pengalaman dan petualangan dalam hidup yang hanya bisa mereka nikmati sekali seumur hidup. Dengan demikian, tak heran jika 13 persen dari mereka, menabung untuk mendapatkan pengalaman hidup yang berharga.

Penelitian juga menyoroti kelompok generasi di usia 25-34 tahun, ternyata merasa khawatir tentang masa depan. Mereka bahkan berpikir kalau mereka tidak cukup menabung dibandingkan dengan seperempat kelompok silver savers (kelompok berusia 65 tahun ke atas). Alhasil, 42 persen dari kelompok usia 25-34 selalu menabung uangnya secara rutin.

"Anak muda jaman sekarang bekerja sangat keras dan suka menabung rutin. Mereka menuai hasil dari kebiasaan menabung sejak dini," kata Sheragh Beirne, CMO dan MD Retail Banking di GE Capital Inggris.

Berbeda dengan generasi lainnya, penelitian menunjukkan hampir sepertiga dari generasi baby boomers (berusia 55-64 tahun), mengaku tidak menabung sama sekali!

Sumber :
http://female.kompas.com

Saturday, April 12, 2014

Keranjang Investasi


“Don’t put all your eggs in one basket!” 

Peribahasa ini sering kita dengar dalam aturan berinvestasi. Artinya, jangan menempatkan semua uang kita pada satu jenis investasi saja, atau apa yang dikenal dengan diversifikasi investasi.

Banyak perencana keuangan yang menyarankan diversifikasi dalam portofolio investasi hanya pada investasi kertas. Sesungguhnya ini belum menjadi diversifikasi yang ideal menyangkut investasi. Saya sangat menyukai konsep diversifikasi portofolio seperti apa yang disampaikan Robert Kiyosaki, investor dan motivator asal Amerika Serikat.

Kiyosaki membagi investasi ke dalam empat jenis. Akan sangat ideal apabila seorang individu memiliki diversifikasi pada keempat jenis investasi ini:

Aset Kertas
Paper assets atau aset kertas adalah jenis aset yang ada di pasar uang dan pasar modal. Contoh instrumen pasar uang adalah valuta asing, surat utang negara atau obligasi. Sedangkan investasi di pasar modal berupa saham atau reksa dana. Kecuali kupon pada obligasi, jenis investasi kertas ini akan memberikan keuntungan pada saat kita menjual kembali aset tersebut dengan harga pasar yang lebih tinggi (margin on capital gain).

Risiko pada investasi di aset kertas ini berbeda. Surat utang negara cenderung lebih aman dibandingkan saham, mengingat pergerakannya yang relatif stabil dan kemungkinan gagal bayarnya sangat kecil. Sementara saham, kendati dalam jangka pendek lebih berfluktuasi dibandingkan surat utang, tapi bisa memberikan keuntungan yang jauh lebih tinggi dalam jangka panjang. Tentu saja pilihannya harus tepat, terutama terkait dengan fundamental perusahaan yang sahamnya dijadikan instrumen investasi.

Reksa dana juga merupakan bagian dari investasi aset kertas, yang di dalamnya juga menempatkan instrumen investasi di pasar modal. Mengenai reksa dana, akan kami tulis di artikel selanjutnya.

Properti
Sudah menjadi rahasia umum bahwa membeli properti adalah salah satu strategi berinvestasi yang jitu. Properti bisa memberikan pendapatan pasif apabila kita maksimalkan fungsinya menjadi properti sewa, misalnya untuk kos-kosan atau kontrak petakan, disewakan tahunan, atau properti komersial semacam ruko, hotel, perkantoran.

Membeli properti atau tanah dengan berharap harga akan naik terus, berarti kita harus cermat dalam membeli properti dengan lokasi yang strategis.

Komoditas
Yang dimaksud dengan komoditas dalam berinvestasi adalah barang yang diperjualbelikan di masyarakat. Kebutuhan terhadap barang tersebut semakin tinggi, sementara ketersediaan barangnya semakin terbatas. Instrumen komoditas yang paling umum dibeli untuk investasi adalah logam emas dan perak.

Bisnis
Di antara jenis investasi yang ada, bisnis merupakan investasi yang bisa memberikan keuntungan sangat tinggi. Tentu saja membangun bisnis bukan perkara mudah. Dibutuhkan kemauan, keahlian, serta konsistensi untuk menjadikan bisnis sebagai investasi yang bisa memberikan keuntungan dan penghasilan rutin yang konsisten.

Memulai investasi memerlukan niat yang sungguh-sungguh untuk bisa memperoleh hasil sesuai harapan. Tidak ada rumus yang tetap dalam memiliki portofolio investasi, semuanya sangat tergantung dari minat Anda terhadap instrumen investasi. Ada orang yang lebih besar porsi investasi di properti, karena instrumen itulah yang paling ia pahami dan menarik minatnya. Ada juga yang sangat menyukai bisnis, sehingga sulit untuk memiliki investasi saham dan lain-lain.

Saat Anda sudah memiliki keempat investasi tersebut, inilah yang disebut sebagai diversifikasi investasi sejati. Investasi membutuhkan ilmu pengetahuan yang cukup untuk memulai. Anda bisa memulai dengan membaca berbagai buku dan berbagai bacaan lainnya, mengikuti seminar keuangan dan lain-lain. Naikkan level kecerdasan finansial Anda untuk bisa berinvestasi dengan cerdas!

To Serenity,


Dwita Ariani, MM, RFA, RIFATwitter: @BundaWita
Financial educator dari Zelts Consulting

Sumber :
https://id.berita.yahoo.com

Thursday, March 13, 2014

Rumus Berbelanja


Kebiasaan berbelanja bisa merusak tatanan finansial yang sudah Anda bangun dari nol. Tak heran jika banyak perempuan, yang umumnya gemar berbelanja atau tergiur diskon, menderita dengan kondisi keuangan yang kusut. Penggunaan kartu kredit yang berlebihan hanya salah satu bagiannya. Masalah utamanya adalah pada kebiasaan buruk yang menguasai diri Anda dan ketidakmampuan mengelola uang dengan benar. 

Perencana keuangan Ligwina Poerwo-Hananto mengatakan tak perlu menahan keinginan berbelanja. Namun yang perlu dilakukan dan menjadi kebiasaan adalah cermat mengatur komposisi cashflow setiap bulannya. 

Ligwina menerangkan saat menerima gaji setiap bulan, Anda perlu memisahkan uang untuk sejumlah kebutuhan. Rumusnya, cicilan utang menjadi prioritas pertama yang harus segera dibayarkan dengan komposisi maksimal 30 persen. Lalu 20-40 persen perlu dialokasikan untuk premi asuransi, kebutuhan rumah tangga, transportasi, kebutuhan anak dan keluarga, juga kesehatan. Nah, hanya gunakan 20 persen untuk kebutuhan pribadi seperti perawatan di salon, belanja baju atau sepatu baru, juga ganti gadget, misalnya. Sisanya, sekitar 10-30 persen adalah untuk ditabung sebagai dana darurat.

"Komposisi untuk belanja jangan lebih besar dari komposisi tabungan," jelas Ligwina kepada Kompas Female beberapa waktu lalu. "Kalau masih mampu, tidak apa menggunakan uang untuk kebutuhan pribadi. Jangan bergaya seperti gaji sembilan juta dengan gaji yang hanya lima juta. Pekerjaan Anda sebagai manajer tak perlu bergaya sama seperti vice president. Jangan menjalani gaya hidup yang tak layak untuk Anda," tegasnya.

Artinya, kalau gaji Anda satu bulan Rp 2 juta, lalu memisahkan uang sebesar 10 persen untuk ditabung, sekitar Rp 200.000 maka aturannya Anda tidak boleh berbelanja lebih dari angka tersebut untuk memenuhi keinginan yang bukan prioritas. Agar pengelolaan uang bisa berjalan mulus, pisahkan uang untuk setiap pos saat Anda menerima gaji. Caranya, bisa dengan menggunakan sistem amplop, jelas Ligwina. "Pilihan lain membuat the magical shopping account. Jadi setiap bulan setelah gajian pindahkan uang untuk belanja ke rekening lain," tambahnya. 

Nah, jika Anda menginginkan sebuah benda atau barang misalnya, kumpulkan uang dalam tiga bulan misalnya dalam rekening belanja. Uang yang terkumpul dalam rekening belanja ini bebas Anda gunakan untuk membeli barang yang Anda inginkan. Model pengaturan keuangan seperti ini juga bisa berlaku jika Anda berencana ingin liburan, jelas Ligwina. Dengan begitu, dana darurat yang Anda alokasikan setiap bulan tidak akan terganggu dengan kebiasaan berbelanja.

Sumber :
http://female.kompas.com

Related Posts