Sunday, December 24, 2023
Tips Investasi Usia 40 Tahun
Friday, December 22, 2023
Generasi Sandwich
Fenomena generasi sandwich saat ini menjadi ngetren.
Banyak yang berkeluh kesah karena hal ini. Orang yang terjebak dalam situasi ini dapat mengalami tekanan yang luar biasa. Bahkan generasi ini sering mengalami tekanan psikis hingga memicu gangguan fisik seperti penyakit.
Sandwich Generation (generasi sandwich) atau generasi terjepit dikenal sebagai kondisi seseorang yang menjadi tulang punggung, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan, yaitu dimana generasi sandwich ini harus menghidupi tiga generasi keluarganya yang terdiri dari orang tua, dirinya sendiri, dan anaknya.
Seperti sebuah roti sandwich, di mana orang tua dan anak dianggap sebagai roti lapisan atas dan lapisan bawah, sedangkan seseorang yang terjebak dalam fenomena ini diibaratkan sebagai sebuah daging atau isi dari sandwich yang terhimpit di tengah-tengah roti.
Sandwich generation berada di angka 48,7 persen, non-sandwich dengan anak 41,5 persen, dan non-sandwich tanpa anak sebesar 9,8 persen. Banyak faktor yang membuat golongan usia produktif berada di generasi ini.
Pertama, karena generasi sebelumnya kurang memiliki literasi keuangan sehingga tidak ada tabungan untuk menyiapkan dana pensiun.
Kedua, terjadi musibah dalam keluarga. Salah satunya tidak bisa mencari penghasilan lagi sehingga generasi saat ini harus bertanggung jawab.
Ketiga, lantaran salah mengambil keputusan finansial seperti investasi bodong hingga gagal dalam dunia bisnis.
Para generasi sandwich memiliki beban hidup yang cukup bahkan sangat berat. Mereka perlu mengatur keuangannya agar memutus rantai generasi sandwich dan berinvestasi untuk masa depan.
Generasi sandwich menjadi tiga ciri berdasarkan perannya, yaitu:.
1. The Traditional Sandwich Generation.
Orang dewasa berusia 40 hingga 50 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan finansial.
2. The Club Sandwich Generation,
Orang dewasa berusia 30 hingga 60 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua, anak, cucu (jika sudah punya), dan atau nenek kakek (jika masih hidup).
3. The Open Faced Sandwich Generation.
Siapapun yang terlibat dalam pengasuhan orang lanjut usia, namun bukan merupakan pekerjaan profesionalnya (seperti pengurus panti jompo) termasuk ke dalam kategori ini.
Dampak berbahaya yang bisa dialami oleh seseorang dalam generasi ini, yaitu diantaranya:
Tingkat stres yang lebih tinggi, karena banyaknya anggota keluarga yang harus dibiayai membuat seseorang dalam generasi sandwich berpeluang tinggi untuk mengalami stres. Hal itu terjadi karena mereka akan selalu mengalami kekhawatiran jika ada satu generasi yang tidak bisa dibiayai atau diberi makan.
Burnout atau kelelahan fisik dan juga mental pada diri sendiri.
Stres yang berkepanjangan, ditambah dengan beban pekerjaan yang semakin menumpuk, para generasi sandwich akan mengalami burnout di mana mereka merasa lelah fisik dan mental. Sehingga orang akan rentan terhadap penyakit fisik seperti kebotakan dini, pusing, dan kelelahan secara terus-menerus. Serta berisiko mengalami penyakit mental seperti panic attack atau depresi akut.
Perasaan bersalah atau merasa tidak puas.
Rasa bersalah jika mengalami kegagalan, atau merasa tidak puas saat mencapai sesuatu, juga menjadi dampak dari sandwich generation. Perasaan karena gagal sebagai tulang punggung keluarga, serta kehilangan satu dari sekian sumber penghasilan, dapat dialami oleh mereka jika gagal dalam karier.
Mudah merasa khawatir.
Para generasi sandwich juga mudah untuk mengalami kekhawatiran jika terjadi sesuatu di luar rencana mereka. Misalnya, jika anak dan orang tua mengalami masalah kesehatan pada saat bersamaan, artinya mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak. Saat keuangan sedang pas-pasan, akan timbul perasaan cemas karena adanya pilihan yang sangat sulit dan memerlukan keputusan dalam waktu cepat.
Bagaimana cara memutus rantai generasi sandwich?.
Memutus rantai generasi sandwich bukanlah hal mudah yang dapat dilakukan begitu saja. Perlu konsistensi dan usaha yang lebih besar untuk dilakukan, berikut beberapa langkah yang bisa diambil.
1. Miliki tabungan rencana.
Miliki tabungan rencana yaitu tabungan dengan setoran rutin secara bulanan yang memiliki fasilitas auto debit dari rekening sumber ke rekening tabungan rencana dan penarikannya dibatasi sesuai ketentuan bank.
Tabungan rencana ini bisa digunakan untuk tujuan misalnya pernikahan, Haji atau Umrah, pendidikan, wisata, dan lainnya.
2. Menyiapkan program pensiun.
Menabung dengan membayar sejumlah uang yang sudah ditetapkan secara rutin dan hanya bisa diambil ketika memasuki usia pensiun. Hal ini merupakan langkah awal yang baik sebagai bukti sayang kamu kelak kepada anak dan berguna untuk menjamin kehidupan masa tua.
3. Miliki asuransi kesehatan.
Hal ini harus benar-benar harus diperhatikan agar kita sekeluarga mendapatkan jaminan kesehatan atas rawat inap, rawat jalan, pengobatan untuk gigi, penggantian kacamata, melahirkan sesuai dengan batasan yang dijamin polis.
Kita bisa memilih untuk memiliki asuransi kesehatan dari pemerintah (BPJS Kesehatan) atau dari swasta.
4. Kurangi gaya hidup konsumtif.
Mengurangi gaya hidup konsumtif yang dirasa tidak perlu merupakan langkah pertama, untuk itu kita perlu menentukan prioritas dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
5. Menyiapkan dana pendidikan anak.
Orang tua perlu menyiapkan biaya pendidikan anak untuk masa depan dimulai dari sekarang untuk meringankan beban orang tua dikemudian hari.
Jika kamu adalah generasi sandwich, maka tak ada salahnya untuk terbuka dengan orang tua untuk membahas kemampuan memberikan bantuan finansial. Dengan komunikasi yang terbuka, nantinya diharapkan sang orang tua akan mengerti dan tidak terlalu besar menuntut sehingga beban dan tingkat stress anak sedikit berkurang.
Sandwich Generation
Apa Itu Sandwich Generation? Ketahui Serba-Serbinya Berikut
Fenomena generasi sandwich kini banyak terjadi di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini biasanya terjadi pada seorang anak dalam suatu keluarga, di mana ia harus menghidupi orang tua, keluarganya sendiri, dan anak-anaknya dalam waktu bersamaan. Hasilnya, mereka sering mengalami tekanan psikis hingga memicu gangguan fisik seperti penyakit.
Bagi yang belum mengetahui apa itu sandwich generation, beberapa orang menganggap ini sebagai hal biasa sebagai bakti seorang anak terhadap keluarganya. Kenyataannya, orang yang terjebak dalam situasi ini dapat mengalami tekanan yang luar biasa. Padahal, dengan sejumlah langkah efektif yang dilakukan sejak dini, Anda dapat memperbaiki kondisi keuangan keluarga sehingga mencegah terjadinya fenomena generasi sandwich.
Apa itu Generasi Sandwich?
Seperti yang disebutkan di atas, generasi sandwich adalah sebuah fenomena di mana seseorang harus menghidupi tiga generasi keluarganya yang terdiri dari orang tua, dirinya sendiri, dan anaknya. Istilah ini dicetuskan oleh professor asal Kentucky University, yaitu Dorothy A. Miller, pada tahun 1981 dalam bukunya Social Work.
Ia menganalogikan fenomena ini seperti sebuah roti sandwich, di mana orang tua dan anak dianggap sebagai roti lapisan atas dan lapisan bawah, sedangkan seseorang yang terjebak dalam fenomena ini diibaratkan sebagai sebuah daging atau isi dari sandwich yang terhimpit di tengah-tengah roti.
Di Indonesia sendiri, sandwich generation cukup umum ditemui. Berdasarkan statistik dari BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2017, sebanyak 77,82 persen keluarga ditopang oleh anggota keluarga yang bekerja, dan hanya sekitar 7 persen yang mampu menghidupi dirinya sendiri lewat uang pensiun atau hasil investasi.
Sementara itu, lebih dari 50 persen lansia tinggal bersama anak, menantu, hingga cucunya dalam satu rumah yang sama. Hanya sekitar 20 persen saja lansia yang tinggal bersama pasangannya, sementara 9 persen memilih untuk hidup sendiri karena berbagai faktor.
Dampak dari Sandwich Generation
Setelah mengetahui apa itu sandwich generation, Anda juga wajib memahami dampak berbahaya yang bisa dialami oleh seseorang dalam generasi ini.
- Tingkat stres yang lebih tinggi
Banyaknya anggota keluarga yang harus dibiayai membuat seseorang dalam generasi sandwich berpeluang tinggi untuk mengalami stres. Hal itu terjadi karena mereka akan selalu mengalami kekhawatiran jika ada satu generasi yang tidak bisa dibiayai atau diberi makan. Sehingga, mereka bahkan tidak bisa menabung atau menggunakan penghasilan untuk diri sendiri. Prioritas mereka adalah memenuhi kebutuhan hidup orang yang ditanggung.
- Burnout atau kelelahan fisik dan juga mental pada diri sendiri
Sebagai hasil dari stres yang berkepanjangan, ditambah dengan beban pekerjaan yang semakin menumpuk, para generasi sandwich akan mengalami burnout di mana mereka merasa lelah fisik dan mental. Jika hal ini sampai terjadi, orang tersebut akan rentan terhadap penyakit fisik seperti kebotakan dini, pusing, dan kelelahan secara terus-menerus. Sementara itu, mereka juga bisa berisiko mengalami penyakit mental seperti panic attack atau depresi akut.
- Perasaan bersalah atau merasa tidak puas
Rasa bersalah jika mengalami kegagalan, atau merasa tidak puas saat mencapai sesuatu, juga menjadi dampak dari sandwich generation. Perasaan karena gagal sebagai tulang punggung keluarga, serta kehilangan satu dari sekian sumber penghasilan, dapat dialami oleh mereka jika gagal dalam karier. Namun, sekalipun mereka mampu mencapai karir yang cemerlang, mereka tidak akan merasa puas.
Hal ini terjadi karena mereka akan berusaha keluar dari ketakutan akan kekurangan dana untuk menghidupi anggota keluarga yang jumlahnya banyak. Hasilnya, mereka akan bekerja lebih keras lagi, yang berisiko meningkatkan stres dan depresi.
- Mudah merasa khawatir
Para generasi sandwich juga mudah untuk mengalami kekhawatiran jika terjadi sesuatu di luar rencana mereka. Misalnya, jika anak dan orang tua mengalami masalah kesehatan pada saat bersamaan, artinya mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak. Saat keuangan sedang pas-pasan, akan timbul perasaan cemas karena adanya pilihan yang sangat sulit dan memerlukan keputusan dalam waktu cepat.
Penyebab Terciptanya Sandwich Generation
Terdapat sejumlah faktor yang bisa menyebabkan terciptanya sandwich generation. Faktor-faktor tersebut adalah;
- Kurangnya kemampuan dalam finansial
Faktor pertama penyebab sandwich generation adalah kurangnya kemampuan seseorang dalam mengatur finansial. Misalnya, mereka tidak mempersiapkan tabungan untuk hari tua atau tidak memiliki simpanan cadangan untuk mencegah terjadinya hal yang memerlukan dana dalam jumlah besar. Sehingga, saat sudah waktunya untuk pensiun dan tidak lagi aktif bekerja, mereka tidak memiliki banyak uang untuk menghidupi kehidupannya sendiri dan harus bergantung kepada anak.
- Membeli barang-barang yang tidak penting
Kebiasaan membelanjakan uang untuk barang yang tidak penting ternyata juga bisa menjadi faktor terciptanya sandwich generation. Hal itu terjadi karena orang tersebut tidak mampu menentukan prioritas dan selalu membeli barang yang diinginkan dibandingkan dengan barang yang dibutuhkan.
- Orang yang dulunya merupakan generasi sandwich
Sejumlah negara berkembang mengalami masalah dalam memberantas situasi sandwich generation. Mereka menganggap bahwa anggota keluarga yang bekerja keras untuk menghidupi banyak anggota keluarga lainnya merupakan hal lumrah. Hasilnya, anak-anak yang terbiasa melihat fenomena ini kelak akan melakukan hal yang sama, di mana saat hari tua mereka akan bergantung kepada anak-anak mereka pula.
Cara Meminimalisir Terjadinya Sandwich Generation
Dengan mengetahui apa itu sandwich generation dan faktor yang menciptakannya, Anda juga perlu tahu bahwa kabar baiknya, situasi ini dapat diminimalisir. Artinya, banyak orang yang bisa terhindar dari generasi sandwich. Caranya adalah dengan melakukan beberapa hal ini:
- Mencatat pengeluaran dan pemasukan
Anda perlu mencatat setiap pengeluaran, baik untuk membeli kebutuhan atau barang lainnya, serta mencatat pemasukan yang diterima. Dengan begini, Anda bisa memonitor keuangan dengan baik dan mencoret pengeluaran yang kurang begitu penting kedepannya.
- Mengelola keuangan dengan bijak
Dengan mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan, Anda bisa mengelola keuangan dengan baik. Anda dapat mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, sehingga bisa fokus untuk menabung atau membeli barang yang merupakan kebutuhan saja.
- Memiliki penghasilan yang cukup, tidak dari satu sumber saja
Anda bisa mencari penghasilan di luar penghasilan utama. Sebagai contoh, Anda dapat memulai bisnis sampingan atau melakukan investasi. Alhasil, Anda tidak perlu kebingungan jika sewaktu-waktu memerlukan dana yang besar untuk keperluan bersifat mendadak.
- Komunikasikan bersama kerabat
Jika Anda sedang terjebak dalam situasi sandwich generation, yakinlah bahwa Anda tidak sendiri. Bagilah beban Anda kepada teman atau kerabat yang dipercaya. Jika memiliki saudara kandung, coba ajak mereka untuk diskusi agar kebutuhan keluarga bisa Anda tanggung sama-sama. Dengan begitu, beban finansial pun bisa sedikit berkurang, sehingga Anda dapat menabung lebih banyak.
Sumber :
https://www.prudentialsyariah.co.id/id/pulse/article/apa-itu-sandwich-generation/
3 Jenis Generasi Sandwich
Ada 3 Jenis Generasi Sandwich, Kamu Yang Mana?
15 June 2023 13:45
Indonesia merupakan negara yang secara natural mengalami Generasi Sandwich. Lihat saja bagaimana berbagai tuntutan dan keluh kesah Eva Manurung kepada menantunya mengenai uang bulanan untuk hidup dengan dalih sudah membesarkan anaknya Virgoun.
Pola pikir anak adalah investasi terbaik untuk hari tua tampaknya lebih menyilaukan dibandingkan dengan investasi saham yang secara ajaib mampu memberikan keuntungan dengan bunga berbunga atau compound interest.
Inilah salah satu alasan mengapa Generasi Sandwich tumbuh subur di Indonesia.
Beban seorang anak untuk menanggung beban orang tua baru satu jenis generasi sandwich dari tiga jenis. Apa saja jenisnya?
1. Traditional sandwich generation
Mereka yang masuk dalam kategori ini menanggung beban hidup orangtuanya, sekaligus pasangan dan anaknya. Tipe ini merupakan tipe yang seringkali diperbincangkan karena merupakan tipe umum dan sering menjadi studi kasus para perencana keuangan.
2. Club Sandwich Generation
Beban club sandwich generation tentu lebih besar ketimbang yang tradisional. Hal itu disebabkan karena, club sandwich menanggung beban keuangan keluarga di atas orangtuanya yang tidak lain adalah kakek-neneknya.
Dan bukan tidak mungkin, bisa saja mereka menanggung biaya hidup cucu-cucunya apabila mereka sudah memiliki cucu. Generasi sandwich yang satu ini umumnya berasal dari seseorang yang lahir dari keluarga besar.
3. Open faced sandwich generation
Kalau yang satu ini, umumnya adalah mereka yang sudah berkeluarga tapi belum memiliki anak. Namun pastinya, mereka harus menanggung beban orangtua.
Sekilas, beban keuangan mereka memang lebih kecil ketimbang tipe tradisional dan club sandwich. Mereka masih bisa melakukan ancang-ancang dalam hal keuangan untuk mengantisipasi masalah ini jika mereka memiliki momongan di kemudian hari.
Baik tipe tradisional dan open faced, sejatinya ada pula kategori extended yang merupakan kepanjangannya.
Disebut extended apabila mereka tidak hanya menanggung orangtua, melainkan saudara-saudara kandung mereka yang tidak lain adalah anak dari orangtuanya.
Sumber :
https://www.cnbcindonesia.com/mymoney/20230614060713-72-445676/ada-3-jenis-generasi-sandwich-kamu-yang-mana
BEBAN BERAT GENERASI SANDWICH
BEBAN BERAT JADI GENERASI SANDWICH. KAMU SALAH SATUNYA?
Pasti Sobat Sikapi sudah familiar kan dengan kata “sandwich’’? Tapi kalau generasi sandwich, apakah kamu sudah pernah mendengar sebelumnya atau baru pertama kali mengetahuinya?
Istilah ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1981 oleh seorang Profesor sekaligus direktur praktikum University Kentucky, Lexington, Amerika Serikat bernama Dorothy A. Miller. Generasi sandwich merupakan generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup 3 generasi yaitu orang tuanya, diri sendiri, dan anaknya.
Kondisi tersebut dianalogikan seperti sandwich dimana sepotong daging terhimpit oleh 2 buah roti. Roti tersebut diibaratkan sebagai orang tua (generasi atas) dan anak (generasi bawah), sedangkan isi utama sandwich berupa daging, mayonnaise, dan saus yang terhimpit oleh roti diibaratkan bagai diri sendiri.
Dikutip dari berbagai sumber, generasi sandwich terjadi pada seseorang baik pria maupun wanita yang memiliki rentan umur dari 30 hingga 40 tahun. Namun ada pula yang menyebutkan rentang umur antara 30 hingga 50 tahun. Namun, seorang Aging and Elder Care Expert (seniorliving.org) bernama Carol Abaya mengkategorikan generasi sandwich menjadi tiga ciri berdasarkan perannya.
1. The Traditional Sandwich Generation
Orang dewasa berusia 40 hingga 50 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan finansial.
2. The Club Sandwich Generation
Orang dewasa berusia 30 hingga 60 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua, anak, cucu (jika sudah punya), dan atau nenek kakek (jika masih hidup).
3. The Open Faced Sandwich Generation
Siapapun yang terlibat dalam pengasuhan orang lanjut usia, namun bukan merupakan pekerjaan profesionalnya (seperti pengurus panti jompo) termasuk ke dalam kategori ini.
Jika dilihat dari bebannya saja, dari sini kita sudah bisa merasakan bahwa generasi ini memiliki beban hidup yang cukup bahkan sangat berat. Lantas, mengapa generasi sandwich ini dapat terjadi?
Banyak faktor yang melatarbelakanginya, namun pada umumnya ini terjadi karena kegagalan finansial orang tua. Bukan maksud menyalahkan sepenuhnya, tapi orang tua yang tidak memiliki perencanaan finansial yang baik untuk masa tuanya akan berpotensi besar untuk membuat sang anak menjadi generasi sandwich berikutnya. Dan selanjutnya sang anak akan mengikuti jejak orang tuanya kelak sebagai orang tua yang tidak mandiri di masa tuanya, dan pada akhirnya berlanjut begitu seterusnya.
Bagaimana cara memutus rantai generasi sandwich?
Memutus rantai generasi sandwich bukanlah hal mudah yang dapat dilakukan begitu saja. Perlu konsistensi dan usaha yang lebih besar untuk dilakukan. Tak perlu untuk merasakannya terlebih dahulu. Bagi kamu yang saat ini beruntung karena belum berada di posisi ini, maka tak ada salahnya untuk mengikuti 6 langkah ini agar kamu dan generasi selanjutnya tidak lagi merasakan beban berat ini.
1. Miliki tabungan rencana
Jika kamu merasakan kesulitan untuk menabung, maka memilih tabungan rencana adalah sesuatu yang tepat. Tabungan rencana adalah tabungan dengan setoran rutin secara bulanan yang memiliki fasilitas auto debit dari rekening sumber ke rekening tabungan rencana dan penarikannya dibatasi sesuai ketentuan bank (https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/DetailMateri/421).
Tabungan rencana ini ada banyak jenisnya yaitu pernikahan, Haji atau Umrah, pendidikan, wisata, dan lainnya. Jadi apapun tujuanmu di masa depan, kamu dapat mengelola keuanganmu dengan bijak dan disiplin dengan tabungan rencana. Apalagi tabungan ini juga mendapatkan polis asuransi jiwa yang sesuai dengan ketentuan masing-masing bank.
2. Menyiapkan program pensiun
Sama dengan menabung, Sobat Sikapi akan membayar sejumlah uang yang sudah ditetapkan secara rutin dan hanya bisa diambil ketika memasuki usia pensiun. Program pensiun adalah langkah awal yang baik sebagai bukti sayang kamu kelak kepada anak dan berguna untuk menjamin kehidupan masa tua Sobat sehingga nantinya dapat meminimalisir terjadinya generasi sandwich pada anak Sobat.
Saat ini, program pensiun dapat dimiliki oleh siapapun, tidak hanya Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki program pensiun dari pemerintah. Jika kamu bukan ASN, maka kamu bisa menyiapkan program pensiun dengan mendaftarkan diri ke Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), yang telah dibahas secara lengkap di link: https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/10482
3. Miliki asuransi kesehatan
Semakin bertambahnya usia, ketahanan tubuh akan semakin mudah turun yang berimbas pada kesehatan. Hal ini harus benar-benar kamu perhatikan dengan membuat asuransi kesehatan baik untuk diri sendiri, orang tua, maupun anak. Dengan memiliki asuransi ini kamu akan mendapatkan jaminan kesehatan atas rawat inap, rawat jalan, pengobatan untuk gigi, penggantian kacamata, melahirkan sesuai dengan batasan yang dijamin polis.
Kamu bisa memilih untuk memiliki asuransi kesehatan dari pemerintah (BPJS Kesehatan) atau dari swasta. Kamu bisa memilih perusahaan asuransi swasta yang telah terdaftar dan diawasi oleh OJK (bit.ly/PerusahaanAsuransi2019 dan bit.ly/AgenAsuransiDes2019).
4. Kurangi gaya hidup konsumtif
Konsumtif atau tidaknya gaya hidup seseorang memang relatif dan tergantung dengan kemampuan seseorang. Namun tidak ada salahnya kita mengurangi gaya hidup konsumtif yang dirasa tidak perlu. Langkah pertama sebelum menguranginya, kamu harus menentukan prioritas dan membedakan antara kebutuhan dan keinginanmu.
5. Menyiapkan dana pendidikan anak
Dana pendidikan anak juga tak kalah penting sebagai upaya memutus mata rantai ini. Dengan asuransi pendidikan, orang tua dapat menyiapkan biaya pendidikan anak untuk masa depan dimulai dari sekarang dan tentu saja ini akan meringankan beban orang tua dikemudian hari.
Sebelum memilih asuransi pendidikan, pastikan kamu memperkirakan perhitungan biaya pendidikan anak secara detail, seperti akan memilih sekolah di mana yang disesuaikan dengan kemampuan finansial. Pilihlah perusahaan asuransi yang telah terdaftar dan diawasi oleh OJK (bit.ly/PerusahaanAsuransi2019 dan bit.ly/AgenAsuransiDes2019).
6. Mengajarkan anak untuk menabung dan belajar mandiri secara finansial
Perilaku gemar menabung harus diajarkan sedini mungkin oleh siapapun. Begitu pula jika kamu memiliki anak, maka segeralah untuk mengajarkan mereka belajar menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga memotivasi untuk membeli kebutuhan mereka dari uang hasil menabung. Hal ini efektif untuk membuat anak menjadi semangat menabung. Selain menabung di celengan, kenalkan anak untuk membuka tabungan di bank yang kini terdapat program khusus anak yaitu Simpanan Pelajar (SimPel) untuk pelajar SD hingga SMA dan Simpanan Mahasiswa & Pemuda (SiMuda) untuk usia 18 hingga 30 tahun (https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/20563) .
Jika Sobat Sikapi merupakan salah satu yang sedang mengalami menjadi generasi sandwich, maka tak ada salahnya untuk terbuka dengan orang tua untuk membahas kemampuan memberikan bantuan finansial. Memang pada ajaran agama dan prinsip budaya yang kita anut, anak diajarkan untuk berbakti dan membahagiakan orang tua. Namun, akan menjadi kurang tepat apabila kemudian diartikan jika orang tua yang sudah tidak berpenghasilan dapat dengan bebas menggantungkan diri pada anaknya yang bekerja. Dengan komunikasi yang terbuka, nantinya diharapkan sang orang tua akan mengerti dan tidak terlalu besar menuntut sehingga beban dan tingkat stress anak sedikit berkurang.
Semoga, kamu tidak menjadi generasi sandwich selanjutnya atau bahkan menjadi orang tua (generasi atas) yang dianalogikan sebagai roti penghimpit!
Sumber :
https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/20570
Monday, December 18, 2023
Strategi Hidup Frugal
Strategi Hidup Frugal di Tengah Arus Gaya Hidup Sosialita
21 July 2023 10:20
Frugal living bukan berarti memotong pengeluaran bulanan dan membuatmu menderita. Akan tetapi frugal living punya tujuan suci, yakni jalan untuk mencapai tujuan finansial. Frugal living adalah konsep hidup yang fokus pada prioritas keuangan dan mampu mengatur pengeluaran.
Seseorang yang ingin menerapkan gaya hidup frugal harus paham apa tujuan keuangan mereka dan bagaimana mencapai tujuan tersebut. Jadi dalam menjalani gaya hidup ini harus ada visi dan misi hidup, add list impian dan tujuan hidup di masa depan.
Frugal living ini yang menjadi strategi untuk mencapai visi keuangan tersebut. Gaya hidup ini tidak serta merta membuat seseorang dari makan 3 hari sekali menjadi 1 hari saja. Atau secara ekstrim berhemat seperti memotong anggaran bulanan misalnya Rp10 juta menjadi hanya Rp1 juta per bulan.
Ada langkah-langkah yang harus diterapkan dalam menjalani gaya hidup ini. Misalnya saja evaluasi pengeluaran selama ini, membuat prioritas dalam pengeluaran, bahkan dalam frugal living yang hemat kamu juga perlu investasi.
Ada beberapa metode atau strategi yang bisa kamu terapkan dalam menjalani frugal Living. Apa saja?
Cash is King, Utang Harus Lunas!
1. Evaluasi dan Lacak Pengeluaran
Pertama, kamu harus tahu ke mana perginya uangmu selama sebulan. Pengeluaran apa saja yang selama ini membuat uangmu pergi. Kamu bisa mulai mencatat pemasukan dan pengeluaranmu di aplikasi yang menyediakan fitur anggaran.
Cobalah dua bulan mencatat setiap pengeluaran, dan kamu bis amelakukan analisis serta pemetaan. Paling mudah adalah bisa mulai memilah berapa % untuk pengeluaran, berapa % untuk menabung, berapa % untuk hiburan, dan berapa % pemasukan anda untuk bayar cicilan.
Catatan ini bisa jadi modal awal untuk mengevaluasi pengeluaran. Setelah itu bisa mulai membangun prioritas pengeluaran dan mulai mencari pengganti dari pengeluaran yang kiranya boros.
Misalnya, pengeluaran paling besar adalah makanan. Kamu bisa mulai memasak untuk menghemat beberapa rupiah dari beli makanan di luar. Jika masak bagimu berat, kamu bisa gunakan jasa katering rumahan yang harganya bisa lebih murah ketimbang membeli makanan.
Atau kamu bisa berinvestasi dengan membeli mesin kopi seharga Rp1 jutaan dan tiap minggu mengeluarkan Rp100-150 ibu untuk membeli kopi bubuk atau kapsul kopi. Sehingga kamu bisa lebih hemat untuk membeli kopi seharga Rp40-50 ribu per gelas.
2. Lunasi atau Refinancing Hutang
Salah satu strategi lain untuk menghemat atau menjalani frugal living adalah mulai melunasi hutang-hutang mulai dari yang kecil. Dari mana uangnya? Bisa dari bonus tahunan atau bahkan merelakan Tunjangan Hari Raya yang dibagikan tiap tahunnya.
Jika belum cukup, kamu bisa melakukan refinancing hutang dengan cara melunasi hutang-hutang dengan bunga besar dengan hutang yang memiliki tingkat bunga rendah.
Misalnya kamu memiliki hutang pinjaman online yang bunga besar dan cicilan besar tiap bulannya. Kmau bisa melunasinya dengan pinjaman produk bank yang memiliki bunga pinjaman jauh lebih kecil sehingga beban tiap bulan tidak besar.
Investasi & Kontrol Belanjamu
3. Manfaatkan Diskon
Manfaatkan diskon-diskon atau potongan bisa jadi pilihan karena harga yang jauh lebih murah ketimbang jika membeli dengan harga normal. Salah satu contoh bisa dilakukan adalah membeli barang saat ada live di media sosial. Sebab harganya biasanya ada diskon hingga puluhan persen.
Atau ketika ada program dari pusat perbelanjaan seperti Transmart Full Day Sale akan dimulai pada 22 Juli 2023 sejak toko buka hingga pukul 22.00 WIB dengan promo-promo menarik diskon hingga 70%. Diskon seharian ini juga akan digelar di seluruh Transmart se-Indonesia.
Diskon ini berlaku untuk sejumlah produk, termasuk kebutuhan rumah tangga, aneka bahan-bahan pokok, hingga barang elektronik dan sepeda listrik.
4. Rencana Makan
Biasanya makanan jadi variabel pengeluaran terbesar dalam anggaran seseorang. Perencanaan makan dapat menghemat uang untuk makanan sekaligus menghilangkan pemborosan. Untuk merencanakan makan secara efektif, buka lemari es, freezer, dan dapur kamu dan lihat apa yang kamu miliki.
Cobalah merencanakan makanan berdasarkan apa yang sudah kamu miliki alih-alih membeli semua bahan. Misalnya, jika Anda memiliki sekotak pasta, bisa rencanakan memakan pasta dan hanya membeli bumbunya.
Makan makanan berdasarkan apa yang sudah kamu miliki menghemat uang dan memaksa Anda untuk menjadi kreatif. Punya sekotak telur dan tomat potong dadu? Buatlah hidangan shakshuka yang terinspirasi dari Timur Tengah. Punya roti dan daging giling? Membuat bakso buatan sendiri.
5. Investasi
Investasi adalah kunci untuk membangun kekayaan dan membuat uang Anda bekerja untuk kamu. Berivestasi bisa diinstrumen yang mampu mengalahkan inflasi untuk melindungi uangmu. Misalnya saja saham, reksa dana, atau Surat Berharga Negara (SBN).
Kamu harus mulai berinvestasi sesegera mungkin, karena waktu merupakan faktor penting untuk membangun'sarang telur yang kokoh' alias kekayaan.
Sumber :
https://www.cnbcindonesia.com/mymoney/20230720120319-72-455834/strategi-hidup-frugal-di-tengah-arus-gaya-hidup-sosialita?page=all
Tren Gaya Hidup Frugal Living
Mengenal Tren Gaya Hidup Frugal Living
Gaya hidup frugal living telah menjadi tren yang semakin populer di kalangan anak muda. Konsep frugal living berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan yang bijaksana dan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang tren gaya hidup frugal living dan bagaimana hal tersebut dapat memberikan manfaat positif dalam kehidupan sehari-hari bersama kampus swasta terbaik di Bali dan Nusa Tenggara, Institut Bisnis dan Telnologi Indonesia (INSTIKI).
Frugal living berbeda dengan hidup hemat secara ekstrem, civitas INSTIKI. Frugal living memiliki tujuan yang sama, yaitu mengendalikan pengeluaran agar tidak melebihi pendapatan. Konsep ini mengajarkan untuk berfokus pada kebutuhan dasar daripada mengedepankan keinginan konsumtif yang berlebihan. Dengan cara ini, individu dapat membangun kestabilan finansial jangka panjang dan mencapai kebebasan finansial lebih cepat.
Menyusun Rencana
Salah satu aspek penting dalam frugal living adalah pengelolaan anggaran. Dengan menyusun rencana anggaran yang disiplin, seseorang dapat mengidentifikasi area pengeluaran yang dapat dikurangi atau dihilangkan. Misalnya, mengurangi makan di luar, membatasi belanja impulsif, atau mencari alternatif murah untuk kebutuhan sehari-hari.
Gaya Hidup Minimalist
Selain itu, frugal living juga mendorong gaya hidup minimalist. Ini berarti mengurangi kepemilikan barang yang tidak diperlukan dan menghargai apa yang kita miliki. Mengurangi konsumsi barang berarti menghemat uang dan juga berdampak positif pada lingkungan karena mengurangi limbah dan dampak karbon.
Kreatifitas dan Mandiri
Gaya hidup frugal living juga mengajarkan nilai-nilai seperti kreativitas dan mandiri. Dengan mencari cara alternatif untuk mencapai tujuan atau kepuasan tanpa harus mengeluarkan banyak uang, individu akan mengasah keterampilan dan kemampuan mereka. Misalnya, memperbaiki barang yang rusak daripada membeli yang baru.
Mengurangi Stress
Selain manfaat finansial, frugal living juga berdampak pada kesejahteraan pribadi. Dengan mengurangi stres tentang masalah uang, individu dapat merasa lebih tenang dan bahagia. Mereka dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup, seperti hubungan sosial, kesehatan, dan perkembangan diri.
Tidak hanya itu, gaya hidup frugal living juga membantu mengurangi tekanan pada lingkungan. Dengan membeli produk yang tahan lama, menghindari pemborosan, dan mengurangi sampah, individu dapat berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan planet kita.
Meskipun gaya hidup frugal living memiliki manfaat yang banyak, tentu saja tidak selalu mudah untuk diimplementasikan. Memerlukan komitmen dan kesadaran untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan konsumtif. Namun, dengan sedikit kesabaran dan tekad, manfaat jangka panjang yang diperoleh dari frugal living akan sangat berharga.
Sumber :
https://instiki.ac.id/2023/08/03/mengenal-tren-gaya-hidup-frugal-living/
Related Posts
-
Psikologi di Balik Cara Kita Mengelola Uang Tipe Psikologi Keuangan: Money Avoiders, Money Vigilance, Money Status, dan Money Focus Kenapa O...
-
Kegiatan mudik tidak hanya sekedar perjalanan, jika tidak ada perencanaan yang matang, mudik bisa menjadi ajang yang mengecewakan. Semua ...
-
Perencanaan Keuangan dalam Investasi: Dari Risiko Terendah hingga Tertinggi Secara garis besar, kita bisa bagi menjadi 3 tujuan dan level in...
-
Pengelolaan keuangan pribadi adalah salah satu keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap individu. Tanpa kemampuan untuk m...
-
Memahami Perkataan Charlie Munger: “The Big Money Is Not in the Buying or Selling, but in the Waiting” Charlie Munger, partner lama Warren B...

