Wednesday, January 5, 2022

Value Investing

Lo Kheng Hong: Tips Cari Saham Mercy Seharga Avanza

05 January 2022 09:30


Investor kawakan pasar modal, Lo Kheng Hong mengakui sampai saat ini tetap menerapkan strategi investasi untuk menemukan saham super dengan harga yang lebih murah dari harga wajarnya atau disebut value investing.

Meski hal itu dinilai cukup sulit untuk sebagian orang, Lo tetap menjalankan value investing sampai sekarang.

"Biasanya yang ngomong begitu [sulit] yang gak punya saham, andai kata punya, sahamnya sedikit. Tapi kalau orang yang sahamnya banyak, nggak ngomong seperti itu. Tetap dia value investing tetap berjalan, beli Mercy harga Avanza," kata Lo Kheng Hong, dalam siniar yang dipublikasikan Syailendra Capital, dikutip Rabu (5/1/2022).

Lo juga menuturkan, berdasarkan pengalaman yang dia alami selama ini, investasi di instrumen saham tetap menjadi pilihan terbaik kendati ia mempunyai investasi di aset lain seperti properti.

"Ada sedikit, berbentuk vila, saya punya vila di Puncak, saya tinggal di sana. Saya tidak investasi di tempat lain, saham is the best choice. Tapi yang saya yakini belum dipercaya 99% masyarakat Indonesia, mereka taruh di bank, properti. Di kepala saya sudah tercantum, saham is the best choice," beber Lo.

Sebelumnya, berbekal ilmu value investing tersebut, Lo menerapkannya dalam berinvestasi di emiten-emiten yang mengolah komoditas sumber daya alam (SDA).

Hampir sebagian besar cuan atau keuntungan yang dibukukan investor kenamaan ini justru berasal dari saham-saham yang berbasis komoditas.

Alasannya, pergerakan harga komoditas yang fluktuatif menjadi kesempatan untuk mendapatkan untung besar.

"Saya banyak mendapatkan keuntungan dari saham komoditas. Dulu ada PT Timah Tbk (TINS), PT Indika Energy Tbk (INDY) perusahaan batu bara, ada PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), karena komoditas itu berfluktuasi," kata Lo, Sabtu (24/10/2020).

Ia juga selalu mencermati pergerakan harga komoditas. Contohnya, dia tahu jika harga batu bara berfluktuasi dari harga US$ 100/ton dan drop ke US$ 50/ton, tapi bisa berbalik arah dalam waktu yang sangat cepat.

"Saya membeli saham batu bara ketika bad time, saat harganya murah. Saya beli, saya simpan karena saya tahu, suatu hari harganya pasti akan ke US$ 100/ton. Ketika harga batu bara ke US$ 100, perusahaan batu bara untung besar dan harga sahamnya naik 4.000% dan saya jual," bebernya.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/market/20220105082722-17-304655/lo-kheng-hong-tips-cari-saham-mercy-seharga-avanza?

Sunday, December 12, 2021

Bukan Sumber Dana Daruratmu

Perhatikan! 4 Hal Ini Bukan Sumber Dana Daruratmu

Dana Darurat merupakan salah satu pondasi dasar untuk mengukur seberapa sehat keamanan keuangan yang kita miliki, ibarat rumah kalau pondasinya nggak kuat, nggak kokoh pasti diterpa angin, hujan, maupun cuaca ekstrim lainnya pasti roboh, sama halnya dengan kondisi keuangan yang kita miliki, sebegitu pentingnya peran dana darurat, agar kita tidak mudah mengalami kesulitan keuangan, ada baiknya kita sesegera mungkin menghimpun dana darurat yang kita miliki.

Besar dana darurat pastinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan status, kebutuhan, setiap individu berbeda-beda, karena jumlahnya yang mungkin terbilang cukup besar bagi setiap individu dengan kemampuan dan kondisi keuangan yang berbeda, maka kabar baiknya dana darurat bisa dicicil, tidak harus dihimpun dalam satu waktu, harus sebesar dengan kebutuhan kita, namun jika ada yang memutuskan demikian pun juga tidak masalah, hal tersebut bagus adanya, tinggal sekarang melakukan diversifikasi penyimpanannya, agar bisa melawan laju inflasi.

Nah kasus di atas adalah contoh bagi kita yang baru paham betapa pentingnya dana darurat, dan yang telah memiliki dana darurat, lalu, berikut adalah beberapa poin tentang salah kaprahnya asal atau sumber dana yang kelak akan kita gunakan sebagai dana darurat kita, apa saja? bisa dilihat poin per poinnya.


1. Segala Instrumen Utang, KTA, Pinjaman Online, Kartu Kredit.

Hayo siapa yang disini masih berpikir demikian?, kalau-kalau dalam keadaan terdesak, instrumen utang merupakan dana darurat yang bisa memenuhi kebutuhan kita dalam keadaan terjepit? ngaku! jujur! sedari sekarang! Kalau pun masih melakukan hal demikian, ya bisa dibilang lumrah atau sah-sah aja sih, tapi dengan catatan apabila posisi kita memang sedang dalam tahap baru menghimpun dana darurat dan kita membutuhkan dana yang besar.

Kalau pun kecil selama masih mampu di selesaikan dengan sejumlah uang yang kita miliki, dan sudah kita rencanakan sebagai dana darurat, lebih baik menggunakan uang tersebut. Dan bila dalam jumlah besar, mungkin kita bisa menggunakan fasilitas cicilan di sini.

Begini penjelasannya, namanya dana darurat kita terdesak, kalau kita berutang justru akan menambah beban bunga yang harus kita bayar lagi, baik dalam bentuk apapun itu instrumen utangnya, namun seperti yang disebutkan mungkin lumrah kalau kita sedang dalam tahap menghimpun dana darurat, dan butuh dalam jumlah besar, di sebagian kasus nyata, sah-sah saja misal menggunakan kartu kredit sebagai dana darurat dengan beberapa catatan.

Menggunakan kartu kredit untuk dana darurat harus melunasi sebelum tagihan kita terbit, atau membayar penuh sesuai yang kita sudah gunakan dan bukan pembayaran minimum, pun juga memperhatikan tanggal jatuh temponya, guna menjaga kredibilitas kita dimata kreditur apabila mau menggunakan instrumen utang sebagai dana darurat, namun sejujurnya tidak disarankan.


2. Uang Milik Orang Tua.

Begini, sebenarnya menggunakan uang milik orang tua kita sebagai dana darurat bisa dilihat dalam berbagai macam sudut pandang semuanya tergantung kondisi keuangan orang tua kita, pengalaman yang kita tahu, serta cara berpikir kita, karena bagi Sebagian dari kita yang memiliki orang tua yang bisa dibilang sehat secara keuangan akan sangat lumrah menjadikan orang tua sebagai tumpuan kebutuhan keuangan kita dalam kondisi terdesak, namun tidak bagi kita yang datang dari generasi sandwich.

Menjadikan uang milik orang tua sebagai dana darurat bukanlah pilihan yang bijak, selain bergantung juga pada bantuan kita, masa iya sih kita tega meminta Kembali uang yang sudah kita berikan kepada orang tua kita, untuk kita gunakan Kembali, karena kondisi keuangan kita juga mengkhawatirkan.

Namun begini, sebagai pribadi yang seharusnya mandiri dan sehat secara keuangan, tidak semestinya kita menyulitkan kondisi keuangan orang tua kita, meskipun kita memang ternyata dalam kondisi kesulitan secara keuangan, namanya dalam proses mandiri, hal tersebut lumrah sebagai tantangan yang harus kita lewati, meskipun akan ada dari kita yang mengatakan, kondisi meminjam uang kepada orang tua lebih baik ketimbang terkena bunga dari instrumen utang.

Yes!, jawabannya bisa jadi benar-benar saja, tapi pasti Sebagian yang tetap pada pendirian lebih baik terkena bunga ketimbang menjadi beban orang tua pun juga bisa benar, pada akhirnya, kita pelan-pelan saja untuk mulai melepaskan beban orang tua kita, apabila kita belum mampu langsung sepenuhnya, karena Kembali lagi, kondisi keuangan setiap orang berbeda-beda, yang penting, tercapai tujuan keuangan kita mandiri secara dana darurat bermanfaat!


Sumber :

https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-5852148/perhatikan-4-hal-ini-bukan-sumber-dana-daruratmu-1.

Saturday, September 11, 2021

Cara Jadi 'Sultan' di Umur 25 Tahun

3 Cara Jadi 'Sultan' di Umur 25 Tahun

11 September 2021


Masih ingat gaji pertama kamu habis untuk beli apa saja? Handphone baru, fesyen terbaru, perawatan wajah, atau travelling? Wajar, namanya juga gaji pertama. Pastinya semua wishlist dari zaman kuliah satu per satu diupayakan bisa wujudkan. 

Tapi, ingat jangan sampai kebablasan. Apalagi kalau dari semua wishlist tersebut bersifat konsumtif dan tidak ada nilai investasi. Punya penghasilan sendiri artinya harus mandiri mengatur keuangan pribadi. Beli baju baru boleh saja, tapi di zaman canggih seperti sekarang banyak sekali vendor penyewaan baju dengan langganan per hari, per minggu, atau per bulan.

"Sehingga pengeluaran kamu sudah terukur," ungkap Tim Analis OCBC NISP, dilansir dari keterangan resminya, Sabtu, 11 September 2021.

Dengan kira-kira pendapatan bulanan sebesar Rp7,5 juta, yuk simak tips menuju kaya bak sultan saat usia 25 tahun nanti. 

Pertama, setiap penghasilan rutin yang terima langsung dipisahkan 50 persen untuk kebutuhan inti, kurang lebih sebesar Rp3,75 juta harus mencukupi untuk biaya transportasi per bulan, sewa tempat tinggal, kebutuhan kesehatan, dan biaya cicilan. 

"Kalau tidak cukup, artinya harus ada yang dikurangi yang sifatnya konsumtif, misalnya, tidak perlu nyicil sesuatu untuk saat ini," tukasnya.

Kedua, 30 persen dipergunakan untuk dinikmati atau kurang lebih sebesar Rp2,2 5juta. Pada aspek ini tentu dianggarkan untuk senang-senang. Misalnya, belanja bulanan, makan di resto kece, member gym, nonton bioskop, dan jalan-jalan. Kalau tak cukup, member gym ditunda dulu. 

"Sebagai ganti, lari pagi depan rumah atau pilih-pilih event untuk makan di luar," kata Tim Analis OCBC NISP.

Ketiga, ini yang paling wajib dan bukan disisakan paling akhir. Wajib hukumnya untuk disisihkan di awal sebesar 20 persen untuk tabungan atau kurang lebih sebesar Rp1,5 juta. Ini untuk persiapan dana pensiun, dana darurat, dan investasi yang memang bersifat jangka panjang. 

"Karena memang tujuannya untuk jangka panjang maka sebaiknya mencari investasi yang tidak tergerus inflasi dan bertumbuh, misalnya, reksa dana saham. Belum telat untuk memulai investasi. Berinvestasi pada reksa dana saham pun tidak harus dengan nominal besar, bahkan bisa mulai dengan minimum Rp20 ribu," ucapnya.

Adapun semua risiko yang berpotensi terjadi pada reksa dana dapat dimitigasi jika melakukan perencanaan dan manajemen investasi yang baik. Kuncinya adalah rutin dalam berinvestasi dan tentukan jangka waktu investasi.

"Yang penting selalu ingat financially fit itu mulai dari meningkatkan pemahaman dasar, memperbaiki kebiasaan manajemen keuangan yang salah, dan meluruskan mindset terkait finansial yang keliru. Sehingga, kamu dapat mengambil keputusan keuangan yang tepat," pungkasnya.


Sumber :

https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/9K5Qm23K-3-cara-jadi-sultan-di-umur-25-tahun

Sunday, August 8, 2021

Berapa Persen Gaji untuk Investasi?

Berapa idealnya dana investasi?

Selasa, 08 Desember 2020

Risza Bambang CFP, Founder OneShildt Financial Planning, menyebut, seseorang mesti memutuskan berapa persen alokasi dana untuk investasi. Secara umum, idealnya alokasi untuk investasi sebanyak 10% dari pendapatan. 

Namun hal ini kembali bergantung pada kondisi gaya hidup dan kesehatan keuangan masing-masing individu. “Orang yang bisa mengelola gaya hidupnya lebih baik, seharusnya dia bisa investasi lebih dari 10%,” kata Risza ketika dihubungi, Selasa (8/12).

Risza mengatakan, jika rasio kemampuan menabung (selisih pendapatan dikurangi pengeluaran) lebih dari 10%, maka seseorang bisa mengalokasikan investasi lebih dari 10%. Bisa berkisar 10% sampai 40%, tergantung rasio kemampuan menabung. “Semakin besar rasionya, harusnya itu suatu keuntungan bagi orang tersebut untuk bisa pensiun lebih cepat,” ucap dia.

Kemudian, ada dua hal yang harus dipertimbangkan sebelum memilih instrumen investasi. 

Pertama, keuntungan ganda (capital gap), apakah instrumen instrumen investasi memiliki nilai tambah yang besar. 

Kedua, apakah instrumen investasi itu bisa menghasilkan pendapatan yang regular.

Risza menilai, investasi logam mulia (emas batangan) bisa menjadi opsi instrumen investasi. Selain logam mulia yang merupakan universal currency, juga merupakan pilihan investasi yang aman. Selama emas batangan lebih sedikit pasokannya daripada permintaannya maka secara rata-rata harganya akan naik terus dalam jangka panjang.

Kemudian, opsi lain untuk investasi adalah investasi di saham. Namun, bagi yang ingin berinvestasi saham, Risza mengingatkan agar mempunyai pengetahuan cukup mengenai saham dan mesti jeli dalam memilah-milah saham yang memiliki prospek bagus.

“Saham (bisa memiliki) keuntungan ganda. Saham kalau dia blue chip nilainya meningkat, sementara dia bisa memberikan deviden jadi ada fixed income,” ujar dia.

https://newssetup.kontan.co.id/news/berapa-idealnya-dana-investasi


Berapa Jumlah Ideal yang Harus Diinvestasikan atau Ditabung? Ini Jawabannya

Investasi yang dilakukan berpotensi untuk memberikan penghasilan pasif kepada Anda secara teratur. Tentukan berapa nilai penghasilan pasif yang diinginkan dari investasi yang Anda lakukan secara teratur.


Ketahui Profil Resiko Anda

Profil resiko terdiri dari 3 yaitu konservatif, moderat, atau agresif dan hal ini tentu saja berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Jika Anda menginginkan tingkat pengembalian yang tinggi, maka sudah seharusnya bersedia menanggung resiko yang lebih tinggi. Anda juga harus bersedia melihat pergerakan nilai investasi yang naik dan turun secara drastis.


Jangka Waktu Investasi

Jangka waktu investasi akan sangat menentukan jenis instrumen investasi yang mampu memberikan tingkat imbal hasil yang optimal. Jika Anda bertujuan untuk berinvestas dalam rentang waktu 10 – 15 tahun, maka saham bisa menjadi pilihan investasi yang mampu memberikan hasil optimal dalam rentang waktu tersebut. Jadi, tentukan jangka waktu investasi yang akan Anda pilih sebelum memutuskan berapa jumlah uang yang perlu disisihkan setiap bulannya.


Nilai Ideal yang Harus Diinvestasikan Setiap Bulan

Anggaran yang banyak disarankan oleh ahli keuangan adalah 50/30/20, dimana Anda menggunakan 50% untuk biaya hidup seperti makan, transpotasi, dan lainnya, selanjutnya 30% untuk membayar hutang, dan 20% untuk tabungan dan investasi. Kami juga setuju dengan rekomendasi yang diberikan di atas yaitu menghemat sekitar 20% dari total penghasilan bulanan Anda. Namun, jumlah tersebut bukanlah angka yang tetap dan harus diikuti, sebab kondisi keuangan masing-masing orang berbeda. Artinya jika Anda memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari rata-rata penghasilan yang didapatkan masyarakat. Jumlah tabungan dan investasi yang disisihkan setiap bulan bisa lebih besar dari patokan di atas. Atau jika Anda merasa nilai 20% terlalu besar dengan jumlah penghasilan yang didapatkan. Persentase 20% bisa diturunkan lagi untuk menyesuaikan agar jangan sampai terbebani dengan


Alasan di Balik Nilai 20% Merupakan Jumlah Ideal

Berdasarkan perhitungan kasar, dimana Anda mulai mendanai pada usia 20-an dengan rata-rata imbal hasil 5% setahun. Jumlah 20% dari total penghasilan yang didapatkan merupakan jumlah yang sangat ideal untuk mencapai kemandirian finansial di masa depan. Artinya dengan hasil investasi yang Anda lakukan sejak usia muda, Anda tidak perlu lagi bekerja sepanjang usia untuk menikmati masa tua nantinya.


Apa yang Harus Dilakukan Saat Anda Tidak Mampu Menyimpan 20%?

Misalnya saja saat ini Anda sudah berkeluarga dengan penghasilan Rp 2 Juta setiap bulan, tentu saja jumlah 20% untuk berinvestasi menjadi hal yang sangat memberatkan untuk dilakukan. Saat kondisi di atas terjadi jangan gunakan patokan 20%, tetapi sisihkan uang sedikit demi sedikit secara bertahap. Anda bisa memulai investasi dengan menyisihkan 5% dari penghasilan bulanan yaitu Rp 100.000. Dengan nilai uang tersebut, investasi sudah bisa Anda lakukan melalui KoinWorks yang menawarakan imbal hasil mulai dari 18% bunga efektif dalam setahun. Dengan modal Rp 100.000 setiap bulannya, tentu saja tidak terlalu memberatkan Anda yang saat ini memiliki penghasilan yang pas-pasan. Jika penghasilan sudah meningkat, mulailah menambah persentase untuk diinvestasikan yaitu 10%, 15%, sampai pada akhirnya mampu mencapai 20%.

https://koinworks.com/blog/jumlah-ideal-dipengalokasian-danakan-ditabung/


Berapa Uang Yang Harus Disisihkan Tiap Bulannya Untuk Investasi Saham?

Kita perlu menyisihkan sebagian uang untuk ditempatkan di instrumen investasi. Karena investasi di jaman sekarang, bukan lagi kebutuhan tapi juga keharusan. Bisa di investasi properti, emas, atau saham. Fungsinya untuk mempersiapkan masa depan finansial yang lebih baik. Namun yang menjadi pertanyaan banyak calon investor adalah: Berapa idealnya besaran dana yang harus disisihkan setiap bulannya untuk investasi?

Cara ini paling sederhana adalah menentukan kita mau menyisihkan berapa persen dari penghasilan untuk investasi. Para ahli menyarankan sekitar 20-30% dari jumlah uang yang kita miliki untuk diinvestasikan di instrumen investasi jangka panjang seperti saham.

Seorang miliarder Hong Kong, Li Ka-Shing, berbagi tentang bagaimana mengelola uang dengan bijak menurut versinya. Ia menguraikan tentang cara pengelolaan uang yang sangat mudah.

No matter how much you earn, always remember to divide it into five parts proportionately. Always make yourself useful. – Li Ka-Shing

Tidak peduli seberapa banyak uang yang kamu dapatkan, selalu ingat untuk membagi uangmu ke dalam 5 bagian yang proporsional. Selalu membuat dirimu berguna. – Li Ka-Shing

Masing-masing uang yang dibagi memiliki peruntukannnya sendiri. Salah satu dari 1/5 bagian itu diinvestasikan.

Saya sendiri tidak membuat batasan berapa persen seperti di atas. Saya tidak terlalu banyak membuat perhitungan yang terlalu njlimet soal berapa persen uang yang harus disisihkan dari penghasilan setiap bulannya untuk investasi. Lagipula penghasilan saya juga tidak tetap, maklum trader full time. Saya lebih cenderung memasukkan uang SEMAKSIMAL MUNGKIN ke dalam pasar saham. Yang penting uang tersebut adalah uang dingin atau idle money (dana menganggur) .

Uang dingin atau idle money yang dimaksud adalah uang yang tidak dimaksudkan untuk keperluan tertentu atau mendesak. Artinya di luar dana kebutuhan sehari-hari, asuransi, dana darurat, uang pendidikan anak, uang cicilan rumah, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah supaya kita tetap tenang berinvestasi dan idak terlalu khawatir apabila misalnya hasil investasi sedang kurang terlalu baik.

Apakah Anda menggunakan cara berapa persen dari penghasilan atau cara lainnya, tidaklah terlalu penting. Yang penting, Anda memulai berinvestasi sejak dini dan tidak menunda investasi saham. 

http://www.juruscuan.com/investasi/361-berapa-uang-yang-harus-disisihkan-tiap-bulannya-untuk-investasi-saham

Sunday, July 25, 2021

Dana Darurat Namun Gaji Pas-Pasan

Begini Cara Memiliki Simpanan Dana Darurat Yang Besar Meski Gaji Pas-Pasan!


Punya simpanan dalam jumlah besar tentu menjadi idaman banyak orang, apalagi di masa pandemi seperti sekarang. Kabar baiknya, tak pernah ada kata terlambat buat memulai. Meski gaji kita pas-pasan, kita bisa mulai menyiapkan dana darurat yang besar dari sekarang. Simak caranya berikut ini, yuk!


1. Menabung di awal gajian

Seberapa kecil pun gaji yang Anda terima tiap bulan, penting untuk membiasakan diri menyisihkan uang di awal. Semampunya saja asalkan rutin dilakukan tiap bulan. Setelah itu sesuaikan pengeluaran bulanan agar tak perlu mengganggu tabungan yang sudah Anda sisihkan itu. Jadi bukan menunggu sisa baru menabung, ya!


2. Pasang target

Dana darurat tiap orang bisa berbeda-beda. Anda bisa memasang target jangka panjang untuk 10-20 tahun ke depan, tentu dengan pertimbangan yang realistis ya, tanpa membandingkan ke penghasilan orang lain yang berbeda jauh dengan kita. Akan lebih baik lagi kalau ini dibarengi rencana peningkatan karier yang berujung pada peningkatan gaji pula.


3. Bagi menjadi target jangka pendek

Biar nggak pusing dan stres memikirkan target dana darurat, bagi menjadi target jangka pendek. Misalnya Anda pasang target Rp100 juta untuk 10 tahun ke depan, artinya dalam setahun Anda perlu menabung sebanyak 10 juta. Kalau target tahunan sudah tercapai, pasti ke depannya lebih semangat menabung dan nggak tergoda memakainya.


4. Diversifikasi

Kalau sudah terbiasa menabung dan target tahunan sudah tercapai, Anda bisa memindahkan sebagian tabungan ke bentuk lain. Contohnya mata uang asing atau reksadana. Diversifikasi aset ini penting meski tidak banyak. Ibaratnya 'telur-telur' Anda disimpan di keranjang berbeda, agar tidak hancur semua kalau sesuatu terjadi pada salah satu keranjang.


5. Gaya hidup sederhana

Sebesar apapun gaji kita, kalau gaya hidup kita banyak foya-foya, tak akan pernah bisa cukup untuk menabung. Karena itu, tak usah merasa minder bergaul karena hidup hemat dan sederhana, demi punya tabungan dana darurat yang cukup di masa depan. Ini artinya harus rela liburan hemat dan meminimalisasi jajan, ya!


6. Disiplin menabung

Kelanjutan poin pertama tadi, kalau sudah berhasil menabung rutin, maka mindset untuk disiplin menabung ini harus dilanjutkan. Misalnya kalau Anda ada rezeki lebih, sisakan juga untuk menambah tabungan. Anda juga bisa membiasakan menabung dulu untuk membeli barang idaman atau liburan impian.


7. Fokus pada tujuan

Akan ada masanya menabung dalam jangka waktu panjang itu tidak mudah. Ada masanya Anda akan tergoda memakai jumlah uang yang terus bertambah. Namun, setiap kali godaan itu muncul, ingat kembali tujuan Anda mengumpulkannya: untuk biaya menikah kah, biaya darurat apa pun itu, atau biasa pensiun.


Sumber :

https://womantalk.com/lifehack/articles/begini-cara-memiliki-simpanan-dana-darurat-yang-besar-meski-gaji-pas-pasan-A0evm?

Wednesday, July 14, 2021

Gaji Pas-Pasan Tapi Bisa Membiayai Anak Sampai Kuliah

Cara Agar Gaji Pas-Pasan Bisa Membiayai Sekolah Anak Sampai Lulus Kuliah!

Setiap orang tua idealnya tentu ingin agar anak-anak mereka mendapatkan segala hal yang terbaik dalam hidup, termasuk pendidikan. Namun membiayai pendidikan anak memerlukan kesiapaan finansial, apalagi jika mengingat pendidikan anak kita diharapkan sampai lulus perguruan tinggi. Lalu bagaimana cara membiayai sekolah anak dengan gaji pas-pasan? Menurut Prita Ghozie dalam sebuah program di Metro TV, ini beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orang tua untuk menyiapkan dana pendidikan anak!


1. Siapkan ketika memutuskan punya anak

Idealnya, menurut Prita, kita mulai menyiapkan dana pendidikan saat memutuskan ingin punya anak, menabung sedikit demi sedikit dengan persentase minimal 10% dari pendapatan bulanan kita sebagai calon orang tua. Ini akan meringankan tanggung jawab kita membiayai sekolah anak dengan gaji pas-pasan di saat anak sudah mulai bersekolah nanti. 


2. Siapkan saat anak masih dalam kandungan

"Kalau sudah tak mungkin menyiapkan sebelum hamil, mulai (menabung dana pendidikan) selagi anaknya belum lahir," lanjut Prita. Kalau baru menyiapkan di tahap ini, Prita mengingatkan untuk bersikap bijak. Katanya, "Jangan sampai punya anak pertama jor-joran, pas ada adik, si kakak pindah sekolah, atau sekolah gak sama sama adik karena biayanya nggak ada."


3. Siapkan dua pos khusus tabungan pendidikan

Ada dua pos yang harus disiapkan orang tua untuk pendidikan anak yang sudah masuk usia sekolah. Pertama, pos pengeluaran untuk biaya sekolah bulanan dan keperluan pendukungnya. Kedua, pos tabungan untuk persiapan uang pangkal di sekolah lanjutan, atau untuk persiapan tahun ajaran baru.


4. Siapkan dengan investasi

Anda perlu menghitungberapa lama lagi anak akan masuk sekolah. Saran Prita, kalau untuk si anak sudah akan masuk sekolah, siapkan simpanan jangka pendek berupa tabungan, atau reksadana pasar uang. Jika masih akan sekolah beberapa tahun lagi, Anda bisa memilih beragam reksadana lainnya, emas, dan obligasi pemerintah. Sementara kalau jangkanya di atas 10 tahun, Anda bisa ambil investasi yang agresif, seperti reksadana saham atau saham.


5. Siapkan asuransi untuk memberikan proteksi

Agar pendidikan anak terjamin, orang tua juga sebaiknya menyiapkan asuransi pendidikan. Menurut Prita, asuransi ini sebenarnya bertujuan untuk melindungi orang tua sebagai penjamin biaya pendidikan anak. Sehingga kalau terjadi sesuatu kepada orang tua, anak tetap mendapat manfaat klaim asuransi ini.

 

Menyiapkan biaya sekolah anak kalau gaji orang tua pas-pasan memang bukan perkara mudah. Namun ini merupakan tanggung jawab orang tua yang secara sadar menginginkan kehadiran anak di tengah keluarga. Prinsipnya, kenali dulu kemampuan Anda dan lakukan perencanaan sejak dini, ya, biar nggak kewalahan di kemudian hari!


Sumber :

https://womantalk.com/lifehack/articles/cara-agar-gaji-pas-pasan-bisa-membiayai-sekolah-anak-sampai-lulus-kuliah-DEO04

Tuesday, June 22, 2021

Harus Punya 6 Rekening Bank

Pakar Keuangan Sarankan Punya 6 Rekening Bank, Untuk Apa Saja?

Mengatur keuangan menjadi salah satu hal yang diperhatikan setelah pandemi menyerang. Banyak orang baru sadar pentingnya mengelola finansial dengan 'rapi' dan rutin menyisihkan dana darurat setelah tiba-tiba kehilangan penghasilan. 

Seorang pakar keuangan yang pernah masuk Forbes 30 under 30 pun memberikan sarannya. Agar lebih mudah menabung dan merencanakan tujuan finansial, ia menganjurkan untuk punya enam akun terpisah.

Adalah Victoria Devine, penasehat keuangan terkenal asal Australia yang sering memberi masukan tentang masalah keuangan anak-anak muda. Menurutnya, penting untuk mereka memisahkan tabungan agar mudah mengetahui apakah rencana finansial kamu berjalan dengan benar. 

"Sangat pribadi memang terkait jumlah rekening bank tapi secara pribadi aku selalu menyarankan klien punya paling tidak enam jadi mereka bisa memantau budget dan cashflow," ujarnya.

"Dua yang paling penting adalah untuk rekening utama jadi kamu tidak sembarangan menghabiskan semuanya yang ada di rekening dan rekening dana darurat jadi kamu tidak tergoda untuk mengambilnya," kata Victoria.


1. Rekening Utama

Sediakan satu rekening khusus untuk menjadi pusat dari penghasilanmu, terutama untuk kamu yang punya beberapa sumber. Rekening itu seharusnya menjadi tempat berkumpulnya gaji sesaat setelah diterima. Disarankan agar rekening itu tidak punya kartu debit sehingga kamu tidak tergoda untuk memakainya sembarangan. Namun atur agar rekening itu secara otomatis mentransfer atau bisa mengambil uang ke rekening lain yang digunakan untuk membayar berbagai keperluan.


2. Makanan dan Senang-senang

Menurut Victoria, rekening kedua yang perlu dipunya adalah khusus keperluan bulanan seperti makanan, bensin, berbagai tagihan, juga untuk senang-senang. Jika sulit untuk mengira-ngira berapa uang yang dibutuhkan per bulan, kamu mentransfer uang setiap minggunya tentu dengan jumlah yang sudah ditentukan. Victoria sendiri melakukannya setiap hari Kamis.


3. Dana Darurat

Yang tak kalah penting adalah rekening khusus dana darurat. Hal ini sudah banyak disarankan oleh penasehat keuangan tapi tak banyak orang melakukan. Padahal tabungan ini bisa sangat dibutuhkan untuk waktu-waktu darurat seperti diberhentikan dari pekerjaan atau keperluan besar mendadak lain. Dianjurkan agar kamu punya paling tidak jumlahnya cukup untuk bertahan hidup selama tiga bulan tanpa gaji.


4. Tabungan Jangka Pendek

Disarankan pula agar kamu punya tabungan jangka pendek. Rekening ini dimaksudkan untuk menampung tujuan-tujuan finansial dalam waktu dekat, misalnya liburan, hadiah ulang tahun, gadget atau keperluan cukup besar lain. "Akun ini sebaiknya tidak berbiaya dan tinggi bunga," ujar Victoria dilansir Dailymail.


5. Tabungan Jangka Panjang

Sedangkan tabungan jangka panjang dimaksudkan untuk sesuatu yang lebih besar dan akan dipakai di masa depan. Misalnya untuk pernikahan, membeli rumah, pendidikan anak, dan lain-lain.


6. Tabungan Darurat Kedua

Akun rekening lain yang perlu dibuka adalah untuk tabungan darurat kedua. Victoria menggunakan rekening itu untuk hal-hal mendadak tapi kamu tidak bisa ketinggalan, misalnya hadiah pernikahan teman atau saudara, konser, perbaikan rumah, dan lain-lain. Jumlahnya sendiri tidak disebutkan tapi bisa disesuaikan dengan penghasilan dan kebutuhan.


Sumber :

https://wolipop.detik.com/money-hacks/d-5616307/pakar-keuangan-sarankan-punya-6-rekening-bank-untuk-apa-saja

Related Posts