Monday, February 1, 2021

Jika Fintech Kolaps

Inilah pihak yang bertanggung jawab jika fintech kolaps

Jumat, 07 September 2018 / 11:34 WIB

Pesatnya pertumbuhan perusahaan teknologi (fintech) peer to peer (P2P) lending di Indonesia, membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membuat sejumlah aturan untuk mengembangkan dan mengawasi bisnis pembiayaan digital tersebut, termasuk dalam mengantisipasi perusahaan ini kolaps atau bangkrut.

Lalu, siapa pihak yang bertanggung jawab jika peruhan fintech P2P lending ini kolaps?

Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot menegaskan bahwa pihak bertanggung jawab jika fintech tersebut kolaps adalah penyelenggara fintech P2P lending. Asalkan, pihak penyelenggara terbukti lalai dalam menjalankan bisnis, yang disebabkan oleh ulah pegawai, pengurus atau pihak ketiga yang bertugas untuk kepentingan perusahaan.

Hal ini sesuai Peraturan OJK Nomor 77/POK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, pada pasal 37 menyebutkan penyelenggara wajib bertanggung jawab atas kerugian pengguna yang timbul akibat kesalahan atau kelalaian Direksi atau pegawai penyelenggara.

“Selama ada unsur kerugian, kesalahan atau kelalaian dari penyelenggara baik direksi, komisaris dan pegawai. Dan kelalaian ini dapat dibuktikan, maka menjadi tanggung jawab penyelenggara,” kata Sekar Djarot, belum lama ini.

Menurutnya, platform P2P lending di Indonesia hanya diperbolehkan menjadi perantara antara pemberi pinjaman dan penerima pinjaman. Berdasarkan POJK 77 Tahun 2016, bahwa tanggung jawab penyelenggara hanyalah kepada pengguna, yaitu pemberi pinjaman dan penerima pinjaman.

Terkait fintech yang kolaps ini, OJK mengantisipasinya dengan menyeleksi secara ketat perusahaan fintech mana saja yang beroperasi di Indonesia. Mereka harus mengantongi tanda terdaftar dan berizin, dengan memenuhi hak dan kewajiban sebagai penyelenggara.

“Penyelenggara yang terdaftar dan atau berizin wajib melaksanakan komitmen, di mana OJK akan mengawasi pelaksanaan dari pemenuhan atas hak dan kewajiban pengguna tersebut.,” jelas Sekar.

Sementara, jika terjadi gagal bayar yang disebabkan oleh peminjam, itu menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari pemberi pinjaman atau investor. OJK mewajibkan penyelenggara menyampaikan secara terbuka terkait risiko kredit atau gagal bayar. Dari risiko itu investor sudah mengetahui konsekuensi menjadi pemberi pinjaman P2P Lending, termasuk risiko kerugian dan gagal bayar.

Oleh karenanya masyarakat diimbau untuk memahami secara keseluruhan hak dan kewajiban sebagai pengguna layanana P2P lending, terutama sebelum menyepakati perjanjian pinjam meminjam sebagai investor fintech lending.

Namun demikian, untuk mengantisipasi risiko gagal bayar tersebut, OJK mendorong perusahaan fintech P2P lending bisa bekerja sama dengan perusahaan asuransi kredit, penjaminan kredit atau pegadaian dalam menjamin dan merestrukturisasi utang antara peminjam dan investor.

Di samping itu, penyelenggara fintech yang akan mendaftarakan diri ke OJK juga wajib tergabung dalam anggota asosiasi fintech terkait. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan berlapis dari asosiasi kepada anggotanya, selain juga pengawasan OJK terhadap penyelenggara fintech lending.

Penyelenggara yang tidak mampu melanjutkan kegiatan operasional wajib menyelesaikan hak dan kewajiban kepada pengguna. OJK hanya memastikan penyelesaian hak dan kewajiban penyelenggara kepada pengguna layanan. Oleh karenannya, masyarakat diimbau untuk secara cermat untuk memahami risiko menjadi pengguna layanan fintech lending.

Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Ajisatria Sulaeman menyatakan, penyelenggara wajib bertanggung jawab, apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum atau penipuan yang menyebabkan perusahaan itu kolaps.

Sementara untuk kasus gagal bayar, ia membenarkan bahwa itu menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari investor. Pihak penyelenggara hanya berwenang untuk menyeleksi peminjam berdasarkan tingkat risiko, serta mempunyai kuasa untuk melakukan penagihan.

“Makanya investor harus pintar menyeleksi calon peminjam. Pada awalnya, investor juga sudah punya kesepakatan dengan penyelenggara jika terjadi gagal bayar,” tutupnya.


Sumber :

https://keuangan.kontan.co.id/news/inilah-pihak-yang-bertanggung-jawab-jika-fintech-kolaps

133 Fintech Ilegal

133 Fintech Abal-Abal Diciduk, Benarkah Jumlahnya Makin Berkurang?

01 Februari 2021  |  17:31 WIB

Satuan Tugas atau Satgas Waspada Investasi kembali menemukan dan mengamankan 133 platform fintech peer to peer lending ilegal pada Desember 2020 hingga awal Januari 2021.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing menyatakan bahwa pihaknya, yang beranggotakan 13 kementerian dan lembaga masih menemukan entitas fintech ilegal pada awal tahun ini. Kehadiran perusahaan-perusahaan itu berpotensi merugikan masyarakat.

Meskipun tetap muncul, menurut Tongam terjadi penurunan temuan fintech ilegal. Hal tersebut menjadi angin segar karena peredaran fintech ilegal kerap menjerat masyarakat dalam praktik investasi yang tidak sesuai aturan.

“Dari upaya pencegahan dan patroli siber yang terus menerus kami lakukan, angka temuan fintech lending dan penawaran investasi ilegal ini menurun dibanding sebelumnya," ujar Tongam pada Senin (1/2/2021).

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, Satgas Waspada Investasi menciduk 120 fintech P2P lending ilegal sepanjang Januari 2020. Namun, jumlah tersebut memiliki periode perhitungan yang berbeda dibandingkan dengan data awal 2021 ini.

Terlepas dari jumlah tersebut, Tongam menyatakan agar masyarakat terus menjaga kewaspadaan agar tidak menjadi korban dari fintech lending ilegal. Sosialisasi akan bahaya entitas ilegal itu pun harus terus dilakukan secara intens.

Satgas Waspada Investasi menilai penawaran fintech lending ilegal masih akan muncul di tengah-tengah masyarakat, bersamaan dengan investasi ilegal lainnya. Oleh karena itu, menurut Tongam, masyakarat harus memahami dua L.

“Yaitu Legal atau perusahaan itu harus punya izin dari otoritasnya, dan Logis atau penawaran keuntungan yang ditawarkan sesuai dengan keuntungan yang wajar,” ujar Tongam.


Sumber :

https://finansial.bisnis.com/read/20210201/563/1350769/133-fintech-abal-abal-diciduk-benarkah-jumlahnya-makin-berkurang

Friday, January 29, 2021

Saham Top Gainers di 2020

Saham-saham ini jadi top gainers di 2020, bagaimana rekomendasi sahamnya?

Minggu, 03 Januari 2021 / 21:34 WIB
 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah atau melemah 0,95% ke level 5.979,07 pada perdagangan terakhir tahun 2020, Rabu (30/12). Secara year to date, IHSG terkoreksi sebesar 5,09%.

Berdasarkan RTI, pada perdagangan Rabu (30/12), tercatat 143 saham naik, 365 saham terkoreksi, dan 119 saham diam di tempat. Adapun volume perdagangan tercatat 24,71 miliar dengan nilai transaksi Rp 14,51 triliun.

Sejumlah saham mencetak kenaikan harga tertinggi pada tahun lalu adalah PT BRI Syariah Tbk (BRIS) yang melesat 581,82% ke harga Rp 2.250 per saham, disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) yang meroket 422,73% menuju harga Rp 1.035 per saham, PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) meroket 240% ke harga Rp 4.250 per saham, PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) naik 171,96% ke harga Rp 575 per saham.


Kemudian, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) menguat 142,05% menuju harga Rp 1.065 per saham dalam setahun, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) merangkak 130,36% ke harga Rp 1.935 per saham.

Lalu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 127,10% ke harga Rp 2.430 per saham, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) melesat 116,05% ke harga Rp 350 per saham, PT Timah Tbk (TINS) naik 80% ke harga Rp 1.485 per saham, dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menguat 40,79% ke harga Rp 428 per saham.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, saham-saham tersebut menguat seiring dengan adanya aksi korporasi yang dilakukan oleh emiten. Pertama, saham BRIS yang mulai meroket setelah ada rencana merger dengan bank-bank syariah.

“Harga ANTM dan TINS menguat salah satunya karena kabar holding Indonesia Battery,” ujarnya ketika dihubungi Kontan, Minggu (3/1).

Selain itu, kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi saat Covid-19 turut mendorong harga saham ANTM dan MDKA. Sementara itu, masuknya KB Kookmin Bank sebagai pemegang saham pengendali BBKP dinilai menjadi sentimen positif untuk pergerakan harga saham BBKP.

Menurut Nafan, masuknya Kookmin ke Bukopin memberikan optimisme yang tinggi bagi pelaku usaha Korea Selatan di Indonesia. Dalam catatan Kontan, saat ini terdapat sekitar 2.000 perusahaan besar, kecil, dan menengah asal Korea Selatan seperti Samsung, Hyundai Motor, LG dan lain-lain. Dari jumlah tersebut, sekitar 190 perusahaan merupakan nasabah Kookmin di Korea Selatan.

Nafan melanjutkan, saham-saham top gainers ini juga memiliki fundamental yang cukup bagus. Misalnya saja, PT Kimia Farma Tbk yang mencetak pertumbuhan penjualan di tengah pandemi Covid-19.

Emiten farmasi plat merah ini mencatat kenaikan penjualan sejak Januari hingga September 2020 hingga 2,47% year on year (yoy) menjadi sebesar Rp 7,05 triliun. Jumlah tersebut naik dari periode yang sama tahun 2019 yang tercatat Rp 6,88 triliun.

Ia juga menilai, ANTM dan INCO memiliki fundamental yang cukup kuat, kenaikan harga nikel berdampak signifikan bagi produsen nikel ke depannya.

Sebagai informasi, per kuartal ketiga 2020, ANTM membukukan laba bersih senilai Rp 835,78 miliar atau naik 30,28% secara tahunan. Secara kuartalan, laba bersih ANTM naik hingga 105% dibanding kuartal sebelumnya.

Dari sisi penjualan, emiten pertambangan pelat merah ini membukukan pendapatan senilai Rp 18,03 triliun atau menurun 26% secara tahunan. Hanya saja, secara kuartalan, penjualan Aneka Tambang melesat hingga 119% dari Rp 4,02 triliun di kuartal kedua 2020 menjadi Rp 8,81 triliun.

Sedangkan INCO mencatat pertumbuhan laba bersih hingga 47.800% secara tahunan menjadi US$ 76,64 juta di kuartal III 2020, dari hanya US$ 160.000 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di saat yang bersamaan, pendapatan Vale Indonesia naik 12,7% secara tahunan, dari US$ 506,46 juta menjadi US$ 571,02 juta pada sembilan bulan 2020. Secara keseluruhan, Nafan memandang saham-saham tersebut masih memiliki prospek yang cukup baik tahun ini.

Ia memberikan rekomendasi maintain buy ANTM dengan target harga Rp 2.240 atau Rp 2.250. Serta rekomendasi maintain buy saham KRAS dengan target harga Rp 474, target selanjutnya Rp 498, Rp 515, dan Rp 515.

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menyarankan pelaku pasar untuk tetap berhati-hati pada saham-saham yang mengalami kenaikan tertinggi di 2020. Reza mengungkapkan sejumlah kabar berita mengenai emiten terkait turut mengungkit harga sahamnya.

“Jadi, pelaku pasar memanfaatkan momen tersebut untuk masuk ke saham-saham tersebut. Apalagi, kalau saham-sahamnya masih dinilai rendah oleh pelaku pasar dan adanya anggapan akan meningkatnya kinerjanya karena pemberitaan itu,” tambahnya.

Dilihat dari laporan keuangan hingga kuartal III tahun lalu, Reza melihat BRIS, BBKP, dan KRAS mempunyai fundamental yang cukup baik karena masih mencatatkan laba. Hanya saja Reza belum dapat memberikan rekomendasi untuk saham-saham ini.


Sumber :
https://investasi.kontan.co.id/news/saham-saham-ini-jadi-top-gainers-di-2020-bagaimana-rekomendasi-sahamnya?page=2

Tuesday, January 26, 2021

Idx GJTL


1. Lo Kheng Hong Koleksi GJTL, Apa Benar Masih Murah & Menarik?

Jagat pasar modal domestik kembali dibuat gempar pada perdagangan Jumat (8/1/21). Pasalnya nama investor kawakan Lo Kheng Hong muncul sebagai pemegang saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang dikendalikan oleh keluarga pengusaha Sjamsul Nursalim.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Lo Kheng Hong menggenggam 176,48 juta saham atau setara dengan 5,06% kepemilikan. Data ini muncul pada laporan KSEI pada Kamis (7/1/2020).

Investor yang dikenal dengan julukan Warren Buffet-nya Indonesia ini juga sudah mengkonfirmasi kepemilikanya di saham GJTL kepada CNBC Indonesia.

"PT Gajah Tunggal adalah pabrik ban terbesar di Asia Tenggara, dengan penjualan Rp 9,6 triliun selama 9 bulan 2020. Nilai buku per saham Rp 1.782. Ketika pandemi harga sahamnya turun ke Rp 300-an, jadi Saya membelinya. Murah," ujar Lo kepada CNBC Indonesia, Jumat (8/1/2021).

Bahkan sebelumnya, Kheng Hong memang berkali-kali menyebut harga saham GJTL salah harga, yang mencerminkan harganya yang tergolong murah.

"Kalau tidak salah harga, saya tidak disini. Kalau Rp 3.000 saya tidak datang, tapi karena GJTL saat ini Rp 600," kata LKH usai menghadiri paparan publik GJTL di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (12/12/2017), seperti dikutip dari lembaga riset reksa dana, Pasardana

Lo Kheng Hong sendiri memang terkenal sebagai value investor atau investor berbasis nilai dimana pria yang akrab disapa LKH ini senang mencari saham-saham yang salah harga, kondisi dimana nilai pasar saham jauh lebih murah dari nilai intrinsik saham tersebut.

Sontak saja setelah kabar ini tersebar, pasar langsung merespons. Tercatat pada penutupan perdagangan Jumat (8/1/21) harga saham GJTL ditutup terbang tinggi 25% ke level harga Rp 825/unit menyentuh level tertingginya alias terkena auto reject atas (ARA).

Volume transaksi saham GJTL juga melesat kencang yang menunjukkan antusias para investor untuk bertransaksi di saham produsen ban ini.

Data BEI mencatat, volume transaksi GJTL naik dari posisi hari sebelumnya di angka 77.441 lot saham menjadi 1,32 juta lot saham senilai Rp 103,82 miliar.

Antrean pembelian GJTL di harga ARA (batas atas auto reject) mencapai 1,26 juta lot atau senilai Rp 104,30 miliar yang menunjukkan antusiasme para pelaku pasar untuk membeli saham GJTL, sehingga saham ini berpotensi besar melanjutkan apresiasinya pada perdagangan hari ini.

Gajah Tunggal merupakan perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur ban, baik untuk kendaraan pribadi seperti mobil, kendaraan komersial seperti bus atau truk, maupun ban motor.

Situs resminya mencatat, produk ban keluaran perseroan salah satunya adalah merek GT Radial untuk ban mobil dan IRC untuk ban motor.

Pabrik GJTL berlokasi di dalam negeri yakni di kawasan industri Gajah Tunggal di Tangerang serta pabrik lain yang berlokasi di Serang

Masuknya investor kawakan Kheng Hong tentu saja membuat para pelaku pasar bertanya-tanya apakah benar saham GJTL memang masih tergolong murah dan salah harga?

Bagaimana kondisi fundamental perusahaan dan prospek usaha GJTL?

Apakah kondisi industri manufaktur ban yang menjadi mesin utama pendapatan GJTL akan cerah di tahun 2021?


2. Produsen Ban Terbesar di Asia Tenggara

Akibat merebaknya pandemi Covid-19 di Tanah Air dan penerapan PSBB di berbagai wilayah, kinerja keuangan produsen ban mobil merek GT Radial ini ikut terdampak. Hal tersebut tercermin dari penurunan penjualan bersih yang mencapai 19,4% (yoy).

Pada periode 9 bulan tahun 2020 total penjualan GJTL tercatat mencapai Rp 9,62 triliun turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 11,94 triliun.

Meskipun turun, perseroan berhasil menjadi perusahaan manufaktur ban publik dengan penjualan terbesar di Asia Tenggara, jauh melampaui posisi PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) di posisi kedua dan Southern Rubber Industry JSC asal Vietnam di posisi ketiga.

Kedua perusahaan tersebut hanya mampu membukukan penjualan masing-masing Rp 2,77 triliun dan Rp 2,12 triliun dimana angka tersebut tentunya terlihat kerdil dibandingkan dengan penjualan GJTL di angka Rp 9,62 triliun.

Perseroan memang sudah terkenal sebagai 'Raja Ban' Asia Tenggara. Hal ini terlihat dari total penjualan GJTL yang mendominasi di kawasan ASEAN dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan publik lain yang bergerak di bidang yang sama.

Tercatat di tahun 2019 penjualan GJTL mencapai Rp 15,93 triliun. Angka ini berhasil menempatkan GJTL pada posisi pertama di antara produsen-produsen ban publik di Asia Tenggara lain. Bahkan angka tersebut berhasil mendominasi dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan ban lain.

Meskipun penjualan terpaksa turun pada tahun 2020, pandemi nCov-19 ternyata mendatangkan keuntungan tersendiri bagi GJTL paling tidak dari sisi produksi karena beban biaya yang ditanggung oleh perusahaan juga mengalami penurunan yang cukup besar.

Beban pokok penjualan (HPP/COGS) perusahaan turun 21,4% (yoy) pada periode Januari-September 2020 dibanding tahun 2019. Di saat yang sama beban penjualan juga mengalami penurunan sebesar 28,6% (yoy).

Penurunan beban biaya emiten ban motor IRC dan Zeneos tersebut turun diakibatkan oleh rendahnya harga material untuk produksi dan penurunan tingkat utilisasi pabrik.

Kendati penurunan beban biaya jauh melebihi penurunan penjualan, GJTL harus membukukan rugi bersih senilai Rp 104 miliar hingga kuartal ketiga tahun lalu. Padahal GJTL mampu mencetak laba bersih hampir Rp 140 miliar tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, anjloknya laba GJTL lebih dipicu oleh kondisi eksternal yakni depresiasi rupiah yang tajam tahun lalu dan bukan kondisi internal perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang tidak diaudit September 2020, kerugian selisih kurs tercatat mencapai Rp 304 miliar.


3. Likuiditas Perusahaan Masih Terjaga di Tengah Pandemi

GJTL memang memiliki eksposur terhadap risiko depresiasi nilai tukar tinggi mengingat porsi kewajiban perusahaan seperti utang obligasi, fasilitas kredit perbankan hingga utang usaha kepada para pemasok dalam mata uang asing yang juga tinggi.

GJTL tercatat memiliki total aset dalam mata uang asing mencapai Rp 3,12 triliun. Sementara itu total kewajiban dalam mata uang asingnya tercatat Rp 6,55 triliun. Artinya GJTL mencatat kewajiban bersih (net liabilities) dalam mata uang asing mencapai Rp 3,43 triliun.

Saat pandemi Covid-19 menghantam kinerja keuangan dunia usaha Tanah Air, banyak perusahaan yang mengalami masalah likuiditas. Namun tidak dengan GJTL. Perusahaan masih memiliki kas dengan setara kas senilai Rp 699 miliar dan jika ditambah dengan aset keuangan lancar lainnya senilai Rp 289,6 miliar maka dana segarnya hampir Rp 1 triliun.

Nilai working capital (aset lancar-kewajiban lancar) yang masih positif Rp 2,74 triliun mengindikasikan bahwa perusahaan mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya. Hal ini juga diperkuat dengan rasio likuiditas lain seperti current ratio dan quick ratio yang masih lebih tinggi dari rule of thumb di angka 1.


4. Ditopang oleh Valuasi yang Sangat Murah4 dari 4 Halaman

Untuk melihat apakah valuasi GJTL masih tergolong 'salah harga' alias murah maka perlu diperhatikan beberapa metrik valuasi yang umum digunakan. Salah satunya adalah dengan menggunakan indikator nilai buku (book value).

Nilai buku GJTL menggunakan laporan keuangan periode September 2020 adalah sebesar Rp 1.783/unit. Kendati saham GJTL melesat dan menyentuh level auto reject atas (ARA) pada perdagangan akhir pekan lalu ke Rp 825/unit, sejatinya harga pasarnya masih jauh di bawah nilai buku riilnya.

Saham GJTL saat ini ditransaksikan di 0,46 kali nilai bukunya (price to book value/PBV) yang tentu saja masih sangat murah apabila dibandingkan dengan rata-rata PBV industri produsen ban global yang berada di angka 2,25 kali.

Bahkan apabila menggunakan nilai intrinsik saham GJTL yang biasanya tentunya lebih besar daripada nilai bukunya, para pelaku pasar akan mendapatkan angka yang lebih menakjubkan.

Tercatat nilai intrinsik saham GJTL menggunakan metode permodelan Refinitiv StarMine Projection Model berada di angka Rp 2.301,24/unit. Bagi seorang value investor yang tertarik untuk mengkoleksi saham GJTL masih memiliki margin of safety (MOS) yang besar yaitu 64,15%.

Hal ini menunjukkan saham GJTL berpotensi mencatatkan keuntungan bagi para investor mencapai 278,93% apabila harga pasar GJTL kembali ke level nilai intrinsiknya di angka Rp 2.301.24/unit.

Namun menggunakan valuasi berdasarkan nilai buku saja tentunya tidak cukup mengingat perusahaan bergerak di sektor manufaktur yang cenderung capital intensive maka butuh metrik valuasi lain seperti dengan membandingkan harga pasar dengan laba perusahaan (price to earning/PER), harga pasar terhadap penjualan (price to sales/PS), harga pasar dengan arus kas (price to cash flow/PCF) hingga nilai perusahaan terhadap pendapatan masih kotornya (EV/EBITDA).

Metrik tersebut (valuation multiples) juga harus dibandingkan dengan perusahaan kompetitor di industri yang sejenis.

Kompetitor GJTL yang juga merupakan perusahaan publik adalah PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) yang juga menjual ban mobil dengan merek Achilles dan ban motor Corsa yang menjadi pesaing utama GJTL dan menduduki posisi produsen ban terbesar kedua di Asia Tenggara.

Menggunakan metode valuasi yang lebih sensitif dan membandingkannya dengan kompetitor, maka diperoleh kesimpulan bahwa valuasi GJTL memang tergolong murah relatif terhadap MASA karena angka metriknya yang jauh lebih rendah untuk semua indikator.


Outlook Industri

Kendati pandemi Covid-19 belum bisa dikontrol sampai saat ini, bahkan pemerintah memutuskan untuk menerapkan PSBB ketat di Jawa Bali, dimulainya program vaksinasi Covid-19 di dalam negeri menjadi harapan bangkitnya perekonomian Indonesia.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia tahun ini berada di angka 4,4%. Lembaga keuangan global lain yaitu Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan lebih bullish karena meramal ekonomi RI tumbuh 4,8%.

Pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) yang diikuti dengan penurunan suku bunga kredit diharapkan mampu mendongkrak permintaan kredit.

Penurunan suku bunga kredit tentu positif untuk sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga seperti properti hingga otomotif (motor dan mobil) mengingat pembelian rumah dan barang tahan lama tersebut banyak mengandalkan kredit.

Peningkatan permintaan mobil dan motor juga positif untuk sektor manufaktur yang menopangnya seperti industri spare-part dan industri ban yang menjadi industri utama GJTL.

Selain itu industri otomotif yang merupakan industri siklikal dengan pent-up demand yang tergolong tinggi, dimana industri ini lebih diuntungkan dengan pemulihan ekonomi pasca terserang pandemi Covid-19. Hal ini tentu saja menguntungkan GJTL yang beroperasi di industri turunan otomotif.

Outlook nilai tukar rupiah juga positif. Adanya kemungkinan inflow dana asing yang masif akan mengangkat kinerja rupiah dan menurunkan volatilitasnya. Penurunan volatilitas rupiah merupakan hal yang baik bagi GJTL melihat eksposur terhadap valuta asing tergolong tinggi.

Bahkan terpilihnya Joe Biden, kandidat dari Partai Demokrat di Pemilihan Presiden Amerika Serikat juga membawa berkah tersendiri bagi GJTL. Hal ini mengingat secara historis pemimpin dari Partai Demokrat doyan menggelontorkan stimulus fiskal dengan nilai yang fantastis.

Dengan cairnya stimulus fiskal maka nilai mata uang Dolar AS berpotensi melemah karena jumlah dolar beredar yang meningkat sehingga tentunya hal ini akan menguntungkan GJTL yang tercatat membukukan penjualan ekspor bersih mencapai Rp 3,84 triliun atau setara dengan 39,95% total penjualan bersih GJTL.

Apalagi mengingat dari total ekspor bersih tersebut mayoritas diekspor ke Benua Amerika yakni senilai Rp 2,68 triliun sehingga tentunya dengan melemahnya nilai Greenback akan menguntungkan perusahaan secara langsung apalagi mengingat komponen produksi GJTL mayoritas merupakan produk lokal.

Selain itu sebagian besar hutang perusahaan juga tercatat dalam mata uang dolar yakni senilai Rp 556,62 miliar atau sebesar 39,46% dari total hutang perusahaan. Dengan melemahnya nilai Greenback maka perseroan akan lebih mudah untuk melunasi atau membayar bunga kewajibanya yang tercatat dalam mata uang Paman Sam.

Di sisi lain perusahaan juga berupaya untuk melakukan lindung nilai (hedging) dari fluktuasi nilai tukar dengan membeli produk keuangan derivatif berupa call spread option dengan tujuan untuk mengelola resiko nilai tukar mata uang terhadap Senior Secure Facilities perusahaan yang bernilai Rp 1,83 triliun.

Overall, outlook perekonomian dan industri yang positif di tahun 2021 diharapkan mampu mendongkrak kinerja keuangan GJTL sebagai market leader industri ban, baik di Tanah Air maupun di Asia Tenggara.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/market/20210111073830-17-214893/lo-kheng-hong-koleksi-gjtl-apa-benar-masih-murah-menarik/4

Idx Cleo

Menerawang Prospek Saham Sariguna Primatirta (CLEO)

Rabu, 26 Juni 2019 | 22:55 WIB

Prospek PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) kian segar. Analis memperkirakan, performa keuangan emiten yang memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) ini berpeluang semakin moncer ke depan.

Sepanjang tiga bulan pertama 2019, CLEO berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan sekitar 37% dari Rp 162,59 miliar pada kuartal I-2018 menjadi Rp 223,54 miliar. Capaian tersebut, berada di atas pertumbuhan rata-rata industri AMDK yang hanya 4%.

Belum berhenti di situ, Pada periode sama, laba bersih perusahaan ini juga melompat 101% menjadi Rp 25,29 miliar.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, dari sisi pendapatan, performa CLEO tak lepas dari karakter bisnis perusahaan, di sektor barang konsumen. Pada saat yang bersamaan, data consumer price index (CPI) juga mengalami kenaikan. Begitu juga dengan data inflasi.

"Hal itu mencerminkan daya beli masyarakat cenderung meningkat," ujar Sukarno, Selasa (25/6).

Setali tiga uang, analis MNC Sekuritas Victoria Venny NS. menjelaskan, tak menutup kemungkinan ada sentimen negatif di semester II. Akan tetapi, berbagai program bantuan dari pemerintah untuk masyarakat menjadi faktor kuat yang mendorong pertumbuhan sektor konsumsi masih positif di tahun ini.

Data makro ekonomi yang memberi sinyal adanya peningkatan daya beli masyarakat memang mempengaruhi fundamental CLEO. Di sisi lain, CLEO juga mampu mengoptimalkan peluang itu dari sisi internal.

Analis Senior Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih mengatakan, terdapat penurunan utang yang cukup besar di keuangan CLEO sepanjang tahun lalu. Alhasil, terjadi penurunan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan air minum tersebut di tahun ini.

Hal itu yang membuat sisi laba CLEO kuartal pertama tahun ini moncer. "EBITDA juga terus meningkat," terang Alfatih.

Alfatih menambahkan, melihat sejumlah data makro, sektor konsumer yang juga merupakan sektor bisnis CLEO tahun ini bakal prospektif. Kalau pun tidak meningkat, minimal pergerakan bisnis di sektor ini stabil.

William Hartanto, analis Panin Sekuritas memiliki pandangan senada. Menurutnya, tren industri AMDK memang saat ini cenderung stagnan. Namun, pada saat yang bersamaan, pemain di industi ini tidak akan pernah kehabisan pangsa pasar.

"Sehingga, yang menjadikan industri tersebut kompetitif dilihat dari kualitas dan harga jual produk itu sendiri," jelas William.

Berbicara soal saham, Rabu (26/6) kemarin, CLEO ditutup menguat 2 poin ke level Rp 388 per saham. Sejak awal tahun, saham ini telah mengakumulasi kenaikan hampir 37%.

Menurut Alfatih, secara teknikal saham CLEO berada dalam tren naik dan masih berada di atas moving average (MA) 20 serta indikator stochastic yang berada di atas 50. Untuk itu, dia merekomendasikan buy untuk saham CLEO dengan target harga Rp 420 per saham dan berhenti saat menyentuh level Rp 376 per saham.

Tak jauh berbeda, Analis Panin Sekuritas William Hartanto juga merekomendasikan beli untuk saham CLEO, dengan target harga akhir tahun Rp 565 per saham. Menurutnya, harga saham emiten ini masih berpotensi untuk melanjutkan penguatan.

Sementara, Sukarno menyarankan untuk berhati-hati. Pasalnya, saham CLEO sudah memasuki area jenuh beli (overbought).

"Harga sudah mulai berada di area overbought. Investor yang mau masuk kembali harus waspada. Dari sisi teknikal, harga berpotensi melemah," jelasnya.

Dia mengungkapkan, jika harga terus turun dan menembus level support yakni Rp 378 per saham, maka ke depannya memungkinkan untuk lanjut turun ke level Rp 350 per saham. Hingga akhir tahun, saham CLEO berpotensi bergerak ke level Rp 410 per saham.


Sumber :

https://insight.kontan.co.id/news/menerawang-prospek-saham-sariguna-primatirta-cleo

Tuesday, September 29, 2020

RI Resesi Jadi Peluang Investasi

RI Resesi Jadi Peluang Investasi, Ayo Kaya Sebelum Tua!


Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) adalah tragedi kesehatan dan kemanusiaan. Namun kemudian menyebar menjadi persoalan sosial-ekonomi.

Menangani virus corona, berbagai negara mengedepankan kebijakan pembatasan sosial (social distancing). Sebisa mungkin manusia dibuat berjarak antara satu dengan yang lain, agar risiko penularan virus bisa diminimalkan. Di Indonesia, kebijakan ini diterjemahkan dalam bentuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Aktivitas masyarakat dibatasi untuk sementara agar mengurangi risiko penyebaran virus corona. Pembatasan kegiatan masyarakat ini yang kemudian membuat pandemi Covid-19 menjadi problema sosial ekonomi.

Saat masyarakat diminta sebisa mungkin untuk #dirumahaja, maka aktivitas produksi akan terhambat. Permintaan konsumen pun berkurang, karena apa yang mau dibeli kalau ngendon di rumah?

Virus corona telah memukul ekonomi di dua sisi sekaligus, penawaran (supply) dan permintaan (demand). Hasilnya, ekonomi Indonesia menciut. Ukuran ekonomi yang dicerminkan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2020 turun 5,32%.

Kuartal III-2020 memang belum berakhir, tinggal hitungan hari. Namun kemungkinan besar kontraksi (pertumbuhan negatif) ekonomi akan kembali terjadi.

Jadi, Indonesia sedang di ambang kontraksi PDB selama dua kuartal beruntun. Ini adalah definisi dari resesi, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak 1999.

Kita harus menerima kenyataan pahit, resesi sudah di depan mata. Siap atau tidak, kita harus menghadapi dan melaluinya.

Namun yakinlah bahwa 'badai' ini akan ada ujungnya. Tumpuan harapan dunia ada di vaksin anti-virus corona yang akan membentuk 'perisai' perlindungan tubuh dari serangan virus yang awalnya menyebar di Kota Wuham, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China tersebut.

Kemungkinan vaksin sudah tersedia tahun depan, awal atau pertengahan tahun. Begitu vaksin sudah ada dan didistribusikan, maka hidup akan berangsur normal kembali. Masyarakat bisa mulai beraktivitas dengan tenang.


Oleh karena itu, ada harapan ekonomi bisa bangkit dari nestapa pada tahun depan. Memang harus menunggu sekitar setahun, tetapi bagi yang mampu bertahan akan mendapat ganjaran yang luar biasa.

Berbagai lembaga internasional memperkirakan ekonomi Indonesia akan kembali tumbuh positif pada 2021. Bukan sekedar tumbuh, tetapi melesat.

Pandemi Covid-19 yang menyeret ekonomi dunia tentu mempengaruhi pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah melemah.

Sejak awal tahun ini, IHSG sudah anjlok 21,49%. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah nyaris 7%.


Namun kembali lagi, harapan akan pemulihan ekonomi akan membuat aset-aset di pasar keuangan Tanah Air akan bangkit. Justru sekarang harga aset keuangan di Indonesia sudah sangat murah, dan dengan prospek kebangkitan ekonomi nilainya bakal naik pada masa mendatang.

Ambil contoh saham-saham perbankan nasional. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara year-to-date sudah terkoreksi 16,08%. Saat ini harga saham BCA berada di Rp 28.050.

Harga ini masih sangat jauh dari target yang diperkirakan pelaku pasar. Mengutip data Refinitiv, konsensus pasar untuk harga saham BBCA bisa mencapai Rp 33.412,16. Artinya ada potensi kenaikan 19,12%.

Kemudian saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang sekarang harganya Rp 5.350. Target harga perkiraan pelaku pasar ada di Rp 6.797,05 yang menggambarkan potensi lonjakan 27,05%.


Pilihan investasi lainnya yang mudah dan menjanjikan keuntungan adalah reksa dana. Jangan dilihat dalam jangka pendek, reksa dana adalah investasi berhorizon jangka menengah panjang. Jika nanti pasar keuangan Tanah Air bangkit, maka Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga bakal terangkat.

Belajar dari krisis keuangan global 2008-2009, saat itu NAB reksa dana pun ambles. Namun pada 2010, NAB sudah pulih dan melampaui level sebelum krisis.

Pandemi virus corona juga membuat NAB reksa sana terkoreksi. Akan tetapi dengan harapan pemulihan ekonomi tahun depan dan 2022, nilainya akan kembali terangkat. Jadi kalau beli reksa sana sekarang, maka kemungkinan cuan pada 2021 dan 2022 lumayan tinggi. 


Resesi memang berat, bahkan sangat berat. Namun periode ini bisa menjadi peluang untuk memupuk keuntungan pada masa mendatang.

Bagi Anda yang masih beruntung bisa memperoleh penghasilan, apalagi ada dana berlebih, maka ada baiknya mulai disisihkan untuk berinvestasi. Bisa dengan 'menyerok' saham, memborong reksa dana, dan sebagainya. Mumpung harga sedang diskon.

Jika Anda sabar, plus harapan pemulihan ekonomi benar-benar terwujud, maka niscaya nilai aset yang dibeli sekarang akan berlipat-lipat nilainya. Ini adalah kesempatan untuk menjadi kaya sebelum tua, jangan mau jadi tua sebelum kaya...


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/investment/20200927082954-21-189761/ri-resesi-jadi-peluang-investasi-ayo-kaya-sebelum-tua/3

Sunday, September 6, 2020

Intrinsically Dangerous

Warren Buffett: ‘Don’t ask the barber whether you need a haircut’

FEB 12 2019


Warren Buffett doesn’t trust forecasts or projections, especially from someone who has a financial interest in making those projections.

“I do not understand why any buyer of a business looks at a bunch of projections put together by a seller...or his agent,” he said.

Legendary investor Warren Buffett is no stranger to billion-dollar business deals. Regardless of size or scope of a transaction, the “Oracle of Omaha” uses the same research philosophy: Don’t trust forecasts or projections, especially from someone who has a financial interest in making those projections.

Whether you’re buying a stock or a house or a business, the chairman and CEO of Berkshire Hathaway advises to do your own research. Don’t trust the “experts.”

“Don’t ask the barber whether you need a haircut,” Buffett told the audience at Berkshire’s 1994 annual meeting.

Buffett’s longtime partner Charlie Munger recalled him and Warren being offered a thick book of $2 million worth of projections during the process of buying a business.

“We almost paid $2 million not to look at it,” Buffett joked to the audience.

“I do not understand why any buyer of a business looks at a bunch of projections put together by a seller...or his agent,” he continued.

Obtaining information or trusting analysis from someone who has an interest in a particular deal is detrimental due to its innate bias. Munger called projections “intrinsically dangerous.” Buffett reviews annual reports and other filings to draw his own conclusions. He believes you should stick with businesses that you can evaluate yourself.

The 88-year-old’s methodology proved to be not only insightful but successful. Berkshire has returned 20 percent annually over the last 40 years, double the return of the S&P 500 over that same time span, according to FactSet.


Sumber :
https://www.cnbc.com/2019/02/12/warren-buffett-dont-ask-the-barber-whether-you-need-a-haircut.html

Related Posts