Thursday, August 27, 2020

Saham Blue Chip di Indonesia

10 Saham Blue Chip Terbaik di Indonesia Tahun 2020


Ada banyak sekali instrumen investasi yang dikenal oleh masyarakat. Semuanya memiliki tujuan jelas yakni mendulang keuntungan. Karena memang bagaimanapun juga, manusia tentu ingin memiliki kehidupan yang lebih sejahtera di masa depan, terutama jika menyangkut perihal finansial.

Bahkan demi mencapat tujuan kemakmuran itu, banyak yang sudah mulai menabung dan mengelola keuangannya secara lebih bijak sedari masih muda.

Investasi memang menjadi salah satu pilihan terbaik untuk memiliki kehidupan keuangan yang lebih baik di masa depan. Ada banyak sekali jenis investasi yang mungkin sudah pernah Anda dengar seperti investasi reksadana, investasi emas, investasi properti (tanah, rumah), investasi deposito dan tentunya investasi saham.

Dari semuanya memang menawarkan keuntungan tetapi kalau boleh memilih, investasi saham memiliki peluang untung paling besar.


Benar, ada banyak sekali investor saham yang sukses meraup untung berkali-kali lipat dan kaya mendadak berkat saham yang dimiliki. Namun satu hal yang harus diketahui, saham memang punya peluang untung sangat besar tapi begitu pula dengan risikonya.

Yap, jika Anda memilih untuk investasi saham tentu harus siap jika memang untung dan ruginya memiliki peluang yang sama-sama besar.

Tapi meskipun demikian, jangan jadikan hal ini sebagai alasan untuk tidak memulai investasi saham. Jika memang tujuan jangka panjang yang Anda inginkan, Anda bisa mencoba menanamkan modal pada perusahaan-perusahaan pemilik saham blue chip.


Dalam dunia pasar modal, saham blue chip memang selalu jadi primadona baik investor senior maupun yang masih pemula karena cenderung lebih rendah risikonya. Nah, supaya lebih memahami saham blue chip, ada baiknya jika Anda mempelajari ulasan dari kami berikut ini.


Pengertian Saham Blue Chip

Bagi para investor saham pemula, tentu nama saham blue chip tidaklah asing. Banyak analis saham yang merekomendasikan pembelian saham blue chip kepada calon investor baik untuk investasi jangka panjang atau jangka menengah, karena peluang untung yang jauh lebih besar.


Memang, apa sih saham blue chip ini? Banyak yang mengartikan bahwa saham blue chip adalah saham-saham papan atas atau saham unggulan dalam pasar modal.

Tidak keliru memang, karena saham blue chip dimiliki perusahaan dengan kualitas terbaik yang ada di bursa efek. Dianggap paling aman dan menjanjikan keuntungan yang stabil, tak heran kalau saham blue chip diburu oleh banyak investor, terutama mereka yang baru ingin bermain saham.

Bahkan jika disesuaikan dengan kondisi di Bursa Efek Indonesia (BEI), banyak yang menyebutkan kalau saham blue chip ini sama dengan LQ45. Sekadar informasi, LQ45 ialah indeks pasar saham di BEI yang mencakup 45 perusahaan berfundamental cemerlang dan tentunya kapitalisasi pasar sangat besar.

Apakah saham blue chip ini adalah LQ45? Tidak sepenuhnya tepat karena faktanya memang saham-saham emiten bergengsi ini masuk indeks LQ45. Namun tak semua saham dalam LQ45 adalah blue chip, karena bisa saja sektor perdagangannya tengah ramai dan perusahaannya bagus sehingga masuk indeks LQ45.

Sehingga jika bisa diartikan secara umum, saham-saham blue chip adalah saham milik perusahaan yang sudah diakui secara nasional dan sudah cukup mapan, serta sehat dalam hal keuangannya.

Di mana pada umumnya perusahaan-perusahaan blue chip ini menjual produk dengan layanan yang sangat berkualitas dan diterima oleh masyarakat luas.

Karena fakta inilah, perusahaan blue chip memiliki pendapatan yang stabil dan liabilitas wajar sekalipun sektor yang diperdagangkan sedang bermasalah. Jika bicara kaitannya dengan kapitalisasi pasar, saham blue chip tentu punya nominal yang sangat besar yakni di atas Rp40 triliun.


Ciri-Ciri Saham Blue Chip

Jika melihat nilai pasar saham blue chip, tentu begitu terperangah lantaran sangat besar. Tak heran kalau julukan blue chip tak bisa diberikan secara sembrono karena perusahaannya bukanlah abal-abal.

Hanya perusahaan besar dengan etos kerja yang sangat baik dan dikelola secara profesional berhak disebut demikian. Nah, supaya bisa memilih dengan tepat, berikut ini adalah beberapa ciri saham blue chip:


1. Perusahaan Lawas yang Leader di Sektornya dan Diakui

Salah satu ciri paling mudah untuk melihat saham tersebut blue chip atau tidak adalah dengan melihat profil perusahaan. Jika perusahaannya sudah lama beroperasi dan memperoleh pengakuan baik secara nasional hingga global, bisa dipastikan kalau saham mereka adalah blue chip.

Salah satu perusahaan yang memenuhi syarat ini adalah Astra International (ASII). Emiten dari Astra Group ini selalu berhasil membuat produk mereka top brand di kelasnya yang bisa dilihat dari merk-merk kendaraan bermotor di Indonesia hingga lingkup Asia.

Sama seperti ASII, saham TLKM milik PT Telkom dengan produk Telkomsel serta saham UNVR dari Unilever juga berhak disebut blue chip karena sudah pasti leader di sektornya, sekaligus diakui hingga luar negeri.

Karena memang siapa sih orang di Indonesia (bahkan Asia Tenggara) yang tidak mengenal Pepsodent atau Clear? Bukan hanya produk yang populer, perusahaan pemilik saham blue chip pada umumnya juga sudah beroperasi dalam jangka waktu lama.

Salah satu contohnya ialah saham PGAS milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang sudah berjalan lebih dari setengah abad. Tetapi selama apapun perusahaan ini berjalan, tetap harus mampu menghasilkan laba dengan konsisten.


2. Kapitalisasi Pasar Besar dan Sangat Likuid

Dengan profil perusahaan yang sangat cemerlang, bisa dipastikan pula kalau saham-saham blue chip ini sangatlah likuid.

Ciri saham yang sangat likuid adalah selalu masuk dalam daftar saham teraktif di pasar modal, karena memang ramai diperdagangkan di bursa baik oleh investor perorangan maupun lembaga.

Dengan saham yang begitu likuid, blue chip jelas memiliki kapitalisasi pasar yang begitu besar. Hal ini bisa diketahui dari nilai jumlah saham yang beredar dengan harga saham yang terbaru sangatlah tinggi.


3. Rasio Hutang dan Aset Stabil

Ciri berikutnya dari saham blue chip adalah memiliki rasio antara hutang aset yang cukup stabil.

Contohnya bisa dilihat dari saham-saham blue chip di sektor perbankan yang memiliki DER (Debt-to-Equity Ratio) tidak lebih dari 15%.

Tentu jika saham perusahaan memiliki DER yang sangat tinggi, bisa dipastikan risiko usahanya semakin besar terutama jika menghadapi masalah likuiditas yang berat. Bukan hanya DER, saham blue chip juga memiliki perbandingan ROE (Return On Equity) dan ROA (Return On Assets) yang tinggi.

Hal ini terlihat dari kemampuan perusahaan menghasilkan laba maksimal atau minimal, cukup melalui aset yang dimiliki.


4. Konsisten Bayar Dividen

Dividen alias pembagian laba adalah hal yang jelas sangat dinantikan oleh investor saham.

Seorang investor Amerika legendaris sekaligus ekonom dunia, Benjamin Graham menyebutkan bahwa seorang calon investor sebisa mungkin mencari perusahaan yang terbukti secara konsisten membayar dividen dalam kurun waktu 20 tahun.

Jika sebuah perusahaan mampu melakukannya, terbukti jika mereka rutin menghasilkan laba maksimal setiap tahunnya. Sehingga tak berlebihan kalau disebut jika perusahaan tersebut memiliki saham blue chip.


5. Kinerja Usaha Solid

Saham blue chip dimiliki oleh perusahaan yang mampu mencetak laba maksimal secara rutin setiap tahunnya. Hal ini menjadi bukti jika kinerja perusahaannya sangatlah solid.

Meskipun begitu ada perusahaan yang sudah bisa dibilang cukup mapan tapi sempat mengalami kinerja menurun karena daya beli masyarakat yang berkurang.

Contohnya seperti saham UNTR milik perusahaan penjualan alat berat dan pertambangan batu bara, PT. United Tractors Tbk yang memiliki pertumbuhan laba konsisten yakni rata-rata 14,3% per tahun selama satu dekade terakhir.


Dalam Bursa Efek Indonesia, terdapat lebih dari 600 saham yang terdaftar. Dalam kurun waktu beberapa bulan, biasanya ada update daftar saham blue chip yang bisa dipilih investor dan memang selalu direkomendaiskan.

Dan jika boleh memilih, berikut ini adalah 10 rekomendasi saham blue chip terbaik di Indonesia untuk tahun 2019, sesuai dengan sektor masing-masing:


1. BBCA – Bank BCA (Sektor Bank)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa BCA (Bank Central Asia) adalah bank swasta terbesar di Indonesia.

Berstatus sebagai salah satu bank terbaik di Tanah Air, jaringan ATM BCA bisa dibilang paling luas sehingga tak heran kalau jumlah nasabahnya menyentuh jutaan orang.

Berdiri pada 21 Februari 1957 oleh Sudono Salim, kini bank yang berusia 62 tahun itu dimiliki oleh Djarum.

Di lantai BEI, saham BBCA memiliki volume 11.378.100 lembar saham dengan harga saham terakhir pada penutupan hari Jumat (4/10) sore kemarin adalah Rp30.225.

Pada 30 April 2019 kemarin, BCA membagikan total dividen tunai untuk tahun 2018 yang bernilai total Rp8,3 triliun. Dengan status fundamentalnya yang begitu solid, BBCA jelas menjadi salah satu saham blue chip idaman banyak investor.


2. BBRI – Bank BRI (Sektor Bank)

Jika BCA adalah bank swasta terbaik, maka untuk bank ‘plat merah’ status itu diraih oleh BRI (Bank Rakyat Indonesia).

Menjadi bank dengan laba terbesar di Tanah Air, BRI memiliki kemampuan yang luar biasa dalam produk kredit mikro dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) yang membuat bank lain kalah telak. Bahkan bisa dibilang produk kredit mikro dan UMKM dari BRI hampir tidak bisa disaingi.

Didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja pada 16 Desember 1895, bank yang pada 2019 ini berusia 124 tahun itu memiliki 93.849.800 lembar saham di BRI.

Pada harga penutupan terakhir hari Jumat (4/10) siang kemarin, saham BBRI tercatat sebesar Rp3.950. Ketika pembagian dividen tunai tahun 2018 pada tanggal 13 Juni 2019, BRI menggelontorkan dana lebih dari Rp16,1 triliun kepada para pemegang saham.


3. ASII – PT Astra International Tbk (Sektor Manufaktur)

Salah satu saham blue chip terbaik di Indonesia yang berasal dari sektor manufaktur adalah ASII.

Berdiri pada tahun 1957 oleh William Soerjadjaja dan dua rekannya, kini Astra sudah menjelma menjadi perusahaan multinasional diversifikasi dengan sekitar 58 anak perusahaan. Di lantai saham, Astra mengenalkan ASII yang termasuk kategori blue chip.

Dalam pasar modal, ada volume 10.680.600 lembar saham ASII dengan harga pada penutupan hari Jumat (4/10) menyentuh Rp6.425.

Jika sesuai dengan jadwal, Astra akan membagikan dividen tunai saham ASII tahun ini kepada para investor mereka pada 30 Oktober 2019. Sebelumnya pada 24 Mei 2019, Astra sudah membagikan dividen tunai sebesar Rp6,23 triliun dari laba bersih tahun 2018.


4. JSMR – Jasa Marga (Persero) Tbk (Sektor Insfrastruktur)

Dari banyaknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jasa Marga adalah perusahaan pemilik saham blue chip yang banyak dipilih investor.

Lewat saham JSMR, perusahaan yang resmi berdiri pada 1 Maret 1978 ini fokus membangun dan mengoperasikan jalan tol di Indonesia. Hingga saat ini, Jasa Marga adalah pemimpin pengelolaan lebih dari 531 km atau 76% dari total jalan tol di seluruh Tanah Air.

Sebagai market leader, saham JSMR jelas sangatlah likuid dan begitu menarik perhatian investor. Di lantai BEI, JSMR memiliki volume 1.533.300 lembar saham dengan harga penutupan pada Jumat (4/10) sore kemarin adalah Rp5.550 per lembar saham.

Jasa Marga tercatat terakhir kali melakukan pembagian dividen tunai pada 11 Mei 2018 sebesar Rp440 miliaran berdasarkan laba bersih 2017.


5. PGAS – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (Sektor Energi)

Perusahaan milik pemerintah lainnya yang tercatat memiliki blue chip adalah PT Perusahaan Gas Negara alias PGN.

Bergerak di sektor energi, PGN yang awalnya adalah sebuah perusahaan gas swasta milik Belanda ini resmi berdiri pada 13 Mei 1965.

Merupakan anak perusahaan Pertamina, saham PGN yakni PGAS cukup menarik investor karena begitu likuid dan prospek masa depan gas bumi sebagai energi terbarukan begitu potensial.

Di pasar modal, PGN memiliki volume total 30.098.100 lembar saham dengan harga terakhir pada penutupan hari Jumat (4/10) sore adalah Rp2.100.

Sekadar informasi, PGN yang kini sudah memiliki jalur pipa transmisi gas bumi sepanjang lebih dari 2.160 km di seluruh Indonesia ini telah membagikan dividen tunai pada 28 Mei 2019. Berdasarkan laba bersih tahun 2019, dividen tunai milik PGAS menyentuh angka Rp1,3 triliun.


6. UNVR – PT Unilever Indonesia Tbk (Sektor Manufaktur)

Rasa-rasanya hampir seluruh penduduk Indonesia mengenal yang namanya Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight sampai Bango, Royco dan es krim Wall’s.

Ya, hampir seluruh produk kebutuhan sehari-hari itu merupakan keluaran Unilever. Perusahaan multinasional yang berpusat di Belanda ini memiliki anak perusahaan di Tanah Air yakni Unilever Indonesia dengan saham blue chip-nya, UNVR.

Didirikan pada 5 Desember 1933, Unilever Indonesia resmi melepas 15% sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1981.

Hingga saat ini, perusahaan yang memiliki ribuan distributor di seluruh Indonesia itu memiliki total 795.700 lembar saham di BEI. Dengan harga terakhir pada penutupan Jumat (4/10) menyentuh Rp45.425 per lembar saham.

Diketahui dividen tunai UNVR dibagikan terakhir kali pada 18 Juni 2019 sebesar Rp5,9 triliun sesuai laba tahun 2018.


7. TLKM – PT Telekomunikasi Indonesia Persero Tbk (Sektor Infrastuktur)

Selain JSMR, sektor infrastruktur juga memiliki saham blue chip lainnya yakni TLKM milik Telkom. Perusahaan informasi dan komunikasi sekaligus penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi ini mengklaim bahwa mereka adalah yang terbesar di Tanah Air.

Hingga sejauh ini ada lebih dari 15 juta pelanggan telepon tetap dan 104 juta pelanggan telepon seluler yang menjadi pasar utama Telkom.

Sebagai perusahaan milik negara berstatus BUMN, sekitar 52,09% saham Telkom dimiliki oleh pemerintah Indonesia dan sisanya adalah 47,91% milik publik.

Di pasar modal, volume TLKM adalah 34.082.000 lembar saham dengan harga per lembar terakhir pada penutupan Jumat (4/10) sore menyentuh Rp 4.190.

Sebagai perusahaan yang begitu solid, Telkom juga tercatat sebagai pemegang saham mayoritas terhadap 13 anak perusahaan termasuk Telkomsel.

Dengan neraca perdagangan yang begitu menggiurkan, saham TLKM memang begitu naik daun di pasar modal dan sangat menarik perhatian investor.

Apalagi dalam pembagian dividen tunai pada 27 Juni 2019 kemarin, TLKM membagikan lebih dari Rp16,2 triliun untuk seluruh pemilik saham. Total dividen tunai ini bahkan lebih besar daripada dividen tunai saham BBRI milik bank BRI.

Fakta bahwa sektor teknologi komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat, membuat saham TLKM sangatlah aktif dan likuid dibandingkan blue chip lainnya.


8. PTBA – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (Sektor Pertambangan)

Sebagai negara dengan kekayaan bumi yang begitu melimpah ruah, sektor pertambangan juga memiliki pengaruh besar pada perekonomian Indonesia.

Tak heran kalau perusahaan-perusahaan tambang selalu mampu mencatat laba menggiurkan sehingga saham-saham mereka laris manis di pasar modal. Salah satu yang berstatus blue chip adalah PTBA milik Bukit Asam.

BUMN yang berpusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan ini resmi berdiri pada 1950 dan memiliki 46 anak perusahaan.

Dengan fundamental yang sangat kuat, ada sekitar 11.964.400 lembar saham PTBA di BEI dengan harga penutupannya hari Jumat (4/10) kemarin menyentuh Rp2.200.

Meskipun batu bara yang menjadi industri utama Bukit Asam termasuk energi yang tak bisa diperbaharui, Bukit Asam sukses mencatat laba bersih sekitar lima triliun rupiah pada 2018 silam.

Tak heran kalau akhirnya dividen tunai saham PTBA yang dibagikan pada 29 Mei 2019 mencapai Rp3,7 triliun.


9. AALI – PT Astra Agro Lestari Tbk (Sektor Perkebunan)

Hingga saat ini, Indonesia adalah negara penghasil minyak kelapa sawit (CPO) terbesar di dunia dengan jumlah produksinya pada tahun 2015 saja menyentuh angka 31,1 ton.

Bisa disebut sebagai market leader, tak heran kalau perusahaan yang bergerak di produksi CPO ini mampu mencatatkan sahamnya menjadi blue chip seperti Astra Agro Lestari dengan saham AALI.

Memiliki sekitar 317.700 lembar saham di pasar modal, saham AALI mencatatkan harga Rp10.750 per lembar pada penutupan hari Jumat (4/10) kemarin.

Sebagai perusahaan yang neraca perdagangannya sangat solid, Astra Agro Lestari sudah memiliki puluhan anak perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit, karet dan komoditas lainnya. Untuk perkebunan kelapa sawit, anak perusahannya tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Pada 16 Mei 2019 kemarin, saham AALI resmi membagikan dividen tunai sesuai perhitungan laba tahun 2018 dengan nilai total lebih dari Rp646 miliar.

Meskipun saat ini produsen CPO tengah memperoleh kritikan tajam karena kasus kabut asap di berbagai provinsi, tetap saja saham AALI masih dianggap begitu likuid dan mampu menghasilan keuntungan besar untuk seluruh pemegang sahamnya.


10. INDF – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Sektor Manufaktur)

Kalau ada produk makanan yang begitu menggambarkan ciri khas masyarakat Indonesia, maka Indomie adalah jawabannya.

Ya, mie instan yang sangat dicintai warga Indonesia ini memang begitu ikonis dan seolah tak tergantikan. Sekalipun ada produk mie-mie instan baru, Indomie tetap mampu kokoh menjadi pilihan dan sampai meraih pengakuan global.

Melalui Indomie pula, PT Indofood Sukses Makmur mencatatkan diri sebagai salah satu perusahaan pemilik saham blue chip dalam waktu relatif singkat.

Resmi dibentuk pada 14 Agustus 1990 oleh Sudono Salim sang pendiri BCA, Indofood kini telah menjelma menjadi perusahaan total food solutions yang produknya bisa ditemukan di seluruh pelosok Indonesia.

Bahkan produk Indofood pun sudah diekspor hingga Australia, Asia dan Eropa yang pastinya akan membuat omzet perusahaan makin meningkat sehingga membuat investor jatuh hati.

Melalui saham INDF, Indofood pun melantai di pasar modal dengan total volume 3.454.800 lembar saham. Pada penutupan hari Jumat (4/10) kemarin, harga saham INDF tercatat sebesar Rp7.850 per lembar.

Dalam sesi pembagian dividen tunai terakhir pada 8 Juli 2019, saham INDF menggelontorkan Rp1,5 triliun dari laba bersih tahun 2018 kepada seluruh investornya.

Anda bisa memantau setiap saham blue chip tersebut di situs resmi IDX Indonesia.

Bagaimana? Sungguh luar biasa sekali bukan kemampuan finansial dan laporan keuangan singkat yang dimiliki saham-saham blue chip?

Tak heran kalau akhirnya perusahaan mereka mampu mendapat pengakuan publik dan menjadi pilihan utama para investor. Beruntung saat ini perkembangan investasi saham semakin inovatif, sehingga para calon investor yang masih pemula bisa lebih mudah dalam mengelola keuangannya di pasar modal.


Sumber :
https://www.folderbisnis.com/saham-blue-chip-terbaik

Monday, June 15, 2020

8 Orang Kaya Paling Pelit Sepanjang Sejarah

Saat hidup bergelimang harta, Anda tentu tak perlu khawatir saat mengeluarkan uang. Anda bisa membeli apapun yang Anda mau. Apalagi kalau harta itu sangat banyak dan tidak akan habis tujuh turunan.

Sejumlah orang terkaya dunia seperti Bill Gates atau Warren Buffet bahkan rutin menyumbangkan uang yang dimiliknya untuk kegiatan-kegiatan sosial.

Namun, ada juga orang kaya yang pelit. Mereka tak pernah membawa uang atau jika pergi ke restoran untuk makan, mereka ogah membayar.

Seperti dikutip dari laman Time, Kamis (19/11/2015), ini orang kaya paling pelit sepanjang sejarah.


1. Charlie Chaplin (1889 – 1977)

Komedian pantomin Charlie Chaplin termasuk orang paling kaya di masanya. Pada 1916, Chaplin meraup US$ 10.000 dolar per minggu atau US$ 219.000 per minggu jika dikonversi pada waktu sekarang.

Meski dia punya banyak uang di bank, penulis biografi Kenneth S Lynn menyebut, Chaplin selalu terlihat tak punya uang. Bahkan saat makan dengan teman, dia juga selalu meminta temannya yang bayar.

Aktor Marlon Brando menyebutnya tirani yang egois. Sementara Orson Welles mengatakan dia adalah orang terpelit yang pernah hidup.


2. J Paul Getty (1892 – 1976)

Miliarder pengusaha minyak ini selalu senang bepergian dengan pesawat kelas mewah, tapi enggan membayar tiket. Saat tinggal di hotel, Getty biasanya memilih kamar terkecil dan termurah.

Saat dia membeli rumah mewah di luar London, banyak pihak mengira Getty sudah agak berubah, tapi tak lama media setempat mengabarkan dia memasang telepon berbayar untuk para tamunya, dan mengunci semua saluran telepon lainnya.


3. Cary Grant (1904 – 1986)

Cary Grant adalah aktor yang cukkup terkenal di AS pada era 1930-an. Tak hanya jadi aktor yang dibayar mahal, tapi Grant juga menikah dengan wanita terkaya dunia kala itu, Barbara Hutton.

Meski kaya, dia terkenal kikir. Ia diduga menandai botol susu miliknya agar tidak diminum para pembantunya. Selain itu, Grant juga menagih uang cuci jika ada tamu yang menginap dan mencuci.

Bahkan Grant mematok tarif US$ 25 sen untuk setiao tandatangan yang ia beri pada penggemarnya. Dia mengklaim uang itu akan disumbangkan untuk amal.


4. Hetty Green (1834 – 1916)

Hetty Green dinilai jenius karena bisa meraup kekayaan lebih dari US$ 2 miliar pada kurs sekarang ini, dan dianggap sebagai wanita terkaya di Amerika Serikat kala itu. Dia juga dikenal sebagai Witch of Wall Street atau penyihir Wall Street, bursa saham AS.

Ketika dia perlu ke dokter, dia akan mengenakan pakaian kumuh ke sebuah klinik gratis, masuk dengan nama palsu untuk menghindari membayar.

Sebuah cerita beredar luas menyatakan bahwa anaknya kehilangan kaki karena Green tidak mau membayar biaya perawatan.

Dibanding tinggal di rumah mewahnya di New York, Boston, Chicago, dan St Louis, wanita ini lebih memilih tinggal di apartemen murah dan rumah kos. Ia juga dikenal suka tawar menawar harga dengan pelayan restoran sebelum memesan.


5. Leona Hemsley (1920 – 2007)

Ada ungkapan menyebutkan 'Kita tidak bayar pajak. Hanya rakyat kecil yang membayar pajak'. Itu sepertinya ungkapan yang cocok bagi mantan istri pemilik The New York hotel ini. Suatu waktu dia juga pernah dituntut oleh delapan kontraktor.

Helmsley dilaporkan meminta pembayaran kembali pada pemasok, melakukan penipuan terkait penjualan dan pajak penerimaan, dan membebankan semua biaya pribadinya ke hotel.

Dia sudah melewati batas dan berbuat jahat pada banyak orang, dan pada akhirnya dia kena batunya kemudian menghabiskan 18 bulan di penjara.


6. H.L. Hunt (1889–1974)

Miliarder pengusaha minyak HL Hunt sering dilaporkan intik menjadi model JR Ewing, patriarki licik di serial televisi di Dallas. Namun, Hunt dikenal karena sangat irit.

Dia membeli pakaian dari rak, mengambil cokelat untuk makan siang, memotong rambutnya sendiri, dan mengemudikan mobilnya sendiri.

Hunt juga dilaporkan memarkirkan kendaraannya beberapa nblok dari kantornya untuk menghidari biaya parkir US$ 50 sen dan menikmati reputasi sebagai orang yang membeli tip sedikit.


7. John F. Kennedy (1917 – 1963)

Presiden ke-35 AS ini yang terkenal tampan dan kaya raya ini juga dikenal sangat kikir. Kennedy, panggilannya tidak kekurangan uang tunai.

Ayahnya juga telah memberikan dana perwalian sebesar US$ 170 juta dengan kurs dolar sekarang, tapi dia jarang sekali membawa uang sepeser pun. Bahkan dia membiarkan temannya, Fagen rahasianya atau siapapun untuk membayar tagihan ke manapun ia pergi.

Sifat irit ini berlanjut hingga ia jadi Presiden AS. Saat ia dan istrinya Jacqueline Kennedy dilaporkan membenarkan pengeluarannya berbelanja pakaian masuk ke tagihan bahan pokok gedung putih.

Meski demikian, pria ini banyak kontradiksi. Kennedy juga menjadi salah satu di antara Presiden paling dermawan, karena menyumbangkan seluruh gajinya untuk sumbangan.


8. Aristotle Onassis (1906 - 1975)

Onassis tak hanya dikenal pelit memberikan uang tips, dia juga bahkan mencari cara untuk tidak memberikannya sama sekali. Contohnya, dia menolak untuk memakai jas pergi ke klab malam, bahkan di saat musim dingin.

"Karena Saya dikenal sebagai orang kaya, Saya harus mengeluarkan US$ 5 unntuk tip setiap kali melepaskan jas," katanya. "Lebih dari itu, Saya harus memakai jas yang sangat mahal, dan itu harus diasuransikan," imbuhnya.


Sumber :
https://www.liputan6.com/bisnis/read/2369761/8-orang-kaya-paling-pelit-sepanjang-sejarah

Wednesday, June 3, 2020

Mengatur Keuangan di Tengah Pandemi

Lebih Bijak Mengatur Keuangan di Tengah Pandemi

Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal dalam kebiasaan dan kehidupan sehari-hari. Anjuran untuk physical distancing pun berdampak pada sistem kerja yang didorong untuk dikerjakan dari rumah (work from home).

Kondisi ini tak ayal berdampak pada berbagai industri dan ekonomi secara menyeluruh. Demi bisa bertahan, berbagai upaya efisiensi pun diambil perusahaan, yang berakibat pada pendapatanmu yang kian penuh ketidakpastian.

Nah, di tengah kondisi tersebut, kamu harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Tapi bagaimana caranya? Tenang, perencana keuangan Bareyn Mochaddin berikan tipsnya berikut ini


Hindari Menambah Utang  

Dalam kondisi normal, membuat utang baru seringkali menjadi pilihan dalam mengatasi selisih antara pendapatan dan pengeluaran. Namun, di tengah ketidakpastian, terutama dari sisi penghasilan, hindari membuat utang baru, ya. 

Utang baru justru akan menjadi beban keuangan di masa depan. Pikirkan cara lain. Tempatkan keputusan menambah utang di urutan paling terakhir dalam skala prioritasmu. 


Petakan Aset Keuangan Berdasarkan Situasi dan Kondisi 

Lihat dan hitung kembali semua aset kamu hari ini. Petakan secara detail jumlah simpanan dan tabungan kamu, aset yang sudah dimiliki, serta beragam investasi yang pernah dilakukan. 
Dari sana, kamu akan memiliki gambaran yang lebih utuh dan komprehensif. Adakah satu-dua pekerjaan atau investasi yang membuahkan penghasilan? Dana tersebut bisa dialokasikan untuk pengeluaran kamu sementara. 


Ketahui Kebutuhan dan Buat Anggaran Detail 

Perencanaan yang baik adalah setengah kesuksesan. Begitu juga dalam hal keuangan. Buatlah skala kebutuhan kamu dan berapa anggaran yang dibutuhkan untuknya. Catatlah anggaran tersebut dengan detail. kamu  juga bisa membuat batas anggaran. Misalnya, belanja untuk kebutuhan pokok sehari-hari, dibatasi maksimal Rp 3 juta per bulan. 

Dalam membuat anggaran, dahulukan kebutuhan pokok dan prioritas. Selain itu, sisir lagi semua pos pengeluaran bulan lalu. Pos pengeluaran apa yang bukan prioritas sehingga bisa dikurangi atau dihilangkan sementara? Apakah kamu dapat menjalankan kewajiban tanpa mengeluarkan uang untuk anggaran tersebut? 

Setelah menentukan prioritas dan anggaran, kamu juga harus berkomitmen dan disiplin. Selama setidaknya satu bulan, usahakan, kamu mematuhinya. Jangan mudah mengubah anggaran untuk sesuatu yang tidak penting dan mendesak.


Berdamai dengan Gengsi  

Sebelum membuat anggaran, kamu juga harus melakukan evaluasi. Dalam menyusun kebutuhan prioritas dan anggaran, kamu harus bisa menyingkirkan gengsi. Di tengah situasi sulit, kamu juga harus pandai menyesuaikan antara kebutuhan dan kemampuan keuangan. Buka semua peluang untuk mendapatkan barang atau jasa dengan harga yang lebih murah tanpa menyampingkan kualitas. 
Singkirkan semua keinginan untuk membeli barang yang sifatnya tersier. Kesampingkan semua keinginan untuk tampil lebih keren dan menarik hanya demi unggahan media sosial. 


Lakukan Evaluasi 

Lakukan evaluasi atas pengeluaran yang telah dilakukan, lihat catatan keuangan apakah pengeluaran sesuai dengan rencana ataukah ada pengeluaran-pengeluaran siluman yang tidak pernah direncanakan? Ke depan, singkirkan pengeluaran siluman tersebut, jangan sampai diulang, agar kondisi keuangan kita tetap terjaga.


Memanfaatkan Diskon, Bukan Dimanfaatkan 

Kamu bisa mencari dan menemukan berbagai cara untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah. Bandingkan harga di berbagai e-commerce. Selain itu, kamu juga bisa menggunakan berbagai program yang ditawarkan. Teliti dan gunakan semua kode promosi, status keanggotaan, cashback, atau promo gratis pengiriman yang sedang berlangsung. 
Namun, kamu juga harus bijak dan teliti. Hindari penjual yang hanya memberikan diskon sebagai kamuflase untuk membeli lebih banyak. Pertimbangkan dan kembalikan pada rencana anggaran yang sudah kamu buat. Cobalah untuk disiplin dalam mematuhi setiap detailnya ya!


Kreatif  

Masa pandemi dapat menjadi salah satu kesempatan untuk mengasah kreativitas dan keterampilanmu. Selama WFH, kamu bisa curi-curi waktu luang untuk mengasah keterampilan baru. Siapa tahu dari situ, kamu bisa mendapat penghasilan tambahan.

Berbagai platform pendidikan online atau perpustakaan tersedia untuk diakses tanpa biaya atau gratis. Para profesional yang mempunyai jam terbang tinggi juga sering membagikan berbagai pengalaman dan triknya melalui siaran langsung di media sosial.


Gunakan dan Simpan THR dengan Bijak  

Di tahun-tahun sebelumnya, kamu terbiasa menggunakan THR untuk belanja dan memenuhi berbagai kebutuhan selama ramadhan dan hari lebaran. Akan tetapi, tidak ada satu pihak pun yang dapat menjamin kapan pandemi ini akan berakhir. Untuk itu, kelola dana THR yang kamu terima dengan bijak. 

Kamu bisa menggunakan THR untuk kebutuhan pokok dan tidak bisa ditunda. THR juga bisa dialokasikan untuk membayar zakat fitrah dan sedekah di bulan Ramadhan. 

Biasanya untuk zakat fitrah, sudah diatur jumlahnya. Lalu, jika kamu masih memiliki kelonggaran, tidak ada salahnya  menambah porsi untuk sedekah, berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang membutuhkan. 

Jika kamu termasuk orang yang rutin melakukan mudik pada saat Lebaran, maka tahun ini anggaran mudik bisa kamu simpan. Gunakan untuk menambah dana darurat atau menambah asuransi bagi Anda dan keluarga.


Sumber :
https://kumparan.com/millennial/lebihbijak-mengatur-keuangan-di-tengah-pandemi-1tS6YqFs7A1

Sunday, May 31, 2020

Lebih Hemat Saat WFH Corona

5 Alasan Kamu Bisa Lebih Hemat Selama Masa WFH Pandemi Corona

Pandemi virus Corona membuat pekerja kantoran harus melakukan tugasnya dari rumah. Hal itu memang belum tentu mempermudah tapi bisa buat kamu paling tidak lebih menghemat biaya. Masa-masa karantina pun patut dijadikan momen untuk mengatur keuangan.

Berikut alasan yang buat gajian kamu bisa sisa lebih banyak selama WFH sebagai bahan acuan untuk mengatur keuangan dan motivasi agar semakin berhemat.

1. Hemat Uang Makan
Kamu mungkin berpikir jika WFH malah bikin boros karena tingginya biaya listrik atau banyaknya produk kesehatan yang perlu dibeli sebagai langkah pencegahan Corona. Namun satu hal yang bisa jadi mengurangi beban pengeluaran tersebut adalah hematnya uang makan. Selama tidak bekerja di kantor, kamu pasti lebih banyak makan masakan rumah. Apalagi jika kamu yang tak pernah absen beli makanan dan jajanan ketika di kantor.

2. Jarang Pesan Kopi
Belakangan kopi hampir sama pentingnya dengan komputer atau laptop ketika bekerja. Beberapa pekerja merasa sulit melakukan tugasnya tanpa segelas kopi di pagi hari yang biasanya dibeli di kafe. Saat Corona, tentu kamu tetap bisa beli kopi tapi mungkin tidak di coffee shop yang harganya mahal. Karenanya, keuangan bisa sedikit hemat.

3. Tidak Keluar Uang Transportasi
Harus berada di rumah seharian selama berminggu-minggu memang bisa membosankan. Tapi sisi positifnya kamu bisa menghemat uang tranportasi. Terlebih jika kamu biasa pulang-pergi dengan mobil pribadi dan harus melalui kawasan macet. Tentu uang tersebut bisa disimpan atau dialokasikan untuk sesuatu yang lebih berarti di tengah pandemi Corona ini.

4. Tidak Nge-gym
Tempat fitness juga ditutup selama pandemi Corona masih menghantui. Kamu pun bisa mengeksplor latihan-latihan fisik sendiri di rumah yang tak butuh banyak biaya.

5. Akhir Pekan di Rumah
Tak sedikit orang yang selalu menghabiskan akhir pekan di luar rumah untuk nonton bioskop atau makan di restoran. Hal tersebut pastinya jadi berkurang selama masa-masa karantina. Momen ini pun cocok dijadikan acuan untuk melihat seberapa banyak biaya hiburan yang biasa dihabiskan. JIka kamu sadar dua bulan ini bisa hemat banyak, tak ada salah untuk lebih mengurangi jalan-jalan di bulan-bulan ke depan.


Sumber :
https://wolipop.detik.com/money-hacks/d-4967302/5-alasan-kamu-bisa-lebih-hemat-selama-masa-wfh-pandemi-corona

Sunday, May 24, 2020

Latte Factor, Kebiasaan Belanja 'Receh'

Siasati Latte Factor, Kebiasaan Belanja 'Receh' yang Bikin Boros

Pernah dengar istilah latte factor? David Bach, penulis buku Finish Rich sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat mencetuskan istilah latte factor, yaitu kebiasaan kecil tetapi rutin menghabiskan penghasilan. Istilah latte itu sebenarnya bermaksud untuk mengkritik kebiasaan masyarakat kota besar utamanya milenial yang kerap menghabiskan waktu dan uang untuk menyeruput kopi di kafe atau restoran.

Istilah latte factor sendiri sebenarnya tidak hanya soal nongkrong di kafe atau minum kopi saja. Istilah ini relevan juga untuk pengeluaran kecil lainnya, seperti beli air mineral kemasan, persediaan camilan, belanja online, dan nonton bioskop.

Jadi, apakah Anda penasaran seberapa banyak uang yang Anda keluarkan untuk latte factor? Untuk itu, simak cara-caranya berikut ini.

1. Ketahui jenis pengeluaran 
Seperti dipaparkan sebelumnya, latte factor identik dengan pengeluaran kecil yang kerap Anda lakukan sehari-hari. Sebelum mengetahui seberapa besar pengeluaran Anda, Anda harus tahu terlebih dahulu jenis pengeluaran yang Anda beli.

"Setiap orang memiliki latte factor dan jenisnya bisa berbeda. Apa saja latte factor-mu? Anda harus mengetahuinya," kata Chief Agency Officer Sequis Franky Nayoan dalam siaran pers, Jumat (18/10/2019).

2. Hitung jumlahnya 
Setelah mengetahui apa saja pengeluaran Anda, kata Franky, selanjutnya Anda mesti menghitung berapa banyak yang Anda keluarkan. Memang biasanya Anda akan lupa dan tidak terpikirkan, mengingat pengeluaran ini hanya hitungan receh. Apalagi, kalau penghasilan cukup besar dan belum punya tanggungan. Tetapi, jika kebiasaan ini dibiarkan, tanpa disadari total pengeluaran bisa sangat besar.

"Mari kita menghitungnya dengan cara sederhana. Anggap saja kopi kekinian yang termurah harganya Rp 18.000. Karena ukuranya kecil rasanya perlu beli lagi untuk minum sore. Berarti, sudah Rp 36.000 keluar dari kocekmu," ucap Franky.

"Belum lagi barista kadang menawarkan extra shot hanya Rp 5.000 saja. Jumlah uang yang dikeluarkan sudah Rp 41.000," imbuhnya.

Rp 41.000 masih Anda anggap kecil, coba Anda tambahkan dengan beli makanan camilan lain di hari itu juga, misalnya camilan sore sebagai teman minum kopi. Kalau kemarin sudah beli donat Rp 10.000, sekarang menu pisang goreng kekinian harganya lebih murah Rp 8.000. Anda biasanya akan membeli lebih dari satu karena ukurannya yang kecil.

"Begitu saja uang yang sudah kita keluarkan Rp 57.000. Untuk membelinya, manfaatkan jasa ojek online, toh hanya Rp 7.000. Jadi total hari ini Rp 64.000," papar Franky. Angka ini mungkin masih kecil bagi milenial yang telah sukses berkarier. Bila ditambah dengan naik taksi atau transportasi lain dan makan sehari-hari, pengeluaran Anda bisa membengkak hingga ratusan ribu dalam sehari. Belum lagi jika Anda mengalikannya dalam sebulan.

"Apalagi angka ini tidak selalu sama setiap harinya. Ditambah lagi bagi yang memiliki cicilan KPR atau KPA, bisa jadi sepuluh juta habis begitu saja," kata Franky.

3. Manfaatkan 
Alih-alih membelanjakan uang untuk latte factor, Anda bisa menyisihkannya untuk berinvestasi, seperti saham, emas, dan sebagainya yang bisa Anda jangkau.  Melengkapi diri dengan asuransi juga termasuk investasi di masa depan. Jika pengeluaran latte factor dikurangi, tentu bisa bantu milenial mendapat hari esok yang lebih baik.

"Apalagi usia terbaik membeli asuransi adalah usia milenial. Karena biaya premi masih terjangkau dan memiliki kemampuan membayar di jangka panjang. Daripada uangmu habis sia-sia hanya untuk latte factor, lebih baik buat asuransi," sebut Franky.


Sumber :
https://money.kompas.com/read/2019/10/18/083800426/siasati-latte-factor-kebiasaan-belanja-receh-yang-bikin-boros?page=all#page2.

Thursday, March 19, 2020

Menabung Metode Kakebo ala Orang Jepang

Unik dan Efektif! Yuk, Menabung Pakai Metode Kakebo ala Orang Jepang

Menabung adalah salah satu cara terbaik dalam pengelolaan keuangan yang turut menjadi penentu kebahagiaan di masa depan. Namun, masih banyak orang merasa sulit membiasakan diri untuk menabung.

Masih banyak juga yang beranggapan menabung memiliki beban tersendiri dalam melaksanakannya.

Banyak orang tak bisa membiasakan diri menabung karena selalu saja ada pengeluaran yang harus dibayarkan setiap bulan, termasuk biaya-biaya yang tak terduga, beberapa kebutuhan juga harus dibeli di luar rencana.

Itu menyebabkan rencana menabung selalu gagal di tengah jalan. Padahal sesungguhnya jangan jadikan menabung sebuah beban, tapi jadikan kebiasaan baik yang manfaatnya akan dirasakan ke depannya.

Jika cermat mengontrol pengeluaran, menyisihkan uang di tabungan bukan hal yang sulit dilakukan. Pasalnya, kini terdapat beragam instrumen tabungan yang bisa dipilih.

Tak hanya disimpan di bank, menabung juga bisa dilakukan dengan menyicil uang pada beragam investasi seperti emas atau membeli surat utang negara.

Jika kurang cocok dengan instrumen di atas, kamu bisa menjadikan ajang menyisihkan uang terasa lebih ringan dan mudah dengan cara menabung mudah yang unik dan efektif seperti orang Jepang.

Yaitu, menggunakan metode Kakebo, sudah dipopulerkan sejak tahun 1904 dan masih bertahan hingga saat ini.


Metode kakebo cara menabung ala orang Jepang

Masyarakat Jepang menjalani kakebo dengan tujuan untuk mengontrol pengeluaran seminimal mungkin, dan mencatat setiap pengeluaran dengan cermat untuk kemudian dievaluasi setiap minggu. Lantas, bagaimana cara kerjanya?

Setiap awal bulan, mencatat pemasukan atau uang yang dialokasikan untuk satu bulan. Selain itu, harus juga mencatat semua pengeluaran yang sifatnya sudah pasti seperti kebutuhan harian.

Umumnya, seseorang akan mengeluarkan uang untuk keperluan dasar seperti makanan, kebutuhan transportasi, kesehatan, kebutuhan rumah tangga, rekreasi dan keperluan darurat.

Dengan mencatat secara detail setiap kategori di atas, kamu akan mendapati keuangan yang seimbang di akhir minggu karena sudah tahu berapa uang yang dihabiskan dan bisa disimpan.

Menulis pemasukan dan pengeluaran dengan rinci juga bisa membantu mengatur keuangan, sehingga penting untuk menghindari masalah darurat.

Gak cuma itu saja, langkah tersebut juga akan membuat kamu jtermotivasi untuk mencapai sesuatu yang sudah lama ingin dicapai.


Empat kategori cara menabung ala orang Jepang

Dalam praktik menabung kakebo biasanya orang Jepang membagi jenis pengeluaran dalam empat kategori.

Kategori pertama adalah survival yang terdiri dari biaya sekolah, makan, transportasi, kesehatan, dan kebutuhan pokok lain.

Kategori kedua, menuliskan kebutuhan opsional seperti belanja dan makan di luar. Untuk kategori ketiga ialah hiburan seperti internet, buku, langganan majalah, tamasya dan sebagainya.

Sementara kategori keempat adalah pengeluaran ekstra yang merupakan pengeluaran tak terduga.


Evaluasi akhir minggu cara menabung ala orang Jepang

Setelah menetapkan kategori pengeluaran, baru kamu mulai mencatat berapa uang yang tersedia, dan berapa yang akan disisihkan untuk tabungan.

Semua itu harus ditulis di awal bulan agar mudah dalam pencatatan dan mengoreksinya.

Setelah memiliki catatan di awal bulan tentang rencana pengeluaran, baru kamu bisa menulis detail semua pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan di setiap hari.

Di akhir setiap minggu, kamu bisa melakukan evaluasi sejauh mana uang yang sudah dikeluarkan benar-benar dipakai sesuai peruntukan yang direncanakan.

Catatan yang rapi dari waktu ke waktu memungkinkanmu bisa memiliki gambaran pengeluaran harian, mingguan, dan bulanan.

Gambaran ini yang bisa dipakai untuk memutuskan seberapa besar uang yang bisa ditabung dan dipakai untuk pemenuhan kebutuhan lain yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Nah, untuk mendukung pengelolaan keuangan dengan metode kakebo ini kamu juga harus selalu menyimpan struk belanjaan karena akan membantu jika suatu hari lupa.

Meski terdengar kuno, cara ini bisa kamu jalani untuk menyisihkan uang di tabungan. Awalnya memang akan terasa sulit, tapi jika dilakukan dengan sabar dan konsisten dijamin tabungan yang bisa disimpan setiap bulan akan membuat senyummu mengembang.


Sumber :
https://lifepal.co.id/media/menabung-pakai-metode-kakebo-ala-orang-jepang

Monday, March 16, 2020

Tabungan Hari Tua

Apa Itu Tabungan Hari Tua? Ini Pengertiannya dan Cara Cerdas Mempersiapkannya

Tabungan hari tua pengertian dan cara siapkannya

Setelah sekian lama bekerja demi hasil yang terbaik, promosi yang dinanti akhirnya datang juga. Gaji pun otomatis naik menyesuaikan dengan jabatan. Nah, kalau begitu, saatnya optimalkan tabungan hari tua.

Tabungan hari tua? Bukannya ada Jaminan Hari Tua (JHT) dari BPJS Ketenagakerjaan ya? Memangnya JHT saja belum cukup buat memenuhi kebutuhan selama hari tua nanti.

Justru dengan adanya tabungan buat hari tua nanti, JHT makin optimal. Terus kekhawatiran pada masa tua nanti jadi sirna karena kebutuhanmu selama pensiun telah tercukupi.

Ingat, inflasi itu terus ada dan selalu ada. Nilai uang yang kamu simpan saat ini mungkin gak berarti lagi akibat inflasi di masa pensiun nanti.

Itulah alasannya kamu harus mempersiapkan sebaik-baiknya dana buat hari tua. Dengan begitu, nilai uang yang kamu simpan terus menjamin kehidupan selama masa pensiun.

Apalagi dengan usia 25 – 30 tahun yang terbilang sangat produktif, mempersiapkan dana hari tua pada usia-usia tersebut sangat dianjurkan para financial advisor.

Agar lebih memahami pentingnya tabungan di hari tua nanti, simak terus ulasan berikut ini buat mengetahui informasi lengkapnya.


Ini pengertian tabungan hari tua yang perlu kamu pahami

Sebenarnya, apa itu tabungan hari tua? Kalau didefinisikan berdasarkan tujuannya, tabungan hari tua adalah tabungan khusus yang dipersiapkan sebagai sumber pendapatan selama masa pensiun.

Karena penggunaannya dianjurkan pada hari tua kelak, tabungan ini dikembangkan selagi masih bekerja. Di Indonesia usia pensiun itu sesuai peraturan adalah 57 tahun.

Misalnya aja kamu sekarang berusia 30 tahun. Itu berarti waktumu buat mempersiapkan dana hari tua nanti tersisa 27 tahun lagi.

Boleh saja beranggapan 27 tahun itu waktu yang lama. Karena dianggap lama, cukup banyak orang yang kemudian menunda sisihkan uang buat tabungan di hari tua nanti.

Padahal, semakin cepat disiapkan, semakin tenang masa-masa pensiun mereka nantinya. Sayangnya, hasil survei membeberkan fakta mengejutkan mengenai kesiapan orang-orang Indonesia menghadapi hari tua.


Survei HSBC: 9 dari 10 responden Indonesia belum siap pensiun

Bank HSBC Indonesia pada 12 Februari 2019 yang lalu merilis hasil survei HSBC Future of Retirement. Hasilnya cukup mengejutkan sebab 9 dari 10 orang di Indonesia mengaku belum siap pensiun.

Alih-alih tetap bisa mandiri walaupun pensiun, rupanya ¾ responden yang masih produktif berharap anaknya membantu mereka saat masa pensiun nanti.

Lewat riset Future of Retirement, sekitar 68 persen dari total responden berharap masa pensiun mereka nyaman dan tenang. Sayangnya, cuma 30 persen responden yang menabung buat masa pensiun mereka.

Nah, Future of Retirement merupakan studi yang dilaksanakan HSBC global terhadap 17.405 orang di 16 negara.

Di Indonesia jumlah responden yang dilibatkan sebanyak 1.050 responden, yang terdiri dari mereka yang masih produktif dan pensiun.

Survei OJK: 6,3 persen responden pilih mempersiapkan hari tua sebagai tujuan keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga pernah melakukan survei pada tahun 2016. Hasilnya juga cukup mengejutkan, yaitu cuma 6,3 persen responden yang pilih mempersiapkan hari tua.

Di luar itu tujuan keuangan yang dipilih kebanyakan orang di Indonesia, yaitu:

memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan hidup: 69,0 persen.
membayar biaya pendidikan: 12,6 persen.
OJK pada tahun 2016 melakukan survei terhadap 100 orang di Indonesia. Dari survei tersebut, sebanyak 97 orang memiliki tujuan keuangan dalam hidupnya.


Apa saja kelebihan tabungan hari tua? Adakah kekurangannya?

Namanya tabungan pasti memiliki banyak kelebihan. Khusus tabungan buat hari tua nanti, inilah kelebihan yang perlu kamu ketahui.

Kelebihan tabungan hari tua:
Menjamin pemenuhan kebutuhan selama hari tua.
Menghindarkan diri dari ketidakjelasan di masa depan setelah pensiun.
Memberi keamanan finansial dan kenyamanan dalam menjalani hari tua.
Sulit menemukan kekurangan dari tabungan buat hari tua. Pasalnya, tabungan ini sangat diperlukan dan sebaiknya dimulai sewaktu usia produktif.

Kalau pun ada kekurangan, berikut ini kekurangannya dengan mengambil contoh JHT dari BPJS Ketenagakerjaan.

Kekurangan tabungan hari tua:
Ada potongan 2 persen dari gaji yang diterima tiap bulannya.
Penggunaannya dianjurkan ketika pensiun nanti.
Pencairan JHT cuma bisa dilakukan saat gak bekerja lagi (karena resign atau PHK).
Gimana cara mempersiapkan tabungan hari tua?
Seorang pria tua mempersiapkan tabungan buat hari tua

Kamu bisa mempersiapkan tabungan buat hari tua lewat beberapa cara. Berikut ini cara-cara yang bisa kamu pilih.


1. Menabung di Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)

Instrumen keuangan yang satu ini bisa menjadi pilihan dalam mempersiapkan dana di hari tua. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) sendiri telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992.

Apa itu DPLK? Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) adalah dana yang dibentuk bank atau perusahaan asuransi jiwa sebagai program pensiun buat karyawan atau pekerja mandiri.

Di Indonesia cukup banyak bank dan perusahaan asuransi yang menyediakan DPLK, yaitu:

DPLK BRI sebagai pilihan tabungan hari tua BRI,
DPLK BCA,
DPLK BNI sebagai pilihan tabungan hari tua BNI,
DPLK Muamalat,
DPLK Bank Jateng,
DPLK Allianz,
DPLK AIA,
DPLK Manulife,
DPLK Indolife, hingga
DPLK Axa Mandiri.


Berapa minimal setoran agar punya tabungan dalam bentuk DPLK?

Setoran awal umumnya: Rp 250.000
Setoran rutin tiap bulan: Rp 100.000
Satu hal yang harus kamu ketahui dari DPLK ini adalah adanya pajak yang dikenakan, dan wajib dibayar.


2. Menabung dalam bentuk reksa dana

Pilihan tabungan buat hari tua selanjutnya adalah reksa dana. Instrumen investasi yang satu ini dapat memberi keuntungan melebihi keuntungan bunga deposito (rata-rata 5 persen per tahun) lho.

Reksa dana yang selama ini ditawarkan di Indonesia terdiri dari beberapa jenis:

Reksa dana pasar uang: komposisinya 100 persen berupa deposito, obligasi negara (kurang dari 1 tahun), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan sukuk.
Reksa dana pendapatan tetap: komposisinya > 80 persen berupa obligasi negara dan sisanya berupa pasar uang (deposito atau SBI).
Reksa dana saham: komposisinya > 80 persen berupa saham dan sisanya berupa pasar uang.
Dengan pilihan reksa dana di atas, manakah yang cocok sebagai pilihan tabungan buat hari tua?

Pemilihannya bergantung dari profil risiko, tapi sangat disarankan buat memilih ketiganya dengan komposisi penempatan dana yang berbeda-beda sebagai bentuk diversifikasi.

Profil risiko adalah level seorang investor dalam mentoleransi risiko yang bisa aja timbul selama berinvestasi. Sebagai gambaran, inilah profil risiko investor:

Konservatif: lebih memilih risiko rendah meskipun tingkat pengembalian (return) setara dengan deposito.
Moderat: lebih memilih risiko sedang dan return di atas bunga deposito.
Agresif: lebih memilih return tertinggi meskipun berisiko tinggi.
Dari profil risiko di atas, kamu bisa menentukan komposisi reksa dana yang bakal dipilih. Berikut ini ilustrasinya.

Konservatif: tempatkan dana di reksa dana pasar uang sekitar 70 persen (lebih), sedangkan sisanya pendapatan tetap (komposisinya di atas saham) dan saham.
Moderat: tempatkan dana di reksa dana pendapatan tetap sekitar 70 persen (lebih), sedangkan sisanya saham (komposisinya di atas pasar uang) dan pasar uang.
Agresif: tempatkan dana di reksa dana saham sekitar 50 persen (lebih), sedangkan sisanya pendapatan tetap (komposisinya di atas pasar uang) dan pasar uang.
Khusus tabungan hari tua, berapa besar yang harus dialokasikan?
kalkulator menyiapkan tabungan buat hari tua

Pertama-tama, kamu harus alokasikan pengeluaran buat pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu. Kalau kamu masih single, tinggal sendiri, dan tiap bulannya terima gaji Rp 15 juta, alokasikan Rp 6 juta sebagai biaya memenuhi kebutuhan.

Setelah dikurangi biaya kebutuhan, gajimu masih tersisa Rp 9 juta. Nah, nominal yang cukup besar nih. Mumpung sisanya banyak, alokasikan dalam jumlah besar sebagai dana darurat (kalau belum ada), asuransi, investasi, dan tabungan buat hari tua.

Sebelum dialokasikan, kurangi Rp 1 juta buat memenuhi keinginanmu (pengeluaran gaya hidup). Itu berarti penghasilanmu tersisa Rp 8 juta.

Dari sisa penghasilan Rp 8 juta, alokasikan jaringan pengaman finansial tiap bulannya:

Asuransi jiwa (dengan UP Rp 1 miliar): Rp 300.000 (bagus kalau kurang).
Tabungan hari tua: Rp 1.000.000 (boleh naik sesuaikan inflasi asal gaji naik tiap tahun).
Investasi: Rp 2.000.000 (boleh naik sesuaikan inflasi asal gaji naik tiap tahun)
Dana darurat: Rp 4.700.000 (pastikan instrumen penempatannya likuid).
Jangan lupa buat mengambil asuransi jiwa. Sekalipun kamu belum berkeluarga, uang pertanggungan asuransi nantinya bermanfaat dan membantu kedua orang tuamu ataupun saudara-saudarimu.


Sumber :
https://lifepal.co.id/media/tabungan-hari-tua-pengertian-dan-cara-siapkannya/

Related Posts