Saturday, May 24, 2014

Rekening Keuangan Keluarga


Perencanaan keuangan sangat penting untuk zaman sekarang, karena tuntutan kebutuhan yang tinggi mengharuskan wanita Indonesia pintar-pintar untuk mengatur keuangan keluarga. Alangkah baiknya perencanaan ini didiskusikan bersama pasangan Anda, agar tidak ada kesalahpahaman terjadi di dalam keluarga.

Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan bersama pasangan Anda untuk perencanaan keuangan keluarga Anda.

1. Tentukan Yang Membayar Tagihan Bulanan
Hal ini sangat membantu Anda dalam mengatur uang yang keluar, dengan menentukan siapa yang membayar maka akan mudah untuk memantau. Buat daftar pengeluaran untuk mempermudah di dalam pencatatan keuangan, sehingga pada akhir bulan Anda bisa lebih jelas dan bisa menjadi bahan untuk evaluasi Anda bersama pasangan.

2. Buat Rekening Bersama
Buatlah rekening yang bersama, yang dimaksud adalah benar-benar rekening sendiri dan bukan rekening suami atau istri. Sisihkan sebagian dari dari gaji ke dalam rekening bersama ini, untuk jumlahnya terserah Anda akan tetapi usahakan setiap bulan rekening ini terisi. Adanya rekening bersama ini dimaksudkan untuk investasi keluarga Anda serta untuk mengantisipasi dana dadakan yang harus Anda keluarkan.

3. Bicarakan Saat Menggunakan Uang Dalam Jumlah Banyak
Buatlah perjanjian dengan pasangan Anda, jika salah satu dari Anda ingin menggunakan uang dengan jumlah yang banyak agar bisa didiskusikan terlebih dahulu secara bersama. Hal ini akan membuat Anda dan pasangan Anda terhindar dari keuangan yang tiba-tiba susut dikarenakan penggunaan uang yang tidak tepat dalam jumlah yang banyak.

Selalu berkomunikasi dengan pasangan Anda merupakan hal terpenting di dalam perencanaan keuangan keluarga. Pastikan pasangan Anda mengetahui setiap pengeluaran yang Anda lakukan dan sebaliknya. Daftar pengeluaran sangat membantu dalam hal ini, jadi pastikan Anda membuatnya dan catat semua pengeluaran jangan sampai Anda lewatkan. Semoga artikel tentang perencanaan keuangan yang sudah disusun redaksi Dibalik Wanita bisa membantu Anda dalam perencanaan keuangan keluarga Anda.

Sumber :
http://www.dibalikwanita.com

Wednesday, May 14, 2014

Cara Berhemat ala Selebritas


Tak bisa dipungkiri kalau sejumlah seleb dan figur publik memiliki kekayaan cukup banyak. Dari punya private jet, mobil mewah, rumah megah, dan hidup yang nyaman. Namun, mereka masih mengatur keuangan dengan baik.

Menurut life coach dan presenter Georgina Burnett, mereka semua percaya akan pentingnya mengatur keuangan yang akan membuat hidup menjadi lebih baik. Selain mengontrol pengeluaran agar tidak melebihi pemasukan, mengatur keuangan juga bisa menjadi salah satu cara mengurangi stres dan menikmati hidup.

Berikut lima cara berhemat ala selebritas yang bisa diterapkan:

1. Punya rencana keuangan
Aktris Gwyneth Paltrow dan suaminya, Chris Martin, bisa jadi punya kekayaan hingga 100 juta dollar, tapi mereka masih tetap mengatur keuangan dengan baik. Gwyneth mengaku dirinya mengatur keuangan dengan cara membuat anggaran jangka pendek dan jangka panjang. Mulai dari anggaran untuk membeli rumah, memiliki anak, hingga anggaran untuk traveling. Penetapan rencana anggaran ini menentukan berapa total biaya yang harus dihabiskan.

Anda bisa meniru model Gwyneth ini dengan membuat road map atau pemetaan anggaran. Bisa mingguan, bulanan, atau tahunan. Sebagai contoh, deposit untuk investasi properti untuk masa lima tahun atau menyisihkan uang setiap bulan untuk mewujudkan keinginan di kemudian hari seperti berlibur dan lain sebagainya.

Penetapan rencana anggaran memberikan Anda waktu untuk memikir ulang mana yang benar-benar dibutuhkan dan tahu berapa yang harus ditabung dan dihabiskan.

2. Gunakan voucher belanja
Percaya atau tidak, sejumlah selebritas juga masih menggunakan voucher saat berbelanja, terutama untuk harga barang yang tinggi seperti yang dilakoni Nicole Schrzinger dan Kourtney Kardashian. Kourtney, ibu dari dua anak ini pernah menggunting kupon berbelanja dari sebuah majalah.

Menurut Georgina tidak ada salahnya mendapatkan penawaran terbaik dari barang yang diinginkan. jadi kenapa tidak menggunakan voucher atau potongan belanja yang entah di toko ataupun via online shop. Rasanya hampir semua toko baik online maupun offline yang hari ini memberikan potongan harga atau diskon, tinggal mau dimanfaatkan atau tidak.

3. Belanja sesuai kebutuhan
Anggota band McFly, Harry Judd, menghindari berbelanja dengan kartu kredit. Katanya ia ingin hidup sesuai dengan kebutuhan dan tidak mau menggunakan uang yang tidak ada di rekening bank miliknya sendiri.

Pada moneywise.co.uk, ia mengatakan lebih memilih menggunakan kartu debit daripada kartu kredit karena berbahaya begitu menggunakannya sekali, walau tergantung pada situasi mendesak sekalipun. Dengan kartu kredit dia takut lupa telah berbelanja apa saja dan mendapat masalah karenanya.

Georgina sepakat dengan itu. Kata dia, beberapa orang yang menggunakan kartu kredit kerap lupa telah memebelanjakan uangnya untuk apa tanpa pertimbangan yang matang. Kadang tidak sesuai kebutuhan, tapi masih berbelanja.

4. Daripada menghamburkan uang, lebih baik daur ulang
Ini berurusan dengan busana yang Anda kenakan. Mari lihat Michelle Obama dan Kate Middleton. Keduanya masih tetap modis, tapi tidak dengan busana dari top desainer, tapi bagaimana memadupadankan busana yang mereka miliki. Bahkan dari busana yang tidak harus mahal sekaipun.

Kate, misalnya, sudah dikenal dengan gaya berbusana yang modis dan tahu sekali cara padu padan yang baik. Daripada menghabiskan uang utuk beli busana terbaru, lebih baik siasati dengan cara lain. Misalnya cukup beli tas tangan, jaket, atau ikat pinggang baru lalu padu padan dengan busana yang sudah ada. Ini lebih menghemat anggaran.

Georgina menyampaikan, sering kali berbelanja busana hanya kenikmatan semata yang momennya cuma sebentar. Yang menarik ialah ketika Anda bisa menjadi kreatif dengan apa yang dimiliki, selain menghemat juga menyenangkan bila bisa dinikmati.

5. Baju turunan dari sulung ke bungsu
Punya anak bukan berarti menghabiskan banyak uang dan memanjakannya dengan hal-hal yang baru. Angelina Jolie justru memberikan baju yang masih layak pakai dari anak tertuanya ke anak bungsu. Begitu juga Jessica Alba memberikan apa yang pernah dibelikan untuk anaknya yang berumur empat tahun kepada Haven yang masih 18 bulan.

Selain berhemat, ini juga menjadi salah satu cara mendidik anak untuk menghargai apa yang mereka miliki, tidak memanjakan mereka dengan barang-barang mewah.

Sumber :
http://female.kompas.com

Wednesday, April 30, 2014

Generasi Muda Masa Kini Rajin Menabung


Salah besar kalau Anda berpikir generasi muda zaman sekarang memiliki gaya hidup boros dan hedonis. Kenyataannya, generasi milenium (rentang usia 18-33 tahun di 2014) justru lebih disiplin dalam mengatur arus keuangan mereka.

GE Capital Direct, penyedia tabungan online melakukan sebuah penelitian baru, yang membuktikan bahwa generasi milenium ternyata lebih disiplin menabung dibandingkan generasi X dan generasi baby boomer.

Penelitian yang melibatkan 2000 penabung di Inggris, menemukan bahwa generasi muda di rentang usia 18-24 tahun menyimpan hampir sepertiga dari pendapatan per bulan mereka. Kemudian, generasi muda di rentang usia 25-34 tahun, setidaknya menyimpan seperlima gaji bulanan mereka. Sedangkan generasi X, generasi senior di rentang usia 45-54 tahun, t

Kondisi tersebut bisa terjadi karena anak-anak generasi milenium lebih memegang teguh prinsip You Only Live Once. Artinya, mereka merasa sangat lapar dengan pengetahuan, pengalaman dan petualangan dalam hidup yang hanya bisa mereka nikmati sekali seumur hidup. Dengan demikian, tak heran jika 13 persen dari mereka, menabung untuk mendapatkan pengalaman hidup yang berharga.

Penelitian juga menyoroti kelompok generasi di usia 25-34 tahun, ternyata merasa khawatir tentang masa depan. Mereka bahkan berpikir kalau mereka tidak cukup menabung dibandingkan dengan seperempat kelompok silver savers (kelompok berusia 65 tahun ke atas). Alhasil, 42 persen dari kelompok usia 25-34 selalu menabung uangnya secara rutin.

"Anak muda jaman sekarang bekerja sangat keras dan suka menabung rutin. Mereka menuai hasil dari kebiasaan menabung sejak dini," kata Sheragh Beirne, CMO dan MD Retail Banking di GE Capital Inggris.

Berbeda dengan generasi lainnya, penelitian menunjukkan hampir sepertiga dari generasi baby boomers (berusia 55-64 tahun), mengaku tidak menabung sama sekali!

Sumber :
http://female.kompas.com

Saturday, April 12, 2014

Keranjang Investasi


“Don’t put all your eggs in one basket!” 

Peribahasa ini sering kita dengar dalam aturan berinvestasi. Artinya, jangan menempatkan semua uang kita pada satu jenis investasi saja, atau apa yang dikenal dengan diversifikasi investasi.

Banyak perencana keuangan yang menyarankan diversifikasi dalam portofolio investasi hanya pada investasi kertas. Sesungguhnya ini belum menjadi diversifikasi yang ideal menyangkut investasi. Saya sangat menyukai konsep diversifikasi portofolio seperti apa yang disampaikan Robert Kiyosaki, investor dan motivator asal Amerika Serikat.

Kiyosaki membagi investasi ke dalam empat jenis. Akan sangat ideal apabila seorang individu memiliki diversifikasi pada keempat jenis investasi ini:

Aset Kertas
Paper assets atau aset kertas adalah jenis aset yang ada di pasar uang dan pasar modal. Contoh instrumen pasar uang adalah valuta asing, surat utang negara atau obligasi. Sedangkan investasi di pasar modal berupa saham atau reksa dana. Kecuali kupon pada obligasi, jenis investasi kertas ini akan memberikan keuntungan pada saat kita menjual kembali aset tersebut dengan harga pasar yang lebih tinggi (margin on capital gain).

Risiko pada investasi di aset kertas ini berbeda. Surat utang negara cenderung lebih aman dibandingkan saham, mengingat pergerakannya yang relatif stabil dan kemungkinan gagal bayarnya sangat kecil. Sementara saham, kendati dalam jangka pendek lebih berfluktuasi dibandingkan surat utang, tapi bisa memberikan keuntungan yang jauh lebih tinggi dalam jangka panjang. Tentu saja pilihannya harus tepat, terutama terkait dengan fundamental perusahaan yang sahamnya dijadikan instrumen investasi.

Reksa dana juga merupakan bagian dari investasi aset kertas, yang di dalamnya juga menempatkan instrumen investasi di pasar modal. Mengenai reksa dana, akan kami tulis di artikel selanjutnya.

Properti
Sudah menjadi rahasia umum bahwa membeli properti adalah salah satu strategi berinvestasi yang jitu. Properti bisa memberikan pendapatan pasif apabila kita maksimalkan fungsinya menjadi properti sewa, misalnya untuk kos-kosan atau kontrak petakan, disewakan tahunan, atau properti komersial semacam ruko, hotel, perkantoran.

Membeli properti atau tanah dengan berharap harga akan naik terus, berarti kita harus cermat dalam membeli properti dengan lokasi yang strategis.

Komoditas
Yang dimaksud dengan komoditas dalam berinvestasi adalah barang yang diperjualbelikan di masyarakat. Kebutuhan terhadap barang tersebut semakin tinggi, sementara ketersediaan barangnya semakin terbatas. Instrumen komoditas yang paling umum dibeli untuk investasi adalah logam emas dan perak.

Bisnis
Di antara jenis investasi yang ada, bisnis merupakan investasi yang bisa memberikan keuntungan sangat tinggi. Tentu saja membangun bisnis bukan perkara mudah. Dibutuhkan kemauan, keahlian, serta konsistensi untuk menjadikan bisnis sebagai investasi yang bisa memberikan keuntungan dan penghasilan rutin yang konsisten.

Memulai investasi memerlukan niat yang sungguh-sungguh untuk bisa memperoleh hasil sesuai harapan. Tidak ada rumus yang tetap dalam memiliki portofolio investasi, semuanya sangat tergantung dari minat Anda terhadap instrumen investasi. Ada orang yang lebih besar porsi investasi di properti, karena instrumen itulah yang paling ia pahami dan menarik minatnya. Ada juga yang sangat menyukai bisnis, sehingga sulit untuk memiliki investasi saham dan lain-lain.

Saat Anda sudah memiliki keempat investasi tersebut, inilah yang disebut sebagai diversifikasi investasi sejati. Investasi membutuhkan ilmu pengetahuan yang cukup untuk memulai. Anda bisa memulai dengan membaca berbagai buku dan berbagai bacaan lainnya, mengikuti seminar keuangan dan lain-lain. Naikkan level kecerdasan finansial Anda untuk bisa berinvestasi dengan cerdas!

To Serenity,


Dwita Ariani, MM, RFA, RIFATwitter: @BundaWita
Financial educator dari Zelts Consulting

Sumber :
https://id.berita.yahoo.com

Thursday, March 13, 2014

Rumus Berbelanja


Kebiasaan berbelanja bisa merusak tatanan finansial yang sudah Anda bangun dari nol. Tak heran jika banyak perempuan, yang umumnya gemar berbelanja atau tergiur diskon, menderita dengan kondisi keuangan yang kusut. Penggunaan kartu kredit yang berlebihan hanya salah satu bagiannya. Masalah utamanya adalah pada kebiasaan buruk yang menguasai diri Anda dan ketidakmampuan mengelola uang dengan benar. 

Perencana keuangan Ligwina Poerwo-Hananto mengatakan tak perlu menahan keinginan berbelanja. Namun yang perlu dilakukan dan menjadi kebiasaan adalah cermat mengatur komposisi cashflow setiap bulannya. 

Ligwina menerangkan saat menerima gaji setiap bulan, Anda perlu memisahkan uang untuk sejumlah kebutuhan. Rumusnya, cicilan utang menjadi prioritas pertama yang harus segera dibayarkan dengan komposisi maksimal 30 persen. Lalu 20-40 persen perlu dialokasikan untuk premi asuransi, kebutuhan rumah tangga, transportasi, kebutuhan anak dan keluarga, juga kesehatan. Nah, hanya gunakan 20 persen untuk kebutuhan pribadi seperti perawatan di salon, belanja baju atau sepatu baru, juga ganti gadget, misalnya. Sisanya, sekitar 10-30 persen adalah untuk ditabung sebagai dana darurat.

"Komposisi untuk belanja jangan lebih besar dari komposisi tabungan," jelas Ligwina kepada Kompas Female beberapa waktu lalu. "Kalau masih mampu, tidak apa menggunakan uang untuk kebutuhan pribadi. Jangan bergaya seperti gaji sembilan juta dengan gaji yang hanya lima juta. Pekerjaan Anda sebagai manajer tak perlu bergaya sama seperti vice president. Jangan menjalani gaya hidup yang tak layak untuk Anda," tegasnya.

Artinya, kalau gaji Anda satu bulan Rp 2 juta, lalu memisahkan uang sebesar 10 persen untuk ditabung, sekitar Rp 200.000 maka aturannya Anda tidak boleh berbelanja lebih dari angka tersebut untuk memenuhi keinginan yang bukan prioritas. Agar pengelolaan uang bisa berjalan mulus, pisahkan uang untuk setiap pos saat Anda menerima gaji. Caranya, bisa dengan menggunakan sistem amplop, jelas Ligwina. "Pilihan lain membuat the magical shopping account. Jadi setiap bulan setelah gajian pindahkan uang untuk belanja ke rekening lain," tambahnya. 

Nah, jika Anda menginginkan sebuah benda atau barang misalnya, kumpulkan uang dalam tiga bulan misalnya dalam rekening belanja. Uang yang terkumpul dalam rekening belanja ini bebas Anda gunakan untuk membeli barang yang Anda inginkan. Model pengaturan keuangan seperti ini juga bisa berlaku jika Anda berencana ingin liburan, jelas Ligwina. Dengan begitu, dana darurat yang Anda alokasikan setiap bulan tidak akan terganggu dengan kebiasaan berbelanja.

Sumber :
http://female.kompas.com

Thursday, February 13, 2014

Berbelanja Sembunyi-Sembunyi


Belanja memang menjadi salah satu kesukaan para perempuan. Tetapi sayangnya setelah menikah aktivitas ini menjadi salah satu hal yang sering disembunyikan dari pasangan.

Menyembunyikan tagihan belanja atau tidak jujur mengenai harga barang yang dibeli adalah salah satu hal yang kerap dilakukan karena takut atau malu jika suami mengetahui Anda menghamburkan uang untuk berbelanja.

Sebenarnya bukan cuma wanita yang kerap menyembunyikan hasil belanjanya. Para pria juga, tapi jenis barangnya yang berbeda.

Wanita umumnya menyembunyikan pakaian atau aksesoris yang mereka beli. Sementara para pria umumnya tidak terbuka mengenai uang yang mereka habiskan untuk makan di restoran atau ke bar.

Namun sikap tidak jujur tersebut sebaiknya dihentikan. "Berbelanja sembunyi-sembunyi atau tidak jujur tentang uang yang sudah dikeluarkan adalah indikator besar adanya masalah kepercayaan dalam perkawinan," kata Ian Kerner, pakar hubungan dan penulis buku Passionista.

Kalau mau jujur, sebenarnya apa ketakutan terbesar kita jika bersikap transparan mengenai kegiatan belanja tersebut? Apakah suami adalah orang yang memegang kontrol dalam perkawinan dan keuangan? Apakah Anda punya masalah dengan sifat kompulsif dalam belanja?

"Kita bisa belajar untuk berkomunikasi efektif dengan pasangan, tidak hanya dalam soal uang tapi juga hal lain yang berkaitan dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan," katanya.

Kerner juga menyarankan agar Anda dan pasangan bersama-sama merancang pengaturan keuangan dan membuat pos belanja khusus untuk kebutuhan pribadi atau hobi.

"Jangan lupa untuk membuat kesepakatan jika suatu kali ingin membeli barang yang harganya di atas anggaran maka akan didiskusikan dulu sebelum menggesek kartu kredit," katanya.

Sumber :
http://female.kompas.com

Thursday, January 16, 2014

Perencanaan Kondisi Keuangan Masa Depan


oleh Harris Turino




Sudah menjadi satu fenomena yang umum bahwa banyak di antara rekan-rekan kita, ataupun orang-orang di sekitar kita yang sering mengeluh bahwa kondisi keuangannya morat-marit.

Jumlah utangnya menggunung dan melebihi pendapatannya, bahkan melebihi jumlah asset yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini yang biasanya menjadi kambing hitam adalah kecilnya jumlah pendapatan yang dimilikinya.

Padahal akar permasalahan yang sebenarnya bukan berada pada sisi pendapatan saja, tetapi kegagalan mengelola keuangan. Banyak di antara kita yang tidak memiliki perencanaan keuangan, bahkan tidak pernah berpikir untuk merencanakan kondisi keuangan, apalagi di masa mendatang.

Perencanaan keuangan sebenarnya merupakan aktivitas mutlak yang harus dilakukan oleh setiap orang dan inilah yang akan membedakan antara kelompok orang-orang yang selalu terjebak oleh kesulitan likuiditas dan kelompok orang-orang yang bisa menikmati hidupnya. Tulisan ini akan mencoba untuk membahas secara sederhana, bagaimana seseorang harus mulai merencanakan keuangannya.



Mendiagnosa kondisi keuangan

Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam penyusunan rencana keuangan adalah mendiagnosa kondisi keuangan pribadi kita saat ini. Yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosa kondisi keuangan adalah besarnya total pendapatan, total pengeluaran, besarnya aset dan kewajiban hutang yang kita miliki.

Secara umum jelas bahwa jumlah total pendapatan tidak boleh melebihi total pengeluaran. Bagi orang yang memiliki pendapatan tetap tiap bulan maka dengan mudah bisa diperkirakan besarnya total pendapatan dalam satu tahun, termasuk pendapatan non rutin seperti tunjangan hari raya dan bonus. Maka pengeluarannya harus diatur tidak melebihi total pendapatan rutin yang dimilikinya.

Pendapatan non rutin tidak boleh dialokasikan untuk menanggung total pengeluaran, tetapi harus dialokasikan untuk tujuan investasi atau memperkuat dana darurat. Sedangkan bagi orang yang memiliki jenis pendapatan variabel (tidak tetap) maka total pengeluarannya tidak boleh melebihi 80% rata-rata pendapatannya.
Pos berikutnya yang perlu dicermati adalah asset. Kita sering sekali keliru mendefinisikan tentang aset dalam kaitannya dengan perencanaan keuangan.

Aset sebenarnya adalah segala sesuatu yang memberikan hasil atau mendukung aktivitas produktif kita. Contoh yang sederhana adalah rumah yang kita tinggali dan kendaraan yang kita pakai bisa digolongkan ke dalam aset karena mendukung aktivitas produktif kita, sedangkan villa, stereo set, gitar akustik, tongkat golf dan kendaraan kedua yang jarang kita pakai, jelas bukan merupakan kategori aset. Tabungan dan investasi adalah salah satu ujud nyata aset yang memberikan imbal hasil.

Utang adalah hal yang jamak dilakukan dan sebenarnya bukan hal yang perlu ditakuti. Utang pada hakikatnya adalah menambah daya beli kita dengan menarik pendapatan kita di masa mendatang ke masa kini.

Yang perlu dicermati dalam hal utang adalah jenis utang dan besarnya kewajiban cicilan yang harus kita tanggung. Kredit rumah dan kendaraan produktif jelas merupakan jenis utang yang wajar dan bisa ditoleransi, tetapi utang kartu kredit adalah jenis hutang yang mutlak harus dihindari. Tingkat bunga utang kartu kredit rata-rata mencapai 35 – 48 persen per tahun dan ini jelas membebani likuditas keuangan kita.

Mengingat besarnya tingkat bunga kartu kredit, maka penggunaan kartu kredit harus diwaspadai sebatas demi kepraktisan dan kenyamanan saja dan bukan untuk meningkatkan daya beli kita dengan cara berutang.

Dalam hal mengelola utang, besarnya total kewajiban pembayaran cicilan utang kita tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Bila kita sudah terjebak pada kondisi kewajiban membayar hutang yang melebihi ambang batas tersebut, maka retrukturisasi utang mutlak harus dilakukan dengan memprioritaskan pada utang-utang yang memiliki bunga tinggi, seperti utang kartu kredit, kredit tanpa agunan dan sejenisnya.


Memiliki Dana Darurat

Langkah kedua dalam penyusunan rencana keuangan adalah memeriksa ketersediaan dana darurat yang kita miliki. Dana darurat adalah dana yang sewaktu-waktu harus tersedia bila muncul pengeluaran yang tidak terduga.

Banyak orang tidak memikirkan ketersediaan dana darurat dalam perencanaan keuangan mereka, sehingga ketika muncul pengeluaran tidak terduga maka yang sering dilakukan adalah menambah kemampuan daya beli dengan menciptakan hutang, dan biasanya jenis utangnya adalah utang dengan tingkat bunga tinggi seperti hutang kartu kredit dan kredit/pinjaman tanpa agunan.

Padahal jelas bahwa utang sebenarnya sama sekali tidak boleh dijadikan andalan untuk menutup pengeluaran tidak terduga ini. Di sinilah pentingnya ketersediaan dana darurat, sehingga kita tidak terjebak lilitan utang berbunga tinggi.

Besarnya dana darurat yang harus dimiliki dalam perencanaan keuangan bervariasi, mulai dari 5 sampai 20 kali total pengeluaran bulanan kita, tergantung dari beban yang kita tanggung. Bila kita masih single maka cukup memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran, sedangkan semakin banyak anggota keluarga kita, maka semakin besar dana darurat yang harus kita siapkan.

Patokan yang sederhana adalah tiap anggota keluarga yang menjadi tanggunan kita harus memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran. Sehingga bila kita sudah menikah dan memiliki 2 anak, maka total besarnya dana darurat yang kita miliki adalah 20 kali total pengeluaran bulanan kita. Dana darurat ini bukan termasuk kategori investasi, tetapi tetap dana darurat ini harus diinvestasikan agar berkembang.

Pilihan jenis investasi untuk dana darurat adalah investasi yang sifatnya likuid dan memiliki tingkat risiko investasi yang relatif kecil. Investasi pada dana darurat bukan untuk tujuan pertumbuhan tetapi lebih pada ketersediaan sewaktu-waktu dan tidak lekang oleh inflasi. Harus disadari bahwa besarnya dana darurat ini harus meningkat sejalan dengan meningkatnya taraf hidup kita. 


Membuat Daftar Pengeluaran

Langkah ketiga dalam penyusunan rencana keuangan adalah membuat daftar pengeluaran. Pada tahap ini yang mutlak dilakukan adalah memeriksa jenis pengeluaran yang selama ini kita jalani.

Secara garis besar jenis pengeluaran itu bisa dibagi menjadi empat bagian, yaitu membayar kewajiban hutang, pengeluaran rutin seperti biaya rumah tangga, listrik, telepon, dan lain-lain, investasi dan pengeluaran pribadi.

Seperti sudah dijelaskan pada langkah pertama di atas, besarnya kewajiban membayar utang (cicilan) tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Dan ini harus ditempatkan pada prioritas pertama dari sisi pengeluaran.

Menunda kewajiban pembayaran utang hanya akan menimbulkan peluang terciptanya utang baru di masa depan yang memiliki tingkat bunga lebih tinggi. Prioritas kedua dalam pengeluaran adalah mengelola pengeluaran rutin.

Harus dibedakan secara jelas antara pengeluaran rutin dan pengeluaran pribadi. Pengeluaran rutin adalah jenis pengeluaran yang mutlak harus dilakukan untuk mendukung aktivitas produktif kita, tidak bisa dihemat tanpa menurunkan kualitas hidup dan tidak bisa dihindari, sedangkan pengeluaran pribadi adalah jenis pengeluaran yang harus dikorbankan bila terjadi penurunan pendapatan.

Besarnya pengeluaran rutin harus dijaga pada kisaran 50 persen dari total pendapatan kita. Bila pengeluaran rutin sudah melebihi ambang batas 60 persen dari total pendapatan kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk berinvestasi.

Akibatnya kita akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup di masa yang akan datang. Jadi bila pengeluaran rutin sudah mendekati ambang batas, kita harus bekerja lebih giat lagi agar total pendapatan kita meningkat.

Investasi juga harus menjadi prioritas dalam alokasi “pengeluaran” kita. Investasi ini berguna untuk meningkatkan kualitas hidup kita di masa yang akan datang. Investasi akan menambah aset yang kita miliki dan menjadi sumber pendapatan pasif.

Budaya investasi harus mulai dilakukan sejak dini, seberapa kecilpun pendapatan kita. Besarnya alokasi “pengeluaran” untuk investasi minimal adalah 10 persen dari total pendapatan kita. Agar kondisi ini tercapai, maka alokasi investasi bukan dari sisa pendapatan kita setelah dikurangi dengan pengeluaran, tetapi memang sudah dialokasikan begitu kita menerima pendapatan.

Perlu dipahami bahwa investasi tidak sama dengan menabung, karena menabung hanya memberikan tingkat pertumbuhan asset yang relatif sangat kecil. Semakin muda usia kita semakin besar bobot (persentasi) investasi kita di instrumen-instrumen investasi yang mampu memberikan tingkat pengembalian yang tinggi untuk mendukung masa depan keuangan kita.

Harus disadari bahwa investasi yang memberikan tingkat imbal hasil tinggi selalu memiliki tingkat risiko yang tinggi dan tingkat resiko tersebut harus tetap sesuai dengan karakteristik toleransi risiko yang kita miliki. Semakin mapan kondisi ekonomi kita, maka alokasi aset dalam bentuk investasi harus semakin besar, sampai pada gilirannya kita bisa mencapai kebebasan finansial bila hasil yang kita terima dari kerja asset investasi kita sudah melebihi atau paling tidak mendekati hasil kerja produktif kita.

Pengeluaran pribadi adalah satu-satunya jenis pengeluaran yang boleh dan harus dikorbankan ketika terjadi kenaikan persentasi pengeluaran di ketiga pos pengeluaran yang lainnya. Penundaan dan pengurangan pada pos pengeluaran pribadi tidak akan mengurangi kualitas hidup kita dan tidak membahayakan kondisi keuangan kita di masa yang akan datang.

Hal ini jelas berbeda apabila kita mengurangi alokasi pengeluaran kita pada ketiga pos prioritas pengeluaran yang pertama. Salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran pribadi adalah dengan membuka akun khusus di bank yang digunakan untuk mendukung pengeluaran pribadi ini dan akun ini hanya berisi sisa dari pendapatan kita bulan sebelumnya setelah dikurangi dengan total pengeluaran kita di ketiga pos pengeluaran prioritas yang tidak boleh diganggu gugat.

Akun khusus inilah yang digunakan mendanai pengeluaran pribadi agar tidak menggerogoti ketiga pos pengeluaran prioritas. Dengan adanya akun khusus ini maka kita juga tidak perlu repot-repot untuk menghitung besarnya alokasi pengeluaran pribadi yang boleh dilakukan.

Setelah kita membenahi kondisi keuangan kita maka kita harus memasuki langkah keempat, yaitu merencanakan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang kita. Dalam menentukan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang harus jelas tergambar tujuan keuangan yang ingin dicapai dan kurun waktu untuk mencapainya.

Target tujuan tentu saja harus realistis dan disesuaikan dengan kondisi kita. Target jangka panjang kemudian dipecah-pecah menjadi target-target jangka pendek dan strategi mencapai tujuan tersebut.

Salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan pencapaian tujuan keuangan adalah komitmen dan ketertiban kita mematuhi strategi yang sudah ditentukan. Perencana keuangan profesional dari dunia perbankan bisa dilibatkan untuk menata tujuan keuangan kita.

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi bagi kita untuk menata ulang dan memperbaiki kondisi keuangan pribadi kita. Selamat berinvestasi.


Harris Turino
Faculty Member Prasetiya Mulya Business School, Pelaku Bisnis dan Pengamat Pasar Modal serta Kandidat Doktor Manajemen Strategik Universitas Indonesia

Sumber :
http://female.kompas.com

Related Posts