Wednesday, December 4, 2013

6 Pilihan Mengatur Gaji Pasangan



Tantangan ketika menikah adalah bagaimana mengelola keuangan bersama. Maklum saja, selama ini hidup sendiri-sendiri, bebas menggunakan gaji untuk kesenangan masing-masing, mendadak harus saling berbagi dan menabung untuk tujuan bersama. Haruskah setiap pasangan menyatukan penghasilan dalam satu rekening, atau bisakah tetap hidup dengan rekening masing-masing?

Tidak ada satu cara pasti untuk mengelola keuangan atau mengatur penghasilan pasangan, karena semuanya tergantung dari situasi yang dialami masing-masing pasangan. Untuk Anda, perencana keuangan Sophia Bera dari Cahill Financial Advisors, Inc. memberi pilihan enam cara pengelolaan uang yang mungkin akan cocok untuk cara hidup Anda dan pasangan.

1. Membuka satu rekening bersama
Selain memiliki tabungan untuk menampung penghasilan masing-masing, Anda juga bisa membuka satu rekening bersama. Jumlah yang disetor masing-masing bisa sama atau berbeda. Cocok untuk: Pasangan yang memiliki penghasilan yang kurang lebih sama, untuk membayar sewa rumah, tagihan-tagihan, belanja kebutuhan sehari-hari, dan pengeluaran bersama lainnya.

"Memiliki rekening bersama memberikan masing-masing pasangan akses pada dana tersebut," ungkap perencana keuangan Sophia Bera. "Masing-masing harus percaya bahwa yang lain akan menggunakan uang dengan cara yang telah disepakati."

2. Menyisihkan persentase tertentu dari gaji
Caranya sama, membuka rekening bersama, namun jumlah setorannya ditentukan berdasarkan persentase penghasilan. Cocok untuk: Pasangan dengan penghasilan yang berbeda, baik dari jumlah maupun sumbernya. Jadi, meskipun Anda dan suami memiliki penghasilan yang jauh berbeda, masing-masing menyisihkan persentase yang sama dari gaji.

Idealnya, jumlah yang disetorkan di bawah 50 persen dari take-home pay masing-masing pasangan. Sebutlah misalnya 30 persen. Jadi jika gaji Anda Rp 5 juta, jatah setoran Anda Rp 1,5 juta. Sedangkan jika gaji suami Rp 10 juta, maka jatahnya Rp 3 juta. Tabungan semacam ini baik dilakukan untuk kebutuhan jangka panjang, misalnya biaya pendidikan anak di perguruan tinggi, naik haji, atau liburan. Di luar itu, Anda masih bisa membuka rekening pribadi dan menggunakannya untuk biaya hidup sehari-hari.

3. Salah satu membayar semua pengeluaran
Meskipun Anda dan suami sama-sama bekerja, hanya satu orang yang diputuskan untuk membayar semua pengeluaran. Cocok untuk: Pasangan yang salah satunya memiliki penghasilan jauh lebih besar, atau salah satu memutuskan untuk berhenti bekerja karena ingin mengasuh anak atau melanjutkan sekolah.

Cara ini dapat menguji apakah penghasilan salah seorang bisa mencukupi kebutuhan seluruh keluarga. Bila gaji suami lah yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia bisa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pengeluaran rumah tangga. Sebelum memutuskannya, Anda bisa berdiskusi lebih dulu. Jika suatu saat Anda kembali bekerja, apakah Anda harus ikut andil dalam membayar pengeluaran, atau menabung saja penghasilan Anda? Jenis pengeluaran seperti apa yang menjadi tanggung jawab Anda?

4. Masing-masing memilih jatah tagihan yang mampu dibayar
Cocok untuk: Pasangan dengan penghasilan yang sedang, sehingga masing-masing dituntut bertanggung jawab untuk membayar pengeluaran rumah tangga.

Setiap rumah tangga pasti memiliki pengeluaran dan tagihan yang harus dibayar, dari PAM, PLN, komunikasi (telepon dan internet), kartu kredit (yang digunakan untuk membeli peralatan rumah tangga), hingga cicilan mobil dan kontrakan rumah. Anda bisa memilih sendiri mana tagihan yang mampu Anda bayar, sesuai dengan penghasilan Anda. Misalnya, karena Anda punya penghasilan tetap dan lebih besar, Anda yang membayar kontrakan rumah, dan cicilan mobil. Sedangkan suami yang membayar kartu kredit, asuransi, PAM, PLN, dan komunikasi, karena ia bekerja di rumah dan selalu terhubung dengan internet.

“Yang paling penting, bicarakan hal ini lebih dulu, dan buat perencanaan yang efektif untuk Anda berdua," ujar Bera.

5. Menyatukan seluruh penghasilan dalam satu rekening
Cocok untuk: Anda yang ingin menyatukan milik berdua seutuhnya, atau untuk menghindari salah satu melakukan pemborosan terhadap rekening pribadi.

Ada dua cara yang bisa Anda pilih. Rekening ini digunakan untuk seluruh keperluan, dari membayar pengeluaran rumah tangga sampai tabungan bersama. Tantangannya: Anda harus disiplin menyisihkan uang di dalam rekening ini untuk ditinggalkan sebagai tabungan. Cara lain adalah membuat rekening bersama ini untuk pengeluaran tetap (seperti cicilan rumah dan kendaraan) dan tabungan, dan satu rekening lagi untuk biaya operasional sehari-hari termasuk untuk bersenang-senang atau liburan. Dengan pengelolaan seperti ini, Anda harus rajin membuat pembukuan bulanan untuk menghitung pengeluaran dan kemajuan nilai tabungan Anda.

6. Mengandalkan satu gaji saja
Cara ini mirip dengan cara nomor tiga di atas, namun dengan tujuan berbeda. Cocok untuk: Pasangan yang sama-sama bekerja, namun memutuskan untuk berhemat dan menabung lebih banyak. Misalnya, gaji suami digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari, sementara gaji Anda ditabung untuk dana pensiun atau dana cadangan. Pengaturan ini bisa dilakukan untuk pasangan yang salah satunya memiliki penghasilan tidak tetap, belum mempunyai anak, dan jika sudah ada anak berencana menjadi ibu rumah tangga.

Gunakan gaji suami (atau gaji Anda, terserah gaji siapa yang akan digunakan) untuk membiayai seluruh pengeluaran, dari kebutuhan hidup sehari-hari, membayar tagihan-tagihan, gaya hidup, dan bila mungkin tabungan dan investasi. "Ini salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan pasangan untuk keuangan mereka, karena memaksa mereka untuk menjaga pengeluaran tetap rendah dan berhemat, serta menabung untuk kondisi darurat dan saat pensiun nanti," ujar Bera.

Pada awalnya, cara ini mungkin akan sulit dilakukan. Tetapi jika Anda disiplin, Anda akan sukses menjalankannya. Bahkan, rumah, liburan, atau pendidikan anak di luar negeri yang Anda impikan bisa tercapai lebih cepat.

Penulis : Felicitas Harmandini
Editor : Dini

Sumber :
http://female.kompas.com

Saturday, November 30, 2013

Mengamankan Risiko Cicilan KPR


DUA minggu lalu, untuk ke sekian kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate secara bertahap. Kini, menjadi 7,5 persen.

Imbasnya mulai terasa. Beberapa hari setelah pengumuman suku bunga oleh BI, ada pemberitahuan dari sebuah bank BUMN. Mereka menaikkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dari 10,5 persen menjadi 11,5 persen. Padahal dua bulan sebelumnya, suku bunga KPR di bank ini masih 9,5 persen. Artinya, sudah naik 2 persen dalam waktu tiga bulan terakhir.

Asumsikan saja Anda punya cicilan KPR dengan saldo utang terakhir Rp 100 juta. Jangka waktu pembayarannya masih delapan tahun lagi. Maka cicilan yang tadinya Rp 1,4 juta per bulan menjadi Rp 1,5 juta, ketika suku bunganya naik 1 persen. Selanjutnya naik lagi menjadi Rp 1,6 juta per bulan ketika dinaikkan kembali sebesar 1 persen.

Tentu kenaikan cicilannya akan lebih besar sejalan dengan sisa saldo KPR. Bahkan lebih besar lagi ketika usia kreditnya masih muda.

Tentu bukan sekadar akibat kenaikan suku bunga. Kenaikan cicilan KPR jadi tambah berat lantaran selama ini menikmati masa suku bunga fixed (tetap) selama satu tahun pertama. Umumnya, karena promo jadi hanya 6-8 persen. Jadi, besaran suku bunganya akan melonjak, misalnya dari 6 persen menjadi 11 persen. Akibatnya, cicilan melonjak drastis.

Apakah semua bank menaikkan suku bunga seperti bank plat merah itu? Boleh dibilang hampir pasti, kecuali bank syariah dengan akad KPR Murabahah (jual-beli).

Namanya juga jual beli, tentu harga jual yang sudah disepakati di awal tidak boleh berubah. Artinya, cicilan KPR yang tidak lain adalah cicilan pembelian rumah dari bank tidak akan mengalami kenaikan.

Dengan cicilan tetap hingga lunas, proyeksi arus kas (cash flow) menjadi lebih mudah. Ketenangan batin juga diperoleh karena tak perlu repot memantau pergerakan suku bunga.

Tapi ingat, di bank syariah bukan hanya akad murabahah yang digunakan. Sekarang bank syariah juga mulai gunakan akad lain yang cicilannya mengambang (floating). Jadi, pastikan kita memahami akadnya sebelum menyetujui.

Namun harus diakui, ada yang beranggapan bahwa akad KPR Murabahah di bank syariah mahal atau cicilannya tinggi. Menurut saya, itu karena konsumen tidak membandingkan fitur kredit yang sama antara bank syariah dengan bank konvensional.

KPR konvensional kerap menggunakan suku bunga mengambang, sehingga wajar berani mematok suku bunga rendah di awal. Jika suku bunga naik, tinggal naikkan saja cicilannya.

Apalagi bank konvensional sering juga memberikan masa promo selama 1 atau 2 tahun pertama dengan suku bunga khusus. Namanya juga promo, tentu sengaja dipatok lebih rendah agar terlihat murah. Namun ingat, itu cuma di awal. Setelah masa iklannya berakhir, kembali ke tingkat suku bunga pasar.

Karena itu, lebih bijak jika membandingkan cicilan KPR Murabahah dengan cicilan KPR yang fixed atau tetap selama suatu periode. Bukan yang promo.

Nah, bagi Anda yang sedang mencicil KPR, dengan kenaikan suku bunga seperti sekarang, bersiaplah membayar cicilan lebih besar. Jika merasa berat, jangan khawatir. Masih ada pilihan. Pindahkan KPR Anda ke bank lain.

Bagi yang sedang mempertimbangkan pembelian rumah, pilihan di tangan Anda. KPR biasa cicilan ringan di awal, tapi ikut naik sesuai suku bunga pasar. Atau, KPR Syariah dengan akad murabahah. Cicilannya tetap, sehingga bisa mengunci risiko.

Apa pun pilihannya, tetap jadikan rumahmu sebagai surgamu.

Saturday, November 16, 2013

Perencanaan Keuangan untuk Orang Awam


Apa yang saya perlu lakukan untuk membangun portfolio untuk waktu senja saya? Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh orang yang punya rencana dalam hidup, terutama secara keuangan. After all, seseorang tidak bisa bekerja selamanya. Akan ada waktu dimana secara produktivitas dan kemampuan, seseorang akan mengalami penurunan.

Jawaban dari pertanyaan ini dipengaruhi dua hal, yakni pengeluaran anda, dan juga pemasukan anda. dari segi pengeluaran, anda harus mengerti gaya hidup anda dan berapa yang anda perlukan untuk mempertahankan gaya hidup tersebut. Seseorang yang puas dengan Toyota Avanza, tentunya akan memerlukan lebih sedikit uang dari pada seseorang yang terbiasa diantar oleh supirnya dengan S Class.

Bukan hanya dari segi harga mobil, namun dari segi maintenance saja sudah jauh berbeda.
Artikel ini akan membahas lebih banyak dari segi pemasukan. Apa yang seseorang bisa lakukan untuk membangun sebuah portfolio yang bisa menunjang di hari tua? Berapa besar jumlah uang yang diperlukan?

Apa tipe investasi yang cocok?

Portfolio anda harus dibentuk dengan perencanaan yang matang, disiplin dan kesabaran. Dan hal ini tentu saja tidak mudah. Satu hal yang penting, tugas ini tidak dapat anda delegasikan kepada orang lain. Tidak ada orang di dunia yang lebih mengerti situasi keuangan dan ekspetasi anda dari pada anda sendiri. Anda bisa mencari konsultan, namun pada ujungnya, segala tanggung jawab perencanaan dan eksekusi berakhir pada anda sendiri.

Beberapa produk investasi yang anda bisa pergunakan di bawah ini. Saya juga sertakan ukuran kasar dari keuangan anda yang cocok dengan masing-masing produk. Saya juga urutkan menurut prioritas produk investasi.

1. Uang Kontan / Deposit
10 – 500 jt
Banyak orang tidak menyadari akan kekuatan uang kontan. Meskipun uang tidak memberikan return yang begitu banyak, namun uang kontan diperlukan sebagai buffer yang bisa menahan impact dari downturn ekonomi terhadap investasi anda. Ketika pasar saham rontok, bubble property pecah, anda perlu uang untuk menahan investasi anda. Bila anda dipaksa untuk menjual investasi anda dikarenakan krisis, maka anda telah melakukan kesalahan dalam money management anda.
Sebagai panduan kasar, jumlah cash yang anda perlukan adalah 10% dari total portfolio anda ditambah pengeluaran anda selama 12 bulan ke depan. Untuk return, saya sarankan anda memasukkannya ke dalam deposito dengan waktu cair yang berbeda, jadi setiap bulan, anda bisa memiliki opsi untuk mencairkan 1/12 dari total cash anda. Ada orang yang memilih untuk memasukan deposito setiap 2 bulan, dan hal itu sah-sah saja. Untuk mendapatkan bunga lebih tinggi, anda bisa mencari bank yang lebih kecil (BCA memberikan bunga paling rendah), namun memiliki reputasi, seperti Permata, BNI, Bukopin.

2. Properti
Pendapatan bebas sekitar 5-10 jt / bulan
Ketika anda memiliki uang cash yang cukup untuk kebutuhan anda (setelah kebutuhan anak, kesehatan terpenuhi), maka properti adalah produk terbaik untuk investasi anda. Mengapa properti? Karena secara umum, properti bisa melindungi anda dari inflasi, dan pada saat yang sama merupakan alat yang bisa bekerja buat anda, atau dengan kata lain investasi pasif. Ketika anda bekerja, hanya 1 orang yang dapat menghasilkan uang dengan 24 jam dan 2 tangan anda. Namun lain halnya dengan properti, secara alami, properti dapat menghasilkan pemasukan yang stabil, walaupun dalam beberapa kasus, lebih rendah dari deposito anda. Namun untuk jangka di atas 5 tahun, deposito tidak bisa melindungi anda dari gerogotan inflasi.
Tentu saja, pemilihan properti memerlukan tidak sedikit waktu. Sebagai pedoman, bila anda tidak memiliki banyak waktu untuk riset properti, hindari properti yang dikondisikan untuk digoreng. Anda tidak akan tahu di ujung mana anda masuk ke tahapan gorengan, biasanya bila anda tidak tahu, anda sedang berada di akhir gorengan. Saya sarankan untuk mencari properti yang memiliki yield bagus, dengan kata lain berpotensial untuk disewakan (ruko/apartemen). Di Indonesia, bila anda menemukan yield 4-5%, sudah cukup bagus.
Alasan lain berinvestasi di properti adalah anda bisa menggunakan bantuan bank. Meskipun bunga yang tidak rendah, namun bila anda mendapatkan properti yang menghasilkan cash setiap bulannya, maka biaya bunga seharusnya bisa tertutupi. Bila anda disiplin, maka investasi ini bisa merupakan investasi terbaik dalam hidup anda.

3. Asuransi Jiwa
Sekitar 3 – 5 jt / bulan
Sebelum anda bergegas menelepon agen asuransi anda, tolong baca pelan-pelan lagi. Asuransi jiwa. Bukan asuransi kesehatan. Kedua hal tersebut sangat berbeda dalam esensi. Asuransi jiwa merupakan investasi, sedangkan asuransi kesehatan adalah.. well.. asuransi. Meskipun anda mungkin akan berargumen tentang validnya asuransi kesehatan sebagai investasi, namun untuk post kali ini, saya hanya bisa mengatakan bahwa ada alasannya para penjual asuransi kesehatan menawarkan asuransi kesehatan plus investasi. Bila asuransi kesehatan adalah investasi, kenapa harus ditambahkan fitur investasi ke dalamnya?
Asuransi jiwa merupakah salah satu alat investasi yang paling kuat, disebabkan karena semua manusia pasti meninggal. Asuransi kesehatan belum tentu dipakai, karena tidak semua manusia jatuh sakit, namun berbeda halnya dengan asuransi jiwa. Permasalahannya hanya asuransi jiwa menghasilkan return yang bukan dinikmati anda sendiri, namun oleh orang lain, apakah istri anda, anak anda, atau keluarga anda. Intinya, asuransi jiwa adalah asuransi yang memberikan return yang bagus, namun bukan untuk anda sendiri.

4. Saham
Untuk solusi terakhir yang perlu anda pertimbangkan, adalah tentu saja saham. Bagi anda yang tidak punya waktu untuk memonitor saham anda (percaya atau tidak, sebagian besar orang jatuh dalam kategori anda), disarankan anda membeli reksa dana yang memiliki biaya rendah. Biaya tahunan yang lebih kecil dari 1%, dan biaya pembelian di bawah 2%. Berhati-hatilah karena biaya akan mempengaruhi performa dari investasi anda dengan signifikan.
Bagaimana anda tahu bila anda lebih baik duduk diam membeli reksa dana, atau anda lebih baik memilih saham anda sendiri? Bila anda tidak membaca berita setiap hari, tidak mengerti tentang pengaruh suku bunga, tidak bisa membedakan antara utang jangka panjang dengan pendek, tidak punya waktu untuk membaca setidaknya 4 buku keuangan dalam setahun, mata berkunang-kunang ketika melihat laporan keuangan, makan anda sebaiknya duduk manis dan membeli reksa dana. Jangan mengira bahwa dengan membaca analisa dan tips trading terhangat dari broker anda, anda bisa mendapat return yang memuaskan. Lupakan itu, and save your time and money!

Sumber : http://flog.co.id

Membangun Perencanaan Finansial dengan Lebih Bijak.


Perencanaan finansial kedepannya. saya rasa setelah cukup banyak menghabiskan materi untuk persiapan lebaran, maka inilah saatnya untuk mereset ulang perencanaan finasial yang kita lakukan agar menjadi lebih baik lagi.

Seperti anjuran para ahli yang menyimpulkan, bahwa kondisi finansial yang baik adalah kondisi dimana nilai pengeluaran bersifat lebih kecil dari pendapatan, sehingga minimal anda bisa menyimpan sekitar 20 % dari sisanya untuk tujuan lainnya.

Jujur saja menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk suatu tujuan finansial dan perencanaan masa depan sungguh terdengar sangat menarik dan sangat masuk diakal bagi siapapun. Namun kenapa faktanya begitu sulit untuk dilakukan? Jangankan menyimpan bahkan terkadang nilai total pengeluaran bisa saja jauh melebihi pendapatan.

Bagi anda yang sedang berhemat dan sedang berencana melakukan perencanaan finasial dengan lebih bijak, berikut 7 langkah awal untuk melakukannya:

1. Mempunyai rekening tabungan terpisah

Yang pertama, setiap kali mendapatkan income pisahkan budget yang merupakan kebutuhan pokok anda perbulannya. Setelahnya segeralah transfer sisa dari perhitungan kebutuhan pokok tersebut kedalam rekening terpisah sebagai simpanan yang tidak boleh diganggu gugat. Hal ini bertujuan untuk melatih anda agar mempunyai pandangan tentang stabilitas keuangan yang anda miliki.

2. Membuat rincian pengeluaran

Adalah suatu kewajiban bagi anda untuk mengetahui kemana perginya setiap sen dari uang anda. Anda mungkin akan terperangah melihat berapa banyak dari total uang yang sering anda habiskan dengan kegiatan anda diluar yang sebenarnya tidak terlalu berguna. Dengan membuat rincian catatan pengeluaran anda bisa memantau manakah sekiranya dari pengeluaran tersebut yang terlalu banyak dan layak untuk dibatasi.

3. Simpan kembalian dari sisa uang yang anda keluarkan

Boleh jadi anda akan menerima kembalian setelah anda membayar pajak ataupun berbelanja di mini market. Jangan lupa, anda bisa memanfaatkan uang receh ini sebagai sebuah celengan yang akan menambah nilai simpanan anda. Anda bisa membawa dan menukarkannya di bank ketika celengan anda sudah penuh terisi dan langsung memasukannya kedalam tabungan anda.

4. Pikirkan juga mengenai tambahan extra

Bagi anda yang mempunyai penghasilan tambahan, itu bukan berarti anda bebas menghabiskannya tanpa adanya tujuan yang jelas. Segeralah masukan / transfer pendapatan extra anda kedalam tabungan sebelum anda berubah pikiran mengenainya.

5. Pangkas biaya yang tidak perlu

Percaya atau tidak anda berpotensi menghemat puluhan hingga ratusan juta Rupiah pertahunnya. Jika anda merasa selama ini kegiatan anda diluar banyak menggangu stabilitas finansial anda, maka jangan ragu untuk meninggalkannya. Mungkin sesekali tidak ada masalah sekedar nongkrong atau makan di restoran dan cafe – cafe lainnya untuk memenuhi hasrat anda. Namun jika anda menjadikannya kebiasaan, bayangkan berapa banyak yang anda akan habiskan pertahunnya?

6. Mulailah dengan mengatur target realistis

Untuk mengatur perencanaan finansial anda dengan bijak, anda bisa mulai menyisihkannya dengan nilai dan angggran yang kecil terlebih dahulu. Pastikan anda melakukannya dengan konsisten pada setiap bulannya, jangan sampai anda berpikir untuk tidak lagi menabung karena tidak mempunyai uang, Ex: Akan sulit bagi anda untuk menghemat sebesar 500ribu perbulannya jika anda berpenghasilan sekitar 1 juta, namun dengan nilai yang lebih kecil katakanlah 100ribu perbulannya akan membuat anda terbiasa melakukannya sedikit demi sedikit hingga menuju tahap yang lebih tinggi lagi.

7. Jangan lupa tingkatkan perencanaan finansial anda dengan berinvestasi.

Tingginya tingkat inflasi serta pengaruh harga berbagai kebutuhan bahan pokok yang semakin meningkat tiap tahunnya, lambat laun akan mengurangi dan membuat nilai dari tabungan anda semakin menyusut. Setelah anda terbiasa dengan menabung maka ini saatnya anda berpikir kelevel yang lebih tinggi lagi. Berbicara mengenai pengembangan aset keuangan, maka pilihan terbaiknya adalah dengan berinvestasi, dimana dalam hal ini anda akan mendapatkan nilai plus ataupun keuntungan dari setiap modal yang anda tanamkan. Yang perlu anda lakukan hanyalah perlu mencocokan nilai simpanan anda dengan jenis instrument investasi yang sesuai dengan tujuan anda.

Semakin dini kita memulai perencanaan finansial dengan lebih matang maka semakin cepat pula kita akan merasakan manfaatnya.

Sumber : http://www.askapsocial.com

Tuesday, October 22, 2013

Mencatat Keuangan Harian


Mencatat keuangan harian itu perlu atau tidak? Bagi sebagian orang, mencatat pengeluaran atau keuangan harian adalah hal yang sangat membosankan, malas, tidak ada waktu, dan lain-lain. Ada yang berpikiran kenapa saya perlu repot-repot mencatat pengeluaran harian? Saya cukup datang ke perencana keuangan, bayar biaya konsultasi dapat deh itu cek kesehatan keuangan dan rencana keuangan. Merencanakan uang adalah semudah itu. Bagaimana pendapat Anda?

Penulis tidak berusaha membantah pendapat tersebut. Penulis juga setuju dengan orang yang berpikiran seperti itu, karena orang tersebut memiliki dana yang cukup untuk konsultasi dengan perencana keuangan. Namun bagi sebagian orang yang belum mampu menyewa jasa konsultan keuangan pribadi atau orang-orang yang memiliki pendidikan (edukasi) mengenai keuangan pribadi, mereka dapat melakukan perencanaan keuangan dari diri sendiri. Cara yang mudah untuk memulai mengatur keuangan yaitu dengan mencatat transaksi pribadi (uang masuk dan uang keluar).

Penulis pernah membaca sebuah tulisan seorang perencana keuangan dari luar negeri yang berkata:

“Menurut Anda, siapakah orang yang paling peduli dengan keuangan Anda?”

Menurut Anda apakah penasihat keuangan Anda adalah orang yang paling peduli dengan keuangan Anda? Apakah agen asuransi Anda? Apakah broker saham Anda? Apakah agen reksadana Anda? Atau Anda dan pasangan yang paling peduli dengan keuangan Anda?

Sebagian orang menjawab pertanyataan tersebut dengan: “Saya dan pasangan sayalah yang paling peduli dengan keuangan pribadi saya.”

Untuk memulai sesuatu yang baik agak repot didepan, coba mari kita liat contohnya:

Untuk mulai mengurangi berat badan, hal apa yang paling sulit? Tentu saja sulit untuk memulai berolahraga.
Untuk mulai meningkatkan nilai (bagi pelajar), hal apa yang paling sulit? Tentu saja sulit untuk memulai belajar.
Untuk Anda yang ingin mulai mengatur keuangan rumah tangga, hal apa yang paling sulit? Tentu saja sulit untuk mencatat.
Pernahkah Anda tahu berapa biaya parkir Anda sebulan? Berapa biaya untuk membeli pakaian? Memang biaya parkir dapat dikatakan pengeluaran yang cukup kecil (bagi sebagian orang).  Coba kita simulasikan biaya parkir (untuk di Jakarta):

Parkir di tempat kerja:

20 hari kerja x 9 jam kerja x Rp 3.000 per jam = Rp 540.000

Parkir di mall atau supermarket:

4 hari (setiap hari minggu) x 3 jam x Rp 3.000 per jam = Rp 36.000

Total biaya parkir Anda selama sebulan adalah Rp 576.000 per bulan. Pengeluaran kecil tetapi kalau ditumpuk lumayan juga.

Cara mencatat keuangan harian
Anda tidak perlu pusing dengan istilah debit, kredit dan lain-lain. Cukup gunakan istilah yang gampang Anda mengerti. Penulis menyarankan Anda menggunakan kata-kata seperti:

Uang masuk ke dompet      = ada sejumlah uang yang masuk ke dompet Anda. Biasanya berasal dari gaji bulanan, hasil investasi, bisnis dan lain-lain.

Uang keluar dari dompet    = ada sejumlah uang yang keluar dari dompet Anda. Contohnya adalah biaya listrik, telepon, tagihan kartu kredit, cicilan kendaraan, biaya sekolah anak dan lain-lain.

Jangan pusingkan istilah-istilah keuangan. Gunakan saja bahasa yang mudah, format penulisan yang sederhana, toh laporan keuangan tersebut dibaca oleh Anda dan pasangan (tidak dilaporkan ke badan tertentu).

Alat Bantu untuk Mencatat Keuangan Harian
Dimana saya bisa mencatat? Banyak sekali media yang bisa Anda gunakan untuk mencatat, mulai dari paling sederhana kertas dan pen, menggunakan aplikasi worksheet (seperti Microsoft Excel) dan menggunakan aplikasi-aplikasi khusus untuk merencanakan keuangan. Carilah media yang paling mudah dan sederhana, agar Anda dapat melakukan pencatatan kapanpun, dimanapun Anda berada. Sehabis dari restaurant, sehabis belanja dapur, sehabis membeli elektronik, bahkan sehabis Anda membayar uang parkir.

Jujur saja, penulis mengakui kebiasaan untuk mulai mencatat keuangan adalah hal yang sulit. Seperti halnya orang yang mau menurunkan berat badan, mulai berangkat ke gym atau berolahraga adalah hal yang sangat sulit. Tetapi setelah Anda berolahraga Anda akan mendapatkan manfaatnya. Serupa dengan berolahraga kebiasaan mencatat keuangan akan menghasilkan manfaat yang luar biasa, kalau tidak percaya silakan Anda coba? Jika Anda sudah mendapat manfaat dari mencatat transaksi pribadi, jangan lupa sebarkan kebaikan dan manfaatnya kepada banyak orang.

Jangan Malu, Jangan Ragu, Jangan Malas, Ayo Mencatat!!!

Sumber : http://www.finansialku.com

Wednesday, October 16, 2013

Perencanaan Keuangan di Usia 30-an


Menjelang usia 30 tahun, maka pengelolaan uang untuk bertahan hidup menjadi kian rumit. Dengan meningkatnya pendapatan, tanggung jawab finansial dan keputusan serta sejumlah tindakan bijaksana semakin diperlukan. Untuk itu, hindarilah kesalahan penggunaan uang yang sudah tidak perlu terjadi di usia 30-an.

Di usia tersebut, Anda seharusnya dapat mulai menikmati buah kerja keras Anda selama bekerja. Sementara itu, masa depan Anda memerlukan prioritas yang harus diambil khususnya terkait perencanaan keuangan.

Berikut 5 kesalahan keuangan yang tak boleh dilakukan di usia 30-an:


1. Menggunakan tabungan seenaknya

Jika Anda memiliki uang tabungan untuk dana pensiun, maka langkah yang Anda ambil sudah tepat. Namun jika tujuan Anda menabung masih belum jelas, memasuki usia 30-an Anda harus mulai memikirkan dan menentukannya.

Anda harus memiliki tujuan menabung, apakah digunakan sebagai dana untuk kondisi darurat, berwisata atau untuk biaya liburan akhir pekan.

Setelah itu, Anda harus mulai menentukan jumlah tabungannya, sepertiga atau setengah dari pendapatan Anda. Semua hal tersebut harus sudah mulai dilakukan saat berusia 30-an.


2. Membuat anggaran jangka pendek

Memasuki usia 30-an, berhentilah mengelola uang seperti tak ada lagi hari esok. Seringkali esok hari datang dengan tagihan dari hari kemarin.

Mulailah memiliki anggaran pengeluaran jangka panjang dalam hitungan tiga, lima, sepuluh tahun ke depan. Jika Anda sudah memiliki rumah, maka pikirkanlah soal renovasi dan tabungan anak.

Jangan biarkan pengeluaran-pengeluaran di masa depan mengejutkan Anda jika masih dihindari sejak dini. Mulailah merencanakan keuangan dan tabungan sejak usia 30-an untuk pengeluaran yang lebih besar di masa depan.

3. Tidak memikirkan soal tempat tinggal

Berusia 30-an merupakan waktu yang tepat untuk memikirkan rumah impian di masa depan. Jika Anda belum membelinya, pikirkan untuk menentukan gaya rumah yang sesuai dengan gaya hidup Anda.

Rumah memang tidak menentukan gaya hidup seseorang, tapi seringkali menyesuaikannya dengan gaya hidup bisa membuat Anda memiliki tempat tinggal yang tepat.

Membuat anggaran pembelian rumah sebaiknya dilakukan secara jangka panjang termasuk mengurus asuransi, perbaikan, perawatan dan segala perlengkapannya.

Menabung di usia tersebut untuk memiliki rumah idaman merupakan langkah yang harus diambil agar terhindar dari kesulitan finansial di masa mendatang.

4. Tidak menabung untuk dana pensiun

Banyak alasan yang membuat sebagian orang tidak memiliki rencana keuangan untuk pensiun. Sudah menjadi hal yang biasa, saat Anda mulai menabung untuk pensiun Anda akan merasa kekurangan selama berminggu-minggu.

Namun akan ada waktunya saat Anda menyadari biaya hidup pribadi sudah termasuk ke dalam dana pensiun yang lebih penting saat sudah tidak produktif nanti.

Mengingat pendapatan Anda akan terus meningkat dari tahun ke tahun, penting bagi Anda untuk menyiapkan dana simpanan pensiun yang akan berguna suatu hari nanti.


5. Tidak memiiki asuransi yang cukup

Asuransi yang baik sama pentingnya dengan tabungan dan rencana pensiun yang tepat. Apakah Anda memiliki ansuransi jiwa yang tepat? Apa dana asuransi tersebut tepat untuk melindungi rumah dan anggota keluarga?

Semua pertanyaan tersebut harus sudah dijawab saat Anda memasuki usia 30-an. Anda harus sudah memiliki asuransi yang tepat yang dapat membuat Anda bertahan di tengah berbagai persoalan keuangan yang muncul.

Sumber : http://bisnis.liputan6.com

Tuesday, October 15, 2013

Tabungan atau Asuransi


Produk tabungan di perbankan semakin beragam ditawarkan. Setelah ramai menawarkan bonus hadiah langsung, produk tabungan di bank juga banyak yang dijual dengan bundel asuransi. Seberapa menguntungkan produk bundling seperti itu? Biasakan meneliti dan menghitung cermat sebelum membeli produk.

Memiliki rekening tabungan bank kini sudah menjadi kebutuhan primer seiring dengan peningkatan kebutuhan transaksi yang banyak memanfaatkan jasa perbankan. Dahulu kala, masyarakat mungkin hanya mengenal tabungan nasional alias tabanas. Kini, ada tabungan pendidikan, tabungan haji, tabungan berhadiah langsung mulai mobil hingga gadget mahal, juga tabungan yang dilengkapi dengan perlindungan atau asuransi jiwa, dan lain sebagainya.

Khusus untuk tabungan yang dilengkapi dengan asuransi jiwa, Anda mungkin sudah banyak menemui di berbagai bank. Di Bank Mandiri, misalnya, ada Tabungan Rencana Mandiri, lalu di CIMB Niaga ada Tabungan Mapan, lalu ada pula Tabungan Taka di OCBC NISP, dan lain sebagainya.

Kebanyakan bundel tabungan dan asuransi itu melindungi kelanjutan pembayaran setoran tabungan ketika si nasabah meninggal dunia. Alhasil, si ahli waris tetap mendapatkan tabungan sesuai target di awal kontrak, tanpa ada pemberian santunan uang pertanggungan.

Skema yang sedikit berbeda ditawarkan produk tabungan asuransi keluaran Bank BNI yang bekerjasama dengan Sunlife Financial, bernama Rencana Pintar. Bagian layanan konsumen Sun Life Financial yang dihubungi KONTAN, Selasa (20/8/2013), membeberkan, produk ini sebenarnya sudah lama ditawarkan.

Namun, mulai tahun 2013 ini, target tabungannya dinaikkan dari semula Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta.
Target tabungan Rp 50 juta itu memiliki masa kontrak 17 tahun. Untuk mencapai nilai itu, nasabah harus menyetor Rp 334.000 per bulan selama 10 tahun. Jadi, total setoran nasabah selama kontrak adalah Rp 40,8 juta. “Setoran memakai sistem autodebet dengan rekening Bank BNI,” jelas customer service Sunlife.

Seperti tabungan berjangka, nasabah tidak bisa mengambilnya sewaktu-waktu. Tabungan baru bisa ditarik bertahap mulai tahun kelima dengan nilai yang ditentukan. Penarikan pertama pada tahun kelima senilai Rp 5 juta, lalu di tahun ke-11 sebesar Rp 7,5 juta, tahun ke-14 senilai Rp 12,5 juta, dan tahun ke-17 sebesar Rp 25 juta. Produk ini memiliki coverage asuransi jiwa bagi si nasabah selama masa kontrak.

Dus, jika di tengah masa kontrak si nasabah meninggal dunia, ahli waris berhak mendapatkan tabungan Rp 50 juta dan uang pertanggungan Rp 50 juta. Namun, jika selama masa kontrak tidak ada risiko jiwa, nasabah cuma berhak mendapatkan tabungan Rp 50 juta.

Jangan buru-buru
Pertanyaannya, seberapa menarik menempatkan dana di produk tabungan dengan fitur asuransi seperti itu? Diana Sandjaja, perencana keuangan MRE Consulting, menilai, produk besutan Sunlife dan Bank BNI itu boleh jadi menarik di mata mereka yang masih awam dengan produk investasi. “Terlebih, antara uang yang disisihkan lebih kecil dibandingkan pengembalian yang nanti diterima,” kata dia.
Namun, jangan terburu menubruk sebuah produk sebelum melihat lebih detail. Ada baiknya memperhatikan saran dari para perencana keuangan lebih dulu, berikut ini:

Lihat kebutuhan
Membeli produk keuangan atau investasi tidak berbeda dengan membeli barang biasa. Anda harus tahu persis produk seperti apa yang Anda butuhkan. Untuk mengetahui produk yang tepat, Anda perlu menentukan terlebih dulu tujuan keuangan dan menyiapkan perencanaan. Dengan mengetahui tujuan keuangan, Anda bisa lebih tepat menentukan instrumen atau produk seperti apa yang bisa membantu Anda mencapai tujuan tersebut.
Misalkan Anda butuh asuransi jiwa dengan nilai uang pertanggungan Rp 1 miliar. Menjadi salah alamat jika Anda malah membeli asuransi jiwa dengan uang pertanggungan Rp 50 juta hanya karena tergiur kemasan produk yang seolah menarik.

Pelajari produk
Sebelum memutuskan membeli sesuatu, pastikan Anda tahu apa yang Anda beli. Tabungan bank unggul dari sisi likuiditas atau kemudahan pencairan dana kendati bunganya kecil. Dus, produk tabungan dengan keterbatasan waktu penarikan jelas kurang menarik dipilih. Rakhmi Permatasari, perencana keuangan Safir Senduk dan Rekan, menambahkan, tabungan juga tidak tepat dipilih jika Anda bertujuan mengembangkan dana. Pilihlah produk investasi, seperti reksadana, obligasi, atau saham.
Sebagai contoh, dengan menyisihkan Rp 334.000 per bulan di reksadana saham berimbal hasil rata-rata 20 persen per tahun selama 10 tahun, Anda berpeluang memperoleh dana Rp 127,7 juta! Itu pun tanpa ada pembatasan kapan Anda hendak mencairkannya.
Risiko reksadana saham memang lebih besar dibanding tabungan. Namun, dengan strategi diversifikasi risiko yang tepat, mengembangkan dana di produk investasi adalah langkah terbaik jika Anda ingin mendapatkan hasil sesuai tujuan keuangan.

Jangan malas
Setiap produk keuangan dan investasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Tak perlu bingung menghadapi tawaran produk nan bejibun. Syaratnya, Anda tidak boleh malas meluangkan waktu untuk belajar dan meriset produk yang ada di pasaran satu per satu.
Manfaatkan informasi yang melimpah di media untuk menambah pengetahuan finansial Anda. Untuk mengetahui kebutuhan asuransi jiwa atau dana investasi, Anda bisa memanfaatkan aplikasi penghitungan di laman institusi perencana keuangan atau perusahaan asuransi.
Dengan melakukan perhitungan seperti itu, Anda bisa lebih mampu melihat kelayakan sebuah produk untuk dipilih, dan perbandingannya dengan produk sejenis di pasar.
Singkat cerita, memilih produk keuangan atau investasi memang membutuhkan usaha khusus. Namun, demi kenyamanan finansial keluarga Anda, tidak ada lagi alasan untuk terus malas belajar, bukan?

http://bisniskeuangan.kompas.com

Related Posts